
Setelah mereka semua mengisi perut mereka dengan kenyang dan mereka merasa perjalanan mereka cukup puas, Sisil pun segera mengajak yang lain untuk segera pulang apalagi ia yang sedang hamil muda tentu tak boleh kelelahan.
Mereka bersama-sama melangkahkan kaki keluar dari MALL tersebut menuju mobil mereka yang terparkir di antara mobil-mobil lain, setelah tiba di mobil mereka pun segera masuk lalu mobil segera di lajukan Rangga dengan kecepatan sedang.
Bergabung dengan kendaraan lain yang berlalu lalang di jalan raya yang tampak sangat padat siang ini, namun untungnya tak membuat jalanan macet sehingga mobil yang di lajukan Rangga tiba di kediaman mereka hanya berapa belas menit.
Semua turun bersama saat mobil sudah berhenti di garasi mobil kemudian mereka juga menenteng paper bag milik mereka masing-masing, lalu segera masuk ke dalam rumah setelah pintu di buka oleh Bik Mirna yang memegang kunci kediaman majikannya itu.
"Bik, tolong bantu Raya bersihin tubuhnya dan ganti pakaiannya" kata Sisil sebelum melangkah ke arah kamar utama yang di tempatinya dan suaminya
"Baik nyonya" jawab Bik Mirna sembari menganggukkan kepala lalu mengandeng tangan putri majikannya menuju kamar tidur putri majikannya itu
Sedangkan sang ibu memilih langsung menuju kamar tamu yang di tempatinya karena ingin segera istirahat, begitu juga Azzam dan yang lain bahkan Sisil serta Rangga sudah berada di dalam kamar mereka.
Karena sangat kelelahan Sisil tanpa mencuci wajah dan anggota tubuh lainnya langsung berbaring, hanya berapa menit ia sudah tertidur pulas Rangga yang mendengar dengkuran halus yang keluar dari mulut Sisil hanya menatap Sisil sembari tersenyum.
Rangga tak langsung ikut berbaring di samping Sisil, ia memilih ke kamar mandi terlebih dahulu untuk membersihkan tubuhnya dan setelah itu ia membawa kain yang sudah di basahinya ke arah Sisil lalu perlahan mengelap tubuh Sisil dengan kain basah tersebut.
Beruntungnya Sisil tak ternganggu sama sekali jadi Rangga bisa menyelesai pekerjaannnya dengan baik, dan selesai melakukan hal itu baru Rangga menyusul Sisil untuk berbaring di sampingnya hingga akhirnya ikut terlelap juga.
Rumah besar itu jadi tampak sepi karena semua orang pada istirahat siang, Bik Mirna yang telah menidurkan putri majikannya langsung kembali ke kamar tidurnya yang ada di dekat dapur sembari menenteng paper bag berisi pakaian yang di belikan oleh majikannya tadi.
Tiba di dalam kamar tidurnya Bik Mirna langsung membuka paper bag itu dan melihat isinya, ada tiga lembar gamis yang di belikan oleh majikannya dan semuanya sesuai dengan selera serta usia Bik Mirna yang sudah kepala empat.
__ADS_1
"Masyaallah ini benar-benar bagus" kata Bik Mirna berbinar menatap satu persatu gamis itu
Ia benar-benar sangat bersyukur memiliki majikan sebaik Sisil dan Rangga, yang selalu baik padanya dan tak memandangnya sebelah mata seperti anggapan orang-orang di luar sana yang menganggapnya hanya orang miskin atau lebih tepatnya seorang ART.
Setelah melihat satu persatu gamis itu Bik Mirna segera menggantung ketiga gamis itu di dalam lemari yang ada di kamar tidurnya, yang kebetulan mulai terisi penuh di tambah dengan beberapa pakaian yang di bawakan majikannya kemarin ole-ole pas majikannya liburan di Bali.
.
.
Malam hari
Menjelang makan malam semua orang yang tadi sibuk dengan urusan masing-masing, kini mulai berkumpul di meja makan ingin menikmati hidangan makan malam yang telah di siapkan oleh Bik Mirna di atas meja makan.
"Iya ma... Iya te....." jawab Raya dan Azzam hampir bersamaan
Kini mereka semua mulai menyantap makanan yang ada di piring mereka masing-masing dengan lahap, tak ada yang berani bersuara ketika makan bersama di meja makan jika ada ibu mertuanya Sisil karena ia paling menentang orang yang suka berbicara saat sedang makan.
Hanya berapa puluh menit mereka telah selesai makan, setelah itu Sisil yang kini masih kelelahan jadi tak bisa membantu Bik Mirna untuk membereskan meja makan sehingga Sisil memilih segera menyusul yang lain yang sudah duduk santai di ruang keluarga.
Sang ibu dan Rangga duduk di sofa yang ada di ruang keluarga sembari menonton TV meski terlibat obrolan sedikit, sedangan putrinya dan Azzam memilih duduk di atas karpet yang kebetulan dekat dengan sofa ruang keluarga sedang mencoba mainan baru yang di beli putrinya tadi.
"Yee... Raya menang lagi" kata Raya bersorak gembira saat ia memenang permainanya lagi
__ADS_1
"Hem, jadi dua kosong ya" kata Azzam pura-pura sedih padahal ia ingin membuat adik sepupunya itu bahagia sehingga ia mengalah terus menerus
Sisil yang melihat keduanya sangat antusias bermain permainan bangunan balok yang terus di pindahkan itu hanya tersenyum, ia tau bahwa Azzam sebenarnya sangat pandai bermain itu hanya saja demi putrinya Azzam terus mengalah.
"Ohh ya, kemungkinan lusa ibu pulang" kata Ibunya Rangga memberi tahu sang anak dan sang menantu
"Kok cepet banget sih, bu. Kenapa gak tunggu satu minggu lagi" kata Sisil merasa sedih ibu mertuanya begitu buru-buru meninggalkan kediamannya dan suaminya
"Iya bener, bu. Apa kata Sisil" kata Mas Rangga menimbali
"Ibu udah kangen rumah peninggalan ayah mu, jadi mau secepatnya pulang. Kebun ibu di halaman belakang gak ada yang urus, nanti tanaman ibu mati semua" kata Ibunya Rangga bersikeras ingin tetap segera kembali ke rumahnya yang ada di Surabaya
"Baiklah kalau itu sudah jadi keputusan ibu, Rangga gak bisa memaksa" kata Mas Rangga pasrah dengan keputusan sang ibu
Sisil yang melihat raut wajah suaminya yang tampak sedih jadi ikut sedih, ia tau suaminya yang hanya anak semata wayang sangat menginginkan mengurus ibu mertuanya yang sudah makin tua dan hanya tinggal sebatang kara di Surabaya.
Namun karena ibu mertuanya memang selalu menolak keinginan suaminya, ia sebagai menantu tak bisa berbuat apa-apa hanya bisa diam dan mau bagaimana lagi sekeras apapun di paksa kalau memang orang itu gak mau ya tentu takkan pernah berubah keputusan itu.
Akhirnya Sisil memilih mengalihkan pembicaraan antara ibu mertuanya dan suaminya membahas soal seputar kehamilannya, agar tak berterus membahas soal tempat tinggal dan benar saja ibu mertuanya langsung merespon setiap ia bertanya soal kehamilan.
"Kak Azzam, udah ya mainnya Raya ngantuk" kata Raya yang memang mulai menguap dari tadi sembari membereskan mainan yang ada di atas karpet
"Iya, kakak juga mulai mengantuk" jawab Azzam ikut membantu membereskan mainan tersebut
__ADS_1