
Setelah sarapan bersama Rangga segera pamit dengan sang ibu Sisil dan putri mereka hendak berangkat ke perusahaan milik Sisil, Sisil yang agak mendingan karena sudah muntah pagi tadi memutuskan mengantar Rangga sampai ke teras depan.
"Aku berangkat dulu, ya sayang" kata Mas Rangga mencium kening Sisil kemudian beralih mencium perut Sisil yang masih rata itu
"Hati-hati papa" kata Sisil berbicara ala bayi seolah-olah mewakili bayi dalam kandungan
Rangga tersenyum kemudian melangkahkan kaki menuju mobil di garasi, tiba di dekat mobil Rangga segera masuk ke dalam mobil lalu mobil pun di lajukan sembari membunyikan klakson kepada Sisil yang masih berdiri di teras depan.
Setelah mobil suaminya menghilang di balik belokan Sisil pun segera melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah tak lupa ia menutup kembali pintu utama, ia ingin menghampiri ibu mertuanya dan putrinya yang ternyata memilih bersantai di halaman belakang.
Sisil segera mendaratkan bokongnya di salah satu kursi yang ada di dekat ibu mertuanya yang tengah mengawasi putrinya bermain pasir, di halaman belakang kediaman Sisil dan Rangga memang Sisil sediakan sebuah pasir untuk putrinya bermain.
"Ini nyonya potongan buah naga yang nyonya minta tadi" kata Bik Mirna datang membawa nampan yang berisi potongan buah naga dan segelas susu untuk ibu hamil serta segelas teh hangat
"Terima kasih Bik" ucap Sisil sembari tersenyum
Bik Mirna menganggukkan kepalanya kemudian membungkukkan tubuhnya pamit kembali ke dapur, Sisil segera mengambil potongan buah naga itu mengunakan garpu kemudian di masukannya ke dalam mulutnya.
Dua hari ini semenjak Sisil tau ia sedang hamil muda, bawaannya agak malas makan nasi paling hanya berapa suap namun syukurnya bayi dalam kandungannya selalu mengidam makan buah sehingga Sisil tak khawatir karena masih ada makanan yang bisa masuk ke dalam mulutnya.
Ibu mertuanya pun ikut menikmati segelas teh hangat itu, kemudian ibu mertuanya juga sesekali ikut memasukan potongan buah naga ke dalam mulutnya terasa nikmat dan segar dengan suasana yang sangat adem apalagi matahari pagi sedikit mengenai tempat duduk Sisil dan ibu mertuanya.
__ADS_1
"Kapan kalian memeriksa kandunganmu?" tanya Ibunya Rangga pada sang menantu sembari mengelus perut Sisil yang masih rata
"Mungkin bulan depan saja bu, soalnya ini akhir tahun takutnya Dokter Obgyn langganan kami sibuk" jawab Sisil ikut mengelus perutnya yang masih rata itu
Sisil juga tak sabar ingin melihat bayi dalam kandungannya sekarang, ia berharap hamil kedua ini berjenis kelamin laki-laki agar ada pewaris untuk perusahaan miliknya meski ada putrinya saat ini tapi ia tak tau putrinya mau tidak.
Karena ia tak mau juga memaksa kehendaknya sendiri mungkin saja putrinya memiliki cita-cita sendiri, apalagi selama ini di lihatnya putrinya senang sekali menggambar kalau saja putri mau jadi desainer atau pelukis yang penting ia akan tetap mendukung apapun keputusan putrinya.
"Ibu jadi gak bisa dong ikut kalau periksanya bulan depan" kata Ibunya Rangga nampak raut wajah sedih karena ingin juga menyaksikan USG cucu keduanya ini
"Kenapa ibu gak selamanya aja tinggal disini, rumah ini sangat luas. Aku tentu bahagia banget kalau ibu tinggal disini" kata Sisil sembari menggenggam jari jemari tangan ibu mertuanya
"Ibu gak bisa ninggalin rumah peninggalan almarhum ayahnya Rangga, terlalu banyak kenangan" kata Ibunya Rangga yang selalu menolak untuk tinggal dengan sang anak dan sang menantu
.
.
Di perusahaan milik Sisil
Rangga yang telah tiba di depan gedung yang menjulang tinggi itu segera keluar dari mobil, kemudian melangkahkan kaki masuk ke dalam perusahaan milik Sisil yang tampak karyawan sudah mulai sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing.
__ADS_1
"Dewi setengah jam lagi siapkan ruang meeting, kita akan mengadakan meeting" ujar Mas Rangga saat berpapasan dengan Dewi
"Baik Pak" jawab Dewi sembari membungkukkan tubuhnya lalu melangkahkan kaki ke pantri tempat OB dan OG
Dewi meminta para OB dan OG membersihkan ruang meeting sekarang karena setengah jam lagi akan di gunakan, hanya dengan jawaban menganggukkan kepala para OB dan OG segera melaksanakan perintah dari Dewi.
Dewi sebenarnya penasaran kenapa atasannya akan mengadakan meeting secara dadakan seperti ini, dan yang membuat Dewi terus bertanya-tanya keberadaan Sisil bukan kemarin ingin kembali terjun di perusahaan tapi kenapa sudah dua hari ini ia tak terlihat.
Semenjak liburan dari Bali, Dewi tak pernah lagi bertemu dengan Sisil ia sebagai karyawan lama yang mengikut dengan Sisil jadi khawatir ada sesuatu yang terjadi dengan Sisil ingin berkunjung ke kediaman Sisil rasa tak enak.
Setengah jam kemudian Dewi segera melangkahkan kaki ke arah ruangan atasannya ingin memberi tahu atasannya bahwa ruang meeting sudah siap untuk di pakai, Rangga yang di beri tahu Dewi segera keluar dari ruangan.
Disinilah Rangga dan para karyawan Sisil berada di dalam sebuah ruang meeting, Dewi membuka acara terlebih dahulu kemudian mempersilahkan atasannya untuk menyampaikan keinginan atasannya yang mengadakan meeting dadakan ini.
"Baiklah, Assalamualaikum. Saya mengadakan meeting dadakan karena ingin menyampaikan hal penting, pertama berita bahagia dari keluarga kami karena saat ini Sisil sedang hamil maka dari situ ia tak bisa lagi ikut terjun ke perusahaannya, kedua karena posisi wakil CEO kosong Sisil mempercayakan posisi itu kepada Dewi karyawan yang paling lama disini, ketiga posisi Dewi akan saya percayakan kepada Berlian dan posisi Berlian kita akan cari karyawan baru" kata Mas Rangga panjang lebar menyampaikan apa yang telah ia dan Sisil diskusikan kemarin
"Bagian HRD tolong buat slogan lowongan kerja di depan perusahaan, pasti banyak yang berminat ingin melamar kerja disini dan kepala HRD harus seleksi betul-betul saya percayakan itu" kata Mas Rangga kepada bagian HRD dan kepala HRD
"Baik Pak" jawab Seluruh bagian HRD dengan serentak
"Baiklah cukup sampai sini meeting kita, saya harap kalian tidak saling iri dengan sesama teman disini setelah mendengar keputusan saya dan Sisil karena semua sudah kami diskusikan dari kemarin. Assalamualaikum" kata Mas Rangga kemudian melangkahkan kaki keluar dari ruang meeting itu
__ADS_1
Setelah kepergian Rangga, Dewi segera menutup acara meeting tersebut dan meminta seluruh karyawan kembali ke ruangan masing-masing dan segera mengerjakan pekerjaan agar tak bertumpukan.
Kini ruang meeting pun menjadi lenggang setelah semuanya keluar, Dewi sudah kembali ke ruangan dan karena mulai hari ini ia naik jabatan wakil CEO ia segera membereskan barang-barang miliknya dan akan di pindahkan ke ruangannya yang baru.