Milikku Bukan Milikmu

Milikku Bukan Milikmu
Bab 43


__ADS_3

"Li...Lisa" kata Sisil benar-benar terkejut karena harus bertemu dengan Lisa lagi


"Mbak Sisil, Mas Rangga" sapa Lisa sembari berusaha menyunggingkan senyumannya meski hanya tipis


Rangga yang berada disitu hanya diam mendengar Sisil dan Lisa ngobrol ringan, karena Rangga tau bahwa Sisil telah melupakan masa lalu di antara mereka bertiga apalagi Sisil memiliki hati yang sangat baik.


"Mas, kamu aja ya yang menebus obatnya. Aku tunggu disitu ingin ngobrol dengan Lisa sebentar" kata Sisil pada Rangga dan langsung dapat anggukkan dari Rangga


Rangga langsung meninggalkan Sisil dengan Lisa, lalu Rangga segera kembali melangkahkan kaki menuju apotek yang tinggal berapa meter di depannya dan segera menebus obat yang telah di resepkan oleh Dokter obgyn tadi.


"Kamu, apa kabar sekarang? dan ngapain kesini?" tanya Sisil setelah ia dan Lisa duduk di kursi


"Seperti yang mbak Sisil lihat, aku baik-baik saja dan aku habis berobat mbak. Baru selesai menebus obat, mbak Sisil dengan Mas Rangga mau menebus obat. Memangnya siapa yang sakit?" kata Lisa pura-pura tak tau menau meski ia sudah bisa menebak Sisil akan menebus resep obat dati Dokter obgyn


"Aku habis periksa kandungan, itu resep obat dari Dokter obgyn" jawab Sisil mengulas senyuman tulus


Sisil sudah melupakan masa lalu yang pernah terjadi di antara mereka bertiga, toh Lisa dan suaminya benar-benar tak pernah berhubungan lagi bahkan Lisa juga sudah mengembalikan uang perusahaan yang pernah di ambilnya.


Jadi buat apa lagi Sisil mempermasalahkan hal itu, Sisil tak mau mencari musuh karena ia selalu ingin mencari teman dan sekarang ia juga sudah percaya bahwa Lisa sudah berubah terlihat dari penampilan Lisa yang sekarang menutup aurat.


"Wah mbak Sisil hamil ya, selamat ya. Semoga keduanya sehat selalu dan lahiran nanti selamat keduanya" kata Lisa berdoa dengan sangat tulus


"Terima kasih, kamu belum menikah?" tanya Sisil sembari tersenyum

__ADS_1


"Belum mbak, doain aja secepatnya. Ohh iya, aku pamit pulang mbak tadi izin sebentar dengan BOS ku" kata Lisa segera beranjak dari duduknya saat melihat Rangga yang hendak menghampiri mereka berdua


"Ya sudah, hati-hati di jalan" kata Sisil kemudian melambaikan tangan pada Lisa


Lisa juga membalas lambaian tangan dari Sisil sampai ia menghilang di balik belokkan lorong rumah sakit, Rangga yang berdiri tak jauh dari situ hanya memandangi interaksi antara Sisil dan Lisa dan tak mau banyak komentar.


Setelah itu ia mengajak Sisil untuk segera kembali ke kediaman mereka dan kebetulan mereka keluar dari rumah sakit sudah menjelang siang jadi Rangga memilih langsung ke sekolahan putri mereka karena kemungkinan setengah jam lagi putri mereka keluar.


Tiba di sekolahan putri mereka, kini Sisil dan Rangga sudah duduk di kursi tunggu yang ada di depan ruang kelas putri mereka cukup lama menunggu akhirnya terdengar bunyi bel panjang yang artinya jam pelajaran telah usai.


Putri mereka keluar dengan raut wajah yang sangat bahagia karena tumben sang papa dan sang mana menjemputnya lebih cepat dari biasanya, putri mereka segera menghampiri keduanya langsung mencium pipi keduanya secara bergantian.


"Kita makan siang di restoran Fika, aja biar gak terlalu buru-buru untuk sampai rumah dan pasti jalanan juga sedikit macet" kata Mas Rangga kemudian mengendong putrinya dan satu tangannya mengandeng tangan Sisil


"Iya, Mas" jawab Sisil


Disinilah mereka bertiga berada di salah satu kursi kosong sembari duduk santai menunggu pesanan mereka datang, dan selang berapa menit pelayan pun datang menghampiri mereka bertiga dengan membawa pesanan mereka tadi.


Makanan yang ada di atas nampan kini telah berpindah ke atas meja yang ada di hadapan Sisil dan Rangga serta putri mereka, makanan itu telah terhidang dengan sempurna setelah itu pelayan mempersilahkan mereka bertiga menikmati hidangan tersebut.


"Terima kasih" ucap Sisil dengan tulus sembari menyunggingkan senyuman manisnya


Pelayan itu menjawab dengan anggukkan kepala sembari membalas senyuman Sisil, lalu pergi dari hadapan Sisil dan Rangga serta putri mereka setelah kepergian pelayan itu mereka bertiga pun mulai menyantap hidangan tersebut.

__ADS_1


Selesai makan dan membayar bill makanan yang mereka makan, Sisil dan Rangga serta putri mereka memutuskan langsung pulang ke kediaman mereka karena Sisil dan putri mereka tampak sangat kelelahan karena aktivitas hari ini.


Brum


Terdengar bunyi mobil memasuki halaman kediaman Sisil dan Rangga, Bik Mirna yang sedang duduk santai menonton TV dengan volume yang kecil jadi mendengar suara deru mobil dan segera beranjak menuju pintu utama.


Lalu Bik Mirna membuka pintu utama dan bertepatan majikannya muncul dengan raut wajah yang lelah, Bik Mirna langsung mengandeng tangan putri majikannya dan tanpa di perintah Bik Mirna sudah tau tugasnya.


"Sayang, kamu istirahat sekarang ya. Aku harus tetap ke perusahaan meski sudah siang, karena masih banyak pekerjaan" kata Mas Rangga setelah mengantar Sisil sampai ke dalam kamar bahkan sudah membantu Sisil untuk rebahan


"Iya, Mas. Aku lelah sekali, hati-hati di jalan" kata Sisil kemudian mencium punggung tangan suaminya dengan takzim


"Assalamualaikum" ucap Mas Rangga kemudian mencium pucuk kepala Sisil dengan lembut


"Walaikumsalam" jawab Sisil sembari mengulas senyuman


Setelah kepergian Rangga, Sisil pun segera memejamkan kedua kelopak matanya karena sangat kelelahan dan tanpa menunggu lama ia pun akhirnya terlelap masuk ke alam mimpi yang terasa begitu indah.


Sedangkan putri mereka baru selesai berish-bersih tubuhnya dengan di bantu Bik Mirna, segera memakai baju santai yang di siapkan Bik Mirna tadi lalu setelah itu menuruti permintaan Bik Mirna yang memintanya untuk tidur siang.


Bik Mirna yang senantiasa menemani putri majikannya itu, membacakan dongeng sembari mengelus pucuk kepala putri majikannya yang sudah di anggapnya seperti cucu sendiri.


Hingga akhirnya putri majikannya pun tertidur, Bik Mirna segera menurunkan kakinya satu persatu secara perlahan dari tempat tidur agar putri majikannya tak terbangun setelah itu Bik Mirna keluar dari kamar putri majikan dan tak lupa menutup pintu kamar tersebut.

__ADS_1


Rumah yang mewah dan besar itu tampak sepi dan sunyi, dimana-mana tak ada satu pun manusia yang tampak hanya Bik Mirna seorang diri dan bisa di pastikan Bik Mirna bahwa Sisil juga tidur siang sedangkan Rangga pasti memilih pergi ke perusahaan.


Bik Mirna pun memilih melanjutkan menonton TV di ruang keluarga namun ia duduk di karpet bulu yang ada di dekat sofa karena merasa terasa lebih nyaman.


__ADS_2