
"Baiklah meeting kita cukup sama disini, silahkan kembali ke ruangan kalian masing-masing" kata Mas Rangga mengakhiri acara meeting
Seluruh kepala bagian karyawan pun akhirnya beranjak dari duduk mereka sembari membereskan berkas-berkas yang ada di hadapan mereka, kemudian mereka meninggalkan ruang meeting satu persatu begitu juga dengan Dewi.
Setelah ruangan meeting lenggang Rangga pun mulai beranjak dari duduknya hendak kembali ke ruangannya juga, Rangga segera melangkahkan kaki keluar dari ruangan meeting sembari membawa MAP yang berisi berkas-berkas penting.
"Wah, aku benar-benar gak nyangka ternyata aku yang ke terima bekerja disini dan ini kesempatan aku untuk menaklukan atasanku itu. Lihat dia begitu terburu-buru tidak fokus dengan jalan di depan, aku akan mulai semuanya" gumam Seorang wanita yang tempo hari di bantu oleh Rangga
Dengan senyuman licik di wajahnya wanita itu melangkahkan kaki menuju ke arah Rangga sembari tangannya membuka dua kancing baju kemejanya yang bagian atas, dengan sedikit terburu-buru wanita itu semakin mendekat ke arah Rangga.
Bruk
MAP yang tadi di lihat dan di pegang oleh Rangga seketika terjatuh bersamaan dengan berkas-berkas di dalam MAP jadi berceceran kemana-mana karena tabrakan barusan, Rangga yang berjalan tak melihat ke depan tentu tak tau kalau hal ini akan terjadi.
"Aduh, maaf pak. Saya tadi buru-buru jadi gak tau kalau di belokan ini tadi ada bapak" kata Wanita itu merasa bersalah kemudian jongkok membantu Rangga membereskan berkas-berkas yang berceceran kemana-mana itu
"Tidak apa-apa, saya juga yang berjalan tidak lihat ke depan" kata Mas Rangga ikut membereskan berkas-berkas itu
Glek
Lagi-lagi Rangga harus menelan ludahnya saat melihat gunung kembar itu tereskpos bahkan bukan hanya dua gunung kembar saja sekarang yang di lihatnya, paha putih mulus milik wanita itu terlihat jelas dari belahan rok wanita itu membuat Rangga buru-buru memalingkan wajahnya.
"Terima kasih, lain kali gak usah terlalu buru-buru" kata Mas Rangga setelah semua berkas itu jadi rapi
__ADS_1
Kemudian Rangga kembali melangkahkan kaki menuju ruangannya yang tinggal berapa ruangan lagi harus ia lewati, tiba di ruangannya Rangga langsung duduk bersandaran di sandaran kursi kebesarannya itu sembari meletakkan MAP yang di bawanya tadi.
Setelah Rangga hilang masuk ke dalam ruangannya, wanita itu menyunggingkan senyuman ia sangat yakin bahwa tadi atasannya sudah melihat gunung kembarnya serta paha putih mulus miliknya yang memang sangat menggoda.
"Ini baru permulaan, nanti aku akan buat atasanku itu bertekuk lutut dan ia yang akan mengejar-ngejar aku dengan modal tubuhku yang seksi serba padat ini" gumam Wanita itu sembari melangkahkan kaki menuju ruangannya
Tubuh wanita itu memang sangat bagus gunung kembarnya yang berisi padat bahkan lebih besar dari milik siapapun, pantat dan pinggul yang seksi membuat kaum adam yang melihatnya terus ingin melihat tak mau berpaling.
Wanita itu sudah kembali ke ruangannya dan mulai mengerjakan pekerjaannya yang harus membalas satu persatu pesan masuk dari para agen dan para reseller, bahkan wanita itu terlihat mulai sangat sibuk dengan HP yang di tangannya itu.
.
.
Lalu Rangga memijit keningnya yang sedikit pusing karena otaknya benar-benar terkuras pagi ini, sekarang awal bulan jadi orderan dari para agen dan para reseller sangat banyak sehingga bagian pabrik kewalahan untuk memproduksi produk skincare.
Ia juga bingung bagaiman mengatasi masalah yang seperti ini karena ternyata di awal bulan dan di awal tahun baru, yang minta produk skincare dari perusahaan milik Sisil semakin banyak bahkan yang mendaftar jadi agen juga semakin meningkat.
Rangga yang kalut merileks lehernya sejenak sembari memejamkan kedua kelopak matanya, namun saat kedua matanya terpejam bayang gunung kembar dan paha putih mulus milik wanita tadi melintas begitu saja.
Membuat Rangga membuka kembali kedua kelopak matanya, ia berusaha menepis bayangan negatif itu dan ia juga baru teringat sepertinya wanita tadi karyawan baru disini soalnya ini pertama kali di lihatnya.
Dan diingat-ingatnya lagi seperti wanita itu tempo hari yang hampir jatuh di dekatnya bahkan yang meminta tumpangan padanya, jika wanita itu karyawan baru artinya yang baru-baru ini melakukan interview lalu Rangga mengambil MAP berisi data calon karyawan tempo hari.
__ADS_1
"Namanya Sri, di lihat-lihat memang cantik" kata Mas Rangga setelah membaca ulang data karyawan baru itu
"Astagfirullah, apa yang aku bayangkan. Cukup sekali membuat kesalahan" kata Mas Rangga lagi kemudian menutup MAP yang berisi data karyawan baru itu
Kini waktu menunjukkan pukul 12.00 siang, Rangga yang masih banyak pekerjaan tak bisa makan di rumah jadi memutuskan untuk makan di kantin perusahaan milik Sisil yang memang di sediakan oleh Sisil untuk para karyawannya.
Namun sebelum memutuskan keluar dari ruangannya dan ke kantin yang ada di perusahaan, Rangga menyempatkan diri untuk menghubungi Sisil terlebih dahulu agar Sisil tak menunggunya untuk pulang siang ini.
"Hallo, sayang. Maaf ya aku gak bisa makan di rumah siang ini, pekerjaan banyak sekali jadi aku mau makan di kantin perusahaan saja" kata Mas Rangga saat sambungan telepon terhubung
"Ohh iya, Mas. Gak apa-apa, tadi aku juga sudah di kabari Dewi bahwa kalian sedang kewalahan mengurus orderan yang makin meningkat" kata Sisil di seberang telepon mengerti keadaan suaminya
"Iya sayang, ya udah dulu. Aku mau ke kantin, udah laper banget" kata Mas Rangga kemudian mengakhiri sambungan telepon
Setelah itu Rangga beranjak dari duduknya kemudian melangkahkan kaki keluar dari ruangannya, Rangga berjalan sendirian menuju kantin perusahaan yang ada di bagian paling ujung berdekatan dengan tempat parkiran mobil karyawan.
Saat Rangga memasuki area kantin semua karyawan Sisil begitu terkejut melihat atasan mereka memilih makan di kantin, karena selama Rangga menjadi atasan mereka tidak pernah sekali pun mereka melihat Rangga makan di kantin.
Namun entah mengapa kali ini Rangga mau menginjakkan kaki di kantin perusahaan, Sri yang kebetulan baru datang ke kantin juga dan seluruh kursi penuh kecuali kursi yang di tempati atasannya langsung tersenyum senang karena sepertinya takdir memang sedang memihak padanya.
Pesanan Rangga sudah datang bahkan ia segera menyantap makanan itu tanpa mempedulikan banyak mata yang memperhatikannya, tak lama kemudian Sri datang menghampiri Rangga sembari membawa nampan berisi makanan yang di pesannya tadi.
"Pak, boleh gak saya duduk disini. Soalnya semua kursi sudah penuh" kata Sri dengan raut wajah memelas berharap atasannya mengizinkan
__ADS_1