Milikku Bukan Milikmu

Milikku Bukan Milikmu
Bab 51


__ADS_3

Selesai makan di restoran milik Fika dan membayar bill, Sisil dan putrinya langsung beranjak ingin segera kembali ke kediaman mereka sekalian mereka berdua ingin istirahat karena sama-sama merasa lelah setelah banyak melakukan aktivitas hari ini.


Hanya berapa belas menit karena jalanan sudah tak macet lagi, mobil yang di lajukan Sisil tiba di kediamannya dan langsung di parkiran Sisil dalam garasi mobil lalu ia keluar bersama putrinya yang terlihat tak semangat hari ini.


Setelah berada di dalam rumah Sisil minta tolong Bik Mirna untuk menemani putrinya serta membantu putrinya untuk membersihkan tubuhnya, sedangkan Sisil memilih masuk ke dalam kamar utama ingin mengistirahatkan tubuh dan pikirannya saat ini.


Tiba di kamar Sisil langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur sembari menggapai HP-nya yang ada di dalam tas yang ada di sampingnya, Sisil menghubungi Dewi memberi tahu bahwa ia takkan ke perusahaan lagi dan jika ada berkas penting bisa Dewi antar ke kediamannya.


Selesai dengan urusan perusahaan, Sisil pun segera memejamkan kedua kelopak matanya ingin tidur siang namun baru saja kedua kelopak matanya terpejam ia mendengar bunyi ketukan pintu sehingga ia pun mengurungkan niatnya untuk tidur dan segera beranjak.


"Ada apa, bik?" tanya Sisil setelah membukakan pintu kamar


"Maaf nya menganggu, di depan ada tamu nya. Pria paruh baya katanya dia di utus oleh bu Fika" jawab Bik Mirna sembari membungkukkan tubuhnya tak enak menganggu waktu istirahat majikannya


"Ohh iya, bik. Saya akan ke ruang tamu, bibik tolong buatkan minum buat tamunya" kata Sisil kemudian masuk ke dalam kamar sejenak ingin mencuci wajahnya agar rasa kantuknya hilang


Sedangkan Bik Mirna langsung berlalu dari kamar majikannya dan bergegas menuju dapur, Bik Mirna dengan cekatan membuatkan segelas teh hangat lalu di letakkannya di atas nampan bersamaan beberapa cemilan yang selalu ada di rumah ini.


Lalu Bik Mirna membawa nampan yang berisi segelas teh hangat dengan cemilan itu ke depan, tiba di ruang tamu Bik Mirna meletakkan segelas teh hangat dengan cemilan itu di atas meja yang ada di hadapan pria paruh baya itu.


"Silahkan" ujar Bik Mirna dengan ramah kemudian berlalu dari situ ingin kembali ke kamar putri majikannya yang tadi di tinggalkannya

__ADS_1


Tak lama kemudian Sisil muncul dan kini sudah duduk di sofa single yang berhadapan dengan pria paruh baya itu, setelah pria paruh baya itu menikmati teh hangat dan cemilan itu baru ia menyampaikan tujuannya ke kediaman Sisil.


"Nama bapak siapa?" tanya Sisil dengan ramah sembari tersenyum


"Nama saya Ujang, panggil saja mang Ujang" kata Pria paruh baya yang bernama Ujang


"Ohh begitu, baiklah mulai detik ini mang Ujang udah boleh bekerja tapi mang ujang bekerja mulai dari pukul 06.00 pagi sampai 06.00 sore. Setelah itu mang Ujang bisa kembali ke tempat tinggal mang Ujang, untuk menginap gak bisa karena di rumah ini gak ada laki-laki takut timbul fitnah" jelas Sisil panjang lebar dengan hati-hati


"Baik nya, mang Ujang mengerti" jawab Mang Ujang bahagia karena akhirnya bisa mendapatkan pekerjaan juga


"Sekitar pukul 04.00 sore nanti, mang Ujang ke bandara ya jemput ibu mertua saya. Ini kunci mobil yang ada di garasi" kata Sisil kemudian menyerahkan kunci mobil milik suaminya, mobil sejuta umat yaitu mobil avanza


Berbeda dengan mobil milik Sisil, mobil milik Sisil adalah mobil ferrari sport yang di belinya pertama kali saat ia sudah berhasil dengan pencapaiannya setelah ia bisa mendirikan perusahaan skincare atas namanya.


Baru berapa potong buah masuk ke dalam mulut Sisil, putrinya langsung bergabung duduk di samping sang mama dan meminta penjelasan soal sang papa apa benar yang di katakan semua teman di sekolahnya tadi.


Sisil meletakkan garpu yang di pegangnya untuk mengambil buah itu ke piring buah, kemudian Sisil membenarkan posisi duduknya yang kini menghadap putrinya dengan tatapan penuh kasih sayang lalu Sisil menarik napas panjang.


"Maafkan mama, udah merahasiakan ini dari Raya. Papa memang sekarang sedang di kantor polisi, tapi tidak sepenuhnya papa salah. Ini hanya kesalahpahaman saja jadi apa kata teman-teman Raya itu sepenuhnya tidak benar, mama mohon Raya tidak usah terlalu mendengarkan omongan teman-teman Raya" kata Sisil sembari mengelus pucuk kepala putrinya dengan lembut


Tes

__ADS_1


Air mata putrinya kembali jatuh padahal kedua kelopak mata putrinya sudah sangat sembab akibat kebanyakan menangis di sekolah tadi, kini harus kembali menangis setelah mendengar penjelasan sang mama.


Sisil yang tak tega dengan putrinya langsung memeluk tubuh putrinya dengan begitu erat sembari mengelus punggung belakang putrinya, dan ia pun ikut menetes air mata meski tak berusaha namun putrinya tau kalau sang mama juga menangis.


"Sore nanti, nenek tiba di kota ini" kata Sisil setelah mereka berdua selesai menumpahkan kesedihan yang mereka rasakan saat ini


"Nenek sudah tau tentang papa?" tanya Raya karena heran mengapa sang nenek tiba-tiba hendak ke kediaman mereka jika tak ada urusan penting


Sisil mengganggukkan kepalanya tanda jawaban untuk putrinya, setelah itu Sisil meminta putrinya itu berbaring di sofa dengan pahanya menjadi bantal dan dengan patuh putrinya pun segera berbaring seperti permintaan sang mama.


Setelah putrinya berbaring Sisil membelai rambut panjang milik putrinya yang tergerai itu, namun kedua bola mata Sisil menatap layar TV yang tengah menyala sedangkan pikirannya saat ini tertuju dengan suaminya yang masih mendekap di balik jeruji besi.


Lambat laun putrinya pun tertidur saking menikmati sentuhan dan belaian tangan sang mama, setelah putrinya tertidur pulas Sisil melanjutkan acara makan potongan buah yang baru tersentuh sedikit tadi.


Waktu berjalan begitu cepat kini sudah menunjukan pukul 03.45 sore, Sisil dan putrinya akan menjemput sang nenek di bandara dengan mobil di kemudikan oleh Mang Ujang supir baru yang di pekerjakan oleh Sisil di kediamannya.


Beruntung jalanan tak macet sehingga hanya berapa belas menit mobil yang di kemudikan oleh Mang Ujang sudah berhenti tepat di lobi bandara, Sisil dan putrinya keluar dari mobil lalu melangkahkan kaki sembari bergandengan tangan masuk ke bandara.


"Nenek...." teriak Raya saat melihat sosok sang nenek baru turun dari pesawat setelah mendapatkan kopernya


"Cucu nenek" kata Ibunya Rangga kemudian memeluk sang cucu dan tak lupa mendaratkan ciuman di pipi kanan dan pipi kiri sang cucu

__ADS_1


"Bu...." kata Sisil kemudian mencium punggung tangan ibu mertuanya dengan takzim


__ADS_2