Milikku Bukan Milikmu

Milikku Bukan Milikmu
Bab 50


__ADS_3

Sisil sudah tiba di ruangan bagian admin, ia melihat satu persatu karyawannya yang bekerja disitu tapi ia tak menemukan karyawan baru yang mencoba menggoda suaminya dan bahkan sepertinya semua karyawan disitu karyawan lama semua.


"Maaf, apa bu Sisil ada perlu dengan saya sampai datang ke ruangan admin?" tanya Kepala bagian admin dengan sopan mendekati Sisil yang terlihat seperti sedang memperhatikan semua bagian admin


"Hem, mana karyawan baru bagian admin yang di terima dua minggu yang lalu?" tanya Sisil karena tak menemukan karyawan baru itu akhirnya bertanya dengan kepala bagian admin


"Ohh, si Sri udah gak kerja lagi bu. Kemarin di pecat oleh pak Rangga" jawab Kepala bagian admin itu yang langsung bisa menebak yang di cari Sisil adalah Sri karena hanya Sri karyawan baru disini


"Kenapa di pecat, apa dia bikin kesalahan?" tanya Sisil penasaran mengapa suaminya memecat karyawan baru itu


"Saya kurang tau bu, gak di jelaskan oleh pak Rangga. Tau-tau Sri langsung di pecat bahkan gak dapat gaji dan pesangon" kata Kepala bagian admin itu lagi


Sisil menganggukkan kepala lalu mengucapkan terima kasih kepada kepala bagian admin yang sudah memberitahu hal tersebut, lalu Sisil memutuskan kembali ke ruangan suaminya ingin melanjutkan melihat CCTV kejadian kemarin.


Kemudian Sisil mulai melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan bagian admin, namun saat ia hendak menuju ruangan suaminya Dewi menyapa dan mengingatkan Sisil bahwa sebentar lagi waktunya makan siang tentu jangan sampai Sisil telat makan.


Karena ia tengah hamil muda, Sisil pun mengurungkan niatnya hendak kembali ke ruangan suaminya dan memilih hendak menjemput putrinya di sekolah yang sebentar lagi keluar serta sekalian ia akan makan di luar bersama putrinya.


Tiba di mobilnya Sisil segera masuk lalu di lajukannya mobilnya itu dengan kecepatan sedang meninggalkan perusahaan miliknya menuju sekolahan putrinya, saat ini menjelang makan siang dan para anak sekolah pulang membuat jalanan jadi macet.

__ADS_1


Sudah setengah jam mobil Sisil terjebak macet di jalan yang pasti putrinya sekarang sudah pulang sekolah, bahkan Sisil saat ini sudah merasa sangat lapar namun jalanan masih juga macet ia harus lebih bersabar dan tak berapa lama kemudian kendaraan di depannya pun mulai beransur-ansur melaju.


Sisil akhirnya bisa bernapas lega, di percepatnya laju mobilnya agar putrinya tak menunggu lama lagi karena ia juga sudah lapar dan mobil yang di lajukan Sisil pun akhirnya tiba di halaman sekolah putrinya setelah terparkir Sisil langsung keluar mencari keberadaan putrinya.


"Mama...." panggil Raya dengan suara parau lalu menghambur ke pelukan sang mama


"Ada apa dengan Raya, Bu Marisa?" tanya Sisil khawatir melihat kedua kelopak mata putrinya bengkak dan bisa ia pastikan bahwa putrinya habis menangis


"Maafkan saya bu Sisil, saya tidak tau ketika jam istirahat tadi Raya jadi korban bullying anak-anak lain" kata Bu Marisa merasa tak enak hati karena tak memperhatikan para anak muridnya


"Bagaimana bisa, selama hampir setengah tahun lebih sekolah disini gak pernah saya terdengar soal bullying" kata Sisil yang tau semua tentang sekolahan putrinya itu


Bu Marisa menarik napasnya lalu di hembuskannya perlahan, Bu Marisa mulai menceritakan mengapa putrinya Sisil bisa jadi korban bullying anak-anak lain karena berita terkini yang sedang viral itu dan sudah di nyatakan bahwa di video itu adalah papanya Raya.


Flashback On


"Kalian semua gak usah berteman dengan Raya, papanya Raya itu lagi terkena kasus gak benar dan papanya Raya saat ini di tangkap polisi. Papanya Raya itu suka berselingkuh di belakang mamanya Raya, jadi jangan mau berteman dengannya nanti papa kalian ketularan" begitulah ucapan para wali murid meracuni otak anak-anak mereka dan salah satu wali murid itu suaminya bekerja sebagai abdi negara jadi tau tentang papanya Raya


Setelah kejadian itu Raya pun di diami dan di jauhi semua teman sekelasnya, Raya yang tak tau menau hanya diam dan terus berusaha mendekati teman-teman namun karena teman-temannya mulai kesal dengan Raya akhirnya mereka semua mendorong Raya dan menghina Raya.

__ADS_1


"Huh. Dasar anak tukang selingkuh, anak tukang selingkuh, anak tukang selingkuh. Papa Raya penjahat, papa Raya penjahat" serentak ucap teman-teman sekelas Raya sembari melempari Raya dengan kertas yang di buat jadi bola-bola


"Apa maksud kalian, Raya gak ngerti" kata Raya berusaha mencerna hinaan teman-temannya sembari air mata mulai menetes


"Papa Raya itu selingkuh, papa Raya itu sekarang di tangkap polisi. Kami gak mau berteman dengan Raya anak tukang selingkuh dan papanya Raya masuk penjara, bukankah kata Bu Marisa kalau yang masuk penjara itu orang jahat. Jadi mulai sekarang Raya bukan teman kita lagi, jangan dekat-dekat dengan kita" teman-teman Raya terus memprovokasi Raya


Sehingga Raya terduduk di lantai sembari menangis memeluk kedua lututnya dan menundukkan kepalanya, sedangkan teman-teman Raya terus menghina dan melemparnya pakai kertas yang di buat bola-bola sampai akhirnya Bu Marisa masuk ke dalam kelas dan melihat kejadian itu.


Bu Marisa pun bertanya dengan semua anak muridnya mengapa memperlakukan Raya seperti itu, dan jawaban mereka semua membuat Bu Marisa tercengang karena ia sendiri baru tau detik itu karena Bu Marisa jarang menonton TV dan berita di sosial media.


Flashback Off


Sisil terdiam mematung mendengar cerita Bu Marisa barusan, Sisil tak menyangka akibat perbuatan suaminya jadi berdampak ke putrinya saat ini dan ia pun segera mencium pucuk kepala putrinya lalu pamit dengan Bu Marisa ingin segera pulang.


Setelah dapat anggukkan dari Bu Marisa, Sisil melangkahkan kaki sembari mengandeng tangan putrinya menuju mobilnya yang terparkir di halaman sekolah putrinya yang sudah tampak sepi karena ia terlambat menjemput putrinya.


"Ma, apa benar yang di bilang teman-teman Raya tadi pagi tentang papa?" tanya Raya setelah mereka masuk ke dalam mobil


"Raya, mama lagi mau mengemudi mobil jadi belum bisa jelasin dengan Raya. Tunggu sampai rumah ya, kita ke restoran tante Fika dulu buat mengisi perut Raya dan mama pasti Raya udah lapar kan" kata Sisil berusaha tampak tenang meski dadanya terasa sesak karena putrinya jadi korban bullying

__ADS_1


Putrinya pun menganggukkan kepala paham maksud sang mama, kemudian Sisil mulai melajukan kembali mobilnya meninggalkan halaman sekolah putrinya dan menuju restoran milik Fika.


__ADS_2