
Saat Indra masuk ke dalam kamar, petugas medis tengah memeriksa kondisi Arini. Petugas medis memasang penyangga leher pada Arini.
Akbar menangis saat melihat Bundanya meringis kesakitan. Beberapa tetangga berusaha menenangkan Akbar tapi ia menolak.
“Om Inda.. Om Inda.. Bunda, Om..”
Indra meraih Akbar ke dalam gendongannya.
“Ssst gak apa-apa. Bunda sudah aman sekarang. Bunda sedang diobati supaya Bunda cepat pulih lagi. Abay dan Kakak banyak berdo’a untuk kesembuhan Bunda, ya?”
“Ma’af, bisa menceritakan kronologinya?” seorang pria berumur pertengahan 40an memasuki ruangan, “Saya RT di sini.”
Indra menggeleng.
“Saya tidak tahu pasti bagaimana kejadiannya. Saat saya tiba pukul 06.15, teras dalam keadaan berantakan dan pintu depan terkunci. Alif yang membukakan pintu untuk saya.”
“Anda keluarga mereka?”
Indra menggeleng.
“Saya baru mengenal mereka kemarin. Saya tidak sengaja menciderai tangan kanan Teh Arini saat saya menghindari tabrakan dengan mobil lainnya di daerah Pasar Baru kemarin pagi. Saat itu Teh Arini hendak menyeberang jalan.”
“Tangannya dibebat karena cideranya itu. Dan pagi ini saya datang untuk memasang bebatnya lagi agar cideranya cepat pulih.”
“Oh.. Baru kemarin kenal?” suara gumaman ibu-ibu terdengar bagai dengungan lebah.
Akbar masih dalam gendongan Indra saat Indra berlutut memanggil Alif.
“Kakak.. Sini, Sayang.”
Melihat bagaimana kedekatan Indra dengan Alif dan Akbar membuat para tetangga bingung.
“Kakak bisa ceritakan apa yang terjadi pada Bunda? Supaya kita semua tahu apa yang terjadi?”
__ADS_1
Alif mengangguk.
“Bapak-bapak, sebaiknya kita ke ruangan tengah saja supaya para petugas medis bisa bekerja maksimal tanpa gangguan. Juga untuk menjaga marwah Teh Arini agar auratnya tidak terlihat yang bukan mahromnya,” kata Indra sambil menggiring para bapak-bapak, “Ibu-ibu, saya titip Teh Arini ya..”
Indra menggandeng Alif ke ruangan tengah.
“Kakak cerita di sini ya..” Indra kembali berlutut.
“Kakak gak tahu jam berapa waktu itu. Tapi Kakak dengar suara di bawah. Suara barang-barang jatuh dan suara Bunda yang mengaduh. Suara-suara pukulan. Suara benturan di tembok beberapa kali. Kakak turun...” Alif terhenti. Suaranya bergetar. Matanya berair.
“Kakak takut.. Tapi Kakak melihat Bunda ditendangi orang jahat..”
“Ya Allah.. Ada berapa orang?” Pak RT ikut berlutut, menatap iba pada Alif.
“Cuma satu orang. Orang jahat banget. Kakak dan Adik benci sekali ke orang itu..” Alif menangis sesunggukan.
Indra meraih tubuh Alif, menepuk-nepuk punggungnya.
“Kakak hebat. Kakak anak yang hebat. Kakak berani untuk menolong Bunda..”
“Kakak teriak, jangan sakiti Bunda! Orang itu berhenti memukul dan menendangi Bunda. Dia berdiri melihat Kakak. Orang itu menghampiri Bunda lagi. Kakak kira Bunda akan dipukuli lagi...”
Ibu-ibu yang mendengar cerita Alif meneteskan air matanya.
“Orang itu menarik rambut Bunda. Terus bicara ke Bunda. Tapi Kakak tidak tahu apa yang dia katakan..”
“Terus?” tanya seorang tetangga lainnya yang memegangi gawainya.
“Kakak tendang orang itu. Pukul orang itu. Orang itu marah. Dia pukul Kakak di sini..” Alif menunjuk pada bahunya, “Kakak terbentur tembok. Kepala Kakak sakit sekali.”
Indra meraba kepala Alif yang ditumbuhi rambut hitam tebal. Dia mengangguk pada Pak RT.
“Benjol besar..”
__ADS_1
“Ya Allah...”
“Orang itu pergi. Kakak langsung lari ke arah pintu dan mengunci pintunya. Takut orang itu balik lagi mukuli Bunda dan Kakak..”
“Tata.. hahap Abay da banyun. Abay da engel swawa putung..” Akbar terisak memeluk Alif.
Pak RT memandangi Indra.
“Kakak.. Maaf. Abay gak bangun. Abay gak dengar suara pukul..” Indra menerjemahkan ucapan Akbar.
Para tetangga bergumam. Antara terenyuh dan heran bagaimana Indra bisa memahami ucapan Akbar.
“Siapa yang bawa Bunda ke atas?”
“Bunda mencoba naik dibantu Kakak..”
“Ya Allah..”
“Alif kenal dengan orang itu?” tanya tetangga yang lain.
Alif mengangguk.
“Ayah.”
Para tetangga saling berpandangan tidak percaya.
“Bunda dan Ayah sudah tidak pernah bersama lagi. Bunda dengan Kakak dan Abay. Ayah dari dulu lebih memilih Tante Erni. Ayah gak pernah datang. Baru pagi tadi Kakak lihat Ayah lagi. Tapi Ayah pukuli Bunda...” Alif terisak lagi.
Indra merengkuh Alif dalam pelukannya. Tapi Alif mengernyit kesakitan. Indra meletakkan Akbar untuk berdiri sendiri. Tangannya membuka kancing kemeja yang dikenakan Alif kemudian menyingkap kerah hingga punggungnya.
.
***
__ADS_1
Ma'af telat upload 🙏🏼