Mr. Secretary: Destiny Bound

Mr. Secretary: Destiny Bound
BAB 59 – KOMENTAR DI TOWTOW


__ADS_3

“Ma’af.. saya... saya tidak fokus tadi. Di sini agak berisik...” Indra menatap Arini dengan wajah memerah.


“Setdah! Dia yang keceplosan, kita yang jadi kambing hitamnya,” seloroh Agung disambut cekikikan yang lainnya.


Indra mencebik ke arah Agung. Agung pura-pura tidak melihat.


“A Indra kenapa?” suara Arini terdengar lagi membuat Indra menatap pada layar gawainya lagi.


“Saya... saya gak kenapa-napa Teh. Teteh sudah bisa makan kan?”


“Belum banyak. Selain karena pipi bagian dalam masih pedih, perut saya masih perih..”


“Tadi pagi saat visit dokter, Teteh sudah ngomong tentang perut Teteh?” suara Indra terdengar cemas.


“Saya.. saya lupa. Saat itu pikiran saya hanya pada Alif yang mendadak kejang..”


“Ah ya...” Indra menatap cemas Arini, “Sekarang masih sakit? Saya hubungi perawat ya?”


“Gak.. gak usah A. Saya sudah tidak apa-apa. Tadi minum air hangat, sakitnya berkurang.”


“Jangan menyembunyikan rasa sakit lagi. Karena sudah ada saya yang menjaga kalian..” Indra tahu kalimatnya ambigu tapi dia tidak peduli.


Dirinya menikmati semburat pink di pipi Arini yang masih terdapat warna ungu yang semakin samar.


“A Indra terima kasih banyak. Tadi Abay bercerita semalam diajak sholat tahajud oleh A Indra..”


Indra terdiam berharap Abay tidak menceritakan apa yang terjadi di sekolah hari ini.


“Abay juga bercerita menjelang subuh tadi sempat tertidur sebentar sambil dipeluk Om Indra.."


Indra tersenyum. Teringat dini hari tadi.


“Sekarang Abay sedang apa?”


“Baru saja tidur setelah tadi mengerjakan PR dibantu para Oma dan Neneknya.”


“Ndra!” Hans memanggilnya lalu menunjuk pada jendela ruang PICU yang tirainya dibuka.


Indra mengubah stelan kamera menjadi kamera belakang. Indra mengangguk mengerti. Mereka semua menuju jendela.


“Ma’af saya lupa memberitahu Teteh. Alat bantu nafas, ventilator Alif sudah dilepas. Tadi saat saya menjenguknya di ruang recovery, tubuhnya sudah bisa bernafas sendiri..”


“Alhamdulillah...” mata Arini mulai mengembun.


“Ssssshhh....ssssshh.. tolong jangan menangis lagi Teh. Mulai sekarang, Teteh dan anak-anak harus bahagia, ya,” Indra berjalan ke arah jendela PICU, “Kita lihat Alif ya.. Teteh jangan menangis nanti Alif sedih loh..”


Arini menghapus air mata yang menggenang di pelupuk matanya.


“Mami, Mommy dan Bunda sedang apa?” iseng Indra bertanya.


“Sedang nonton drakor di sofa depan. Tuh mereka sedang ketawa bareng. Nanti kalau ada adegan sedih mereka berpelukan seperti teletubies..” Arini terkekeh diikuti Indra.


“Ndra, Alif jadi pasien satu-satunya di PICU?” tanya Papi.


“Masa sih Pi?” Indra ikut melihat ke dalam melalui kaca jendela, “Eh iya..”


“Semuanya.. kami pamit dulu...” suara Tatang terdengar, “Lilis akan dipindahkan ke ruang rawat inap. Terima kasih banyak atas bantuannya. Nona Adisti, Nona Adinda, Tuan Bramasta, semuanya.. Terimakasih sudah membiayai semua biaya operasi dan perawatan Lilis. Tuan Hans, Tuan Indra, Tuan Agung dan Tuan Anton, terimakasih sudah membantu menemukan penabrak Lilis. Tuan Alwin, Tuan Kusumawardhani dan Tuan Gumilar, terima kasih banyak.. Semoga Allah membalas semua kebaikan dengan keberkahan..”


Tatang beberapa kali membungkukkan tubuhnya. Anton menghampiri Tatang, menepuk-nepuk punggungnya.


“Do’a yang sama untuk Tatang dan keluarga ya..”


Mereka saling bersalaman. Ibu Imam memeluk Adisti dan Adinda.


“Neng.. Ibu teu tiasa bales nanaon ka Neng sadayana. Hatur nuhun pisan._Neng.. Ibu tidak bisa membalas apa-apa ke Non semuanya. Terimakasih banyak._” Ibu Imam memegang kedua tangan Adisti, “Ya Allah.. Asa bertub-tubi cobaan dinten ieu _ Serasa bertubi-tubi cobaan di hari ini_, Lilis ditabrak lari, tubuhnya dibiarkan begitu saja dijalanan sampai ada ojol yang lewat dan memberitahu warga..”


“Ibu.. teu sawios_Ibu.. tidak apa-apa_” Adisti tersenyum, “Mungkin ada amalan yang Bapak dan Ibu lakukan yang membuat Allah langsung memberikan bantuan disaat yang tepat dengan dipertemukan dengan orang yang bisa membantu kesulitan Bapak dan Ibu..”


“Bu, itu perawat sudah menunggu..” Adinda mengelus punggung Bu Imam.


“Hatur nuhun sadayana nyaa,” lagi Bu Imam berterimakasih.


“Nanti kami tengok Lilis di kamarnya,” Indra tersenyum kepada Tatang dan Bu Imam.

__ADS_1


Pak Imam menunggu di samping bed Lilis. Mereka menuju lift. Ruang rawat inap kelas 1 ada di lantai 5.


“A.. A Indra..” suara Arini terdengar dari gawainya.


Indra tersadar, dirinya masih terhubung video call dengan Arini. Kamera masih menggunakan kamera belakang.


“Eh iya...” Indra membalikkan kameranya lagi, “Ma’af...”


“Mereka siapa?”


“Mereka keluarga pasien yang dioperasi lebih dahulu daripada Alif tapi selesai dalam waktu bersamaan. Anak kecil, 10 tahun. Korban tabrak lari.”


“Innalillaahi...”


“Nanti saya ceritakan kalau saya sudah ada di atas ya..”


“Ndra, kamu sedang vicall dengan Arini?” Daddy menggeser tubuhnya dari jendela.


“Iya Om. Kenapa?”


“Gak kenapa-napa. Tuh barangkali mau lihat Alif. Kamu mau masuk ke dalam? Om ingin masuk juga..”


“Papi juga..”


“Ayah juga..”


Mereka bertiga berdiri berjejer di depan Indra. Indra mengangguk.


“Nanti Indra bicarakan dengan perawat ya.. Para Kakek ingin menengok cucunya..”


“Siiip!” mereka bertiga mengacungkan jempolnya ke arah Indra.


Indra mengarahkan kamera gawainya pada Alif yang tengah terbaring tenang. Tidak ada alat bantu ventilator yang menyumpal mulutnya, tidak ada selang oksigen pada hidungnya. Alif, seperti sedang tertidur nyenyak.


“Kakak Aliiiif,” suara Arini yang tertahan membuat Indra menunduk memandangi layar gawainya.


Mata Arini sudah mengembun lagi.


"Jangan menangis. Alhamdulillah perjuangan Alif membuat kemajuan yang sangat besar. Do’akan besok Alif sudah sadar lagi ya, Teh.”


“Teh, saya mau ke dalam dulu, berbicara dengan perawat. Para Kakeknya Alif ingin masuk menjenguk cucunya. Sepertinya mereka kangen banget. Bete dari tadi Cuma duduk di ruang tunggu..”


Air mata yang mengantung itu jatuh ke pipinya.


“Masyaa Allah.. Alif dan Abay begitu mudah diterima oleh kalian. Alif dan Abay benar-benar memiliki Kakek dan Nenek sekaligus banyak..” Arini terkekeh dengan pipi merona.


Matanya mengerjap.. Dan iris bunga matahari itu terlihat bercahaya. Cantik. Indra terpesona.


Ijin dengan mudah didapatkan oleh Indra. Para Kakek ketiganya diperbolehkan masuk ke dalam ruang PICU bersamaan karena selain Alif menjadi pasien satu-satunya juga karena mereka berjanji hanya sebentar.


Saat para Kakek berada di dalam, Indra menghampiri Adisti, Adinda dan Anton yang tengah berbincang seru. Bramasta, Agung dan Hans memandangi layar gawai mereka lalu tertawa dan ikut berbincang dengan ketiganya.


“Ada apa?” Indra menduduki kursi di samping Agung.


“Mereka meramaikan komentar TOwTownya Siska. Walhasil jadi heboh. Makin ramai..”


“Share link,” Indra mengambil gawainya.


“Para crew B Group yang cewek, mereka sudah terjun ke arena sejak sore hari. Makin ramai saat after work hour,” Adisti tersenyum lebar.


“Lu jadi siapa, Ton? Terus kalian?” tanya Indra sambil scroll up komentar yang sudah banyak.


“Gue jadi Alpha Gen. Adisti jadi Platinum Nail. Dinda jadi Pink Rose,” Anton terkekeh.


“Setdah.. itu nama. Kalian dapat ilham dari mana?” Indra tertawa membaca komentar-komentar yang ada.


“Udah terlalu banyak komentar, Ndra.. Bakalan capek Lu scrolling-nya,” Hans tertawa.


“Di WAG ada SSan komentar mereka bertiga tuh..” Bramasta tertawa juga.


Indra segera membuka WAG. Kemudian tertawa membaca screenshot komentarnya.


(Alpha Gen)_Ah, meributkan janda padahal ternyata dia adalah seorang pelakor. Jadi pelakor kok bangga. Jadi pelakor kok sombong banget.._

__ADS_1


(Siska)_Hey! Sembarangan banget kamu! Kamu gak kenal siapa saya? Seenaknya menyebut saya pelakor! Saya perempuan baik-baik!_


(Pink Rose)_Perempuan baik-baik tidak akan menjadi pelakor, Tante.._


(Siska)_Pink Rose, apa urusan kamu? Ngapain kamu manggil saya tante? Gak sudi saya punya keponakan seperti kamu!_


(Pink Rose)_Apalagi saya.. gak sudi punya tante seorang pelakor. Perebut laki orang. Memang sudah gak laku banget ya Tante?_


(Jannete)_Gak nyangka, ternyata pelakor.. Gaya selangit karena hasil menjarah! Awokawokawok_


(Siska)_Gue bukan pelakor! Dengar ya, kami saling cinta. Apa salah gue jatuh cinta?_


(Platinum Nail)_Bwakakakak... Jatuh cinta sama suami orang sampai buat rumah tangga mereka hancur tapi gak mau disebut pelakor. Malu woyyyy maluuuuuw_


(Ayudyah)_Perempuan jahat @Siska. Karma mengintaimu_


(Hernida)_Menghina janda apalagi janda baik-baik padahal dirinya pelakor, duh... punya cermin gak Bu?_


Indra menggelengkan kepalanya sambil terkekeh.


“Perang kaum wanita itu dahsyat banget ya..”


“Dirujak ramai-ramai oleh netizen..” Bramasta tertawa.


“Kalian cuma segitu saja komentarnya?” Indra memandang Anton, Adisti dan Adinda.


Ketiganya mengangguk dan tersenyum lebar.


“Why?”raut wajah Indra serius.


Hans dan Bramasta saling menyenggol siku sambil terkikik.


“Taktik kami, cukup bermain sebagai pelempar isu, pemancing dan penggosok. Itu saja. Dan semuanya akan mengalir dengan sendirinya..” Anton membuka kedua tangannya sambil tertawa.


“Abang kan tahu sendiri bagaimana buasnya netizen Indonesia..” Adisti mengangguk-anggukkan kepalanya.


“Juga kepo maksimalnya netizen Indonesia..” Adinda tersenyum lebar, “Kalau ada yang mudah kenapa dipersulit. Kita gak perlu menghadapi perempuan seperti Siska yang menggunakan medsos untuk pansos. Wasting time..”


Indra tersenyum lebar “Cara kalian ini smart, licik dan to the point ya. Damage-nya pasti Siska tidak bisa tidur nyenyak malam ini. Gue jadi gak sabar menunggu besok mellihat dia di sekolah nanti saat mengantar Abay. Masih dikelilingi ibu-ibu muda para penggemarnya lagi gak ya?”


“Terus.. kita bakal spill video dari CCTV sekolah kapan?” Adisti menatap Indra.


“Kita tunggu tindakan dari pihak yayasan dan sekolah,” Indra menjawab, “Bersabar saja dulu..”


“Kalau kasus Lilis, kapan kita spill di medsosnya Siska?” Adinda memandang Anton dan Hans bergantian.


“Tanyakan ke Bapak Ketu,” Anton menunjuk Hans dengan kelima jarinya.


“OK. Bapak Ketu Power Ranger, kapan kita spill kasus Lilis?” Adinda mengedip-edipkan matanya.


“Kamu sepertinya bersemangat sekali, Din..” Agung membetulkan hijab Adinda yang terlipat di bagian punggungnya.


“Iya dong.. memangnya cuma Om dan para Abang saja yang jadi Power Ranger.. Kita juga para cewek bisa. Ya gak Teh Disti?”


Hans tertawa. Dia menjawab dengan jarinya.


“Dua hari lagi. Teman Bang Leon menjanjikan 2 hari untuk hasil lab tes DNA di tisu yang dibuang Siska di tong sampah.”


“Siiip!” Adisti dan Adinda saling hi-five.


Semuanya tertawa melihat tingkah mereka.


.


***


Bagaimana reaksi bukibuk muda di sekolah?


Orang seperti Siska ada gak sih di dunia nyata?


Ada doooong


!

__ADS_1


Jangan lupa pencet like atau minta update.


Utamakan baca Qur'an ❤️


__ADS_2