
Ambulans berhenti di depan pintu UGD. Para petugas medis dengan sigap membantu mengeluarkan pasien dari ambulans.
Mobil Indra membuat belokan tajam dengan kencang saat melalui ramp jalur UGD. Berhenti dengan bunyi rem yang berdecit nyaring.
Bramasta yang sudah menunggu di teras UGD bergegas menghampiri mobil Indra diikuti para pengawalnya.
“Calm down, Bro! Calm down..!”
Indra menurunkan jendela samping Alif lalu berteriak pada Bramasta. Tangan Indra menahan dada Alif agar tetap menyandar pada kursi.
“Panggil petugas medis! Alif....”
Bramasta menatap Alif. Segera ia membuka pintu mobil. Mendorong tuas kursi agar rebah lalu melepas sabuk pengamannya.
Tanpa menunggu petugas medis, Bramasta membawa tubuh Alif dalam gendongannya ke dalam UGD. Security dengan sigap mengambil bed brankar.
Indra mengendong Akbar yang terisak melihat kondisi kakaknya. Pintu mobilnya masih terbuka semuanya. Pengawal Bramasta dengan sigap mengambil alih mobil Indra. Memarkirkannya di tempat parkir pengunjung.
Arini dipindahkan dari brankar ambulans ke brankar UGD dengan hati-hati oleh beberapa perawat dan petugas medis ambulans.
Indra berbicara dengan dokter jaga sambil menggendong Akbar tentang kejadian yang menimpa Arini dan Alif. Kebetulan dokter jaga pagi ini adalah dokter jaga yang kemarin memeriksa Arini.
Bramasta mendampingi Alif. Alif masih tidak sadarkan diri. Bramasta membuat panggilan telepon dengan Hans. Berbicara dengan suara pelan.
Dokter memeriksa Arini. Dokter yang lain memeriksa Alif.
“Apa yang terjadi dengan anak ini?” tanyanya.
Bramasta yang ditanya dan tidak tahu apa-apa segera memanggil Indra.
“Ndra, dokter menanyakan Alif.”
Indra segera masuk ke bilik Alif. Indra menjelaskan kronologi peristiwa. Bramasta meremat handrail brankar. Tidak menyangka ada seorang ayah yang begitu tega kepada darah dagingnya sendiri.
__ADS_1
“Sekalian saya minta laporan visumnya ya Dok,” Indra mengakhiri kronologi cedera dan kondisi Alif yang tak sadarkan diri.
Dokter tersebut mengangguk. Perawat yang mendampinginya menatap nanar wajah Alif.
“Kasihan...,” gumamnya sambil membelai kepala Alif dan memeriksa benjol besar di kepala bagian belakangnya.
“Kita CT Scan dulu ya.”
Indra mengangguk. Dia mengelus pundak Akbar yang masih terisak lemah.
Bersamaan dengan Arini yang sudah selesai diperiksa. Kedua brankas bed bergerak menuju ruang radiologi.
Indra menatap nanar saat bed brankar bergerak ke dalam ruangan CT Scan. Pintu ruangan ditutup oleh petugas medis.
Indra menundukkan pandangannya. Bahunya terkulai lemas. Akbar dalam gendongannya tertidur. Lelah karena menangis.
Seorang pengawal Bramasta mengambil alih tubuh Akbar. Bramasta mendekati Indra. Merangkulnya untuk memberi dukungan. Menguatkan Indra.
Seumur-umur Bramasta mengenal Indra, baru kali ini ia melihat sahabatnya itu tampak hancur seperti ini. Bramasta bisa merasakan bahu Indra yang berguncang. Dia menangis.
“Gue baru kali ini melihat perempuan dihajar oleh laki-laki sampai segitunya. Gue juga baru kali ini melihat seorang ayah yang tega banget menyakiti fisik anaknya sendiri yang masih kecil..”
Bramasta menepuk punggung Indra.
“Lu harus kuat. Lu harus sabar. Anak-anak percaya dengan Lu. Gue yakin juga ibunya begitu. Jangan sampai mereka melihat air mata Lu, Ndra..”
Indra menyeka air matanya dengan kasar. Matanya bertemu dengan mata tetangga sebelah rumah Arini yang tengah duduk di kursi tunggu di area ruang radiologi.
“Be strong, Bro..” Bramasta menepuk punggung Indra lagi.
Indra mengangguk.
“Thanks Bro..” Indra melepaskan pelukan Bramasta.
__ADS_1
Indra mendekati tetangga Arini. Duduk di sampingnya berselang satu kursi sebagai jarak.
“Bu, ma’af.. selama menjadi tetangga Teh Arini, mantan suaminya pernah berkunjung?” Indra menoleh ke arah belakang, merasa ada seseorang yang duduk di sebelahnya. Bramasta.
Belum sempat wanita itu menjawab, suara pria terdengar.
“Ma’af saya baru sampai..”
Mereka yang sedang duduk langsung berdiri. Pak RT datang bersama dengan istri dan seorang pria.
“Ini suami saya, Pak Indra..” Ibu yang tadi mengenalkan pria yang datang bersama Pak RT.
“Saya Doni..” pria itu menyodorkan tangannya kepada Indra.
Indra menyambut tangannya dan mengenalkan Bramasta kepada mereka semua.
Setelah berkenalan dengan semuanya mereka mengobrol sambil berdiri.
“Semalam, saya melihat mobil Pak Indra saat hendak parkir di depan rumah Bunda Alif-Abay. Kebetulan saat itu saya baru sampai rumah,” Pak Doni memulai percakapannya.
Indra mengangguk.
“Dan saya juga melihat mobil avanza putih terparkir di tepi jalan di seberang rumah saya.”
Indra mengerutkan kening begitu pula dengan Bramasta.
“Saat Pak Indra meninggalkan rumah Bunda Alif-Abay, saya kebetulan sedang berada di teras. Ngeteh bareng istri..” Pak Doni memandang istrinya yang mengangguk menguatkan ceritanya, "Mobil avanza putih itu pergi dengan jeda waktu sekitar 10 menitan setelah mobil Pak Indra meninggalkan rumah Bunda Alif-Abay.”
“Pengemudinya seperti sedang kesal. Dia memukul setir mobilnya sebelum pergi dengan suara mobil yang menggerung gasnya,” Istri Pak Doni ikut menjelaskan.
“Saya sudah melihat rekaman CCTV rumah keluarga Pak Feri, yang rumahnya tepat di depan rumah Bunda Alif-Abay, sekitar pukul 03.40an, ada mobil avanza putih yang parkir tepat di depan rumah Bunda Alif-Abay. Sepertinya itu mobil mantan suaminya,” Pak RT memandang Indra dan Bramasta bergantian.
.
__ADS_1
***
Bagaimana dekat dan serunya hubungan Indra Kusumawardhani dengan Bramasta Sanjaya bisa dibaca di CEO RESCUE ME ya ..