Mr. Secretary: Destiny Bound

Mr. Secretary: Destiny Bound
BAB 30 – KEDATANGAN HANS


__ADS_3

Saat pintu diketuk dan digeser, Papi dan Mami serentak menoleh ke arah pintu. Ada Hans yang masuk dan mengucap salam. Tetapi Hans tidak sendiri. Dia datang bersama Raditya.


Raditya seorang aparat perwira tinggi yang baru dilantik beberapa bulan lalu dengan jabatan penting di instansinya. Rising star yang meroket karena prestasi kinerja dan desakan masyarakat juga para anggota dewan.


Namanya mulai melesat saat meringkus jaringan mafia human trafficking yang melibatkan rekan sejawatnya yang terjun dalam dunia gelap dalam peristiwa The Ritz. Agung menjadi korban peluru nyasar dari kejadian tersebut.


Juga peristiwa yang melibatkan Adinda yang nyaris menjadi korban woman trafficking oleh ibu tirinya yang melibatkan salah satu atase kebudayaan dari kedutaan Jerman. Indra ikut membantu menjerat pelaku yang mempunyai kekebalan diplomatik melalui Prince Zuko.


Lewat anonymous berwujud Prince Zuko, Bryan Amsel berhasil dijebloskan ke penjara di negaranya. Prince Zuko juga berhasil memecahkan beberapa kasus yang melibatkan Bryan Amsel yang dilakukannya belasan tahun yang lalu.


Dan hingga detik ini, Raditya tidak menyadari bahwa anggota WAG Kuping Merah adalah tokoh dibalik Prince Zuko. Hans sebagai head chief-nya, Anton sebagai head hacker-nya, Indra, Bramasta, Agung dan Leon sebagai hacker tambahan.


Keberadaan Adisti juga penting dalam Gank Kuping Merah, walau dia bukan sebagai anggota WAG. Kedudukannya sebagai penasihat, melihat persoalan dari perspektif yang berbeda sebagai wanita.


Hans dan Raditya salim pada Papi dan Mami. Indra menghampiri mereka. Hans dan Raditya memberi pelukan pada Indra.


“Syukurlah kamu datang, Hans..” Mami menggeser duduknya.


Mereka pindah tempat duduk ke sofa L agar lebih lega.


“Anda baik-baik saja, Nyonya?” tanya Raditya, “Hans sudah menceritakan kepada saya apa yang terjadi.”


“Alhamdulillah. Allah masih melindungi kami semua,” Mami menjawab sambil meremat jemari Papi. Papi menepuk-nepuk punggung tangan Mami untuk menenangkan.


“Nak Raditya sengaja datang ke Bandung?” Papi mengernyit memandang Raditya. Dia menyadari kesibukan Raditya yang pasti luar biasa sibuk dengan posisinya saat ini.


Raditya menggeleng sambil tersenyum.


“Alhamdulillah dari kemarin pagi kebetulan saya sedang ada tugas di Bandung, Tuan Dhani.”

__ADS_1


“Hari ini saya culik Pak Raditya agar mau kemari, Tuan Dhani,” Hans tersenyum lebar.


Hans memanggil Papi dengan sebutan formal mengingat ada Raditya. Saat berada di komunitas Kuping Merah, panggilan Babeh disematkan pada Papi sesuai kesepakatan bersama saat meeting Kuping Merah beberapa bulan yang lalu.


Hans memandang Mami.


“Jangan khawatir, saya sudah menempatkan orang saya di luar. Nanti mereka akan rolling menjaga ruangan ini selama 24 jam penuh. Selama Arini dan anak-anaknya dirawat di sini.”


“Boleh kami melihat mereka?” Raditya menatap Indra.


Indra mengangguk.


“Mereka sedang tidur..”


Hans dan Raditya mengangguk. Begitu melewati meja kopi di area sofa bed, Raditya mengambil 2 map yang bertuliskan visum. Satu milik Arini dan satu lagi milik Alif.


Dia membacanya sembari berjalan. Keningnya berkerut. Kemudian menggelengkan kepalanya.


Menyeka keringatnya dengan hati-hati sambil bergumam di dekat telinganya, “Ssst..ssst.. Gak apa-apa. Semua sudah aman sekarang. Gak akan ada yang menyakiti Kakak dan Bunda lagi. Ada Om Indra yang akan menjaga kalian. Ada Opa dan Oma juga. Saudara-saudara Om Indra juga akan bersama-sama menjaga kalian.”


Kerutan di kening Alif berangsur-angsur lenyap. Tidurnya menjadi lebih tenang sekarang. Indra mengecup keningnya. Lalu bergerak menggeser pelan tirai pembatas dengan bed Arini.


Arini juga tertidur dengan gelisah. Rambut yang menutupi keningnya basah oleh keringat. Setiap kali dia bergerak dalam tidurnya yang gelisah, wajahnya mengernyit kesakitan.


“Ya Allah.. bahkan kondisinya lebih parah daripada Adisti sewaktu terjatuh dari tebing..” Hans menggeleng. Keningnya mengernyit prihatin melihat kondisi Arini.


“Ndra, bukannya Arini pakai hijab? Kasihan.. Rambutnya terlihat. Nanti gue minta Adinda bawa hijab segiempat untuk menutupi rambutnya.”


“Ah ya.. Tadi pagi tidak kepikiran untuk membawa kain untuk menutupi kepalanya. Coba gue tanya ke Mami, bawa scarf gak ya..” Indra gegas menghampiri Mami yang ternyata sudah berpindah ke sofa bed.

__ADS_1


Hans dan Raditya mundur dari tirai bed Arini. Menunggu Indra di luar tirai.


“Mi, bawa scarf gak? Biasanya Mami bawa kan?” Indra membungkuk dan berbicara dengan nada pelan agar tidak mengganggu Akbar yang tengah terlelap.


“Bawa. Kenapa?”


“Indra pinjam dulu. Untuk menutupi rambut Arini. Kasihan. Auratnya jadi nampak.”


“Ah ya...” Mami mengambil scarf-nya.


“Nanti Indra beliin 10 deh buat Mami, merk yang sama..” bisik Indra sambil mengecup pipi Mami.


Mami terkekeh.


“Jauh belinya, Ndra..”


“Biarin.. Gak apa-apa. Kita pakai pesawat Bang Leon, Mi. Supaya ngirit ongkos.”


“Dih..!” Mami terkekeh sambil menepuk punggung Indra.


Indra kembali ke bed Arini. Memasangkan scarf dengan merk desainer dunia menutupi kepala Arini.


Merasa ada yang menyentuh kepalanya, Arini terbangun. Matanya menatap mata Indra dari jarak yang sedekat itu.


Indra tidak menyangka Arini akan bangun. Menatapnya dengan iris coklat terang seperti warna mata Adinda. Terpesona dengan warna iris Arini dengan guratan coklat kopi hingga hitam. Entah berapa detik Indra mengamati mata Arini.


.


***

__ADS_1


Bang Indra segitunya lihat mata Arini... 🫣😁


__ADS_2