
Perawat bergerak cepat mempersiapkan Arini. Arini memakai hijab kaos instan milik Adinda yang dibawakan Bunda.
Urine bag-nya sudah dikosongkan. Seprei dan sarung bantalnya sudah diganti dengan yang baru.
Bed Arini didorong menuju lift oleh dua orang perawat. Indra mendampinginya. Mami dan Bunda menyusul karena keterbatasan ruang di dalam lift.
Mereka yang menunggu di depan ICU sudah selesai makan. Meja di depan sofa mereka sudah bersih seperti sedia kala.
Mereka berdiri saat bed Arini datang. Pintu ruang ICU didorong, bed masuk begitu juga dengan Indra. Di dalmnya, bed diselimuti dengan kain biru tipis yang biasa dipakai untuk operasi.
Indra sudah memakai baju steril juga memakai penutup kaki dan kepala khusus. Perawat yang mendorong bed Arini diganti oleh perawat dari ruang ICU.
Indra menatap Arini. Menghentikan laju bed yang didorong ke ruangan Alif. Dia memegang tangan Arini.
“Teh Arin, berjanjilah satu hal,” Indra menatap Arini dengan tatapan serius, “Jangan terlalu emosional saat di dalam sana. Jangan membuat Alif jadi mengkhawatirkan Bundanya. Jangan membuat Alif jadi bersedih karena memikirkan Bundanya.”
Arini menatap Indra.
Tangan Indra meremat jemari Arini.
“Berjanjilah. Karena di dalam sana, Alif juga tengah berjuang sendirian.”
Sebutir air mata meloncat dan meluncur ke pipinya. Indra dengan cepat menghapus dengan ibu jarinya.
“Sssssh..ssssh, jangan menangis. Nanti Alif jadi sedih. Selalu tersenyum di dalam sana, OK?” Indra memeluk Arini, “I knew that you are a strong mom. Please, become a stronger mom for Kakak Alif.”
Indra berbisik pelan di telinga Arini. Membuat mata Arini mengembun.
“Iya..”
Arini mencoba memandang plafon agar air matanya tidak terjatuh. Perawat mendorong lagi bed Arini.
Memasuki ruangan Alif, Arini berusaha untuk tidak menangis. Sekuat tenaga menahan air matanya, bahkan hingga ia menggigit bibirnya sendiri agar tidak terisak, semua itu akhirnya jebol juga.
Hati ibu mana yang tidak terpengaruh melihat anaknya yang biasanya aktif bergerak kini tengah diam tak berdaya dengan mata terpejam. Dengan tubuh penuh alat penunjang kehidupan, kabel dan selang?
Pipinya basah. Arini menggigit lengan bawahnya agar tidak terisak. Indra memandang Arini dan Alif bergantian. Matanya pun basah.
Perawat membalik arah bed Arini berlawanan arah dengan bed Alif. Begitu bed mereka berdekatan, perawat mengatur bed Arini agar posisinya setengah duduk. Tangan Arini menggenggam jemari Alif.
Indra duduk di sisi bed Alif lainnya.
“Assalamu’alaikum Kakak.. Seperti janji Om Indra tadi. Om Indra kembali lagi bawa Bunda. Iya Bun?” Indra memainkan jemari Alif.
“Assalamu’alaikum Kakak.. Bunda sudah di sini. Ma’af ya lama menunggu Bunda..” suara sengau Arini membuatnya berhenti sejenak, “Om Indra baik banget, sudah mengusahakan supaya Bunda bisa menjenguk Kakak. Kakak suka Bunda di sini?”
__ADS_1
Jemari Alif menggengam telunjuk Bundanya. Arini melebarkan mata. Tidak percaya dengan apa yang dirasa dan dIlihatnya.
Indra melihat perubahan wajah Arini. Dia tersenyum lebar. Indra memberi isyarat pada Arini untuk terus mengajak Alif berbincang.
“Adik belum pulang dari sekolah Kak.. Mungkin sebentar lagi. Tante Husna yang akan menjemput Adik,” Arini menatap wajah Alif yang terpejam.
“Wali kelas Kakak titip salam, Kak. Pagi tadi Om Indra bertemu dengannya. Orangnya baik ya. Kakak ingin segera bisa berangkat sekolah lagi bareng Adik? Nanti kita berangkat bertiga ya. Om Indra, Kakak dan Adik. Bagaimana? Mau?” Indra tersenyum menatap Alif.
Rematan kuat terasa pada telunjuk Indra. Indra tersenyum lebar.
“Bunda sering ke sekolah Kakak dan Adik gak Bun?” tiba-tiba Indra bertanya pada Arini.
“Jarang, Om. Bunda kan sibuk kerja. Ma’afkan Bunda ya Kak..”
Alif kembali menggenggam telunjuk Bundanya.
“Kelas Kakak warna krem, kelas Adik warna putih dan biru. Keren banget...” Indra tersenyum menatap Arini.
“Pulang sekolah, kita mampir ke tempat game arcade di mall ya,” Indra menoleh pada Alif, “Kita main hockey table. Atau Kakak mau coba main basket seperti Om Indra dan Om Bramasta waktu itu yang dikalahkan Tante Disti?"
Rematan kuat pada telunjuk Indra kembali terjadi.
“Kakak cepat sembuh ya. Nanti Dokter Kamal akan perbaiki kepala Kakak. Kata Pak Dokter, mau pasang selang di kepala Kakak,” Indra menggenggam jemari Alif, “Kakak harus berani ya. Jangan takut nanti saat Doker Kamal memperbaiki kepala Kakak. Sama dengan cerita robot yang tadi siang Om ceritakan ke Kakak. Masih ingat kan?”
“Kakak hebat. Anak sulung Bunda yang selalu berusaha melindungi Bunda dan Adik. Pasti berani ya nanti saat kepalanya diperbaiki..” suara Arini pecah karena menahan haru.
Tidak ada respon dari Alif. Terdengar suara biip dari salah satu layar monitor. Indra menatap monitor yang berbunyi. Terdapat tulisan EEG. Tetapi dia tidak paham dengan angka-angka dan tulisan lainnya di layar monitor.
"Kakak berani ya. Nanti kita sama-sama lagi. Ajak Bunda main basket ya. Bunda dulu jago loh main basketnya..” Arini menatap jemari Alif.
Berharap ada respon seperti tadi. Ditunggu selama beberapa detik, jemari Alif masih dingin dan tidak bergerak. Suara bip pada monitor EEG terdengar lagi.
Indra merasa ada hal yang tidak beres pada Alif. Dia menoleh ke arah meja perawat. Perawat pria tengah berdiri sambil menunjuk pada layar komputernya. Di sampingnya ada perawat wanita yang sedang menelepon.
BIIP
Bunyi alarm terdengar lagi.
Arini bisa merasakan perubahan gestur Indra yang berubah menjadi siaga.
“A Indra, ada apa?”
Indra tidak menjawab. Dia memandang pada wajah Alif.
“Kakak bisa dengar suara Om? Kakak baik-baik saja kan?”
__ADS_1
Tidak ada respon. Suara bip monitor terdengar lagi. Indra menoleh lagi ke arah perawat. Perawat pria tengah memandanginya. Dia menggelengkan kepalanya ke arah Indra.
Mata Indra basah. Dia membungkuk, mencium telapak tangan Alif.
“Sebentar lagi saatnya Alif untuk berjuang sendiri. Om Indra dan Bunda yakin, Alif kuat dan Alif bisa. Bertahan ya Nak..”
Arini memandang tak percaya pada telapak tangan Alif. Dia menggoyangkannya.
"Kakak..Kakak masih dengar Bunda kan? Kakak..”
Indra bergegas menghampiri Arini. Melepaskan pegangan tangan Arini dari tangan Alif untuk menghindari lepasnya infus di tangan kecilnya. Arini terisak. Indra meletakkan wajah Arini di dadanya sambil membelai kepala Arini.
Perawat pria menghampiri mereka.
“Tuan Indra, ma’af. Kami harus segera mempersiapkan operasi untuk pasien Alif Ammar. Tingkat kesadarannya menurun jauh.”
Indra mengangguk.
“Monitor EEG itu beberapa kali berbunyi.”
“Iya.. Jadwal operasinya dimajukan. Ruangan operasi untuk Pasien Alif Ammar sudah siap. Para dokter juga sudah berkumpul di ruang operasi.”
Indra mengangguk lalu melepaskan Arini agar berbaring setengah duduk lagi di bednya. Mata Arini tidak lepas dari wajah Alif saat bednya ditarik mundur menjauhi ruangan Alif.
Dari jendela ruang ICU Alif yang dibuka tirainya, semua tengah melihat ke arah mereka. Ada Abay dalam gendongan Agung yang menangis sambil memberontak. Terlihat beberapa kali Abay berteriak memanggil kakaknya.
Leher Indra terasa tercekat. Kakinya terasa berat untuk melangkah. Dia menengok ke belakang sebelum dia benar-benar meninggalkan ruangan Alif. Wajah Alif terlihat tenang tertidur. Diam terpejam.
.
***
Catatan Kecil
EEG, elektroensefalografi adalah merupakan pemeriksaan yang dilakukan untuk mendeteksi aktivitas listrik pada otak.
Misalnya serangan epilepsi hingga komplikasi stroke.
🌷
Masih edisi sad part 😢
Author sedang senang menabur irisan bawang merah plus bawang bombai.
Jangan lupa pencet like-nya ya juga minta update 🤓
Utamakan baca Qur’an 🥰
__ADS_1