Mr. Secretary: Destiny Bound

Mr. Secretary: Destiny Bound
BAB 61 – OBROLAN TENGAH MALAM


__ADS_3

Saat Papi hendak menggendong Abay, Agung lebih dulu menggendongnya.


“Biar saya saja Pi. Lumayan berat kalau sampai mobil..” Agung berbisik pelan.


Papi mengangguk dan tersenyum.


“Ndra, besok Papi anterin Mami ke sini pagi-pagi. Beneran gak Papi saja yang antar Abay ke sekolah? Papi juga mau kok..”


“Indra saja Pi. Sekalian mau tahu perkembangan yang tadi Indra bicarakan..”


“OK deh. Nanti driver antar baju kamu ya.”


“Sekalian baju kerja juga Pi. Indra mau ke kantor sebentar, ngecek anak-anak.”


“Gak bisa lewat online saja?” Papi mengernyit.


“Lebih enak cek langsung di sana. Jadi tahu dengan jelas ada kesalahan apa atau kurang apa. Kasihan Bram kalau ada kesalahan yang harusnya bisa dicegah tapi malah terjadi..”


Bramasta tersenyum lebar menatap Indra sambil mengacungkan kedua ibu jarinya.


“Ya sudah. Arini, kami pulang dulu ya. Abay kami bawa, Mami sudah janji pada Abay..”


“Iya Pak Dhani. Titip Abay. Ma’af merepotkan..”


“Panggil saja saya Papi sepeti yang lainnya memanggil saya. Kami tidak merasa direpotkan kok. Malah justru senang ada Abay. Rumah jadi tidak sepi lagi..” Papi terkekeh.


“Terimakasih banyak..” Arini tersenyum.


Papi mengangguk.


“Son.. Papi pulang dulu. See you tomorrow, insyaa Allah..” Papi memeluk Indra, kemudian berbisik, “Dijagain yang baik. Kita semua sedang bujuk Mami..”


Indra mengangguk lalu tersenyum.


“Thanks Pi..”


Bramasta dan Adisti kemudian menyalimi Papi.


“Kalian berdua, kompori terus Indra biar dia segera married. Bosan Papi baca berita gosip yang nggak-nggak tentang Indra.”


“Jangan dibaca, Om..” Bramasta tertawa.


“Jangan dibaca bagaimana? Lewat di layar HP kok..” Papi memandang Indra yang tengah berbincang lagi dengan Arini, “Belum lagi rekan-rekan atau relasi bisnis yang menawarkan anak gadis atau keponakan mereka untuk dijadikan calon isterinya..”


“Gak diterima, Pi?” tanya Adisti.


“No way. Terlalu jelas bagaikan udang di atas bakwan maksud yang tersiratnya..” Papi terkekeh diikuti Bramasta dan Adisti.


“Dah ah.. Papi pergi dulu. Mami dan Abay nanti kelamaan nunggu Papi.”


Tidak berapa lama sepeninggal Papi, driver Bramasta datang membawakan baju ganti dan perlengkapan mandi keduanya dalam koper.


“Setdah. Kalian berdua.. Cuma semalam nemanin gue jagain Teh Arin, bawaannya seperti mau menginap 3 hari di luar kota..”Indra menatap koper mereka berdua.


Arini tertawa.


Semua berkumpul di sofa bed yang sudah diletakkan di samping bed Arini setelah membersihkan diri bergantian. Bramasta berbaring di pangkuan Adisti sementara Indra duduk menghadap Arini sambil berselonjor kaki.


“Abay senang sekali tadi saat diajak Mami menginap di rumahnya. Apalagi saat Papi bercerita ada kolam ikan yang besar di teras belakang..”


“Nanti biarkan Alif dan Abay menginap di rumah para opa dan kakeknya Teh. Masing-masing ada kolam ikannya. Punya Kakek yang keren. Boleh dipancing ikannya untuk dimakan karena isinya ikan beneran..” Bramasta berkata sambil memejamkan matanya menikmati belaian tangan istrinya di kening.


“Memangnya ikan di kolam Papi dan Daddy itu ikan-ikanan, Bang?” Adisti terkekeh.


“Kan gak boleh dimakan oleh pemiliknya. Mati satu aja ditangisi Daddy.." Bramasta terkekeh.


"Papi sih gak segitunya sih ke kumpay piaraannya. Tapi gue pernah isengin. Jaman gue SMA kalau gak salah kelas 2, karena kesal Papi dan Mami lebih sering ke luar kota, gue goreng tuh salah satu ikan kesayangannya...” Indra terkekeh.

__ADS_1


“Enak, Bang?” tanya Adisti sambil terkekeh.


Indra menggeleng sambil bergidik.


“Kagak. Suer kagak enak. Dagingnya lembek, durinya banyak. Gak ada rasanya. Mungkin karena udah terlalu gede dan tua kali ya...” Indra terkekeh, “Dan gue kualat deh. Besok paginya langsung biduran seluruh tubuh. Kayaknya ikannya gak ikhlas gue makan..”


Semuanya tertawa geli mendengar cerita Indra.


“Papi gak cariin tuh ikannya?” Arini menatap Indra.


“Cariin lah. Semua orang ditanyain. Sewaktu gue ditanya, gue jawab aja, dimakan kucing liar kali..”


Mereka tertawa lagi.


“Untung Papi gak ngecek CCTV, Ndra.”


“Memangnya Abang ngegorengnya di mana? Kok gak ketahuan dengan orang rumah?”


“Di dapur belakang. Saat para ART libur,” Indra tergelak lagi, “Sampai sekarang Papi gak tahu gue pernah makan ikannya.."


Mereka terkekeh lagi.


“Katalog busana Ready2Wear-nya B Group itu.... kalian semua ya?” Arini menatap mereka bertiga bergantian.


“Idenya Disti..” Indra menunjuk Adisti.


Bramasta mencium telapak tangan istrinya. Sementara Adisti terkekeh.


“Kok Teh Arini bisa menyimpulkan seperti itu?” tanya Adisti.


“Postur tubuh kalian, sama dengan yang di katalog. Walaupun wajahnya gak tampak di katalog. Masyaa Allah, konsepnya keren banget. Bahkan orang-orang dari kalangan sultan pun saat dipakaikan baju yang harganya terjangkau pun tetap terlihat bagus dan berkelas ya?”


“Memang itu poinnya Teh. Bukan masalah harga tapi sikap tubuh dan gestur kita yang membuat baju itu terlihat berkelas atau tidak..”


“Senang rasanya Coffecholic bisa menjadi mitra B Group..”


“Buk Istri tidur duluan ya.. Abang masih mau mengobrol dulu dengan Indra..” Bramasta membelai kepala istrinya yang tertutup hijab.


Adisti menyalimi tangan suaminya.


“Jangan lama-lama Pak Suami..”


“Teh Arin kalau mau tidur duluan, tidur aja. Abaikan saja kami..” Indra menatap, “Saya tutup ya tirainya..”


Indra menarik tirai pembatas bed. Lalu menyalakan lampu tidur di atas head bed.


“Mau minum dulu?” Indra menyodorkan botol air mineral dengan sedotannya.


Arini menggeleng.


“Air hangat saja supaya pipinya gak pedih..”


“Sebentar..”


Tidak berapa lama Indra kembali lagi membawa air hangat di cangkir kertas. Indra membantu Arini untuk minum.


“Kalau butuh apa-apa panggil saya saja ya Teh. Jangan sungkan. Tentang Alif, jangan khawatir. Dia diawasi oleh perawat 24 jam di PICU.”


Arini mengangguk. Indra membetulkan letak selimut Arini.


“Met bobo..” Indra tersenyum menatap Arini.


Indra mematikan lampu utama. Suasana di area bed pasien jadi temaram. Indra keluar dari tirai bed Arini. Melihat Bramasta yang tengah menepuk-nepuk punggung istrinya.


Lampu utama sudah dimatikan semua, hanya memakai lampu tidur yang temaram. Indra mengambil apel di kulkas, memandang Bramasta lalu menunjuk ke arah sofa L di depan sana.


Bramasta mengangguk mengerti. Setelah melihat istrinya sudah terlelap, Bramasta mengikuti Indra yang tengah menunggunya sambil menyetel saluran berita TV nasional.

__ADS_1


“Ada apa?” Indra menggigit apelnya.


“Sepertinya gue mau memajukan jadwal pertemuan dengan Persada Utama.”


“Why?”


“Dua hari lagi berita tabrak lari yang dilakukan perempuan itu akan di-spill Anton di TowTow. Bisa buat memukul telak sepasang suami istri yang culas itu..”


“Memangnya jadwal sebenarnya kapan?”


“Dua hari lagi..”


Indra mengangguk mengerti arah pembicaraan Bramasta.


“That’s better.”


“Tadinya gue berencana mau mematikan Persada Utama. Karena gue marah banget dengan cara-cara yang dipakai oleh Persada Utama memasukkan proposalnya ke kita. Menganggap remeh kita. Belum lagi mulut dari istri Hendra Yanuar yang sudah menghina Lu. Gue gak terima, Bro. Lu saudara gue.”


Indra memandang Bramasta. Hatinya tersentuh dengan ucapan sahabatnya.


"Gue rasa, mulut perempuan itu harus dicubit. Dicubit pakai tang. Apalagi dia juga sudah menjahati anak-anak Lu.”


“Secara harfiah?” alis Indra naik sebelah.


“Sepertinya oke juga kalau sampai kejadian ya..” Bramasta terkekeh membayangkannya. Indra juga.


“Biarkan urusan dengan perempuan diselesaikan oleh perempuan juga seperti yang Disti bilang tadi..” Indra menatap layar TV.


Berita terkait dunia TowTow menarik perhatian Indra. Bramasta meraih remote untuk membesarkan volume suara.


“Alhamdulillah.. akhirnya pemerintah sadar juga dengan liciknya TowTowBelanja,” Bramasta mengambil cemilan di stoples dia atas meja.


“Alhamdulillah ya, UMKM yang kita bina tidak terbujuk rayuan untuk masuk ke TowTowBelanja. Mereka selamat. Banyak yang tumbang pasca bergabung di TowTowBelanja. Barang-barang mereka yang laku di pasaran dicontek habis-habisan lalu pihak TowTowBelanja akan mendatangkan produk contekan dengan kemiripan nyaris 100% dengan harga yang jauh lebih murah. Diimpor langsung dari negaranya,” Indra menggelengkan kepala.


“Mematikan UMKM lokal dan memajukan UMKM di negaranya..” Bramasta menyentuh cuping hidungnya, “Akibat pasar bebas..”


Indra mengangguk, “Sebebas-bebasnya, menghalalkan segala cara. Tidak ada lagi etika berbisnis. Lost moral. Lost humanity.."


“Pernah dengar fake buyer?” Indra meminta camilan di depan Bramasta.


Bramasta mengangguk.


“Para pedagang kaya menggunakan taktik itu untuk menaikkan penjualan dan menarik trust masyrakat,” Indra membersihkan kedua tangannya, “Algoritma TowTow tidak akan menaikkan rating video dari UMKM lokal, makanya produk UMKM kalah di TowTow apalagi digempur dengan produk impor yang jauh lebih murah.”


“Andai kita bisa menaungi semua UMKM, Bro..” Bramasta mengusap wajahnya.


“Mengubah mindset orang itu yang sulit, Bram. Apalagi bila mereka adalah tipe orang yang mudah kagum dengan keberhasilan seseorang dan ingin sukses juga secara instan..” Indra merentangkan kedua lengannya.


“Tidurlah. Sudah malam..” Bramasta beranjak.


“Besok gue ngantor setelah dari sekolah ya. Gue bakal ikuti saran Lu, pancing mereka dengan dana untuk kegiatan siswa. Nanti gue hubungi asisten gue untuk memajukan pertemuan dengan pihak Persada Utama besok. Mau jam berapa?”


“Setelah makan siang saja..” Bramasta berjalan dengan langkah tersuruk ke tempat tidur keluarga pasien untuk melihat istrinya. Lalu ke kamar mandi untuk menyikat giginya sebelum tidur.


“Goodnight, Bro,” katanya pada Indra yang tengah mematikan TV, “Assalamu’alaikum..”


Indra menjawab salam kemudian ke kamar mandi.


.


***


Life is about to choice.


And life is not easy, right?


Keep fighting!

__ADS_1


Utamakan baca Qur'an 🌷


__ADS_2