
“Ya?” suara tanya dari Arini memutuskan kontak mata Indra.
Dia mengerjapkan matanya beberapa kali sambil beristighfar dalam hati. Setelah menguasai dirinya lagi, Indra berbicara dengan suara pelan.
“Ma’af.. saya memasangkan scarf milik Mami untuk menutupi rambut Teteh.”
“Terima kasih, A Indra..”
“Ada Sekretaris Sanjaya Group, Hans Alvaro dan Pak Raditya dari kepolisian di luar..”
Indra memanggil Hans dan Raditya. Keduanya masuk ke dalam bilik tirai bed Arini.
Hans tersenyum lebar menatap Indra.
“Lu kenapa, Ndra? Muka Lu merah begitu..?”
“Hah? Biasa aja ah. Lu salah lihat, Hans..”
“Tanyain saja ke Pak Radit. Iya gak Pak?”
Raditya yang ditanya hanya menyengir saja.
Arini menatap Hans dan Raditya dengan tatapan bertanya.
“Indra bagi saya sudah seperti adik sendri, Teh. Sama seperti dengan Bramasta. Jangan khawatir. Saya bukan orang lain bagi Keluarga Kusumawardhani dan Keluarga Sanjaya,” Hans menangkap ketidaknyamanan pada sorot mata Arini.
Arini mengangguk mengerti. Kemudian menatap Raditya dengan tatapan bertanya.
“Pak Raditya?” suara Arini lemah tapi masih terdengar.
“Iya Bu Arini. Saya kemari diajak oleh Tuan Hans. Kebetulan saya sedang tugas di Bandung..” Raditya mendekat ke arah bed, “Saya sudah mendengar apa yang terjadi dengan Bu Arini dan putera Ibu. Juga yang baru saja terjadi di sini. Saya bisa membantu Ibu bila Ibu Arini akan membuat laporan terkait penyerangan...”
Arini berbicara dengan cepat sambil mengangkat tangannya yang tidak memar.
“Saya.. Saya tidak akan membuat laporan.”
“Ma'af?” Raditya mengangkat kedua alisnya.
“Saya tidak akan melaporkan tindakan mantan suami saya.”
Hans dan Indra saling berpandangan dengan heran.
“Tapi perbuatannya sudah termasuk tindak kriminal, Bu Arini,” Raditya mengingatkan Arini, “Bahkan nyawa Ibu bisa saja terenggut karena perbuatannya.”
__ADS_1
“Saya tetap tidak akan melaporkannya.”
Indra mendekat ke Arini. Duduk di kursi dekat Arini.
“Kenapa Teh? Apa alasannya?”
“Karena bagaimanapun dia adalah bapaknya anak-anak. Saya tidak ingin anak-anak menjadi minder ataupun di-bully teman-temannya karena mempunyai bapak seorang mantan narapidana,” Arini menatap nanar pada handrail bed.
Hans bergeser berdirinya. Dia menyentuh bahu Indra.
“Ma’af Teh Arini, apakah alasannya karena Teteh masih menyimpan rasa kepada mantan suami Teteh?”
Arini menatap Hans. Menatap getir pada Hans lalu menatap nanar lagi handrail di tepi kanannya.
“Rasa? Rasa apa? Saya sudah mati rasa padanya saat dia pertama kali menghajar Alif. Saya sudah mati rasa padanya saat saya melihatnya berselingkuh dengan wanita yang menjadi sahabatnya sendiri di dalam kamar kami..” suara Arini terdengar parau.
“Teh Arin..” Indra menepuk-nepuk punggung tangan Arini pelan.
Papi dan Mami berdiri di tirai pembatas dengan bed Alif yang terbuka. Mami memandang miris pada Arini.
“Ini bukan tentang rasa yang masih ada berharap untuk kembali. Bukan, bukan itu. Tapi ini semata-mata untuk menyelamatkan psikis anak-anak saya,” mata Arini menggenang.
“Akbar, dia lahir tanpa mengenal ayahnya. Dia dianggap tidak ada oleh ayahnya. Alif, dulu yang begitu dekat dengan Ayahnya, tiba-tiba dimusuhi oleh Ayahnya sendiri karena sering melindungi saya,” Arini menatap ketiga pria di hadapannya.
“Saat saya melihat perselingkuhan mereka, dia mulai ringan tangan. Kami tidak pernah bertengkar sebelumnya. Tiba-tiba dia begitu saja dengan mudah melakukan kekerasan fisik dan verbal pada saya,” Arini terdiam sejenak, mengatur nafasnya.
“Saat dia menginjak kepala saya, Alif tidak terima. Dia memukuli ayahnya_cinta pertamanya, mataharinya_ dengan sapu agar kepala Bundanya terbebas dari kaki ayahnya,” Arini tersengal, “Dan ayahnya balas memukulinya.”
Indra menyodorkan botol air mineral berikut sedotannya. Arini menyesap sedikit kemudian meringis perih.
“Alif.. Dia terluka secara fisik, emosi dan psikisnya. Hari-harinya beberapa tahun yang lalu sangat berat. Tidak mudah bagi saya untuk menumbuhkan lagi rasa percaya dirinya, tidak mudah bagi saya untuk merawat luka-lukanya yang tak terlihat oleh mata, ” mata Arini mengerjap, air matanya meluncur lagi.
Mami memeluk lengan Papi. Menyembunyikan airmata dan isakannya di balik lengan Papi.
“Itulah alasan saya kenapa saya tidak akan menuntut orang itu ke jalur hukum. Apalagi sekarang Abay sudah besar. Dia sudah mengerti dengan apa yang sedang terjadi,” Arini memandang Raditya dan Hans.
“Saya tidak akan sanggup lagi bila melihat mereka terluka secara mental dan psikisnya..” air matanya semakin mengajak sungai di pipinya.
Indra mengambil tisu dari atas nakas. Mengelap air mata Arini.
“Tapi Teh, kejadian seperti ini bisa terulang lagi bila dia tidak dipenjara,” Hans menatap Arini.
“Dia hanya mengincar saya. Karena dia sangat membenci saya.”
__ADS_1
“Kenapa dia sangat membenci Ibu?” Raditya memiringkan wajahnya, menatap intens pada Arini.
“Karena saya mengetahui siapa wanita itu sebenarnya. Tetapi dia tidak terima saat saya memberitahunya.”
“Siapa wanita itu?”
“Dia piala bergilir di kalangan manajer leasing mobil. Dia bekerja sebagai SPG mobil Jepang.”
“Na'udzubillah mindzaalik..”
“Dia juga sangat membenci saya karena usaha saya mengalami kemajuan pesat sementara usahanya mengalami kemunduran. Bahkan dia memaksa saya untuk meminjaminya uang untuk modal usahanya tapi saya menolak. Karena kami sudah bukan siapa-siapa lagi.”
“Tapi bagaimanapun kami mencemaskan keselamatan Teteh dan Anak-anak..” Hans menatap Arini dengan tatapan prihatin.
“Saya yakin, anak-anak akan aman bersama A Indra,” Arini menatap Indra, “Saya serius saat saya mengucapkan pesan saya tadi, A..”
Indra menatap mata Arini. Kemudian menggeleng.
“Saya tidak akan membiarkan hal itu terjadi, Teh.”
Hans dan Raditya menatap Indra dan Arini dengan tatapan bertanya.
Arini menggoyangkan tangannya.
“Tidak. Memang itu cara yang terbaik. Dia akan puas bila berhasil melenyapkan saya.”
“No way!” Indra mengerutkan keningnya menatap mata Arini.
“Setelah saya sembuh, saya akan mengambil kelas bela diri. Agar bila waktunya tiba, dia akan menghadapi lawan yang seimbang yang bisa membalas memukulnya.”
“Oh my God. This conversation is so ridiculuous!_Ya Tuhan, percakapan ini benar-benar konyol!_” Indra menatap marah pada Arini.
“This is true!_Saya ngomong beneran! _” Arini bersikeras.
“Yang akan menghadapi mantan suami Teteh itu bukan Teteh. Tapi saya! Saya sendiri yang akan membalas semua perbuatannya kepada Teteh dan anak-anak!” Indra berucap marah, “Kalian dalam perlindungan saya. Sekali saya putuskan akan melindungi kalian maka tidak akan ada yang bisa mengubah itu! Dengar??!”
“NDRA !” suara Papi dan Hans terdengar bersamaan.
.
***
Tuh.. Emosi jadinya Babang Indra ..
__ADS_1