
Untung saja, jalanan sudah mulai lengang saat mobil Indra yang dikemudikan dengan kecepatan tinggi melintas di jalanan. Dia tiba di tempat parkir VIP dalm waktu 20 menit.
Segera berlari ke arah lift yang membawanya ke lantai 6.
“Tuan Indra,” pengawal yang berjaga di depan pintu menahan tubuh Indra, “Kakak Alif sedang dibawa ke ruang CT Scan. Dia bersama Nona Adinda.”
“Mami sudah datang? Bunda?” Indra balik bertanya.
Pengawal itu menggeleng.
“Belum ada yang datang. Masih dalam perjalanan.”
“Ibu Arini?”
“Beliau di dalam. Sendirian.”
“OK. Terimakasih Pak.”
Indra segera menerjang pintu. Isak tangis terdengar di dalam ruangan yang sunyi.
"Teh Arin..." Indra gegas mendekati bed Arini.
“A Indra, Alif...”
“Iya.. Ma’af, Teh Arin harus sendirian di sini. Ma’af, saya di sekolah terlalu lama..” Indra memegang tangan Arini.
Dia menarik kursi untuk duduk di dekat Arini.
“Apa yang sebenarnya terjadi?”
“Saya.. saya tidak tahu. Kakak tidak menyentuh sarapannya sama sekali. Dia hanya mau susu dengan cereal yang ditawarkan Dinda.”
Arini berhenti sejenak untuk menyusut hidungnya dengan tisu
“Dinda menyuapinya. Tapi cuma setengah gelas yang diminumnya. Setelah itu dia minum obat.”
“Tubuhnya masih panas?”
Arini mengangguk.
“Kata Dinda iya. Tubuhnya masih panas. Saya lihat Alif tertidur,” Arini berhenti sejenak, “Kemudian saya melihat tubuh Alif kejang-kejang..”
Arini terisak keras membuat tubuhnya terbungkuk ke arah depan. Indra berdiri, menahan tubuh Arini agar tidak terbungkuk ke arah depan.
Dia memillih duduk di bed Arini. Memeluknya untuk mencegahnya membungkukkan tubuhnya.
“Ssssh... Alif sedang ditangani oleh tenaga medis terbaik. Teteh yang sabar, yang kuat. Banyak berdo’a untuk kesembuhan Kakak. Untuk kesembuhan Teteh juga,” tangan Indra menjangkau tisu di atas nakas, lalu menghapus air mata di pipi Arini, “Juga berdo’a untuk kebahagiaan kalian bertiga.”
Gawai Indra berdering.
“Assalamu’alaikum Din. Abang sedang bersama Teh Arin sekarang. Kondisi Alif bagaimana?” Jeda.
Indra mendengarkan Adinda, keningnya berkerut. Beberapa kali ia menatap Arin dengan wajah khawatir.
Arini ikut mengerutkan keningnya. Menatap Indra dengan tatapan cemas.
__ADS_1
“Ada apa, A?”
Indra tidak menjawab. Dia hanya menggenggam tangan Arini. Menarik tangannya lalu memeluk Arini.
Arini mematung. Tubuhnya ditegakkan. Tapi pelukan Indra lebih erat untuk membuatnya dapat menegakkan punggungnya.
“A Indra..” suara Arini tertahan.
“Hmm..? Sebentar...” Indra masih mendengarkan ucapan Adinda di ujung sana.
“Din, minta dokter untuk menjelaskannya pada Teh Arin selaku ibu dari Kakak.” Jeda.
Arini menepuk punggung Indra dengan sedikit lebih keras.
“A...”
Indra terlonjak kaget. Dia melepaskan pelukannya. Menatap Arini dengan bingung dan tidak mengerti. Sebelum akhirnya ia tersadar dengan apa yang sudah dilakukannya.
“Ma’af.. Teh, saya minta ma’af. Saya tidak bermaksud untuk berbuat hal yang tidak sopan kepada Teteh..” wajah Indra memerah.
Arini menepuk-nepuk lengan Indra dengan pelan.
“Saya mengerti. Ada apa?”
“Ma’af Teh Arin. Kabar yang disampaikan Adinda membuat saya tidak sadar memeluk Teteh..”
Arini menatap Indra dengan cemas.
“Adinda bilang apa?”
“Memangnya apa yang terjadi dengan Kakak?” airmata sudah menggenang di mata Arini.
“Teteh yang sabar ya. Hasil CT Scan Kakak, buruk,” Indra merasa tenggorokannya tercekat karena berat rasanya untuk menyampaikan hasil CT Scan Alif kepada Arini. Dia berusaha mencari kalimat yang tidak membuat Arini semakin terpuruk.
“Maksudnya?”
“Nyeri kepala dan demam yang Kakak alami karena ada peradangan di dalam kepalanya.”
“Saya tidak mengerti, A..”
“Benturan di kepala Kakak, membuat selaput otaknya bengkak. Ada penumpukan cairan di dalamnya.”
Air mata itu meluncur di kedua pipinya. Disertai dengan suara erangan tertahan. Tangisan diamnya terasa sangat menyakitkan bagi Indra. Arini menatap Indra dengan mata bunga mataharinya yang basah dan tak berdaya.
Sekuat hati Indra menahan diri untuk tidak memeluk lagi Arini. Tapi tangannya bergerak dengan sendirinya untuk merengkuh tubuh Arini.
Kabar tentang Alif, tangisan Arini membuat dirinya pun merasa begitu pilu. Anak kecil yang tidur dalam dekapannya, anak kecil yang tubuhnya di-washlap olehnya pagi tadi, anak kecil yang ada di mimpinya.
Teringat semalam, Alif meminta untuk tidur sambil dipeluk dirinya. Percakapan pagi tadi dengan Alif, mungkin menjadi percakapannya yang terakhir dengannya. Karena semenjak Alif mengalami kejang, dia tidak sadarkan diri hingga sekarang.
Mereka berdua begitu larut dalam kesedihan hingga mereka tidak menyadari, Mami dan Bunda sudah berdiri di kaki bed Arini.
Mami dan Bunda saling berpegangan tangan melihat Indra dan Arini saling berpelukan dengan mata basah.
“Ndra...” Mami memanggil pelan.
__ADS_1
Indra mendongak ke arah suara. Dia perahan berdiri sambil menyeka pipinya dengan punggung tangannya.
“Mami.. Bunda..” Indra menghampiri mereka dan menyaliminya.
“Mami dan Bunda sudah tahu tentang Kakak?”
Mami mengangguk. Air matanya jatuh di pipinya. Bunda sudah semenjak tadi pipinya basah.
“Adinda dengan siapa di ICU?” Indra menatap Mami dan Bunda bergantian.
“Adisti menemani Dinda. Mereka ada di ruang tunggu ICU. Kakak tidak diperbolehkan ditunggui apalagi dijenguk untuk mencegah infeksi,” Mami menjelaskan kepada Indra.
Arini terisak keras. Bunda menghampiri Arini lalu memeluknya. Menghiburnya dengan memberi kata-kata yang menguatkan.
Suara salam di pintu membuat mereka menoleh ke arah pintu. Seorang perawat yang membawa map dengan tulisan besar CT SCAN memasuki ruangan diikuti seorang pria berjas putih dengan stetoskop di saku jas dokternya.
Semua menjawab salam mereka. Perawat tersebut tersenyum.
“Ini Dokter Rahmat, dokter yang menangani pasien ananda Alif Ammar.”
Indra mengangguk kepada mereka.
“Sebenarnya apa yang terjadi dengan Alif, Dok? Kenapa kemarin saat diperiksa dengan CT Scan, tidak ditemukan cairan ataupun pembengkakan otaknya?”
Dokter itu mengangguk lalu meminta hasil CT Scan kemarin dan pagi tadi pada perawat. Ada lampu pada dinding yang bisa dipakai untuk melihat hasil CT Scan ataupun Rontgen agar dokter bisa menjelaskan kondisi pasien kepada keluarganya.
“Yang kiri, kondisi kepala ananda Alif dan yang sebelah kanan adalah kondisi kepala ananda Alif pada pagi hari ini. Bisa terlihat bedanya kan?” Dokter Rahmat menunjuk dengan menggunakan pena.
“Ini selaput otaknya. Lihat, hasil CT Scan kemarin, selaput otaknya masih tampak normal, dan pagi ini terlihat membesar hingga menyentuh tempurung kepala ananda Alif. Ini yang menyebabkan pasien merasakan sakit kepala dan pusing.”
“Kondisi ananda Alif Ammar disebut sebagai cerebral edema atau pembengkakan otak. Pembengkakan otak adalah pembesaran otak akibat adanya kerusakan pada jaringan otak. Kerusakan ini bisa disebabkan oleh trauma pada kepala, stroke, tumor, atau infeksi.”
“Apa pengaruh dari pembengkakan otak?” Indra melirik pada Arini yang sedang menatap hasil CT Scan Alif dengan mata nanar.
“Cerebral edema dapat menghambat darah kaya oksigen masuk ke otak, sekaligus menahan aliran darah keluar dari dalam tengkorak. Bila tidak ditangani lebih lanjut, bisa mengakibatkan kerusakan pada otak,” Dokter Rahmat memandang ke arah Arini.
“Ibu Arini, jangan cemas. Saat ini kami berusaha mengeluarkan cairan yang ada pada selaput otaknya dengan obat. Mudah-mudahan bisa keluar dengan sendirinya,” Dokter Rahmat berusaha tersenyum namun terlihat kaku, “Tetapi apabila tidak bisa, akan dilakukan tindakan operasi untuk memasang selang untuk mengeluarkan cairan tersebut.”
Arini terisak keras lagi. Mami memeluk Arini.
“Alhamdulillah, tidak ada keretakan pada bagian kepala ananda Alif yang benjol,” Dokter Rahmat memandang Indra, “Tentang pertanyaan Tuan Indra kenapa baru terlihat pagi ini karena cedera kepala tidak serta merta harus terjadi efek samping dari cederanya pada saat itu juga. Itulah sebabnya, pasien trauma kepala harus diobservasi selama 3 hari untuk melihat efek dari traumanya.”
“Untuk penanganan selanjutnya, siapa yang akan dimintai tandatangan untuk perijinan tindakan medis yang harus diambil?” tanya perawat sambil memandang Indra dan Arini bergantian.
“Saya,” Indra menjawab tegas, “Saya yang akan mengambil tanggung jawab itu. Ibu Arini dan anak-anaknya berada dalam tanggung jawab saya.”
Bunda memandang Mami dengan alis mata terangkat. Lalu tersenyum dan mengangguk. Mami mengerjapkan matanya lalu menundukkan kepalanya sambil membelai punggung Arini.
.
***
Bunda saja sudah memberi kode kepada Mami...
__ADS_1
Jangan lupa tombol like-nya ya Readers. Supaya retensi pembaca bisa terhitung oleh NT.