
Hans sudah mendapatkan ijin dari Pak Imam dan istrinya. Juga saat menghubungi dokter yang menangani Lilis. Dia sangat kooperatif sekali. Ingin membantu menangkap penabrak lari Lilis.
Indra menghubungi Leon memberitahu segala sesuatunya. Tidak berapa lama Leon menelepon balik Indra mengatakan lab CSI Singapura bersedia memproses sample yang akan dikirim.
Semua berjalan lancar dan cepat. Malam itu juga tisu yang ditemukan di dalam tong sampah dan sample darah milik Lilis dikirimkan ke Singapura.
Semua lega karena untuk menjerat seseorang dengan tuduhan serius harus memiliki bukti fisik yang kuat.
“Bagaimana jika Siska sudah mencuci bersih mobilnya hingga bekas darah Lilis tidak ada?” Tatang memandang Hans.
“Kita pakai tes luminol,” Hans menjawab dengan wajah datar.
“Maksudnya?”
“Jejak darah akan tetap terlihat meskipun dia sudah dibersihkan melalui tes luminol. Yaitu mengoleskan atau menyemprotkan cairan iodium ke area yang dicurigai terdapat bekas darahnya. Lalu sinari dengan sinar UV dari lampu UV. Maka jejak darahnya akan berpendar biru keunguan..” Hans menatap Tatang dan Pak Imam bergantian.
“Seperti yang di film-film detektif?” Tatang bertanya dengan mata melebar.
Hans mengangguk dan tersenyum.
Gawai Hans berbunyi. Ada panggilan video call dari Hana, istrinya. Baby Andra tampak melonjak-lonjak dalam gendongan Mamanya.
Terdengar suaranya, “Paaaa Papppah Paaaa.”
Mendengar suara Baby Andra, serentak Adisti dan Adinda mendekati Hans. Begitu pula dengan para Kuping Merah. Mereka terkekeh bersama melihat wajah gembul Baby Andra. Dominan wajah Hans yang blasteran Italia daripada Hana yang Jawa asli.
Pintu ruangan terbuka dari dalam membuat semuanya terdiam. Seorang perawat berbaju ruang operasi keluar.
“Keluarga pasien Ananda Alif Ammar?”
Indra mendongak lalu bergegas menghampiri.
Perawat itu mengangguk kepadanya.
“Silahkan masuk, pengaruh biusnya sebentar lagi habis. Bapak bisa mendampingi Ananda Alif...”
Indra tersenyum lalu mengangguk.
“Alif bisa benar-benar sadar? Maksud saya bangun?”
“Semoga begitu karena cairan yang menghambat di otaknya sudah mulai berkurang. Tapi bila belum, Alif nanti kita rawat di PICU ya Pak.”
Indra mengangguk lagi. Detik berikutnya dia sudah menghilang di balik pintu.
Langkah Indra gamang saat mendekati ruang recovery. Dirinya sudah memakai baju steril. Lututnya terasa lemas saat melihat anak kecil dengan kaki dibalut dan pipi yang diperban. Lilis.
Perawat menunjuk pada bed yang berada di dekat dinding satunya. Alif masih memakai alat bantu pernafasan. Nafasnya terdengar teratur. Bunyi statis mesin menjadi latar belakang suara dalam ruangan ini.
Indra menarik kursi di dekat bed.
“Assalamu’alaikum Kakak Alif. Jagoannya Bunda dan Om Indra...”
Indra meraih jemari Alif. Menciuminya dengan lembut.
“Om kangen banget dengan Kakak.. Bunda apalagi. Adik Abay bahkan marah ke Om Indra karena tidak menceritakan kondisi Kakak yang sebenarnya."
"Bagaimana tadi di dalam sana? Kakak lihat para dokter memperbaiki kepala Kakak?"
Indra mengamati selang yang tertancap di kepala bagian belakang Alif yang diamankan dengan plester tebal.
Rambut Alif dicukur di tempat selang dipasang. Di ujung selang, ada kantung mirip dengan urin bag. Ada cairan bening bercampur sedikit warna merah.
“Kakak... setelah Kakak keluar dari rumah sakit, kita cukur rambut bareng ya. Bertiga dengan Adik Abay. Bagaimana? Mau?”
“Adik Abay ingin model rambut yang sama dengan Om. Kalau Kakak bagaimana?”
Indra terus mengajak Alif berbicara. Walau tidak direspon oleh Alif. Suara bip keras terdengar. Kali ini dari monitor ventilator. Juga angka yang bertuliskan RSP berkedip-kedip. Suara bip terdengar lagi.
Perawat datang menghampiri bed Alif.
__ADS_1
“Pak, sepertinya Alif harus segera kita pindahkan ke PICU untuk dilepas ventilatornya. Kabar baik, Alif sudah bisa bernafas sendiri. Tubuhnya menolak ventilator. Angka respirasi oksigennya naik dengan cepat.”
“Saya..saya boleh mendampinginya?”
Perawat itu menggeleng.
“Ma’af, sebaiknya Bapak menunggu di ruang tunggu. Karena pemasangan ataupun pelepasan alat ventilator pasti akan membuat perasaan yang tidak nyaman bagi orang yang tidak terbiasa dengan hal-hal medis.”
Indra mengangguk.
“Om pamit dulu ya. Terus berjuang ya Kakak. Nanti Om datang lagi menemani Kakak..” Indra menciumi jemari dan telapak tangannya.
“Assalamu’alaikum, Kak. Para Om dan Tante Kakak juga para Opa dan Kakek menunggui Kakak di luar ruangan. Om mau kabari Bunda dulu ya, Kak..”
Indra mengangguk pada perawat. Beberapa perawat lain berada di belakangnya bersiap memindahkan Alif ke ruang PICU. Dokter Kamal tampak melihat layar monitor komputer di meja perawat dengan serius.
Melewati bed Lilis, sudah ada Pak Imam duduk di dekat bed Lilis. Pipinya basah. Tampak kesusahan berbicara.
Saat Indra berada di ambang pintu ruang recovery dengan ruang antara, terdengar seruan dari Pak Imam.
“Alhamdulillah ya Allah... Alhamdulillah. Lilis.. bisa dengar suara Apa?”
Indra keluar dari ruangan dengan senyum di wajahnya.
“Bagaimana?” tanya Daddy.
“Alhamdulillah. Saat tadi Indra ajak bicara, memang tidak ada respon dari Alif. Hanya monitor ventilatornya berbunyi juga angka respirasi oksigennya berkedip terus.”
Semuanya memandang Indra dengan penuh atensi.
“Tubuh Alif menolak ventilator. Alif sudah bisa bernafas sendiri tanpa harus dibantu ventilator.”
“Alhamdulillah..” semua berseru senang.
“Terus kenapa Lu disuruh keluar, Bro?” tanya Agung.
“Tadinya gue juga gak mau keluar. Ingin dampingi Alif di PICU. Tapi kata perawat, alat ventilator Kakak mau dilepas. Dan proses pelepasannya akan membuat kita gak nyaman saat melihatnya...”
“Ngeri ah.. Pasti tidak terlihat manusiawi bagi kita..”
Adisti mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Bro, buruan kabari Bundanya..” Bramasta mengingatkan.
Indra mengangguk.
“Tadi gue memberitahu Alif sebelum gue keluar ruangan kalau kita semua menungguinya di sini.”
“Terus?”
“Alarmnya bunyi lagi..”
“Jadi.. sepertinya Alif tahu kalau kita menungguinya di ruang tunggu di dekat ruangannya?” tanya Hans.
“Tanyakan saja pada Agung. Dia kan jalan-jalan ke luar ruangannya disaat dia koma. Ikutan gabung dengan kita di ruang tunggu ICU,” Bramasta menunjuk pada Agung yang sedang berbincang dengan Adinda, “Yang membuat suasana ruang tunggu jadi berasa spooky..”
“Ah ya.. gue ingat betul. Saat itu kalian sedang meledeki Bang Hans dengan memanggilnya Bunny, panggilan sayang nya Mbak Hana ke Bang Hans..” Agung terkekeh, “Gue berdiri di belakang Adek.”
“Itu sebabnya Disti saat itu merasa merinding terus dan seperti ada yang mengawasi kan?” Bramasta memandang istrinya.
Adisti mengangguk.
“Hunny Bunny?” Adinda terkekeh.
“Kamu baru tahu cerita ini Din?” tanya Agung.
Adinda mengangguk.
Hans yang merasa jadi bahan omongan wajahnya mencebik.
__ADS_1
“Bubaar... bubaaaar.. Cerita lama itu. Gak usah diulang..”
“Ciyeee Bunny lagi malu..” Bramasta ikut menggoda.
“Bang, buruan beritahu Bundanya. Takut keburu tidur nantinya. Dia pasti berharap ada berita yang membahagiakan tentang Alif,” Anton mengingatkan Indra.
Indra mengangguk. Dia berjalan ke bangku barisan paling belakang yang menyandar tembok. Mengikuti dorongan hatinya, dia tidak ingin melakukan panggilan telepon. Melainkan panggilan video call.
Walau hatinya tidak yakin dengan tindakannya. Tapi Indra memantapkan dirinya. Alasannya hanya satu, dia merindukan tatapan Arini. Merindukan iris bunga matahari milik Bundanya Alif dan Abay.
“Assalamu’alaikum..” Indra tersenyum menatap Arini dengan wajah dan mata sembabnya.
Arini balas menatap Indra.
“Wa’alaikumussalam..”
“Masih menangis? Nanti Abay jadi sedih loh..” Indra memiringkan wajahnya menatap mata sembab di layar gawainya.
“Nggak.. Saya baru bangun. Tadi setelah sholat Isya, saya ketiduran..” Arini tampak canggung berbicara dengan Indra melalui video call, “Bagaimana dengan operasi Kakak?”
“Alhamdulillah lancar. Sudah selesai sejam yang lalu. Dari ruang operasi dibawa ke ruang recovery. Baru saja saya keluar dari ruang recovery untuk mendampingi Kakak lepas dari pengaruh anastesinya,” Indra terdiam sejenak, mengamati raut wajah Arini.
“Terus?”
“Hasil operasinya bagus. Cairan yang menghambat otaknya sudah mengalir sendiri keluar. Ada darahnya juga...” Indra mengingat lagi.
“Kepala Kakak dipasang selang di sini...” Indra menunjuk belakang kepalanya, “Area operasinya digunduli... Jadi pitak.”
Indra tersenyum. Arini juga mencoba tersenyum walau pipi bagian dalamnya masih terasa nyeri.
“Jangan dipaksakan untuk tersenyum, Teh kalau masih sakit. Saya tahu kok, senyum Teh Arini itu manis banget..” Indra mengeluarkan wajah tengilnya.
Pipi Arini merona. Dia terkekeh pelan. Indra ikut tertawa. Dia senang menyaksikan Arini tidak bersedih lagi. Mata Arini berbinar terang. Hati Indra menghangat. Bahkan ia bisa merasakan hatinya juga berdenyut.
“A Indra.. tumben video call?” Arini memandang mata Indra.
“Iya...” tatapan Indra terpaku pada mata Arini.
“Kenapa?”
“Saya kangen...”
Ruang tunggu yang tadinya ramai obrolan pelan para Kuping Merah juga celoteh Adisti dan Adinda, mendadak sunyi. Mereka semua yang duduk di deretan depan menoleh serentak ke arahnya dengan tatapan heran.
Indra tersentak. Seketika juga merasakan ada yang tidak beres pada ucapannya.
“Apa?” Arini bertanya balik pada Indra dengan wajah kaget dan merona.
“Eh...” Indra tergagap, “Maksud saya... tadi saya bilang ke Kakak, saya kangen Kakak, Bunda juga kangen Kakak, Adik Abay juga kangen Kakak...”
Indra melirik mereka yang duduk di barisan depan. Semuanya menahan tawa. Adisti dan Adinda membuat bentuk love di atas kepalanya dengan lengannya. Yang lainnya akhirnya terkikik.
.
***
Nah loh!
Kelepasan kan?
Jangan lupa tekan like dan minta update..
Yang belum beri penilaian bintang 5 disertai ulasannya, pliiiiiiiis 🙏🏼
Love you Readers.
❤️
Utamakan baca Qur’an.
__ADS_1
🌷