
Gawai Indra berdering. Ada panggilan masuk dari Bramasta.
“Assalamu’alaikum, Pak Bos. Saya sudah hampir sampai kantor nih.”
“Masyaa Allah! Alhamdulillah ya Allah...” Indra terdiam mendengarkan Bramasta berbicara.
“OK. Gue balik lagi sekarang. Assalamu’alaikum..”
Indra menepuk pundak pengawalnya.
“Pak, putar balik. Kita ke rumah sakit sekarang.”
Indra memasuki ruang rawat inap Arini. Suara gelak tawa Adisti dan Mami terdengar saat Indra membuka pintu.
“Assalamu’alaikum...” salam Indra.
Semua menjawab salam Indra.
Alif memandangi Indra dengan mata berbinar.
“Om Indra..!” jemari Alif terulur ke arah Indra.
Gegas Indra menghampiri Alif yang berbaring setengah duduk.
“Jagoannya Om Indra!” leher Indra terasa tercekat. Terharu.
Indra menciumi jemari Alif. Menciumi ubun-ubun dan keningnya. Juga kedua pipinya.
“Kakak.. terima kasih Kakak Alif sudah berjuang. Terima kasih Kakak sudah sadar sekarang..”
Indra dengan hati-hati memeluk Alif. Indra menangis.
“Ma’afkan Om Indra yang tidak berada di sini saat Kakak kejang-kejang. Ma’afkan Om ya..”
“Om Indra.. jangan sedih. Kakak tidak apa-apa. Kan ada Tante Dinda yang menemani Kakak..” Alif menahan leher Indra, kemudian berbisik, “Terimakasih sudah membalas perbuatan ibu-ibu galak itu. Terimakasih sudah merahasiakannya dari Bunda..”
Indra tertegun. Dia benar-benar terperanjat dengan ucapan Alif yang dibisikkan tepat di telinganya.
“Kakak Alif tahu?” Indra menatap mata Alif.
“Kakak mengikuti Om tadi..” Alif tersenyum.
“Ya Allah!” mata Indra melebar.
Bramasta mengerutkan keningnya. Menanyakan ada apa pada Indra. Indra mengedipkan matanya. Bahasa tanpa kata: nanti gue ceritakan.
Arini mengerutkan keningnya menatap Indra. Indra tersenyum pada Arini.
“Om Indra...” Alif berbisik lagi di telinga Indra, “Tetap semangat mengejar Bunda ya.”
Kuduk Indra meremang. Indra menatap Alif. Alif balas menatapnya dengan sungguh-sungguh.
“Jangan sedih saat ditolak Bunda. Sebenarnya Bunda hanya takut...” Alif melanjutkan bisikannnya lagi.
“Takut apa?”
“Takut kecewa dan sakit hati lagi. Dikasari dan dipukuli. Padahal Kakak dan Adik yakin Om Indra gak begitu. Gak akan jadi laki-laki seperti ayah.”
“Darimana Kakak tahu Om ditolak Bunda?”
Alif terkekeh.
“Kakak lihat dan dengar sendiri kok...”
Indra berusaha mencerna ucapan Alif.
“Maksudnya Kakak ada di sini semalam?”
“Iya...”
“Kenapa gak tidur?”
“Kakak mencari teman Kakak. Anak perempuan. Baik banget anaknya. Lucu lagi. Biasanya Kakak mengobrol ataupun bermain dengannya..”
“Lilis?”alis Indra terangkat.
Mata Indra menyapu ruangan. Semua tengah memandang Indra dengan tatapan penuh rasa ingin tahu.
Arini terkesiap saat Indra menyebut nama Lilis. Mami menggenggam tangan Arini.
__ADS_1
Bramasta menepuk lengan atas Indra kemudian berbisik di telinga Indra.
"Sewaktu baru sadar, Kakak juga menanyakan Lilis..”
“Adisti tahu?” melihat Bramasta mengangguk, Indra bertanya lagi, “Terus apa pendapatnya?”
Bramasta menggeleng lalu mengangkat kedua bahunya.
“Om.. Nanti boleh tidak saya menengok Lilis? Lilis pasti belum bisa jalan kan?”
“Insyaa Allah... Nanti Om minta ijin ke perawat ya?”
Alif mengangguk lalu tersenyum senang. Matanya berbinar bahagia.
“Cucu Oma gak kangen dengan Oma?” Mami mendatangi Alif lalu meraih tangan kecilnya.
“Kakak tahu, semalam Adik tidur dengan Oma dan Opa kan?” Alif memandangi wajah Oma.
“Kakak tahu?” Oma bertanya heran.
“Kakak dengar. Tapi Kakak gak bisa ikut saat Kakak lihat Om Agung gendong Adik ke dalam mobil Opa.”
“Kenapa Kakak gak bisa ikut?” Indra tersenyum. Dia melirik Arini yang tengah memandanginya.
“Terlalu jauh, Om.”
“Tapi tadi kok bisa mengikuti Om ke sekolah?” Indra tersenyum lagi.
Alif mengangkat kedua bahunya.
“Kakak juga gak tahu.”
“Sepertinya Kakak terhubung dengan Bang Indra...” Adisti menatap Indra dan Alif bergantian, “Kakak bisa mengikuti Bang Indra kemanapun Abang pergi tapi tidak dengan orang lain.”
Arini melebarkan matanya saat mendengar ucapan Adisti.
“Sore nanti.. biarkan Mami yang jemput Abay ya,” Mami menatap Indra dengan tatapan memohon.
“Kenapa, Tan?” Bramasta terkekeh.
“Gak sabar. Kangen Abay..” Mami terkekeh, “Nanti malam, Mami tidur dengan Abay lagi ya..”
Indra mengangguk sambil tersenyum pada Arini. Arini mengangguk pada Mami.
“Abay gak repotin Oma kan?”
Mami tertawa.
“Gak.. Abay tidak merepotkan sama sekali. Dia membuat rumah jadi ramai. Semua orang di rumah suka dengan Abay.”
“Kakak boleh tidur di rumah Oma?” Alif menatap Mami.
“Tentu saja, Sayang.. Nanti kalau Kakak sudah dibolehkan pulang, Kakak dan Adik tidur di rumah Oma, ya. Kita tidur bareng di kamar Oma.”
“Terus Opa tidur di mana, Oma?”
“Ya tidur bareng dengan kita dong..”
“Memangnya muat tempat tidurnya?”
Indra terkekeh.
“Tempat tidur Opa dan Oma besar banget, Kak.”
“Terus, Bunda nanti tidur dimana?” Alif bertanya lagi.
“Tidur di kamar , Om, Kak..” Indra tertawa tapi kemudian mengaduh karena mendapat keplakan yang keras dari Mami.
Bramasta dan Adisti terkekeh.
“Puas lohhhh..!” mereka kompak terkekeh lagi.
Indra melirik ke arah Arini yang berpura-pura tidak mendengar obrolan mereka dan tengah sibuk mengambil tisu untuk mengelap gawainya.
Suara pintu digeser dan ucapan salam terdengar. Bunda datang, supir Bunda membantu membawakan barang bawaan Bunda ke atas meja pantry.
Semua menjawab salam Bunda. Bunda menghampiri mereka.
“Masyaa Allah.. Cucu Nenek sudah bangun...” Bunda memeluk Alif, “Nenek kangen Alif. Kakek juga..”
__ADS_1
Mereka semua mengobrol bersama di bed Alif. Indra menghampiri Arini.
“Kenapa wajah Arin seperti yang sedih?” lagi, Indra duduk di bed Arini setelah menurunkan handrail bed.
“Bahkan untuk memeluk anak sendiri yang baru tersadar pun, saya tidak bisa...”
“Sabar...” Indra tersenyum memandangi Arin yang mengenakan bergo instan warna kuning muda, “Nanti juga ada waktunya. Dokter sudah datang?”
“Belum, A. Kata perawat, dokternya ada pasien darurat dulu di ruang operasi.."
“Arin ingin saya bawakan apa? Sebentar lagi saya mau ke kantor. Saya belum sampai kantor tadi saat saya meminta driver untuk putar balik ke arah rumah sakit.”
Arin terkejut kemudian menggeleng.
“Saya sudah meminta Husna untuk membawakan tablet dan laptop saya. Jadi saya bisa mengusir kebosanan saya di atas tempat tidur ini dengan mengawasi kerja anak-anak juga membuat desain baru..”
Indra mengangguk mengerti.
“Saya suka melihat Arin pakai warna ini,” Indra menyentuh sedikit ujung bergo Arini, “Cantik. Cocok dengan Arin.”
“Warna jagung?” Arini terkekeh.
“Whatever_Terserah_...” Indra ikut terkekeh, “Yang jelas, saya suka.”
“Ndra,” Bramasta memanggil, “Gue dan Disti ke kantor dulu ya..”
Indra gegas menghampiri Bramasta. Merangkulnya.
“Thanks a lot, Bro.. Kalian menemani Alif untuk bangun..”
“Sebenarnya, saat sedang menunggui Alif, Disti mengajak gue untuk menjenguk Lilis. Pada saat itulah Alif langsung bangun. Perawat PICU sampai heran...”
“Kita gak tahu akan bagaimana hubungan mereka berdua nantinya, Bang. Disti yakin, kejadian yang dialami oleh Alif dan Lilis itu bukan kejadian yang umum dijumpai.”
Gawai Indra dan Bramasta berbunyi bersamaan. Notifikasi pesan chat. Pasti dari WAG Kuping Merah.
Anton_Bang Indra tenar di TowTow tuh.. Beberapa video dari tempat yang sama menayangkan Bang Indra menyemprot Siska_
Agung_Bagi link, Ton.._
Anton_ Siap Bang_
Hans_Itu di sekolah ya, Ndra?_
Leon_Bram, libas habis saja suaminya.._
Bramasta_Nanti Bang.. masih kita tahan dulu. Siang nanti gue ada meeting dengannya. Akan gue buat dia melayang tinggi dulu sebelum akhirnya terhempas ke bumi... (emot ngakak)_
Indra_Iya itu di sekolah. Memang sih pada saat kejadian, beberapa ibu-ibu muda langsung mengarahkan kamera belakang handphonenya. Norak sih sebenarnya.. (emot ngakak)_
Hans_Gue lebih senang baca komentarnya. Auto ngakak. Lumayan buat pereda stres (emot ngakak 3x)_
Anton_Sekarang predikat Bang Indra bertambah: menjadi pembela janda. Congrats ya Bang!_
Semua mengirimkan emot ngakak.
Bramasta_Setelah ditolak janda mendadak terkenal seantero negeri sebagai pembela para janda_
Indra_Catet ya.. Janda baik-baik loh. Janda yang menjaga marwah dan martabatnya sebagai seorang muslimah_
Agung_Keren! (emot love)_
Leon_Yang jelas sih bukan tipikal janda pirang dengan tato kupu-kupu yang bertekad menjadi pelakor_
Semua memberi emot ngakak pada chat Leon.
.
***
Babang Indra keren!
Ternyata selain menjadi Power Ranger Biru dia juga menjadi Pembela Janda Baik-baik.
Walau sudah ditolak tapi pantang mundur ya.
🌷Jangan lupa like dan minta update ya🌷
Mohon maaf baru bisa posting lagi. Alhamdulillah acara maulid di majelis kamu berjalan lancar dan luar biasa.
__ADS_1
Utamakan baca Al Qur'an ❤️