
Indra dan para tetangga yang melihat kondisi bahu dan punggung Alif berseru ngeri.
“Astaghfirullahalazim..” Indra menatap Alif tak percaya, “Kenapa tadi gak bilang Om kalau Kakak juga cidera?”
“Kakak anak laki-laki. Harus kuat. Gak boleh cengeng. Harus jadi contoh yang baik untuk Abay. Begitu yang sering diucapkan Bunda..”
“Kakak hebat..” Indra hanya bisa berbisik karena tidak bisa berkata-kata lagi. Dia mengancingkan kemeja Alif lagi.
“Pak Indra, pasien siap dipindahkan sekarang juga. Kita bawa sekarang, Pak?”
Indra mengangguk.
“Tunggu saya di bawah ya Pak. Kita berangkat sama-sama.”
Indra memandang Pak RT, “Nanti ada orang dari AMANSecure untuk meminta rekaman CCTV yang mengarah ke rumah ini ataupun jalanan depan rumah ini. Mohon kerja samanya.”
“Baik Pak. Nanti kami akan bantu sebisa kami.”
“Tetangga sebelah rumah apakah tidak mendengar suara orang yang bertengkar dini hari tadi?” tanya Indra.
“Saya tetangga depan rumah. Sekitar jam setengah empat saya mendengar suara pot jatuh. Saya kira itu hanya ulah kucing makanya saya abaikan saja tidak mengecek lagi... Kamera CCTV di rumah saya menghadap sedikit ke rumah ini. Mungkin nanti bisa jelas terlihat,” seorang ibu muda berdaster bunga besar memberi keterangan.
“Apakah perlu menghubungi polisi?” tanya Pak RT.
“Nanti biar Teh Arini saja yang memutuskan. Kita mengumpulkan bukti-buktinya saja dari CCTV dan keterangan tetangga,” Indra menambahkan lagi, “Nanti saya juga akan meminta visum dari rumah sakit untuk menyiapkan bukti bila nanti Teh Arini akan mengajukan laporan.”
Para tetangga pria turut membantu petugas medis untuk menurunkan tubuh Arini yang sudah terikat di atas brankar ambulans.
“Usahakan agar tubuh pasien tidak terguncang ya. Ada kemungkinan pasien mengalami cedera leher atau bagian tubuh lainnya. Dikhawatirkan guncangan akan memperparah cedera pasien,” Petugas Medis memberi arahan kepada bapak-bapak yang turut membantu.
__ADS_1
Untuk menjaga agar posisi kepala pasien lebih tinggi daripada kakinya, posisi brangkar bagian kaki turun terlebih dahulu. Velcro membuat tubuh Arini tidak melorot dari brankar. Turniket pada leher juga tidak membuat kepalanya terkulai.
Proses penurunannya lambat karena harus berhati-hati. Saat di pertengahan, Arini mengerang. Para tetangga menguatkan dan menyemangatinya agar kuat dan sabar.
Indra menggendong Akbar dan menggandeng Alif. Saat sudah sampai di bawah, tangan Indra digoyang-goyangkan oleh Alif.
Indra menoleh.
“Ada apa Kak?”
Alif menunjuk pada tembok dekat kusen pintu ruang produksi. Ada sedikit genangan air di bawahnya.
“Darah Bunda di tembok sudah Kakak bersihkan. Pakai sikat.”
Indra tercekat. Menatap nanar pada anak kecil yang jemarinya berada dalam genggamannya.
“Masyaa Allah. Kakak luar biasa..”
Arini sudah dimasukkan ke dalam ambulans.
“Barangkali ada yang mau mendampingi pasien?” tanya Petugas Medis kepada para tetangga,
“Saya. Saya saja,” seorang ibu-ibu berhijab. Gesturnya sigap dan handal, “Saya tetangga di samping rumahnya.”
Petugas tadi mengangguk.
“Silahkan Bu.”
“Pak Indra,” Pak RT menepuk pundak Indra yang tengah membukakan pintu untuk Alif dan Akbar, “Nanti saya menyusul ke rumah sakit.”
__ADS_1
“Baik Pak. Terima kasih banyak,” Indra tersenyum. Lalu bergegas ke pintu kursi kemudi.
Mobil ambulans mulai melaju. Diikuti mobil Indra. Sementara para tetangga masih berkumpul di jalan depan rumah Arini.
Masih di dalam komplek, sirene ambulan tidak dibunyikan. Begitu memasuki jalan besar, sirene mulai meraung. Meminta jalan kepada pengguna jalan di depannya untuk menepi.
Akbar menatap pintu belakang mobil ambulans yang berada di depannya dari kursi penumpang belakang. Tatapannya takut dan khawatir karena kondisi Bundanya.
Saat mendengar raungan sirine dan melihat bagaimana mobil dan motor menyingkir memberi jalan, matanya berbinar.
[Wooow keyyyeeen_Wooow kereeeeen_] bisiknya dalam hati.
Indra mengendarai mobil dengan terampil. Lampu hazard dinyalakan, memberitahu pengendara lain bahwa ia tengah mengikuti ambulans sebagai keluarga pasien.
Dia melirik pada Alif yang berada di sampingnya. Sabuk pengamannya terpasang dengan baik.
“Kakak sepertinya tidur ya Bay?” Indra menatap Akbar dari spion dalam.
“Masya siyh?” Akbar melongokkan kepalanya untuk melihat Alif.
“Duduk Bay.. kita mau belok. Rumah sakit sudah di depan..” Indra membelokkan kemudinya dengan hati-hati setelah Akbar duduk lagi di kursinya.
Belokan tajam membuat tubuh ikut miring. Saat mengarah ke jalur UGD, Indra merasa posisi tubuh Alif tidak wajar.
Tubuhnya terkulai lemas ke arah depan tertahan oleh sabuk pengaman. Sementara kepalanya menunduk terkulai.
“Kak... Kakak..!” Indra mulai panik.
.
__ADS_1
***
Kakak Alif ?