
Saat mereka tiba, bersamaan dengan keluarnya bed Arini dan Alif dari ruang radiologi.
Akbar berada dalam gendongannya tengah menyedot minuman jus buah dalam kemasan kotak.
“Bisa langung dibawa ke ruang rawat inap saja, Sus?” Bramasta menatap wajah Arini dan Alif dengan wajah prihatin.
“Nanti kita tunggu hasil pemeriksaannya di ruang rawat inap saja, Suster,” Indra ikut berbicara.
“Nanti saya tanyakan dulu bagian kamar ya, Tuan. Apakah sudah siap atau belum.”
Kebetulan saat itu kepala perawat melintas. Bramasta dan Indra langsung menanyakan kesiapan kamar rawat inap yang sudah dipesan.
“Ya. Langsung saja dibawa ke atas,” Kepala Perawat mengangguk kepada juniornya.
“Lu udah ngomong ke Mami, Bram?”
“Belum sempat. Nanti kalau sudah sampai kamar saja. Gue ngomong ke Tante Dhani, Lu ngomong ke Mommy, ya. Biar cepat..”
“By the way, meeting pagi ini bagaimana” Indra menoleh pada Bramasta.
“Sudah diwakilkan oleh Anton. Sudah saatnya kita memberi dia panggung. Supaya melatih kepercayaan dirinya.”
Indra mengangguk dan tersenyum.
“Om Bam, Ate Nisti hanah?” Abay menyerahkan kotak jus buah yang kosong kepada Indra.
“Tante Disti sedang pergi ke Garut sama Nenek..”
“Dak syini?”
“Ndra?” Bramasta memandang Indra meminta diterjemahkan.
“Gak ke sini?” Indra tersenyum memandang Abay.
“Nggak Bay. Pulangnya mungkin malam. Kenapa? Abay kangen dengan Tante Disti?” Bramasta memandang Akbar yang mengangguk, “Sama.. Om juga kangen banget ke Tante Disti. Kangen..”
Indra mencebik pada Bramasta.
“Awas loh kalau Lu ngajarin bocah untuk jadi bucin.”
Bramasta terkekeh.
Mereka sudah sampai di depan kamar rawat inap. Bed pasien dimasukkan terlebih dahulu.
Bed Arini di dekat jendela. Bed Alif di sebelahnya. Suster menerangkan tentang fasilitas kamar. Walau mereka sudah tahu, tapi tetap mereka mendengarkan apa yang perawat itu sampaikan untuk menghargai kinerjanya.
Pintu ditutup.
__ADS_1
Bramasta duduk di sebelah bed Alif.
“Bro, lu jagain bundanya anak-anak. Gue mau nelepon Tante Dhani dulu.”
Belum sempat Bramasta menelepon, gawai Indra berdering. Panggilan video call.
“Bram, Lu gak ush nelepon Mami. Mami sedang VC gue..”
Bramasta mengangkat kedua alisnya.
“Assalamu’alaikum, Mi..”
“Wa’alaikumussalam.. Ndra, Kamu terlibat apa sekarang ini? Please deh jangan bikin Mami senewen lagi..” suara Mami terdengar nyaring.
“Indra gak terlibat apa-apa, Mi..”
“Nonsense. Buktinya Papi sekarang sedang otewe jemput Mami buat ke rumah sakit. Ada apa sebenarnya?”
Akbar yang sedang dipangku Indra menarik tangan Indra yang sedang memegang gawainya.
Wajah Mami tampak oleh Akbar.
“Assalam nkum, Oma..”
“Eh, ini siapa?” wajah Mami terlihat bingung, “Ndra?”
“Ngomong apa Ndra?” Mami mengangkat kedua alisnya.
“Saya Abay, Oma. Om Indra antar Bunda sama Kakak Alif ke rumah sakit..” Indra menerjemahkan.
“Hai Abay.. Bunda dan Kakak sakit apa?”
“Nda syama Tata diputun owang jaat. Tapi Abay nda tawu. Jadi Abay nda bisya bantu towong Nda dan Tata..”
“Bunda sama Kakak dipukul orang jahat. Tapi Abay nggak tahu. Jadi Abay gak bisa bantu tolong Bunda dan Kakak..” Indra mengelus kepala Abay dengan penuh kasih sayang.
Mami mengernyit. Matanya memicing.
“Ndra? Serius?”
Indra membalikkan kamera menjadi kamera belakang. Kamera menyorot wajah Arini dan kondisinya. Terdengar suara nafas Mami yang terkesiap.
Kamera juga menyorot bed di sebelahnya, Alif dengan mata masih terpejam.
“Subhanallah..”
Bramasta yang duduk di dekat bed Alif melambaikan tangannya ke kamera.
__ADS_1
“Assalamu’alaikum Tante.. Bram nemenin Indra. Disti dan Bunda sedang ke Garut. Mommy masih di Singapura. Kasihan Indra, Tan. Tadi kebingungan banget..”
“Ya sudah, Mami sekarang siap-siap ke sana sambil menunggu Papi..”
Indra membalikkan lagi kameranya.
“Oma mo syini?”
“Oma mau ke sini?” Indra menerjemahkan.
“Iya. Abay mau dibawakan apa oleh Oma?”
Abay memandang lekat Indra, meminta persetujuannya.
“Boweh, Om?”
Indra mengangguk sambil tersenyum.
“Abay mo pay syusyu. Tata Aip syuta banet. Nanti maem bedua. Siyan Tata, bwum angun dali di mbin Om Inda.”
“Abay mau pie susu. Kakak Alif suka banget. Nanti maem berdua. Kasihan Kakak, belum bangun semenjak di mobil Om Indra.”
“Memangnya kenapa di mobil kamu?”
“Tadinya Alif baik-baik saja. Walaupun sebelumnya cerita dia dipukul dibagian punggung sampai terbentur tembok. Punggungnya memar parah. Kepalanya benjol besar. Indra kira dia sedang tidur. Pas belok, badannya jatuh, Mi. Untung tertahan seat belt..” mata Indra mengembun.
Wajah Mami menampakkan kekhawatiran, “Ya Allah..”
Suara Papi memanggil Mami terdengar.
"Ndra, Papi sudah datang. Mami ke sana ya,” Mami menatap Abay, “Nanti Oma bawakan pie susu, ya Ganteng..”
“Nama syaya Abay, Oma. Butan anteng..”
Indra terkekeh, “Nama saya Abay, Oma. Bukan Ganteng..”
Mami ikut terkekeh.
“Iya Abay.. Duh gemesin banget sih..”
“Ndra, tutup dulu ya. Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumussalam. Tiati Oma..”
.
***
__ADS_1