
Memasuki jam besuk, para tetangga Arini banyak yang datang. Awalnya Mami, Mommy dan Bunda serta Bramasta dan Adisti berkumpul di sofa L. Semakin sore, tetangga semakin banyak yang berkumpul membuat ruangan menjadi sempit.
Mereka berkumpul di kafe rumah sakit sekalian makan malam lebih awal. Mengajak serta Abay dan Alif yang memakai kursi roda dengan tiang infus di kursinya.
Mereka menempel terus pada dua Oma dan Nenek yang baru dikenalnya hari ini.
Arini dan Alif ditemani oleh Indra, Bramasta, Adisti dan Adinda. Husna datang membawakan baju ganti untuk Arini dan anak-anak. Termasuk baju seragam dan buku-buku milik Abay.
Obrolan bersama tetangga , masih seputar kejadian pagi tadi. Seorang tetangga bercerita, sekitar jam 09.00, saat sedang menyuapi anaknya di luar rumah, seorang pria yang memakai Avanza putih menanyakan tentang Arini.
“Ada kiriman tekstil bahan baku tas, katanya. Kebetulan kan tadi semua karyawan Bu Arini diliburkan ya?” ibu yang sedang bercerita itu balik bertanya kepada yang lainnya.
“Terus bagaimana, Mama Arfa?” Pak RT bertanya sebelum melebar kemana-mana.
“Ya saya jelaskan saja, rumah produksi Bu Arini diliburkan karena pemilik dan anaknya diserang saat menjelang subuh tadi.”
“Terus?”
“Dia menanyakan kondisi Bu Arini. Seperti yang prihatin dan peduli gitu, saat mendengar Bu Arini dan anaknya di serang..”
“Terus Mama Arfa beritahu tempat Bu Arini dirawat?” tanya tetangga yang lainnya lagi.
“Iya.. saya kan gak tahu kalau mantan suaminya Bu Arini yang menjadi pelakunya itu pakai mobil Avanza putih. Lagipula pemakai Avanza putih kan banyak.."
“Ah.. Mama Arfa.. Kenapa diberitahu?” seorang tetangga lainnya seperti menyalahkan ibu yang bercerita.
“Broadcasting tentang kronologi di WAG RT baru beredar setelah saya selesai menyuapi Arfa, juga tentang wajah dan mobil si pelaku..” Mama Arfa tampak tak terima dirinya dipersalahkan.
"Iya Mama Arfa.. betul apa yang Mama ucapkan..” Pak RT menengahi warganya.
Bramasta menatap Indra. Mereka berbicara dengan memakai mata dan gestur tubuh. Kemudian Bramasta mengangguk.
__ADS_1
“Mungkin itu yang menjelaskan keheranan kami bagaimana mantan suami Teh Arini bisa menyusul kemari sekitar pukul 10.30 tadi,” Bramasta menatap Pak RT dan para tetangga Arini.
“Apa??!” Pak RT dan para tetangga tampak terkejut.
“Bagaimana bisa?”
“Terus bagaimana?”
Indra menceritakan kejadiannya. Semua mendengarkan Indra. Mereka terlihat geram mendengar cerita Indra.
Bramasta mengeluarkan gawainya. Memperlihatkan video rekaman CCTV dari koridor VIP.
Orang-orang berseru saat melihat Mami mengangkat guci di atas kepalanya. Namun berseru kecewa saat lemparan Mami tidak seperti yang mereka harapkan.
Tindakan yang diambil Papi menimbulkan sorak kekaguman dari mereka. Apalagi saat si pelaku diseret paksa oleh para petugas security rumah sakit.
Seruan anti ******* terdengar saat melihat Indra berlari mendekati kedua orangtuanya.
“Saya tidak tahu keributan berasal dari ruangan ini. Saya sama sekali tidak menyangka pelaku akan nekat mendatangi Teh Arini di rumah sakit.”
“Bang Indra..” panggil Adinda, “Teh Arini mau ngomong..”
Bramasta mengalihkan perhatian para tetangga agar tidak memperhatikan Indra dan Arini.
Indra menoleh pada Arini lalu tersenyum. Dia mendekati bed Arini lalu membungkukkan tubuh jangkungnya agar bisa mendengar suara Arini.
"A.. saya ingin lihat video rekamannya..” Arini berucap pelan.
“Teteh tidak apa-apa melihat rekaman itu? Maksud saya secara psikis, mengingat orang itu hampir mencelakai Teh Arini lagi,” Indra menatap mata Arini.
Dan lagi-lagi Indra dibuat terhanyut saat melihat mata Arini yang ternyata warna coklatnya lebih terang daripada warna coklat mata Adinda. Ada garis-garis berwarna coklat kopi di dalamnya. Sementara tepi lingkaran irisnya berwarna gelap yang membentuk cincin hitam yang memerangkap warna coklat terang di dalamnya.
__ADS_1
Indra tersadar menatap terlalu lama mata Arini. Dia mengerjap. Membuang tatapannya ke arah bunga matahari yang ada di atas nakas.
Kemudian baru disadari. Dia menatap mata Arini lagi. Warna mata Arini, mirip warna bagian tengah bunga matahari.
“A?”
“Eh, apa? Bagaimana?” tergagap Indra menatap Arini.
“Saya tidak merasa apa-apa untuk melihat rekaman video CCTV itu.”
“Oh iya..” wajah Indra terasa panas, “Silahkan..”
Indra membuka kunci gawainya lalu mencari di galerinya. Dia meletakkan gawainya di tepi tempat tidur menyandar pada handrail bed agar Arini bisa menonton dengan nyaman.
Indra memperhatikan ekspresi Arini saat tayangan zoom wajah si pelaku yang dibuat Anton di rekaman CCTV lobby bawah.
Arini meringis, bukan karena rasa takut melainkan karena rasa benci terhadap mantan suaminya. Saat si Pelaku hendak menyakiti Mami, ada sorot kemarahan di mata Arini.
Jadi, rasa itu memang sudah tidak ada di antara Arini dan mantan suaminya. Sementara rasa di dalam hatinya terhadap Arini? Entahlah. Dia tidak bisa mengidentifikasikan rasa yang terasa asing bagi dirinya sendiri bahkan di umur 35 tahun.
Mungkin sebaiknya ia akan bertanya tentang rasa yang aneh saat menatap mata Arini ini dengan Bramasta, atau dengan Agung, atau dengan Hans, atau dengan Bang Leon. Atau mungkin dengan semuanya. Toh, dibandingkan dirinya mereka semua adalah para suhu dalam dunia percintaan super bucin.
Kecuali Anton, si Bungsu dalam WAG, walau dijuluki Taehyung-nya B Group, kisah percintaannya benar-benar buruk. Kisah cinta yang stuck hingga susah move on dari kisah cinta pertamanya, jaman seragam putih abu.
.
***
Ndra, lu seharusnya nanya ke Author aja. Soale Author punya segudang pengalaman kisah cinta yang bisa dijadikan bahan novel.
Jiaaaaah!
__ADS_1
Jangan caya, Ndra..🤓😁😁