Mr. Secretary: Destiny Bound

Mr. Secretary: Destiny Bound
BAB 65 – WANITA NIRADAB


__ADS_3

Beberapa ibu-ibu muda itu mengarahkan gawainya ke arah mereka berdua. Demi konten menarik di sosial media yang mereka miliki.


Indra menatap tajam pada Siska yang tengah menggoyangkan tangannya sembari membetulkan kerudung jambulnya. Kerlip gelang dan cincinnya memantul. Gesekan gelangnya menimbulkan suara meriah.


“Anda ada masalah dengan saya?”


“Buat apa?” matanya mengerling.


“Anda ada masalah dengan Ibu Arini? Bundanya Akbar?”


Siska memperbaiki lagi kerudungnya yang sebenarnya tida perlu lagi diperbaiki. Dia mendekat ke arah Indra. Mencondongkan tubuh ke arahnya.


“Dia gak pantas untuk Anda, Pak Indra. Anda terlalu bagus untuk dia. Dia cuma seorang janda. Mana anaknya dua lagi!”


Pengawal mendorong bahu Siska.


“Ma’af Bu, tubuh Anda terlalu dekat dengan tubuh Tuan Indra. Harap mundur sedikit.”


“Hey! Sopan sedikit ya!” Siska membersihkan bekas tangan pengawal tadi dari bahunya. Seolah tangan pengawal itu meninggalkan jejak kotoran.


“Anda yang bertindak tidak sopan terlebih dahulu terhadap Tuan Indra. Mana ada perempuan baik-baik yang menyodorkan tubuhnya ke seorang pria. Di tempat umum pula!” Pengawal menatap dingin pada Siska.


Teman-teman Siska bergumam.


“Awas kamu! Kamu tidak tahu siapa saya? Akan saya adukan kamu kepada suami saya supaya kamu dipecat dan dituntut!”


“Silahkan saja, Bu. Saya tidak takut.”


“Awas kamu!” Siska membaca badge perusahaan di saku bajunya.


“AMANSecure?” Siska tertawa menghina, “Baru jadi centeng saja sombong!”


Indra menepuk punggung pengawal. Lalu meletakkan Abay di lantai.


“Abay ke kelas diantar Om Pengawal ya. Om Indra mau menyelesaikan urusan dulu dengan ibu-ibu itu.”


“Ibu-ibu gayyak itu ya Om. Tiati Om, cubitnya syakit! Dia ja at banget, Om!”


Indra berlutut di depan Abay.


“Abay pernah dicubit oleh ibu-ibu itu? Ada lagi gak selain ibu-ibu itu yang cubit Abay di sini?”


Teman-teman Siska heboh. Mereka mundur menjauhi Siska.


Abay menatap ibu-ibu itu. Dia menggeleng.


“Gak ada Om. Cuma ibu-ibu gayyak itu aja.”


“Sembarangan kamu! Dasar bocah kampungan! Anak janda sialan!”


Indra berdiri. Ia memberi kode kepada pengawal untuk membawa Abay ke kelasnya.


Setelah Abay menyaliminya dan ia mencium pipi Abay, Indra berbalik menatap Siska. Menatap penuh amarah sambil menunjuk ke arahnya.

__ADS_1


“Jangan menghina Ibu Arini kalau Anda tidak mau saya buka ke depan publik siapa Anda!”


Indra tersenyum miring.


“Jadi menurut Anda siapa yang pantas dengan saya? Wanita seperti Anda? Atau jangan-jangan Anda sendiri?” Indra tertawa mengejek.


Wajah Siska memerah. Matanya melotot marah.


Kedua tangan Indra dimasukkan ke dalam saku karena rasanya gemas sekali ingin menghajar wajah perempuan sombong di hadapannya.


“Punya cermin di rumah? Pergunakan dengan baik, Bu. Seorang janda baik-baik jauh lebih-lebih terhormat dari seorang perempuan culas yang selalu iri hati dan sibuk nyinyir sana sini serta tidak malu mendekati laki-laki lain yang bukan suaminya.”


“Kurang ajar kamu! Sombong!!” Siska menunjuk pada Indra.


“Anda pernah mencubit Akbar. Saya yakin bukan hanya Akbar yang pernah merasakan cubitan ibu ini..” Indra memandang ibu-ibu muda yang mengelilingi mereka, “Coba tanyakan kepada putra atau putri ibu-ibu semua. Barangkali pernah merasakan cubitan ibu galak ini seperti yang tadi Akbar sampaikan.”


Mereka saling berbisik.


“Jangan dengarkan omongan orang ini! Dia berbohong!” Siska menjerit seperti orang gila.


Indra mundur selangkah melihat tingkah laku Siska yang sangat memalukan.


“Saya sudah mengetahui apa yang terjadi minggu kemarin, Bu. Pihak sekolah dan pihak yayasan tengah membicarakan ini. Ada saksi mata juga rekaman CCTV bagaimana ibu mengintimidasi serta mencubit Akbar dan kakaknya, Alif di dalam mobil jemputan. Kelakuan ibu hari ini hanya memperburuk semuanya. Saya tidak akan tinggal diam,” ucapan Indra sontak membuat ibu-ibu yang lainnya kasak-kusuk ingin tahu.


Siska menatap nyalang pada Indra. Tangannya bertolak pinggang.


Ibu Kepala Sekolah PG & TK tergopoh-gopoh mendekati Indra. Di belakangnya ada pengawal dan Ustadzah Irma.


“Pak Indra.. Pak..” lalu memandang ke arah Siska.


Siska menurunkan tangannya. Dia terkejut dengan kedatangan Ibu Kepala Sekolah dan staf pengajar.


“Bukan saya yang mulai, Bu. Pak Indra yang memulai duluan..” Siska berkelit.


“Semua terpantau di CCTV, Bun. Jangan melempar tuduhan yang tidak benar untuk menyelamatkan muka,” Ustadzah Irma menegur Siska.


“Ibu itu siapa? Kalau tidak tahu gak usah ikut campur deh. Saya laporkan kepada suami saya nantinya..” Siska bersidekap sambil menatap Ustadzah Irma dengan tatapan meremehkan.


Bapak ketua kesiswaan dari yayasan yang dari tadi sudah berada di belakang mereka menggelengkan kepalanya.


“Subhanallah.. seharusnya Ibu itu meminta ma’af kepada Akbar, Alif dan Bundanya terkait kejadian seminggu yang lalu. Ini kok malah memperkeruh keadaan?”


“Kok saya harus minta ma'af kepada mereka. Memang apa salah saya?” Siska memandang dengan tatapan merendahkan, “Cih! Gak sudi saya. Memang siapa mereka?”


“Astaghfirullahal adziim...” semua orang menggelengkan kepalanya termasuk teman-teman Siska.


“Sudahlah, Pak, Bu. Susah untuk mengajak bicara orang yang tidak mengenal adab. Saya kebetulan ada perlu dengan Bapak dan Ibu Kepala Sekolah..” Indra berbalik membelakangi Siska.


“Baik Pak Indra. Kita ke ruangan saya saja. Mari Bu..”


Usulan Indra dengan senang hati diterima oleh pihak yayasan dan juga para kepala sekolah. Apalagi dua bulan lagi akan ada perayaan hari besar Islam.


“Buat saja proposal sebagai formalitas ke kantor. Tujukan kepada saya. Insyaa Allah akan saya bantu pendanaannya,” Indra tersenyum.

__ADS_1


“Alhamdulillah.. semoga B Group dan Pak Indra Kusumawardhani semakin maju usahanya dan diberi keberkahan dari Allah Ta’ala.”


“Aamiin Yaa Rabbal’aalamiin,” Indra menggeser tubuhnya, “Tapi untuk digarisbawahi, saya tidak minta ada perlakuan istimewa terhadap Akbar dan Alif. Perlakukan mereka seperti murid lainnya. Tegur bila melakukan kesalahan.”


Semua orang mengangguk mengerti.


“Besok akan diadakan rapat komite sekolah terkait kejadian tadi dan juga kejadian minggu lalu. Setidaknya ini bisa menjadi efek jera bagi ibu-ibu lainnya yang terlalu over acting seperti Bundanya Syeren.”


“Baiklah. Saya mohon pamit karena harus berada di kantor. Terimakasih banyak untuk waktu dan aternsi yang diberikan bapak-bapak dan ibu-ibu semuanya.”


Indra berdiri. Lalu menyalami para bapak-bapak.


“Siang nanti, insyaa Allah kami akan menengok Ibu Arini dan Alif.”


Indra mengangguk.


“Saya mohon, di depan Ibu Arini tidak ada yang membahas kejadian seminggu yang lalu karena beliau sama sekali tidak mengetahuinya. Dan anak-anak juga tidak bercerita kepadanya, sengaja menyembunyikannya agar Bundanya tidak sedih.”


“Kami mengerti keadaannya, Pak.”


“Saya pamit, assalamu’alaikum..”


Saat berada di dalam mobilnya, Indra melihat Siska tengah dikerumuni para ibu-ibu muda yang tadi pagi masih bersikap seperti dayang-dayangnya.


Sekarang sikap mereka kepada Siska berubah 180°. Mereka menunjuk-nunjuk wajah Siska. Suara mereka terdengar hingga ke tempat mobil Indra parkir.


“Pak, jangan dulu menyalakan mesin mobil. Kita nikmati dulu pertunjukan mereka,” Indra menurunkan kaca jendelanya.


Pengawal tersenyum lebar melihat pemandangan di sisi sebelah kanan.


“Jadi, jangan-jangan apa yang orang-orang komentari di TowTow itu benar adanya?!” seorang ibu muda berbadan besar menggebrak kuat meja berpayung yang tengah dipakai Siska meletakkan minuman dinginnya.


“Jangan ngaco. Hoax itu!” Siska bersungut.


“Cih!” seorang ibu muda yang mengenakan kerudung biru langit berdecih sambil mendiing wajah Siska, “Tidak disangka ternyata kita berteman dengan seorang pelakor! Gawat nih.. jangan-jangan nanti giliran suami kita yang diembatnya. Ora sudi!”


“Nggak! Kami saling menyayangi. Istri pertamanya yang gak becus mengurusnya. Gak mau dandan. Sombong karena berasal dari keluarga kaya.”


“Bodoh! Terus kamu perdaya suaminya? Rebut suaminya? Itu namanya pelakor!”


Seorang ibu muda lainnya menyentuh perhiasan yang dikenakan Siska dengan ekspresi jijik.


“Ini jangan-jangan dibeli pakai uang jarahan dari harta istri pertama papanya Syeren!”


“Dih! Pelakor sok-sokan menghina janda!"


.


***


Sabar Ndra...


Jangan lupa like dan minta update ya.

__ADS_1


Utamakan baca Qur'an 🌷


__ADS_2