Mr. Secretary: Destiny Bound

Mr. Secretary: Destiny Bound
Bab 55 – PENABRAK LILIS


__ADS_3

“Bram, anterin Disti..” perintah Daddy, “Gak perlu ke bawah. Di lantai ini juga ada bagian administrasi untuk pembayarannya.”


Bramasta mengangguk.


“Kok Daddy tahu sih?”


“Ya tahu dong.. Buat apa Mommy kamu borong saham rumah sakit ini tapi Daddy gak tahu apapun tentang isi dari rumah sakit.”


“Bapak dan Ibu Imam Ghazali, silahkan duduk bersama kami Bu..” Ayah berdiri, “Daripada duduk sendirian di sana. Kita bisa ngobrol bareng untuk mengurangi beban pikiran..”


Kedua orangtua itu saling berpandangan.


“Ah, ma’af.. saya Gumilar. Ayahnya Adisti dan Adinda..” Ayah tersenyum, “Yang ini Pak Alwin, ayahnya Adinda juga dan yang ini Pak Kusumawardhani, ayahnya Adinda juga..”


Wajah kedua suami istri itu kebingungan.


“Loh kok..?” Bu Imam menutup mulutnya.


Ayah tertawa, “Kami orangtua angkat Adinda. Adinda sendiri sudah yatim piatu..”


Kedua suami istri itu mengangguk mengerti lalu tersenyum.


“Silahkan Pak, Bu, duduk dekat kami, supaya tiidak berjauh-jauhan mengobrolnya,” Papi tersenyum.


Keduanya mengangguk lagi lalu menempati kursi di dekat mereka.


“Kejadian tabrak lari Lilis di mana, Pak?” Hans bertanya.


“Di jalan menuju madrasah, dekat masjid Baiturrahman, Jalan Belimbing..” Pak Imam menunduk kemudian menyeka sudut matanya.


“Daerah mana itu?” Hans mengerutkan keningnya, ada banyak daerah di Bandung yang memakai nama buah-buahan terutama di area komplek perumahan.


“Buah batu, A..”


Hans mengangguk lalu memandang kepada Anton. Berbicara melalui sorot matanya. Alisnya terangkat sebelah. Anton mengangguk mengerti.


Dengan cekatan ia mengambil laptopnya. Lalu mulai mengetik dan menggerakkan mousenya. Indra mengerutkan keningnya melihat layar laptop Anton yang menayangkan peta.


“Rumah Bapak di jalan apa?” Indra masih mengerutkan keningnya.


“Di jalan Bungur, Gang 3.”


Anton mengetik lagi. Mempersempit arah pencarian. Mencari akses jalan kaki dari Jalan Bungur ke Jalan Belimbing. Lalu mencari tampilan street view dari Gogon Car. Beberapa kali menyetel ulang tampilan street viewnya lalu menggeleng ke arah Hans.


“Negatif, Bang. Jalur yang dilalui Putri Pak Imam gak ada satupun penampakan CCTVnya karena jalurnya itu bagian samping rumah dan juga tembok belakang bangunan-bangunan besar..”


Hans mendekati Anton. Dia berlutut untuk melihat layar laptop Anton.


“Coba lihat tampilan peta bangunan publik komersil di ujung jalannya..”


Anton mengetik lagi. Lalu tersenyum lebar. Menunjuk pada layar monitornya.


“Ini dan ini. Yang ini juga.”


Hans mengangguk puas.


“Lu bisa masuk?”


“Insyaa Allah. Persempit rentang waktunya.”


“Ibu, jam berapa Lilis berpamitan sore tadi?”


“Jam 15.00, Lilis biasa sholat Ashar di masjid. Supaya dia tidak terlambat. Madrasah dimulai ba’da Ashar,” Ibu Imam menjawab.

__ADS_1


“Waktu tempuh jalan kaki berapa Ton?” Indra bersidekap.


“20 menit bagi orang dewasa..” Anton menjawab.


“Ma’af, Pak dan Bu, tinggi Lilis berapa ya?” Indra tersenyum pada suami isteri Imam Ghazali.


“Lilis setinggi dada bawah saya,” Pak Imam berdiri menunjukkan tinggi badan Lilis.


Indra mengangguk.


“Tambahkan 15 menit, Ton.”


“Are you sure?”


“Yupz..”


Anton mulai mengetik di laptopnya dengan jemari yang lincah bergerak. Sesekali ia menggerakkan kepalanya karena penat. Kemudian mengangguk senang.


“Bang Hans, saya berhasil masuk di CCTV ketiga-tiganya.”


Hans tersenyum lebar.


“OK. Let we see one by one.._OK. Ayo kita lihat satu persatu.._”


Dia berlutut lagi di dekat Anton. Diikuti Indra yang membungkukkan badannya di belakang Anton.


Daddy menatap Anton dengan senyum lebar di wajahnya. Si Jenius B Group dengan latar belakang sebagai arsitek di perusahaan anaknya yang juga menjadi arsitek untuk keberadaan anonimous Prince Zuko serta penyuplai gadget canggih hasil selancarnya di dunia maya yang dijual secara terbatas di salah satu perusahaan jasa keamanan miliknya.


“Range waktu?” Daddy ikut bertanya.


“15.25-15.35, Dad..”


Daddy mengangguk puas.


“Mudah-mudahan ada titik terang siapa yang menabrak Lilis, ya Pak,” Daddy tersenyum kepada Pak Imam.


“Memangnya bisa, Pak? Gak ada saksi mata..”


“Insyaa Allah, Pak..”


Sebuah mobil bak terbuka berwarna hitam yang sedang membawa kasur keluar dari ujung Jalan Belimbing. Tidak ada hal yang mencurigakan pada penampakan mobilnya. Tidak lama kemudian mobil angkutan kota keluar dari ujung jalan itu.


“Jalan ini..bukan jalur rute angkot manapun kan?” Hans menunjuk pada angkutan kota tersebut.


Anton menggeleng.


“Mungkin supir angkot yang pulang dulu ke rumah atau aplusan supir,” Agung bersidekap.


Dua menit kemudian, sebuah mobil blind van rokok keluar dari jalan tersebut.


“Ini jalanan sepi banget ya..” Indra bergumam.


Tiga menit berlalu, muncul sebuah mobil Honda Brio warna hijau lime, keluar dengan arah lambat.


“Apa itu?” Hans menunjuk pada kap mesin mobil.


Anton mem-pause video kemudian melakukan zoom in gambar.


“Itu.... darah kan?”


Warna merah berada di atas warna hijau lime terlihat sangat kontras.


Semua mendekat ke arah Anton.

__ADS_1


“Subhanallah.. darah sebanyak itu..” Ayah menatap layar monitor.


Suami Isteri Imam Ghazali saling berpelukan.


“Ya Allah.. Apa..eta teh getih Lilis? Anak urang.._Ayah.. itu darah Lilis? Anak kita..” Ibu Imam menatap nanar layar monitor.


“Nopol mobilnya kelihatan gak?” tanya Pak Imam sambil menepuk-nepuk punggung istrinya untuk menenangkannya.


Anton menggeleng.


“Dari sudut CCTV ini gak terlihat, Pak. Tapi kita masih punya 2 CCTV lainnya. Mudah-mudahan terlihat dengan jelas ya Pak.”


“Kita sudah punya tersangkanya, Ton. Bisa kita pastikan itu darah,” Hans menatap layar, “Lanjut, Ton..”


Anton melepas pause adegan. Mobil itu melaju sangat lambat seperti yang ragu-ragu. Kemudian memberi sein kanan. Mobil berhenti di sebelah kanan jalan tidak jauh dari pertigaan Jalan Belimbing.


Seseorang keluar dari pintu kemudi. Seorang wanita berbaju kemeja longgar warna coklat tua dengan lengan digulung hingga siku. Rambut panjangnya diikat ekor kuda bergoyang mengikuti tubuhnya.


Dia mendekati kap mesin mobilnya. Lalu bertolak pinggang. Berjalan lagi ke arah mobilnya. Mengambil sesuatu. Keluar dari mobilnya lagi sambil membawa sesuatu. Kemudian di membungkukkan tubuhnya di atas kap mesin mobil.


Kemudian wanita itu berjalan ke arah tong sampah di trotoar. Membuang benda putih kemerahan ke dalamnya.


Raut wajah Hans menegang. Dia segera mengambil gawainya. Menghubungi anak buahnya yang tergabung dalam Shadow Team.


“Assalamu’alaikum.. Man, tolong suruh orang mengambil tisu yang ada darahnya di tong sampah, dekat pertigaan Jalan Belimbing. Tong sampah pertama di trotoar yang ada di seberang ...”


“Hotel Rosalia,” Anton bantu menjawab.


“Hotel Rosalia, Man. Segera ya. Amankan sebagai barang bukti.” Jeda.


“Kasus tabrak lari. Segera ya, Man.” Jeda sejenak.


“OK. Assalamu’alaikum.”


Wanita dalam rekaman video kembali lagi ke mobilnya lalu mencuci tangannya dari dalam mobil dengan menggunakan air mineral botol. Botol kosong dilemparkan begitu saja ke arah rumput tepi trotoar. Kemudian dia melajukan mobilnya dengan kencang.


“Ton, 15.31, kita lihat rekaman CCTV dari Hotel Rosalia. Gue harus memastikan sesuatu,” Indra menatap layar monitor.


“Kamu kenal dengan perempuan itu, Son?” tanya Papi.


“Nggak, Pi. Tapi Indra punya dugaan..”


“Siapa?”


“Nanti saja kalau kita dapat kilasan wajahnya,” Indra tersenyum pada Papi.


Anton mengetik lagi pada keyboard laptopnya. Sesekali tangannya menggerakkan mouse external.


Mobil Honda Brio hijau lime itu berhenti di seberang jalan. Wanita itu berdiri di samping kap mesin mobilnya yang menghadap CCTV.


“Bingo!!” Indra berseru sambil mengepalkan tangannya.


“Loh, bukannya itu...” Agung menunjuk pada layar monitor.


“Wait a second, please..._Tunggu sebentar..._,” Anton mem-pause adegan lalu zoom in, “Ayyyayayaya.... it’s her!”


.


***


Wah, siapa tuh?


🌷

__ADS_1


Dearest Readers


Beri penilaian bintang 5 dan ulasannya ya. Supaya novel ini bisa naik. Dan Authornya juga cepat naik level. Pliiiiiiiiis 🙏🏼😁


__ADS_2