
“Ndra, tidak semua orang berpikiran picik seperti itu..” Bramasta menepuk punggung Indra.
“Biarkan orang lain bicara apa. Yang jelas kita tahu bagaimana Teh Arini. Disti yakin, Teh Arini adalah seorang janda yang menjaga marwahnya,” Adisti ikut menepuk punggung Indra.
“Biarkan Abang Bram saja yang membalas perbuatan ibu norak itu, Bang..” Adinda menatap Indra, “Dinda yakin Abang Bram bisa bermain cantik buat membalas ibu itu melalui suaminya.”
Bramasta mengangguk setuju dengan ucapan Adinda.
“Bang Indra fokus saja dengan pemulihan Teh Arini dan Kakak Alif. Juga tentang urusan di sekolah.”
“Buat suaminya agar tahu kelakuan istrinya yang tidak terpuji, Bang Bram,” Agung.
“Tapi sepertinya si suaminya itu tahu dengan kelakuan istrinya deh di sosial medianya. Dan dia fine-fine saja,” Adisti melihat lagi ke layar gawainya.
“Berarti gak usah main cantik, Bang. Mereka suami istri gak tahu diri. Beri mereka pelajaran keras. Kita lihat, di saat suaminya merugi banyak, istrinya masih bisa flexing gak di Towtow?” Agung gemas sekali saat berucap.
“See, Bro? Bukan hanya Lu saja yang akan melindungi mereka. Tapi kita juga akan turut melindungi keluarga Teh Arini. Bukan sekedar melindungi keselamatannya saja melainkan juga menjaga kehormatan dan marwahnya,” Bramasta merangkul Indra yang masih menekuri lantai.
“Jadi sekarang perasaan Lu bagaimana ke Teh Arini? Gue udah nge-gap tatapan mata Lu yang terpaku padanya. Lu juga kemarin sudah bilang, Lu terpukau dengan matanya,” Bramasta terkekeh.
Indra mengangkat kepalanya untuk melirik Bramasta.
“Yaelah Bram.. lu ngebuka tentang gue di depan para cewek..”
“What’s wrong? Toh mereka bukan orang lain buat Lu. Disti, istri gue. Dinda adik Lu..”
“Ya tetap saja, jangan di depan para cewek dong.. gak sekalian Lu panggil Kak Layla dan Mbak Hana kemari? Supaya formasi kita lengkap?” Indra menatap Bramasta dengan jengah.
“Beneran Bang Indra mau Disti panggil mereka supaya kemari? Baby Andra nanti bagaimana? Kan pasti tidak boleh berada di ruang tunggu ini. Bang Hans bisa ngamuk-ngamuk nantinya..”
Dinda terkekeh.
“Sudah Bang.. gak usah jaim ke kita. Kita kan sudah pernah di-roasting Bang Indra. Sekarang gantian Bang Indra me-roasting diri Abang sendiri..”
Indra menatap kaget pada Adinda.
“Mana ada itu me-roasting diri sendiri?”
“Kita mulai aja dari Lu, Bang..” Agung terkekeh, “Lu kan terkenal tengil semenjak mbrojol.”
Bramasta dan Adisti terkekeh.
Indra berdehem. Semuanya terdiam.
“Gue.. tiap kali melihat mata Arini, kenapa rasanya seluruh organ tubuh gue berubah jadi jantung ya?”
“WHAT??” semua terbelalak menatap Indra.
Indra terlonjak kaget melihat tanggapan mereka.
“Eh, kalian biasa aja dong. Bisa-bisa gue jantungan nih..”
“Ya..ya.. terus?” Agung berusaha berwajah datar walaupun setengah mati ingin tertawa.
“Ini yang gue mau tanyakan ke kalian. Apakah kalian juga begitu saat bertatapan dengan orang yang membuat kalian jatuh cinta?” Indra menatap Agung dan Bramasta bergantian.
“Gue, sampai detik ini, kalau berada di dekat Buk Istri, bawaannya pengen nempel terus. Apalagi kalau cuma berdua, sedang dimana saja... bawaannya pengen gabruk-gabrukan aja..” Bramasta terkekeh tetapi kemudian meringis sakit saat ditepuk dengan keras oleh Agung.
__ADS_1
“Bang, ada anak dibawah umur di sini. Pakai bahas gabruk-gabrukan segala..!” Agung menunjuk Adinda dengan dagunya.
“Hisssh!” Bramasta mengelus lengannya.
Adisti menatap suaminya dengan tatapan sebal.
“Pak Suami ini kenapa sih? Jadi begitu Abang tuh?”
“Eh, nggak dalam artian buruk, Sayang..” Bramasta buru-buru memegang kedua tangan Adisti. Mengecupnya satu persatu pungggung tangannya berulang kali.
“Kan, gue bilang apa..jangan libatkan cewek kalau bahas tentang pria..” Indra menatap Bramasta dan Adisti dengan geli.
“Memangnya gabruk-gabrukan itu yang bagaimana, Om?” Adinda menatap polos pada Agung.
Agung menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Lagipula, saya kan sudah 17 lebih Om. Sudah gak di bawah umur lagi. Om mau ngajak saya gabruk-gabrukan?” ucapan Adinda sukses membuat yang lainnya terdiam dan menatap Adinda dengan heran.
Agung mengerjap. Sekali. Mengerjap lagi. Dua kali. Ada keringat mengalir dari pelipisnya.
“Memangnya kamu tahu gabruk-gabrukan yang tadi dibicarakan Abang Bramasta itu apa?” Agung bertanya sambil mengusap wajahnya.
Adinda mengangguk yakin.
“Hang out kan?” Adinda tersenyum lebar, “Ayo kita gabruk-gabrukan berdua!”
Indra dan Bramasta terkikik geli. Adisti mencubit suaminya.
“Gung, lu diajakin gabruk-gabrukan tuh oleh calon istri..” Indra tergelak.
“Kalau gue iyain gimana ya?” Agung menggaruk lagi kepalanya sambil menatap ke arah lain selain Adinda.
“Awas loh kalau berani!” tatapannya penuh ancaman pada Agung.
“Ya Allah... bercanda, Dek... Bercanda..!” Agung menatap panik pada Adisti.
Sesekali dia melirik ke arah Adinda yang masih menatapnya sambil tersenyum dan meringis secara bersamaan. Dekik kecil di bawah matanya nampak oleh Agung. Membuat dirinya terlihat manis menggemaskan dan membuat dadanya berdesir.
“Kalian berdua di sini ya. Titip Alif,” Indra berdiri dan langsung menggamit lengan Bramasta dan Agung, “Kita ke bawah. Gue butuh kafein, gue juga butuh yang manis-manis.”
“Anton sedang menuju kemari..” lapor Bramasta.
“Nice..... B1, B2 dan B3 ngumpul semua di jam kerja. Makan gaji buta kalian ya..” Agung terkekeh.
“Gegabah Lu. Gue kan cuti,” Indra mendorong Agung ke dalam lift, “Lu sendiri ngapain di sini?”
“Mommy langsung nyomot gue di kantor buat nemenin Dinda..” Agung tersenyum lebar.
“Cih!” Indra mendecih.
“Anton butuh tanda tangan Indra. Dia mau jalan ke Garut sore nanti.”
“Seberapa sering sih Anton bolak-balik Bandung-Garut? Kok kayaknya sering banget. Curiga nih gue. Jangan-jangan Anton berjodoh dengan mojang Garut...” Agung memperhatikan lampu penanda lantai di atas pintu lift.
“Masih saudaraan sama Lu, Gung?” Indra menatap Agung.
Agung terkekeh.
__ADS_1
“Sepupu gue kebanyakan cowok. Yang cewek masih di bawah umur semua. Juga gak bakal cocok dengan Anton..”
“Lah Lu, calon bini Lu juga masih di bawah umur...” Bramasta terkekeh, “Persyaratan usia minimal calon pengantin wanita di KUA adalah 18 tahun.”
Indra ikut terkekeh bersama Bramasta.
Mereka berjalan di lobby bawah. Mendekati jam makan siang lobby tampak ramai. Keberadaan mereka bertiga di lobby menarik perhatian orang-orang yang berada di lobby. Beberapa orang mencoba memanggil mereka.
“Ada para petinggi B Group dan akuntan Sanjaya Group..”
“Bramasta..! Tuan Bramasta Sanjaya!” gerombolan ibu-ibu sepulang membesuk memanggil.
“Indra Kusumawardhani!” teriakan mereka menarik perhatian pengunjung lainnya.
“Agung Aksara Gumilar!” kali ini teriakan dari para abege berseragam putih abu melambaikan tangannya ke arah Agung.
Mereka bertiga hanya mengangguk dan tersenyum. Sesekali membalas lambaian tangan sambil berjalan ke arah gerai kopi. Suara yang mereka kenal membuat langkah mereka terhenti.
“Bang..! Tungguin!”
Bertiga memutar tubuh ke arah sumber suara. Anton yang bertubuh sangat jangkung berlari kecil mendekati mereka.
Kelompok putih abu dan gerombolan ibu muda tampak histeris melihat wajah Anton.
“Waaaaa! V BTS! Taehyung Oppaa...”
“Siapa sih dia? Ya Allah.. ganteng banget!”
“Gak tahu. Tapi sepertinya orang B Group juga. Di beberapa foto-foto yang beredar di media sosial, sosoknya selalu terlihat di antara petingggi B Group.”
Anton mengucap salam sambil ber-hi five dengan ketiganya. Mereka berempat sudah tidak mempedulikan seruan-seruan yang memanggil. Indra memilih gerai kopi yang tidak terlalu ramai.
“Hhhh!” Anton menghempaskan tubuhnya ke sofa yang empuk, “Jam makan siang malah disuguhin kopi.”
“Sabar Ton. Kita dengarkan yang mau curhat dulu. Anggap saja ini menu pembuka,” Agung terkekeh geli.
“Siapa yang mau curhat?” Anton menaikkan alisnya dengan heran.
“Tuh..” Bramasta menunjuk Indra dengan menggunakan dagunya, “Dia butuh love advice bagi jiwanya yang gersang dan minim pengalaman...”
Indra mendelik mendengar kata jiwa yang gersang dan minim pengalaman.
“Woiyyy! Tentang cinta, gue lebih dulu berpengalaman daripada Lu, Bram!”
“Halah... what kind of experience?_pengalaman apa?_” Bramasta terkekeh, “Pengalaman pacaran cuma sebulan dan berakhir dengan Lu kabur dari dalam mobil Lu sendiri gegara nyaris disosor duluan sama cewek Lu itu?”
“Laaah pakai diceritakan segala..!” Indra mengacak rambutnya.
Agung dan Anton tergelak keras.
.
***
Bang Indra, kisah cinta 30 harinya kok ngenes amat endingnya 🤣🤣🤣
Jangan lupa like-nya ya buat hitung retensi pembaca..
__ADS_1
Utamakan baca Qur'an ya❤️