
“Bisa jadi latar belakang pelaku adalah cemburu,” Pak RT memandang Indra, “Apakah betul Pak Indra dan Bundanya Alif-Abay baru kenal kemarin?”
Indra menatap Bramasta. Bramasta segera mengambil gawai di dalam saku jasnya. Dia membuka galerinya.
“Ini rekaman CCTV lalu lintas di dekat Pasar Baru kemarin pagi...” Bramasta menyodorkan gawainya kepada Pak Doni.
Pak Doni dan istrinya juga Pak RT begitu penasaran dengan isi rekaman itu.
“Itu Bundanya Alif-Abay..” Bu Doni menunjuk pada wanita muda yang baru saja turun dari trotoar.
Semuanya memekik ngeri saat mobil Indra harus banting stir ke kiri untuk menghindari tabrakan dengan mobil boks putih yang memotong jalurnya. Dan dari CCTV adegan tangan Bundanya Alif-Abay yang tertabrak spion mobil Indra terlihat jelas sekali.
“Innalillaahi...” seru mereka bersamaan.
“Loh, kok Bundanya Alif-Abay malah pergi? Pak Indranya nyariin ya?” Bu Doni berkomentar lagi.
“Terus bagaimana kalian bertemu?”
“Siangnya, saya dan Pak Indra ada meeting di Mall X. Istri saya, Adisti menyusul saya di mall karena memang saya memintanya datang. Kami bertiga bermain di wahana permainannya,” Bramasta menjelaskan.
“Pada saat itu Alif dan Abay menonton permainan kami, adu basket. Mereka hanya berdua, dititipkan kepada penjaga permainan yang memang saat itu sedang sepi pengunjung,” Indra ikut menjelaskan.
“Bundanya sedang meeting di bawah dengan rekan kerjanya. Saat Bundanya naik, saya teringat dengan wanita yang tertabrak spion mobil saya. Apalagi melihat memar parah di tangannya. Saya membawanya ke rumah sakit.”
“Masyaa Allah.. pertemuan kalian ini benar-benar seperti sudah diatur Allah ya..” Pak Doni menatap kagum pada Indra, Pak RT mengangguk-anggukkan kepala.
“Bu Doni, apakah selama ini Bundanya Alif-Abay pernah curhat tentang ancaman dari mantan suaminya?” Indra menatap istri Pak Doni.
Wanita itu menggeleng.
“Setahu saya, mereka bercerai karena ayahnya Alif-Abay selingkuh juga karena KDRT. Kami tidak pernah melihat Bunda Alif-Abay menerima tamu laki-laki selain yang berhubungan dengan produksi tasnya.”
__ADS_1
“Warga tidak keberatan dengan keberadaan rumahnya sebagai tempat bisnis dan produksi tas?” Bramasta duduk sambil bersidekap.
“Sejauh ini warga tidak ada yang keberatan. Malah warga turut bangga saat rumah produksi Bundanya Alif-Abay diliput media dalam dan luar negeri,” Pak RT tersenyum.
Pengawal yang menidurkan Abay, mendekati Bramasta dan Indra.
“Ma’af Tuan Bram, Tuan Indra.. Anak kecil yang tadi bangun dan menangis mencari Tuan Indra. Dia tidak mau digendong oleh saya.”
Indra langsung berdiri.
“Ada dimana Abay?”
“Di parkir VVIP.”
“Antar saya ke sana,” Indra menoleh pada tetangga Arini, “Pak, Bu, saya tinggal dulu..”
“Silahkan Pak..”
Pengawal membukakan pintu untuk Indra. Indra langsung tersenyum menatap Akbar.
“Jagoannya Om kenapa menangis?”
“Om Inda hana? Apah Abay niningal di mbin?_Om Indra darimana? Kenapa Akbar ditinggal di dalam mobil?_” Akbar mengalungkan kedua tangannya di leher Indra.
“Ma’af ya.. tadi Om ada urusan dulu sama pak dokter dan suster perawat. Abay kan tadi bobo. Supaya Abay bisa bobo dengan nyaman, Om titipkan ke bapak-bapak pengawalnya Om Bram.”
“Tapi Abay nda mo niningal_Tapi Akbar gak mau ditinggal_.”
“Iya.. ma’af ya. Yuk, Abay mau minuman dingin? Sekalian kita belikan untuk Kakak ya?”
Saat di minimarket, gawai Indra berbunyi. Pesan dari WAG Kuping Merah.
__ADS_1
Bramasta_ Disti dan Bunda sudah berangkat ke Garut pagi tadi. Jadi gak bisa ke rumah sakit untuk menemani Arini_
Agung_Adinda bisanya siang. Ada ujian di kelasnya_
Hans_Hana gak bisa ke rumah sakit. Andra semalam demam_
Leon_Bram, Mommy belum pulang dari Singapura?_
Bramasta_Dipending. Paling sore nanti sampai_
Indra_Terus yang menemani Arini siapa dong?_
Bramasta_Bu Doni dan Pak Doni tadi pamit pulang. Paling nanti sore para tetangga ada yang menjenguk_
Hans_Lu off dulu dari kantor. Dampingi calon keluarga Lu, Ndra_
Anton_Kenapa gak hubungi Bu Dhani saja?_
Indra_Mami? Mami marah sewaktu gue cerita tentang mereka semalam. Mami gak mau punya menantu janda punya dua anak lagi_
Hans_Nanti gue bantu ngomong ke Pak Dhani_
Bramasta_Gue ngomong ke Tante Dhani ya, Ndra. Nanti dibantu Mommy juga_
Indra_Thanks Guys!_
.
***
Babang Indra sedang galau..
__ADS_1
Ada yang mau bantuin?