
Hans dan Bramasta saling bertukar pandang kemudian terkekeh berbarengan.
“Kenapa kalian tertawa?” Indra mengangkat kedua alisnya.
“Akhirnya.. itu gedung.. setelah sekian lama disimpan sama Lu, akhirnya dikeluarin juga,” Bramasta terkekeh.
“Sebenarnya gue setiap kali lewat depan gedung itu, selalu berpikir, buat apa seorang Indra Kusumawardhani membeli gedung 3 lantai yang penampakannya girly banget..” Hans terkekeh lagi.
“Isssh kalian tuh ya..” Indra memandang Anton, “Gue butuh bantuan Lu, Ton. Rombak seluruh lantainya. Juga tampak muka bangunannya. Gue gak mau ada kesan The Ritz yang tertinggal di sana.”
Anton mengangguk-angguk. Dia mengambil gawainya. Membuka aplikasi catatan.
“OK. Gue dengerin. Apa aja yang Lu butuhin di lantai bawah?”
“Bekas showcase butik fashion, gue mau itu jadi tokonya Teh Arini. Di belakangnya ada beberapa ruangan fitting room dan kantornya Rita juga kantor admin The Ritz, ubah itu semua menjadi ruang produksi dan ruangan penyimpanan bahan baku.”
Anton mengangguk dan terus mengetik dengan cepat menggunakan ibu jarinya. Bramasta diam-diam mengamati wajah Adisti dan Agung.
“Tangga di sana pindahkan ke foyer. tambahkan lift juga. Lift hanya dipakai untuk penghuni saja.”
Anton mengangguk lagi.
“Sayap bangunan satunya, bekas butik accesoris, ubah jadi bakery & pastry cafe. Untuk Adinda.”
Anton mendongak. Agung melongo. Bramasta dan Hans menaikkan kedua alisnya. Sementara Adisti dan Adinda tersenyum simpul.
“Bang. Lu serius?” Agung menatap Indra.
“Ya iyalah. Adinda adik gue satu-satunya..”
“Din?” Agung menatap Adinda.
“Iya Om?”
“Kamu beneran mau buka cafe bakery & pastry?”
Adinda mengangguk sambil tersenyum malu-malu.
“Kok gak pernah cerita ke saya?” tanya Agung lagi.
“Saya gak mau membuat Om Agung terbebani.”
“Bebani saja yang berat, Din.. Kakak mah gak peka..” Adisti merangkul Adinda.
“Beneran Kakak gak tahu, Dek..” Agung membela diri.
“Kalian berdua, tidak apa-apa membahas gedung The Ritz? Kalian berdua kan punya kenangan buruk di tempat itu?" tanya Bramasta penasaran.
Adisti menatap Agung, keduanya kemudian terkekeh sambil mengiibaskan tangannya.
“Kenangan buruk sebaiknya dilupakan. Toh gedung itu tidak bersalah,” Adisti tersenyum pada suaminya.
Agung mengangguk setuju.
“Tumben nih kakak beradik akur. Biasanya Tom & Jerry..” sindir Hans.
“OK.. next?” tanya Anton lagi.
“Area ex salon, ubah interior dan layout-nya. Tetap fungsinya sebagai salon tapi dengan konsep anak muda. Gue gak mau buat salon premium. Perputaran uangnya lambat.”
Anton mengangguk.
__ADS_1
“Lantai dua?”
“Rencananya mau gue sewain untuk kantor. Masing-masing menempati satu sayap bangunan. 2 kantor sewa. Menurut kalian bagaimana?” Indra memandang Hans dan Bramasta bergantian.
“Lokasinya sih strategis ya.. Boleh juga tuh idenya..” Bramasta mengangguk setuju.
“Dengar-dengar, Tuan Armand mau membuka cabang firma hukumnya di Bandung, Ndra,” Hans menatap serius.
“Kira-kira kapan?”
“I don’t know. Dia masih bulan madu jadi agak susah menghubunginya. Handphonenya lebih sering mati,” Hans terkekeh.
Tuan Armand, pengacara yang dipakai di Sanjaya dan B Group untuk pengurusan hal-hal yang berkaitan dengan hukum ataupun melakukan somasi terhadap lawan perusahaan terkait kecurangan yang dilakukannya.
“OK. Itu bisa diatur untuk pembagiannya. Bagian tengah bisa kita pakai untuk ruang meeting yang bisa dipakai bergantian bagi pengguna kantor sewa tersebut. Mengirit space ruang sewa mereka, bisa sebagai keunggulan kantor sewa gedung itu nantinya,” Anton menjelaskan lebih lanjut.
“Tar dulu, Ndra. Salon, nanti siapa yang megang?" Bramasta menggoyangkan tangannya.
"Mami. Dari dulu Mami ingin punya salon.”
Bramasta mengangguk mengerti.
“Lantai 3?” Anton menatap Indra.
“Dibuat senyamannya Teh Arini saja..”
Jawaban Indra membuat mereka semua tersenyum simpul. Tetapi mengejutkan bagi Arini. Dia menatap Indra dengan bingung.
"Tapi tempat itu milik A Indra. Saya dan anak-anak diperbolehkan menempati bangunan tersebut, merupakan sesuatu yang sangat berarti bagi kami. Apalagi ditambah toko dan rumah produksi segala. Ini.... terlalu banyak, A.”
“Gak usah sungkan Teh. Saya ikhlas kok. Saya mengkhawatirkan keselamatan kalian bertiga.”
“Tapi, saya jadi merasa sungkan dengan itu semua, A. Ijinkan saya membayar biaya tinggal di sana. Anggap saja uang sewa.”
“Tolong, jangan begitu Teh. Terima saja apa adanya, OK? Ini sebagai bentuk pertanggungjawaban saya, pertama karena saya secara tidak sengaja melukai tangan Teteh dan yang kedua karena keberadaan saya, membuat mantan suami Teteh menjadi cemburu dan memukuli Teteh.”
Arini tampak terkejut.
“Darimana A Indra tahu?”
“Jadi benar kan karena dia melihat kebersamaan kita? Kenapa Teteh tidak bilang pada saya saat saya menanyakan tentang penyebab mantan suami Teteh yang tiba-tiba datang di pagi buta?”
“Saya.. saya tidak tahu dia melihat kita dimana..” Arini tertunduk.
“Di Ayam Kakek,” Indra menjawab, “Kami berhasil mendapatkan CCTV resto Ayam Kakek yang kita datangi semalam. Mantan suami Teteh melihat kita saat kita tengah berada di dalam mobil di jalur drive thru.”
Indra menyodorkan gawainya. Memperlihatkan rekaman CCT yang berhasil diretas Anton.
“Teleon yang tidak bersedia Teteh terima dari dia kan?”
“Ya.”
“Apa yang terjadi di pagi buta itu?”
“Saya.. saya tengah tertidur kemudian terbangun saat mendengar handphone saya berdering. Karena masih mengantuk, saya tidak membaca dulu siapa yang menelepon di jam segitu.”
Arini berhenti sejenak.
“Dia meminta saya membuka pintu. Dia sudah ada di depan pintu rumah. Kalau saya tidak mau membukakan pintu, dia akan membuat keributan agar tetangga terganggu.”
“Teteh percaya?”
__ADS_1
“Awalnya saya tidak percaya. Saya abaikan ucapannya. Tapi tak lama kemudian terdengar suara beberapa pot ditendang. Saya bergegas membuka pintu untuk mengusirnya.”
“Dia menanyakan tentang saya?”
“Ya,” suara Arini berbisik lirih, “Sambil menc3k1k dan membenturkan kepala saya ke tembok..”
“Subhanallah!”
Adisti memeluk lengan Bramasta. Adinda meremat ujung kerudungnya dengan gelisah. Agung yang melihatnya langsung menarik sikunya untuk duduk di kursinya.
“Saya.. saya tidak mengatakan apapun tentang A Indra. Saya tidak menyebut nama A Indra sama sekali...”
“Kenapa?”
“Untuk melindungi A Indra.”
“Dia semakin mengganas saat saya tidak bersedia mengatakan apapun tentang A Indra. Dia memaki dan menghina saya dengan suara pelan agar tetangga tidak curiga.”
“Kenapa Teteh tidak berteriak minta tolong?” Adisti bertanya dengan suara tercekat.
“Saat kita dic3k1k dan d1pukul1 terus menerus, bisakah kita berteriak? Bahkan untuk bernafas pun rasanya susah sekali..” mengingat itu membuat membuat mata Arini menggenang. Sebulir air mata meluncur turun.
Indra mengelap air mata itu dengan ujung jarinya.
“Kemudian saya mendangar suara Alif yang memanggil saya dari atas. Bahkan saya tidak bisa untuk meminta Alif agar tetap di atas. Masuk ke dalam kamarnya. Kunci pintunya untuk melindungi dirinya dengan adiknya,” Arini terisak, “Ibu macam apa saya? Tidak bisa melindungi anaknya sendiri..”
Indra merangkul Arini, menenangkan Arini.
“Teteh ibu yang hebat untuk Alif dan Abay..” Indra berkata pelan.
“Saya bisa mendengar suara Alif yang berlari menuruni tangga. Saya tidak melihat bagaimana Alif menyerang ayahnya agar berhenti menendang dan memukuli saya. Tapi saya melihat bagaimana tubuh Alif terlempar dengan kepala dan punggungnya membentur kusen pintu ruang produksi.”
Arini makin terisak.
“Alif untuk beberapa waktu tidak bergerak. Orang itu berbisik pada saya..”
“Dia bilang apa?”
“Mati kamu! Perempuan sialan!”
“Jadi seperti itu kronologinya?” Mami dan lainnya muncul dari balik dinding tempat cermin besar terpasang di dekat pintu. Abay dalam gendongan Papi, tengah tertidur.
Mata Mami berkaca-kaca. Begitu juga mata Mommy dan Bunda. Sementara para bapak berwajah murung mendengarkan cerita Arini.
“Sudah berapa lama Tante dan semuanya berdiri di sana?” tanya Bramasta.
“Cukup lama untuk mendengar rencana Indra tentang The Ritz. Mami setuju dengan rencana Indra. Kalian bertiga lebih baik tinggal di sana. Pengawasan dan pengamanannya lebih baik daripada tinggal di rumah kalian,” Mami memandang Arini.
Dengan langkah cepat menghampiri Arini. Memeluk Arini.
“Kami tidak akan membiarkan dia menyakiti kalian lagi. Mengerti? Terima saja pengaturan dari Indra. Tanpa tapi. OK?”
Arini terisak dalam dekapan Mami. Mommy dan Bunda ikut mengelus lengan Arini.
.
***
Tuh kan.. Mami tuh baik orangnya...
Perasaannya halus banget.
__ADS_1
Jangan lupa tombol like-nya untuk penilaian retensi pembaca 🙏🏼