
Indra mengerjapkan matanya. Dia berdiri lalu meletakkan sebuah bantal untuk mengganjal punggung Arini.
“Rusuknya terasa sakit gak?” Indra kembali memandang Arini.
“Nggak A. Terimakasih banyak..”
“It’s OK..”
“Om..” suara Alif terdengar mengantuk.
“Ya?” Indra menengok ke arah Alif.
“Ayo bobo..”
“Iya. Sebentar ya..”
Indra mengambil laptop yang masih menyala di atas meja sofa bed. Mematikannya lalu membawanya ke lemari penyimpanan di dinding samping bed Alif.
Alif menggeserkan tubuhnya agar Indra bisa muat di atas bednya. Masih cukup longgar untuk dipakai berdua dengan Alif.
Alif berbaring miring menghadap Indra. Indra memeluknya seperti permintaan Alif. Tidak berapa lama terdengar suara nafas halus dan teratur dari Alif.
Indra menatap Arini. Arini tengah menatapnya. Entah sudah berapa lama.
“Tidur Teh.. baru jam 00.30 sekarang.”
“Saya sudah kebanyakan tidur..”
“Ada yang terasa sakit atau tidak nyaman?”
“Nggak, gak ada.”
Hening. Indra mengecek Abay dari tempatnya berbaring. Posisi Abay masih sama seperti tadi.
Indra menatap Arini.
Arini masih menatapnya. Dia memulai pembicaraannya.
“Kakak... maksud saya Alif, sepertinya dia merindukan tidur sambil dipeluk ayahnya.”
Indra tidak menjawab. Dia hanya mengangguk. Hatinya terasa tercubit saat mendengar ucapan Arini.
“Alif merindukan ayahnya?”
“Tidak. Dia sudah tidak pernah lagi menanyakan tentang ayahnya. Bahkan pagi tadi setelah kejadian itu, Alif berkata dia benci sekali dengan ayahnya. Tidak mau lagi bertemu ayahnya. Bahkan dia ingin agar ayahnya ma ti saja.”
Indra menoleh menatap Arini. Arini menundukkan pandangannya. Menekuri pola keramik lantai.
“Anak-anak akan menjadi pelindung yang baik untuk Bundanya. Saya yakin itu..” Indra berucap setelah sekian lama terdiam karena bingung harus berbicara apa untuk menanggapi cerita Arini.
Tidak ada jawaban dari Arini. Indra menengok ke arahnya. Arini sudah tertidur dengan posisi miring. Tangannya menyangga pipinya.
Indra membuat catatan di benaknya. Besok ia akan meminta Mami untuk membawakan guling.
Indra menatap plafon di atasnya. Plafon polos dengan lis garis tepi khas plafon gipsum. Ada ukiran rumit dengan aksen warna emas di antara lis untuk membuat kesan mewah ruangan.
Pikirannya berkelana tentang rasa yang tidak biasa saat menatap mata Arini. Ada rasa debar yang aneh, rasa tergelitik di perutnya, rasa merinding di tengkuknya juga rasa terhanyut, sensasi saat berdiri di tepi pantai, saat ombak menyapu kaki kita lalu pasir yang kita injak terbawa oleh ombak, tubuh kita serasa terbawa ombak, perasaan terhanyut seperti itu. Semuanya bercampur menjadi satu.
Juga tadi saat Arini menyentuh tangannya. Ada sensasi seperti kesetrum, geli dan rasa hangat yang menjalar hingga pundaknya.
Kilasan punggung Arini juga terlintas di benak Indra. Dia membuat catatan kedua, besok ia akan meminta kepada perawat untuk memeriksa punggung Arini dengan lebih cermat. Indra melihat ada luka terbuka yang sudah mengering darahnya di antara memarnya.
.
Indra terkejut saat tangannya diguncangkan. Dia terbangun lalu menatap bingung dengan anak kecil di luar bed. Entah sudah berapa lama ia tertidur. Tapi rasanya belum lama.
__ADS_1
“Om Inda.. angun. Abay mo pissh_Om Indra.. bangun. Abay mau pipis_”
Indra segera tersadar. Dia bangun dengan hati-hati agar Alif tidak ikut terbangun. Melirik ke arah bed Arini, dirinya masih tertidur.
“Iya sayang..” Indra meraih tubuh Abay dalam gendongannya, “Yuk.”
Indra mengecek arlojinya, 03.40.
“Abay tunggu di tempat tidur lagi ya. Om mau wudhu.”
Abay menggeleng.
‘’Abay uga udhu. Soyyat, Om_Abay juga mau wudhu. Mau sholat kan, Om_?”
Indra mengangguk sambil tersenyum.
“Abay juga mau ikutan sholat?”
Abay mengangguk.
“Kita sholat berjama’ah ya. Sholat tahajud. Nanti saat berdo’a, Abay boleh minta apa saja yang Abay inginkan ke Allah.”
Abay mengangguk lagi.
Usai sholat tahajud dan ditutup sholat witir, sambil menunggu waktu shubuh, Abay berbaring di atas tempat tidur dengan memakai paha Indra sebagai bantalnya.
“Om Inda bobo syama Tata?”
“Iya.. semalam Kakak bangun, mengeluh sakit kepala. Minta dipeluk bobonya..”
“Bobo dipeyuk Om speti apa asyana?_Bobo dipeluk Om, seperti apa rasanya_”
“Kenapa Abay bertanya seperti itu?”
“Abay yumnah bobo peyuk bapak-bapak. Cuma peyuk Nda.._Abay belum pernah bobo dipeluk bapak-bapak. Cuma dipeluk Bunda.._”
“Abay mau bobo sambil dipeluk, Om?”
“Mawu... mawu banget!”
Indra memposisikan diri tidur menyamping. Memeluk tubuh mungil Abay. Abay memeluk leher Indra.
“Abay suka dipeluk dan memeluk Om seperti ini?”
Abay mengangguk. Matanya menatap mata Indra. Sedetik kemudian mengembun. Kemudian terisak.
Indra kaget. Dibawanya kepala Abay ke dadanya sambil mengelus pelan punggungnya.
“Abay kenapa?”
“Swedih. Tata cyita, duyu swing dipeyuk ayah. Duyu.. ayah hasyih owang baik_Sedih. Kakak pernah cerita, dulu sering dipeluk ayah. Dulu sewaktu ayah masih jadi orang baik.._”
Hati Indra mencelos. Matanya ikut mengembun.
“Sssssh.. Abay jangan menangis. Nanti Kakak dan Bunda jadi bangun..”
“Om..”
“Hmm?”
“Tadi.. Abay doa..”
“Berdo’a apa?”
“Om Inda jadi papanya Abay dan Tata..”
__ADS_1
Indra mendadak tersedak.
“Om napa?”
“Gak kenapa-napa, Bay..”
“Tewus?”
“Om hanya kaget dengan do’a Abay.”
“Om dak syuka ya? Ma-ap..”
“Bukan gak suka. Abay gak perlu minta ma’af ke Om karena Abay gak salah kok. Kehidupan orang dewasa itu...rumit. Jadi tidak akan mudah.”
Indra terdiam. Menatap Abay yang menatapnya dengan tatapan bingung. Dia yakin, apa yang diucapkannya tidak bisa dimengerti oleh Abay. Dia berusaha mencari kalimat yang bisa dimengerti oleh Abay.
“Apapun keinginan Abay, teruslah minta pada Allah ya. Karena Allah Maha Berkehendak dan Allah Yang Maha Bisa membolak-balikkan hati manusia. Abay mengerti?”
Abay mengangguk.
“Bedo-a.”
“Good boy..” Indra memeluk erat Abay di atas bed keluarga pasien. Keduanya terkekeh.
Lamat-lamat, adzan shubuh terdengar di lantai 6 tempat ruangan ini berada.
“Sholat lagi yuk. Sholat sunnah 2 raka’at dulu baru nanti kita sholat shubuh berjama’ah.”
“Iya Om..” Abay menatap dengan ragu pada Indra, “Abay boweh do-a syama swepeti tadi?”
Indra mengangguk dan tertawa.
“Boleh. Berdo’a apa saja yang Abay inginkan. Karena Allah Maha Baik.”
Usai sholat, Indra mengambil laptopnya lagi. Sementara Abay mengambil tasnya yang sudah dibawakan oleh Husna saat jam besuk sore.
Indra menjerang air dengan menggunakan teko listrik. Dia juga memotong beberapa cake yang dibawakan para pembesuk.
“Abay mau susu?”
Abay menggeleng sambil terus menggambar.
“Num syama swepeti Om syaja.”
Indra terkekeh.
“Kalau Om minum kopi, Abay mau juga?”
“Gak boweh Om!” mulut Abay mengerucut.
Indra tertawa.
Arini terbangun. Indra melihatnya dari arah pantry.
“Bay, Bunda..” Indra memandang pada Abay.
.
***
Di-aamin-kan aja padahal do'anya, Ndra...
Mak Author gemes sendiri..🫣
__ADS_1
Jangan lupa tombol jempolnya ya untuk penilaian retensi pembaca 🙏🏼