
Tubuh Indra terhuyung ke depan. Dokter Hanung segera menangkap tubuh Indra.
"Pak.. Bapak kenapa?"
Semua yang berada di ruang tunggu terkejut melihat kejadian itu. Bramasta dan Hans bergegas menolong Indra.
“Ndra, are you allright?” Hans memapah Indra.
“Tuan Hans dan Tuan Bramasta?” Dokter Hanung tampak terkejut.
Seorang berbaju operasi berwarna biru polos keluar dari pintu operasi.
“Ada apa ini?” dokter muda berkacamata bertanya sambil mengerutkan keningnya.
“Saya juga tidak tahu.. Ayah pasien tiba-tiba lemas di depan saya..” Dokter Hanung tampak khawatir.
“Calon ayah sambung pasien..”dokter berkacamata itu tersenyum lebar meralat ucapan rekan kerjanya, “Memangnya dokter ngomong apa ke Tuan Indra?”
“Saya belum ngomong apa-apa. Saya baru bicara minta ma’af.. Bapak ini langsung lemas..”
Hans dan Bramasta saling pandang lalu memandang Indra yang tampak bingung.
“Tadi dokter bilang.. kami minta ma’af ... kalimat itu.. kalau di film-film ataupun sinetron, mengandung berita buruk kan?” Indra menatap bingung pada kedua dokter di hadapannya.
Dokter Kamal dan Dokter Hanung saling berpandangan. Sama dengan Hans dan Bramasta. Lalu tanpa dikomando, keempatnya terbahak bersama. Menyisakan Indra dengan wajah memerah karena malu.
“Parah Lu, Bro!” seloroh Hans sambil memukul bahu Indra.
“Begini nih kalau terlalu sering gaul dengan ibu-ibu. Sinetron terus.. drakoran mulu..” Bramasta menggelengkan kepalanya.
“Jadi tadi sebenarnya bagaimana?” Indra menegakkan tubuhnya.
“Tadi.. saya hanya ingin bilang, kami mohon ma’af karena harus membuat kalian semua menunggu lama. Karena sebenarnya operasi sudah selesai sejak 10 menit yang lalu.."
"Haah?” Indra mengerjapkan matanya.
“Ada masalah teknis yang kami harus membiarkan pasien sedikit lebih lama dari seharusnya di ruang operasi.”
“Tapi semuanya lancar kan? Operasi berjalan dengan baik kan?” Indra tampak tidak sabar.
Doker Kamal mengangguk.
“Alhamdulillah. Semua berjalan lancar. Cairan yang terkumpul di kepala Alif bisa keluar sendiri secara gravitasi tanpa kesulitan. Alhamdulillah tidak terjadi emboli atau apapun itu yang mengkhawatirkan.”
“Jadi, masalah teknis apa?” Bramasta penasaran.
“Entahlah. Ini seperti yang tidak bisa dijelaskan dengan akal manusia. Roda bed tiba-tiba macet. Sama sekali tidak bergerak. Hal seperti ini baru pertama kali terjadi di ruang operasi di rumah sakit ini..” Dokter Kamal menatap bergantian pada mereka bertiga.
“Masalah dengan maintenance peralatan?” nada bicara Hans terdengar sangsi dengan perkataannya sendiri.
Dokter Kamal dan Dokter Hanung menggeleng.
“Impossible. Rumah sakit ini menerapkan standar tinggi terhadap maintenance peralatan.”
“Jadi?”
Dokter Hanung tampak ragu-ragu.
“Mmmmm, sepertinya pasien Alif sedang menunggui pasien gadis kecil di ruang operasi sebelah.. Sepertinya begitu..”
“WHAT???!” ketiganya berkata bersamaan dengan nada dan ekspresi yang sama.
“Entahlah. Tapi saya merasa seperti itu. Bed dengan mudah digerakkan saat pasien di ruangan sebelah selesai dioperasi.”
__ADS_1
Ketiganya saling pandang sekarang.
“Pasien Lilis?” Bramasta menatap Dokter Hanung.
“Anda mengenalnya Tuan Bramasta? Atau mungkin pasien Alif Ammar mengenalnya?”
Ketiganya menggeleng.
“Kami baru berkenalan dengan kedua orangtuanya di sini saat menunggui Alif dioperasi. Saya yakin, Alif juga tidak mengenal Lilis..” Indra memandang kedua dokter itu.
“Bed mereka beriringan menuju ruang recovery..” Dokter Kamal menatap serius, “Saya baru mengalami kejadian seperti ini.”
“Yang penting mereka berdua baik-baik saja..” Indra mengangguk, “Terimakasih banyak, Dok!”
Indra, Bramasta dan Hans menyalami Dokter Akmal dan Dokter Hanung lalu kembali ke ruang tunggu.
Para orang tua menanti mereka dengan tatapan khawatir dan penuh tanya. Hans menceritakan apa yang terjadi tadi.
Bramasta melihat suami isteri Imam Ghazali dan Tatang tengah berbicara dengan dokter yang mengoperasi Lilis.
“Jadi mereka masuk ke ruang recovery bersama-sama?” tanya Papi, “Gung?”
Semua menatap Agung setelan nama Agung disebut Papi.
“Iya Beh?” tanya Agung sopan. Walau bagaimanapun, Papi adalah direktur keuangan, atasan langsungnya di Sanjaya Group. Saat di luar jam kerja, para anggota Kuping Merah memanggilnya “Babeh”.
“Kamu kan pernah berada di kondisi seperti Alif. Saat masa koma kamu pasca operasi pengambilan serpihan peluru dari dada kamu itu, kamu bertemu dengan kedua orangtua Adinda yang sudah meninggal. Terus bagaimana pendapat kamu tentang kejadian Alif ini?” Papi yang bersandar pada punggung kursi menatap Agung.
Agung terdiam sejenak.
“Bisa jadi sih.. Mungkin Alif bermain di ruang operasi sebelah atau sebaliknya. Mengingat mereka berdua masih anak-anak, jiwa eksplornya tinggi, selalu ingin bermain dan mungkin mereka sefrekuensi,” Agung menatap Papi.
Saat Agung bersitatap dengan adiknya, Agung melanjutkan ucapannya, “Tapi tidak semua yang sedang dalam kondisi di bawah sadar ataupun antara hidup dan mati akan mengalami peristiwa yang luar biasa,” tangan Agung menunjuk Adisti, “Saat Adek jatuh dari tebing, dia tidak mengalami kejadian aneh saat kondisi tidak sadarnya. Mungkin karena penyebabnya adalah jatuh dari ketinggian hingga ia merasa terus melayang jatuh bahkan disaat kondisi bawah sadarnya. Dia gak berani bergerak kemanapun, karena takut, bila ia menggerakkan tubuhnya maka ia akan semakin jatuh.”
“Kok Kakak bisa tahu persis apa yang Adek rasakan? Bahkan kadang kejadian itu masih Adek rasakan saat dalam mimpi..” mata Adisti basah menatap kakaknya.
Bramasta menghampirinya istrinya. Memeluknya dengan lembut.
“Kenapa Disti gak pernah cerita ke Abang?”
“Disti gak mau membuat Abang cemas dan mengkhawatirkan Disti..” Adisti mengelap air mata yang terlanjur turun dengan punggung tangannya.
“Disti masih sering bermimpi jatuh lagi?” Bramasta mengelus pungung istrinya pelan, matanya menatap Hans.
Hans mengangguk lalu memberi kode dengan tangannya, akan menghubungi istrinya, Hana. Istri Hans seorang psikolog yang sedang dirumahkan olehnya hingga Baby Andra nanti masuk usia pra sekolah.
“Masih.. Tapi gak sesering dulu..”
“Nanti bicarakan ini dengan Mbak Hana, ya..” Bramasta memandang Ayah dan Daddy. Keduanya mengangguk setuju dengan usulan Bramasta.
Adisti mengangguk.
Kedua suami istri Imam Ghazali menghampiri mereka.
“Anak-anak berada di ruang recovery sekitar 2-3 jam untuk pengamatan. Kalau tidak ada pendarahan ataupun komplikasi lain, bisa dipindahkan ke ruangan rawat inap..” kata Pak Imam menerangkan.
“Jadi, sekarang kita menunggu dimana, Pak?”
“Tadi kata dokter kita disuruh menunggu di depan ruang PICU,” Tatang, “Ruang recovery berada di antara ruang PICU dan HCU.”
Indra mengangguk mengerti.
“Yuk. Kita pindah lagi..” ajaknya kepada yang lainnya.
__ADS_1
Ruang tunggunya lengang. Terletak dibelakang ruang administrasi di lantai 4.
Bersebelahan dengan ruang NICU. Ruang para bayi yang mempunyai masalah kesehatan pasca kelahirannya. Ada jendela besar di depannya.
Adisti mengajak Adinda untuk melihat-lihat jendela bayi yang tengah dirawat di sana.
Semua orang tengah sibuk dengan gawainya masing-masing. Hans sudah memesankan makan malam untuk mereka semua.
Indra sudah memberitahu Arini tentang kondisi Alif. Arini sudah tidak menangis lagi. Indra juga berbicara dengan Abay.
Pesanan makanan datang. Suasana di ruang tunggu berubah menjadi seperti suasana hajatan dengan nasi kotak.
Makan malam di ruang tunggu dengan suasana akrab kekeluargaan. Keluarga Imam Ghazali juga turut makan bersama mereka.
Mereka tidak terlalu khawatir lagi seperti awal mereka bertemu. Dokter memberitahu operasi Lilis berjalan dengan baik. Patah tulang paha yang dialami Lilis sudah tersambung lagi dengan menggunakan pelat platina.
Pelat platina itulah yang menyebabkan operasi Lilis itu membutuhkan biaya banyak karena harga platina atau emas putih itu sangat mahal.
Gawai Hans berdering. Dia menerimanya, menjawab salam lalu hanya bergumam di telepon.
“Amankan. Nanti kita cek DNA untuk mengetahui darah siapa yang ada pada tisu. Kamu buat laporan pengambilan barang bukti tersebut untuk AMANSecure ya, Man. Kita masukkan ini dalam personal case_kasus pribadi_.” Jeda.
“Nanti saya atur. Assalamu’alaikum..” Hans mengakhiri panggilan.
Hans langsung membuat pesan chat dengan salah satu direktur rumah sakit. Hans menanyakan berapa lama proses tes DNA dilakukan di laboratorium rumah sakit ini.
Tidak berapa lama, pesan balasannya masuk ke gawainya. Hans menggeleng. Anton yang duduk di sebelahnya mengangkat kedua alisnya.
Hans menunjukkan chat dari salah satu pihak rumah sakit. Anton juga menggeleng.
“Kelamaan. Hubungi Bang Leon. Koneksinya dengan pihak CSI Singapore sangat dekat. Mereka punya laboratorium tersendiri untuk tes DNA,” Anton mengetik tentang CSI Singapore lalu memperlihatkannya pada Hans.
Hans membaca dengan cepat. Lalu mengangguk.
“Perlu sample darah pembanding kan?” Agung yang duduk di bangku depan memiringkan tubuhnya untuk melihat mereka berdua.
“Gak perlu harus darah sih. Rambut, potongan kuku, liur, bisa dipakai untuk sample pembanding,” Anton membaca dengan cepat.
“Hubungi saja dokter yang mengoperasinya. Minta darah Lilis untuk tes DNA terkait bukti tabrak lari yang ditemukan di dekat TKP. Pasti dia mau membantu.”
“OK.. Gung, Lu ikut gue bertanya ke Pak Imam. Gue kurang bisa bahasa Sunda.”
“Kalah Bang Hans dengan Bang Leon,” Agung tertawa.
“Leon sih cuma casingnya saja yang bule. Tapi jiwanya Nyunda banget..” Hans terkekeh.
.
***
Kisah jatuhnya Adisti dan kisah tertembaknya Agung ada di novel CEO Rescue Me! ya..
Catatan Kecil:
🌷 Ruang PICU, Pediatric Intensive Care Unit adalah ruang perawatan intensive untuk anak-anak yang memerlukan pengobatan dan perawatan khusus guna mencegah dan mengobati terjadinya kegagalan organ-organ vital.
🌷 Ruang NICU, Neonatal Intensive Care Unit adalah unit layanan intensif bagi bayi dengan kondisi tertentu yang membutuhkan perawatan khusus, seperti bayi lahir prematur, bayi gawat nafas dan sebagainya.
🌷 CSI, Crime Scene Investigation adalah bagian dari unit forensik yang berfokus pada pengumpulan dan analisis bukti fisik di TKP.
Jangan lupa like dan minta update ya.
Bagi yang belum memberi penilaian bintang 5nya monggo... Sekalian dengan ulasannya 🌷
__ADS_1
Jangan lupa baca Qur'an ❤️