
“A Indra... please kita sudah membicarakan hal ini dini hari tadi..”
“Whatever, Arin. I have right to choose you and so do the boys have right to choose me_Terserah, Arin. Aku punya hak untuk memilihmu begitu juga anak-anak, mereka mempunyai hak untuk memilihku_...” Indra tersenyum.
“The boys_Anak-anak_?” Arin mengernyit.
“Alif dan Abay.”
“Bagaimana mungkin?”
Indra memandangi wajah Arini yang masih mengenakan mukenanya.
“Tahu tidak apa yang dipinta Abay saat sholat tahajud bersama saya?”
Arini menggeleng.
“Abay meminta kepada Allah agar saya menjadi Papanya Abay dan Kakak..”
Arini terdiam. Matanya berkabut. Menatap Indra yang duduk di hadapannya. Mencari dusta di mata Indra tapi ia tidak menemukannya.
“Sedangkan Kakak.. dia lebih memilih memakai bahasa tubuhnya. Saat dia meminta saya untuk tidur bersama di atas bednya, Kakak memeluk leher saya erat. Ada air mata yang membasahi kaos saya malam itu.”
Arini terisak. Air matanya meluncur di pipinya.
“Ssssh.. jangan menangis. Ma’af membuat Arin menangis. Saya tidak bermaksud untuk membuat Arin menangis. Saya hanya meminta Arin untuk mempertimbangkan saya juga mempertimbangkan keinginan anak-anak.”
Indra mengambil tisu. Mengelap air matanya.
“Jangan menangis,” Indra memeluk Arini, “Saya jadi merasa bersalah. Ma’afkan saya.”
Indra meletakkan dagunya di kepala Arini selama dua detik. Kemudian melepaskan pelukannya. Menangkupkan kedua tangannya di pipi Arini.
“Jangan menangis, OK? Arin mau diwashlap? Saya panggil perawat ya?”
Arini mengangguk.
Indra menekan tombol pemanggil perawat.
“Dis, nanti tolong bantu siapkan baju ganti Teh Arin ya,” Indra membawa gelas teh miliknya dan milik Arini yang sudah kosong ke pantry, “Disti kenapa?”
Indra memandang heran wajah Adisti yang sembab.
“Bram, lu apain Disti?”
“Gegabah. Gue gak ngapa-ngapain Buk Istri.”
“Bang Indra sama Teh Arini.. Pagi-pagi sudah mengupas bawang. Bikin pedes mata..” Adisti menyembunyikan wajahnya di balik punggung suaminya.
“Laaaah! Ngupas bawang dari Hongkong..” Indra mencibir.
Suara Arini yang terkekeh terdengar.
Indra menghampiri Arini lagi.
“Saya buka tirainya, gak apa-apa?”
Arini mengangguk.
“Bang Indra sudah mandi?” Adisit menatap Indra.
“Woyyyadoong. Gak lihat apa? Sudah tampan paripurna begini?”
“Cih! Paripurna...” Bramasta mencibir.
“Yang nanya yang belum mandi...” Indra terkekeh diikuti Bramasta.
Perawat tengah mengelap tubuh Arini. Indra dan Bramasta berbincang di sofa L sembari menonton saluran berita luar negeri.
Adisti sudah rapi dengan baju kerjanya. Dia menghampiri mereka berdua.
“Pak Suami dan Bang Indra mau sarapan apa?”
“Saya kayaknya gak sempat sarapan, Dis. Sebentar lagi antar Abay ke sekolah.”
Adisti mengangguk.
“Ya sudah, kita sarapan di luar saja ya Pak Suami..”
Bramasta mengangguk.
__ADS_1
Indra menoleh ke arah bed Arini. Perawat sudah selesai membersihkan tubuh dan bed Arini. Tirai bed pasien sudah dibuka semuanya. Mereka berpamitan.
Indra menghampiri Arini sambil mendorong meja makan pasien.
“Sarapan ya.. Ada misoa kuah. Ini favoritnya Disti dengan Agung nih sewaktu mereka dirawat dulu..” Indra menoleh pada Adisti, “Ya gak Dis?”
Adisti mengacungkan kedua ibu jarinya.
“The best, Teh Arin. Kuahnya ngaldu banget. Misonya juga lembut, adem di perut. Cuma sayangnya, kita gak dikasih sambel..”
Semua tertawa mendengar ucapan Adisti.
“Yang minta sambel itu pasien ngelunjak judulnya..” Bramasta memeluk istrinya yang tengah mengamati menu sarapan untuk mereka dari rumah sakit.
“Ndra.. Lu gak makan?” Bramasta duduk di kursi pantry bar.
“Nggak. Gak bakal keburu. Gue suapi Arin dulu. Kalian berdua sarapan lah. Nanti biar gue pesan saja saat perjalanan ke kantor sepulang dari sekolah.”
Indra tengah membantu mengelap mulut dan tangan Arini dengan tisu basah usai sarapan saat suara salam dari Mami dan Abay terdengar nyaring ceria.
Abay tertawa melihat Bramasta dan Adisti. Merentangkan tangannya minta dipeluk dan digendong Bramasta.
“Om Bam.. Ate Adis. Jadain Nda ya.. Ma asyih..”
“Sama-sama. Tapi yang jagain Bunda beneran sih Om Indra, Bay. Bunda mimpi buruk semalam. Bunda juga kangen Kakak..”
“Iya Nda?” Abay turun dari gendongan Bramasta dan berlari ke bed bundanya.
Arini mengangguk sambil tersenyum. Penyangga lehernya sudah dilepas oleh perawat tadi.
“Om Inda.. Abay syayang ayih syama Om Inda..” Abay memeluk lutut Indra.
Indra mengangkat tubuh Abay. Mencium pipinya yang berwarna pink.
“Tidur bareng Oma dan Opa senang gak?”
“Sweneng, Om. Oma ujuk ainan Om Inda hecih_Senang Om. Oma tunjukin mainan Om Indra sewaktu Om masih kecil_”
Indra mengangkat alisnya menatap Mami tak percaya.
“Memangnya masih ada Mi? Mami simpan di mana?”
“Masih dong.. Mami simpan untuk kenang-kenangan. Gak banyak sih. Mami masih menyimpan baju bayi kamu juga, Ndra. Sama boneka kesayangan kamu sebelum kamu masuk TK,” Mami tertawa.
Indra melirik arlojinya.
“Abay sudah mengerjakan PR?”
“Syudah.”
“Sarapan?”
“Syudah dwong..”
“Kita lihat Kakak dulu yuk sebelum berangkat?” ajak Indra.
“Boyeh?”
“Kita cuma di luar ruangan saja. Lihat dari jendela kaca.”
Abay mengangguk.
“Pamit ke Bunda dan Oma dulu..”
Bramasta dan Adisti ikut menemani Indra melihat Alif.
Adisti yang berjalan sambil melihat gawainya langsung menyenggol lengan suaminya saat membuka postingan Siska yang kemarin.
“Komennya semakin liar...” Adisti terkekeh, “Bahkan ada yang melakukan doxing. Wuih.. netizen betul-betul membongkar pernikahannya dengan owner Persada Utama.”
Bramasta ikut melihat gawai istrinya.
“Wah.. sekretaris rasa pelakor,” Bramasta membaca salah satu komentar pembaca.
Adisti men-scroll komentar yang ada. Ada yang memposting foto ijab kabul pernikahannya dengan Hendra, owner Persada Utama.
Foto yang ada diklik oleh Adisti lalu di zoom in.
“Lihat perutnya... Na’udzubillah mindzalik. Sudah tekdung duluan?”
__ADS_1
Indra ikut melihat gawai Adisti.
“Ijab kabul dalam keadaan hamil, haram kan?” Indra mengernyit.
Bramasta mengangguk.
“Gak boleh..”
“Setiap calon pengantin wanita diharuskan cek urin di puskesmas terdekat untuk membuktikan bahwa dia tidak sedang hamil saat ijab kabul dilakukan,” Adisti menjelaskan, “Disti juga begitu..”
“Buk Istri gak pernah cerita..”
“Lah, Pak Suami gak pernah nanya..” Adisti terkekeh.
Tirai jendela kaca ruang PICU sudah dibuka. Mereka bisa melihat Alif yang masih terpejam matanya.
Perawat melihat mereka lalu berjalan keluar menghampiri mereka.
“Assalamu’alaikum.. Pasien Alif Ammar mengalami kemajuan yang pesat sekali pasca operasi. Kalau dilihat dari angka ECGnya, pasien akan segera sadar tidak lama lagi..”
“Alhamdulillah..” ketiganya bersyukur.
“Tata angun_Kakak bangun_?”
“Belum. Tapi sebentar lagi, Bay,” Indra memeluk Abay erat, dadanya berdegup senang saat mendengar kabar baik ini.
“Abay dak skoyah ya. Tungdu Tata angun_Abay gak sekolah ya. Tunggu Kakak bangun_..”
“Abay harus sekolah. Om antar seperti kemarin. Kasihan Ibu Ustadzah Siti nanti kangen Abay, bagaimana?”
“Ya ayo Om, kita bwangkat,” Abay memandang Bramasta dan Aditi, “Om Bam, Ate Adis, biwang Tata, Abay skowah. Nanti puyang main syama Tata_Om Bram, Tante Adis, bilangin ke Kakak, Abay sekolah dulu. Nanti kalau pulang sekolah, main sama Kakak_.”
“Iya nanti Tante bilang ke Kakak ya..”
“Da Om, Da Ate..”
“Bram, Dis salamin ya ke Alif. Gue antar Abay dulu ke sekolah.”
Bramasta dan Adisti menganguk. Keduanya memasuki ruang steril sebelum masuk ke ruang PICU. Sementara Indra dan Abay masuk ke dalam lift.
Tempat parkir sekolah penuh sesak. Bersyukur masih ada tempat parkir di depan rambu huruf P besar.
Mobil dikemudikan oleh pengawal yang disediakan Hans untuk Indra. Indra meminta pengawal itu untuk turun dari mobil.
Baju yang dikenakan Indra hari ini tidak sesantai kemarin. Pagi ini dia mengenakan kemeja hitam dengan stelan jas unformal abu-abu sewarna dengan celana panjangnya.
Postur tubuhnya yang tinggi dan tegap membuat ia terlihat sangat mencolok di area sekolah pagi ini.
Abay dalam gendongannya. Tas punggungnya dibawakan oleh pengawal yang mengikuti langkah Indra.
Para pengantar murid yang melihatnya saling berbisik menggumamkan namanya ataupun B Group.
Mendekati area masuk gedung sekolah, Siska si ibu-ibu blinky tengah berada di tengah ibu-ibu muda lainnya. Rupanya Siska cukup terkenal dan punya banyak penggemar di kalangan ibu-ibu murid sekolah ini.
Siska menatap Indra dari kejauhan dengan matanya yang tajam. Lalu mencibir saat menatap Abay yang berada dalam gendongan Indra.
“Lihat tuh.. anak janda naik kelas. Si Janda dapat tangkapan kelas kakap. Bujangan yang paling diinginkan di ples namdua. ”
Indra yang hendak berbelok ke arah pintu masuk mendadak berhenti. Rahangnya mengetat. Dia berbalik.
Menatap tajam pada Siska lalu melangkahkan kakinya tanpa ragu ke arahnya.
Beberapa ibu muda tampak takut melihat Indra yang menghampiri mereka. Mereka mundur saat Indra mendekat. Siska tidak menyangka Indra akan berbalik dan mendekatinya.
Dia berdiri sambil merapikan bajunya. Dagunya di tegakkan. Siap berkonfrontasi dengan Indra.
.
***
Ada yang mencoba membangunkan macan tidur...
Catatan Kecil:
Doxing adalah tindakan berbasis internet untuk meneliti ataupun menyebarluaskan informasi pribadi secara publik terhadap individu ataupun organisasi.
Doxing merupakan perbuatan ilegal, bisa dijerat pasal UU ITE .
.
__ADS_1
Jangan lupa like dan minta update-nya.
Utamakan baca Qur'an..🌷