
(Dearest Readers, novel ini lebih dari 50 bab, tapi belum ada yang memberi penilaian⭐ dan ulasannya. Sedih Author nih..
Mohon bantu beri penilaian ⭐5 ya, Readers..
Happy Reading ❤)
----
Arini langsung diantar ke ruangannya walau ia bersikeras ingin menunggui Alif di ruang tunggu operasi. Mami dan Bunda menenangkannya. Memintanya untuk menunggui Alif di ruangannya sambil banyak berdzikir dan bersholawat.
Indra mengambil Abay yang masih menangis dalam pelukan Agung. Abay menolak disentuh Indra. Bahkan tidak mau bertatapan dengan Indra.
“Abay gak boleh begitu.. Kasihan Om Indra dari tadi mondar-mandir jagain Kakak dan Bunda. Abay sudah gak sayang lagi ke Om Indra?” Agung mencoba membujuk Abay, dia memangku Abay di pangkuannya.
“Kapah Abay nak dibiang kawo Tata syakit syepeti itu?_Kenapa Abay gak dibilang kalau Kakak sakit seperti itu?_” Abay mengelap air matanya di pipinya dengan punggung tangannya.
“Bukan gak dibilangin, Bay. Bukannya Om Indra gak mau memberitahu Abay tentang kondisi Kakak, tapi karena Om juga baru tahu kondisi Kakak seperti itu..” Indra terlihat lelah.
Bramasta mendekati Abay dan Agung, dia menepuk pahanya supaya Abay duduk di pangkuannya.
“Tadi kan Abay sedang sekolah. Pas kejadian Kakak Alif kejang, Om Indra tahunya juga dari Tante Dinda,” Bramasta menatap mata Abay yang masih ada air mata yang menggenanginya, “Tuh, tanya saja ke Tante Dinda.”
“Ate Dida, iya?”
Adinda mengangguk. Wajah dan matanya masih sembab sedari menyaksikan Indra-Arini-Alif di ruangan ICU.
“Iya. Ini juga Tante masih menangis. Masih sedih..”
Abay beringsut dari pangkuan Bramasta beralih ke pangkuan Adinda.
Abay memeluk Adinda. Menepuk-nepuk punggungnya.
”Ate Dida, nanan swedih anyih. Ada Abay disyini.._Tante Dinda, jangan sedih lagi. Ada Abay di sini.._”
Agung menatap Abay dengan sebelah alis terangkat.
“Sepertinya bocil lebih peka daripada laki-laki dewasa. Pantas saja dijuluki kanebo kering,” Anton mengangkat kedua jempolnya pada Abay, “Siip, Bay! Abay keren!!”
“Bay, ibu-ibu yang pakai banyak gelang itu, nakalin Abay lagi gak?” Indra memegang tangan Abay, memainkan jemari kecilnya.
“Abay anyih mayah te Om Inda. Nanan nanya..._Abay lagi marah ke Om Indra. Jangan nanya.._” Abay mencebik lalu menyembunyikan wajahnya di dada Adinda.
Adinda tampak terkejut dan tidak nyaman. Tapi dia membalas dengan mengelus kepala Abay.
“Setdah bocil! Gue aja belum pernah kek gitu...” Agung menghela nafas.
Bramasta memberi tepukan di punggungnya dengan keras.
“Omongan... itu omongan dijaga...”
Anton dan Adisti terkekeh sementara Adinda melotot kesal ke arah Agung.
“Ooh jadi Abay marah ke Om Indra. Ya udah, Om gak akan cerita tadi di dalam sana Kakak ngapain aja,” Indra berpura-pura hendak bangkit dari sofa, ‘Om Indra mau ke Bunda aja ah. Bunda mah baik ke Om. Gak marah juga gak benci ke Om Indra...”
“Abay dak benci te Om Inda. Abay Cuma mayah. Mayah bentay aja!” Abay menatap Indra, “Om Inda, ciytain.._Om Indra, ceritain.._”
“Tapi Abaynya masih marah ke Om..”
“Ndak Om. Abay udah gak mayah anyih!”
“Abay sayang Om Indra?”
Abay mengangguk.
“Abay syayang Om Inda,” tangannya terulur ke arah Indra, minta dipeluk.
Indra tertawa. Lalu Indra menceritakan apa yang dilakukan Alif kepada jemarinya dan jemari Bunda.
“Sekarang jawab pertanyaan Om yang tadi. Ibu-ibu yang tangannya banyak perhiasannya, nakalin Abay lagi gak?”
Abay menggeleng.
“Dak cubit anyih. Dak mototin Abay anyih. Mungkin ada Ate Husna. Cuma ngomon janda..janda.. gitu. Abay dak ngewti...”
Rahang Indra mengetat. Bramasta yang ada di sebelah Indra menepuk punggungnya.
“Keep calm down, Bro!”
__ADS_1
Indra menggeleng. Dia mengambil gawainya lalu menekan tombol panggilan ke Husna.
"Assalamu'alaikum Teh Husna.." Jeda.
“Iya, Abay sedang bersama saya. Alif masih dipersiapkan untuk operasinya. Tadi Abay cerita tentang ibu-ibu yang saya ceritakan siang tadi ke Teteh.” Jeda.
“Iya. Yang pakai perhiasan banyak banget.. Dia bicara apa saja tadi ke Abay?” Jeda agak lama.
“Nanti, kalau mau jemput Abay lagi, kalau bisa rekam saja ya Teh. Kita laporkan ke pihak sekolah dan yayasan atas nama bullying verbal terhadap anak-anak.” Jeda.
“Tolong jangan ceritakan hal ini ke Bundanya Alif dan Abay ya Teh. Hatur nuhun pisan sateuacana _Terima kasih banyak sebelumnya_. Assalamu’alaikum..”
“Bang, bagaimana? Teh Husna ngomong apa?” Adisti mencondongkan tubuhnya ke arah Indra.
“Diciyee-ciyeein.”
“Maksudnya?” Adisti dan Adinda bertanya bersamaan.
“Ciyee anak janda.. janda kere tapi pansos, deketin orang beken biar ngetop. Janda karena diusir suaminya.. Sambil tertawa mengejek,” Indra mengepalkan tangannya.
“Subhanallah itu mulut..” Adisti geram, “Kok jadi teringat dengan Rita Gunaldi ya. Mulutnya 11 12!”
Bramasta merangkul istrinya sambil mengecup pipinya singkat.
“Sabar Buk Istri..”
“Gue mau komen di TowTownya ah..” Anton tersenyum lebar, “Pakai anonimus akun.”
“Buatan Disti juga, Hyung..!” pinta Adisti.
“Dinda juga!”
“Siiip makin banyak makin seru nantinya..” Anton tersenyum lebar lagi.
“Kalian berdua ini..” Agung menatap pada adik dan tunangannya.
Belum sempat meneruskan kalimatnya, perawat ruang ICU keluar dari pintu dan menghampiri sofa mereka. Sontak mereka semua berdiri.
“Pasien Alif Ammar sudah berada di ruang operasi,” katanya.
“Untuk pasien ICU, ada jalur tersendiri, Mas. Langsung ke ruang operasinya.”
Anton mengangguk mengerti.
“Jadi kita harus kemana nih?” Adisti menatap perawat itu dengan wajah khawatir.
“Ruang operasi ada di belakang ruang ICU. Ikuti jalur merah di lantai. Pasien Alif Ammar ada di ruang operasi nomor 3.”
“Baik. Terimakasih banyak ya Mas,” Indra mengangguk pada perawat itu.
Para pria membantu membawakan barang bawaan mereka. Saat mereka hendak berbelok, suara Hans terdengar memanggil.
“Bram, Ndra! Tunggu!”
Semua berhenti berjalan. Menoleh ke arah suara. Hans datang bersama Daddy, Papi dan Ayah.
“Kalian mau kemana?”
“Ruang tunggu operasi. Kakak di ruang 3.”
“Operasinya sudah dimulai?” Daddy bertanya sambil berjalan.
“Sepertinya sudah, Om. Tadi kami semua masih menunggu di depan ICU. Kami kira bakal bareng Kakak ke ruang operasi,” Indra menjelaskan, “Ternyata pasien ICU ada jalur sendiri yang langsung ke ruang operasi.”
“Kakak bagaimana keadaannya? Kata Mami operasinya dipercepat dari jadwal?,” Papi meraih bahu Indra sambil berjalan.
Indra menceritakan apa yang terjadi di ICU tadi.
“Semoga Allah kuatkan Kakak Alif dan disegerakan kesembuhannya juga tidak ada dampak negatif dari sakitnya ini,” Ayah menggamit lengan Adisti.
Semua mengaminkan do’a Ayah.
Ruang tunggu operasi tampak lengang. Ada 4 ruang operasi. Dan yang menyala lampunya hanya ruang nomor 1 dan 3.
Selain mereka yang menunggui ruang operasi nomor 3, ada sepasang suami istri yang tengah menangis sambil berpelukan. Sesekali dari mulut suaminya terdengar suara istighfar.
__ADS_1
Adisti memandang suaminya. Meminta ijin lewat pandangan matanya. Bramasta mengangguk sambil tersenyum. Adisti mencium tangan suaminya.
Adisti mengajak Adinda sambil membawa paper bag berisi 2 minuman teh dalam kemasan kotak dan sebotol air mineral. Juga roti dalam kemasan plastik.
Adisti dan Adinda menghampiri kedua orangtua tersebut. Mengucap salam kepada mereka dan duduk di dekat mereka.
“Sedang menunggui siapa Pak, Bu?” tanya Adisti.
“Anak kami yang bungsu, Neng,” Bapak yang menjawab karena istrinya tengah terisak.
“Ma’af, sakit apa, Pak?” Adisti membelai lengan si Ibu.
“Nggak sakit, Neng. Lilis mah alhamdulillah gak pernah sakit. Paling juga batuk pilek karena perubahan cuaca,” Bapak itu mengusap ujung matanya, “Sore tadi, seperti biasa, dia pamit hendak mengaji di madrasah. Tapi dia gak pernah sampai ke madrasah. Dia tergeletak dengan tubuh penuh luka dan kaki yang patah.”
“Subhanallah..!” Adisti dan Adinda berseru bersamaan.
“Lilis menjadi korban tabrak lari. Sayangnya tidak ada saksi mata yang melihat kejadiannya,” Bapak itu menggelengkan kepalanya.
“Bapak dan Ibu cuma berdua di sini?” Adinda menyodorkan minuman teh kepada mereka, awalnya menolak tapi Adinda terus membujuk mereka.
“Tadinya bersama Tatang, kakak sulungnya Lilis tadi ikut menemani. Tapi karena harus segera dioperasi dan butuh biaya, saya suruh Tatang untuk mencari pinjaman pada tetangga. Ya Allah..”
“Bapak, hubungi kakaknya Lilis sekarang untuk segera ke rumah sakit. Gak usah cari pinjaman lagi. Batalkan saja uang pinjamannya bila memang sudah ada yang memberi pinjaman,” ucapan Adisti membuat Bapak dan Ibu memandang wajahnya dengan tatapan tidak mengerti.
“Maksudnya?”
“Insyaa Allah, kami akan membayar semua biaya operasi dan pengobatannya hingga Lilis sembuh..”
“Neng serius?” tatapan sangsi tersirat jelas di wajah si Bapak.
Adisti mengangguk dan tersenyum.
“Insyaa Allah..”
“Masyaa Allah.. Apa.. _Ayah.._” Ibu yang sedari tadi terisak sekarang memeluk suaminya, “Alhamdulillah.. alhamdulillah..”
“Bapak hubungi A Tatang sekarang, Pak,” Adinda mengingatkan.
"I..iya Neng.. Masyaa Allah.." tangannya bergetar saat membuka gawai sederhana miliknya.
“Assalamu’alaikum.. Tang, kumaha_bagaimana_?” Jeda.
“Nya atos weh. Teu kunanaon. Tatang kadieu weh. Alhamdulillah masalah biaya rumah sakit tos aya nu bade mayarkeunana_Ya sudahlah. Gak apa-apa. Tatang kesini saja. Alhamdulillah masalah biaya rumah sakit sudah ada yang akan membayarkannya_,” si Bapak tersedu.
Adinda menepuk-nepuk punggung si Bapak.
“Duka atuh. Teu wawuh da. Ieu ge nembe kenal didieu. Awewe 2 an_Gak tahu. Gak kenal juga. Ini juga baru kenalan di sini. Perempuan berdua_.” Jeda.
Kemudian si Bapak menatap pada Adisti dan Adinda bergantian.
“Hapunten, sareng Neng teh saha_Ma'af, dengan Neng siapa?”
“Saya Adisti dan ini adik saya, Adinda.”
“Neng Adisti sareng Neng Adinda. Buruan kadieu, Tang. Diantos nyaa! _Cepetan ke sini, Tang, Ditunggu!_” si Bapak mengakhiri panggilannya.
“Nama lengkap Lilis, siapa Pak? Juga nama lengkap Bapak?” Adisti bersiap mengetik dengan gawainya.
“Lilis Mutia, 10 tahun. Nama saya Imam Ghazali.”
“Baik, saya segera mengurus administrasinya ya Pak, Bu. Saya pamit dulu.”
“Neng, hatur nuhun pisan. Mugia Allah memberi ganti yang lebih dan memberi keberkahan kepada Neng Adisti dan Neng Adinda sekeluarga.”
“Aamiin Yaa Robbal’aalamiin. Do’a yang sama untuk keluarga Bapak dan Ibu Imam,” Adisti tersenyum lalu bersama Adinda mohon pamit.
.
***
Siapa sih kedua orangtua itu? Apakah nanti ada hubungannya dengan mereka?
Ditunggu aja ya.. 😊
Jangan lupa pencet like dan minta updatenya.
Utamakan baca Qur'an ya 🌷
__ADS_1