
“Suster...” Arini memanggil perawat yang tengah memasukkan hasil CT Scan ke dalam mapnya.
“Ya, Bu Arini?”
“Saya boleh menjenguk anak saya?”
Perawat itu terdiam. Dia memandang pada Indra. Tetapi Indra juga memandang perawat terebut untuk menunggu jawabannya.
Perawat tersebut menatap Dokter Rahmat.
“Saya tidak bisa memberi keputusan atau ijin tersebut karena saya bukan dokter yang menangani Ibu Arini,” Dokter Rahmat memberi jawaban yang diplomatis.
“Nanti kita tanyakan kepada Dokter Yusuf saja ya Bu. Tapi di rumah sakit ini belum pernah ada pasien yang masih di atas bed menengok pasien lainnya di ruangan ICU, pula..” Perawat itu tersenyum pada Arini.
“Baik, nanti saya akan meminta ijin kepada Dokter Yusuf juga pihak direksi rumah sakit untuk memberi pengecualian kepada Ibu Arini,” Indra mengangguk kepada Perawat dan Doker Rahmat.
“Kami permisi. Assalamu’alaikum,” Perawat itu mohon diri bersama Dokter Rahmat.
“Bu Dhani, bagaimana kondisi Alif?” Arini memandang Mami.
“Alif masih belum sadar. Kami hanya bisa melihat melalui kaca jendela. Ada banyak kabel dan selang pada tubuh Alif,” Mami membelai punggung Arini.
“Allah...” Arini menyeka air matanya.
“Mam, Bun, Indra ke ICU dulu. Ada Bramasta dan Agung di sana menemani Adinda dan Adisti.”
Mami dan Bunda mengangguk.
Indra mendekati Arini.
“Teh Arin.. saya jenguk Alif dulu ya. Ada Mami dan Bunda yang menemani Teteh.”
Arini mengangguk pelan
.
Ruang tunggu ICU lengang. Di salah satu sudut sofa, ada Adinda, Adisti, Bramasta dan Agung.
“Assalamu’alaikum..” Indra menyapa sambil ber-hi five dengan Bramasta dan Agung.
“Thanks ya sudah mau menemani Adinda..” mata Indra menatap tirai ruang ICU yang tertutup.
“Itu.. kenapa ditutup?” Indra menunjuk tirai.
“Ada tindakan medis yang dilakukan. Tadi petugasnya meminta persetujuan pada Dinda,” Adinda menatap Agung, “Dinda salah gak, Bang?”
Indra tersenyum pada Adinda yang memandanginya dengan takut-takut.
“Abang tahu, Dinda berusaha melakukan yang terbaik untuk Alif,” tangan Indra menepuk pelan kepala adik angkatnya itu.
“Haisssh itu tangan kondisikan, Bang. Sudah ada yang punya dia..” Agung memegangi tangan Indra yang masih berada di kepala Adinda.
“Dih! Segitu posesifnya Lu, Gung. Sudah ketularan Bramasta ya.”
Merasa namanya disebut, Bramasta mendongak.
“Apa Ndra?” lalu memandang ke arah Agung, “Agung? Jadi bucin? Percaya Lu? Lelaki dengan julukan kanebo kering lalu menjadi bucin? Bahkan hubungan mereka berdua pun bagi gue terlihat aneh.”
Adisti terkikik. Adinda dan Agung saling berpandangan dengan alis terangkat.
“Aneh bagaimana?” keduanya kompak bertanya.
Indra menatap pasangan bucin dan pasangan tak bucin dihadapannya dengan bergantian.
“Perhatikan saat mereka bicara.Pasangan lain akan memakai kata ganti orang pertama dengan nama mereka sendiri, atau kata ganti panggilan mesranya, atau dengan kata ganti aku-kamu,” Bramasta tersenyum lebar menatap pasangan kaku di hadapannya, “Tapi mereka, dari semenjak baru kenal hingga sudah khitbah dan hingga detik ini masih memakai saya-kamu dan saya-Om..”
“Dih!” keduanya kompak bersuara.
Indra terkekeh. Kemudian teringat sesuatu.
“Tadi Dinda tandatangani untuk tindakan medis apa?”
__ADS_1
“Tes alergi. Apakah Kakak ada riwayat alergi terutama alergi antibiotik apa tidak.”
Indra mengangguk mengerti.
“Bang Indra kenapa lama sekali sih di sekolah anak-anak?” tanya Adisti sambil meminta kopi milik suaminya.
Indra menceritakan apa yang terjadi. Semua mendengarkan cerita Indra dengan wajah marah, tidak terima Alif dan Abay mendapat perlakuan buruk seperti itu.
Indra menunjukkan rekaman video CCTV kepada mereka. Agung menggeleng marah.
“Ada ya perempuan yang jadi ibu tapi jahat seperti itu!”
“Pantas saja di WAG kantor heboh video ini..” Adisti mengambil gawainya.
“Video apa?” tanya Bramasta.
“Ada yang share video dari TowTow. Yang nge-share nanya, ini tentang Pak Sekretaris kita bukan sih? Begitu nanyanya..” Adisti membuka gawainya.
“WAG apaan sih Dis?” Indra menatap Adisti.
“WAG cewek-cewek B Group..”
Indra dan Bramasta saling berpandangan.
“Memangnya ada ya WAG itu?” Bramasta memperhatikan layar gawai istrinya.
Adisti tertawa. Lalu menekan tombol enter video yang sudah masuk di galeri teleponnya.
Wajah ibu-ibu Blinky memenuhi layar. Tersenyum seolah merasa diri bagai orang terkenal di penjuru negeri dan memiliki banyak penggemar.
“Ih, kok si ibu itu ada di layar handphone kamu, Dis?” Indra melongo.
“Jadi benar dia pelakunya?”
Indra mengangguk.
“Memang secakep itu si ibunya?” Adinda memandang video yang di-pause oleh Adisti.
“Wajahnya lebih lebar. Ada bekas jerawat di pipi kanannya. Kulitnya juga tidak sekinclong dan seputih itu. Di sekolah dia pakai kerudung. Kerudung a la ibu pejabat. Yang cuma disampirkan di bahu saja tanpa menutup leher dan keseluruhan rambut..”
Adinda dan Adisti saling bertatapan. Keduanya tertawa,
“Kebanyakan filter ya Bang!”
Agung menepuk lengan Adinda.
“Gak boleh ngatain orang..”
“Siapa yang mengatai orang?” Adinda mencebik.
“Beberapa wanita memakai cara mudah, murah dan aman untuk tampil cantik di sosial media. Yaitu filter wajah,” Agung mengambil es kopinya.
“Tumben Lu mengerti banget tentang wanita, Gung. Jangan-jangan, Lu sering mantengin medsos mereka, ya?” Indra menatap kembali layar gawai Adisti.
“Eh??! Nggak. Nggak gitu..!” suara Agung terdengar panik.
“Kok seperti yang panik sih Om? Biasa aja kali...” Adinda memandang lekat wajah Agung yang memerah.
"Eh, nggak kok Din. Saya gak seperti itu...” Agung melirik Indra dengan kesal. Indra yang ditatap hanya menyengir saja.
Adinda mengalihkan tatapannya dari Agung. Dia menatap layar gawai Adisti.
“Teh, dilanjut videonya.”
Ibu-ibu Blinky menggoyangkan rambutnya. Dia membuat video di dalam mobil.
“Hari ini gue, entah mimpi apa semalam. Di sekolah anak gue, gue ketemu cowok ganteng yang masuk dalam list bujangan yang paling diinginkan di +62.”
Rambutnya dikibas lagi. Tangan sebelahnya diangkat untuk merapikan rambut depannya. Kerlip emas dan batu permatanya nampak berkilauan di layar.
“Tubuhnya wow! Umurnya matang. Terkenal bagai selebriti. Jabatannya juga oke di perusahaan terkenal. Tajir melintir jelaslah. Tapi kok malah kepincut janda. Beranak dua lagi. Apa +62 sudah kekurangan stok perempuan yang lebih layak?”
__ADS_1
“Memang sih, no body is perfect!” matanya mengerling genit. Berbicara sambil mende sah.
“Masze.. ganteng dan kaya tapi ininya kok gak dipakai?” Ibu Blinky menunjuk pada pelipisnya lalu tertawa berderai.
“Gak usah bersikap sombong ke saya, Masze.. Karena suami saya pun kaya. Pengusaha sukses, bukan seperti anda yang cuma menjadi sekretaris!” derai tawanya terdengar menyebalkan sekali.
Tayangan video TowTow berakhir.
Bramasta langsung duduk tegak.
“Siapa nama suaminya?” suaranya terdengar dingin hingga tengkuk Adisti meremang, “Tidak akan saya biarkan, keluarga saya dihina seperti itu!”
Indra yang sedang dibicarakan oleh Ibu-ibu Blinky tersebut menundukkan wajahnya. Terlihat dia mengepalkan tangannya untuk menahan diri.
Agung menghampiri Indra. Menepuk bahunya.
“Keep calm, Bro. Jangan terpancing,” Agung memandang ke arah Adisti, “Dek, cari nama akunnya. Telusuri postingannya. Pasti ada postingan dia bersama suaminya. Perempuan yang suka pamer seperti itu pasti dia menunjukkan segala sesuatu yang ia miliki kepada publik. Termasuk suaminya.”
Adisti meneliti video-video di akun milik ibu-ibu itu.
“Namanya Siska. Sepertinya yang ini, suaminya?” Adisti menunjuk pada salah satu video.
“Ndra?” Bramasta memandang Indra dengan alis terangkat sebelah, “Dia kan...”
Indra melirik sekilas pada layar gawai Adisti.
“Gue sudah tahu pekerjaannya seorang kontraktor. Tapi gue belum tahu nama dan wajahnya. Pihak sekolah tidak mau memberi nama suami si ibu blinky itu..”
“Lu lihat ini, Ndra. Lu pasti tahu siapa dia..”
Indra melihat lebih lama lagi pada gawai Adisti. Sosok pria berkumis lebat tengah tertawa lebar, tangan kirinya dipeluk oleh ibu-ibu blinky.
“Dia dari PT Persada Utama kan?” Bramasta menunjuk gambar di layar gawai millik istrinya.
“Minggu ini Lu ada pertemuan dengan dia kan? Untuk proyek pekerjaan lantai di daerah Sentul, Bogor?” Indra memandang Bramasta.
Bramasta mengangguk.
“Gue kerjain ya?"
Indra menatap tidak bersemangat.
"Terserah Lu, Bram. Gue males mengurusi hal seperti itu. Gue mau fokus dengan urusan di rumah sakit dan di sekolah saja.”
“Kita sangkutkan dengan masalah di sekolah, Ndra. Untuk sementara, kita pura-pura tidak tahu dengan aksi istrinya di Towtow," Bramasta menatap Indra dengan mata berbinar.
“Lu atur saja..” Indra terlihat menarik diri.
Bramasta yang melihat perubahan pada sikap Indra menepuk pundaknya.
“Want to talk?”
Indra masih terdiam. Wajahnya memerah. Tangannya masik terkepal.
“Sehina itu kah anggapan orang-orang tentang janda?”
.
***
Babang Indra jadi sensi. Ibu-ibu Blinky memang kebangetan ya.
Happy reading ya.
Utamakan baca Qur'an.
🌷
Baru kemarin malam bahas kondisi Alif yang mengalami cerebral edema, pagi harinya dapat kabar, teman mengaji si Bungsu meninggal dunia akibat jatuh saat bermain.
Anak perempuan yatim usia 5 tahun, jatuh saat bermain dengan kakak dan adik angkatnya 3 hari yang lalu sebelum meninggalnya.
__ADS_1
Jangan abaikan cedera kepala pada anak dan dewasa ya Readers. Karena efek dari jatuh seringnya tidak terlihat pada saat itu juga. Cerebral edema gak main-main dampaknya.