Mr. Secretary: Destiny Bound

Mr. Secretary: Destiny Bound
BAB 68 – CREW KESEKRETARIATAN B GROUP


__ADS_3

Indra masih tersenyum-senyum sendiri teringat tatapan mata dan senyum tulus Arini saat mengucapkan fii amanillah padanya. Bahkan sekarang dia mulai menggigit-gigit bibirnya sendiri.


Pengawal yang mengemudikan mobilnya melihat Indra dari kaca spion dalam ikut tersenyum. Walaupun ia tidak tahu apa yang menyebabkan tuannya terus menerus tersenyum semenjak mobil melaju.


Gawai Indra berdering. Nada panggilan masuk. Layar gawainya tertulis Tante Al, mommy-nya Bramasta.


“Assalamu’alaikum Tan.. Loh, Tante kok nangis?” Indra berseru kaget, “Ada apa, Tan? Semuanya baik-baik saja kan?” Jeda agak lama.


“Kok Tante tahu? Dari siapa?” Jeda.


“Ah.. padahal Indra belum dengarkan isi rekaman suara yang Disti buat loh Tan..” Indra terkekeh lalu mengerutkan keningnya.


“Nggak. Nggak apa-apa, Tan. Suer deh. Indra gak sedih atau bagaimana-bagaimana. Malah jadi makin semangat. Apalagi tadi disemangati oleh Alif.”


“Dia tahu saat Indra nembak Bundanya. Dia ada di sana pada saat itu, dalam tanda kutip ya Tan.” Jeda.


“Iya.. kejadiannya mirip saat Agung koma.” Jeda.


“Sudah dong.. Tante Al jangan menangis seperti itu. Nanti kalau Om Al nanyain kan nanti Indra yang disalahkan... gegara saya Tante Al jadi menangis...” Indra terkekeh lagi.


“Oh.. terharu. Terharu kenapa?” Indra menegakkan duduknya.


“Weiiissszzz. Indra jadi malu...” Indra terkekeh.


“Indra kan memang keren sejak masih janin, Tan. Bahkan sejak masih dalam bentuk benih,” Indra tergelak.


Gedung B Group sudah tampak di depan mata.


“Tante Al jangan menangis lagi. Bunda sedang menemani Mami.” Jeda.


“Iya Tan. Ini sudah sampai kantor kok. Iya... Wa’alaikumussalam,” Indra terkekeh kecil sambil memasukkan gawainya ke dalam saku dalam jas santainya.


Pengawal menghentikan mobil di drop off area teras lobby. Indra mengambil tas kerjanya sambil memeriksa kelengkapannya, pintu sudah dibukakan dari luar oleh pengawal.


“Terimakasih ya..” Indra tersenyum pada pengawal yang mengangguk.


Saat berdiri, sebuah pensil warna yang sudah pendek terjatuh dari saku depan tas kerjanya. Indra membungkuk untuk memungutnya.


Mengerutkan kening, berpikir bagaimana pensil warna berwarna biru muda itu bisa ada di dalam saku tasnya. Ada nama pada guntingan kertas yang dililit dengan menggunakan selotip bening. Akbar Hakim.


Indra tersenyum lebar. Pensil warna milik Abay terbawa di tasnya. Dia membaca lagi nama yang tertera. Memperhatikan tulisan tangan yang rapi dan indah. Enak dilihat. Dia yakin, itu adalah tulisan Bundanya Abay dan Alif, Arini Kusumaningtyas.


[Jadi seperti ini rasanya jatuh cinta? Bahkan hanya dengan melihat tulisan tangannya saja sudah membuat dunia serasa lebih berwarna-warni] Agung mengusap tulisan Akbar Hakim dengan penuh rasa sayang.


“Assalamu’alaikum.. Loh.. Tuan Indra. Bukannya Tuan Indra sedang cuti?” tanya gadis resepsionis.


Indra hanya tertawa dan mengangguk. Bunyi bip terdengar saat Indra meletakkan jarinya di mesin absensi.


Indra memasuki lift khusus ke lantai tempat ruangannya. Dia mengambil pensil warna berwarna biru muda itu lagi. Mengamati lagi tulisan tangan Arini. Dengan ragu-ragu, dia mencium tulisan tangan yang tertutup selotip itu. Pipinya merona merah dengan cepat. Malu.


Pertama kali yang ia lakukan adalah mengunjungi crew-nya di ruangan kesekretariatan. Saat dia mengucap salam, ruangan sekretariat mendadak heboh. Terutama para wanita.


“Pak Indra ganteng banget!”


“Cerah amat wajahnya Pak Indra!”


“Pak, tenang saja.. Kita sudah buat pasukan labi-labi untuk menghadapi perempuan gila di TowTow itu!”


Indra tertawa. Matanya mencari sosok yang duduk dengan canggung namun berusaha berbaur dengan yang lainnya untuk membicarakan perempuan gila di TowTow. Staf bagian arsitektur dan landscaping yang mendadak ditarik ke bagian sekretariat atas permintaan Indra.


“Bapak keren banget di sekolahan tadi. Banyak pihak yang mendukung Bapak. Perempuan itu tersudut sekarang. Sibuk melakukan pembelaan diri,” salah satu anak buahnya yang tengah hamil, bergerak ke arah Indra. Menunjukkan gawainya yang berisi video si Blinky.


“Iya... saya sudah melihatnya tadi sewaktu dalam perjalanan kemari,” Indra terkekeh, “Kamu hati-hati dong kalau jalan. Ngeri saya melihat perut kamu yang sudah besar seperti itu tapi cara jalan kamu masih slebor..”

__ADS_1


“Memang sudah stelan pabriknya seperti ini, bagaimana, Pak?” anak buahnya yang ceria itu tertawa diikuti yang lainnya.


Indra melirik ke arah orang itu lagi. Ditatap seperti itu, orang itu semakin gelisah.


“Bapak cuti liburan?”


Indra tertawa.


“Liburan dengan calon istri...”


Jeritan terdengar dari ruang kesekretariatan.


“KYAAAAAAA!”


“Pak Indra beneran mau menikah? Yang di sekolah itu calon anak tiri Bapak?”


“WAAAAAAAA! Kita patah hati berjama’ah Pak!”


“DL! Derita Lu!” Indra tertawa sambil berlalu dari ruangan itu lalu masuk ke ruangannya.


Seakrab itu Indra dengan para anak buahnya. Karena memang begitu pembawaan Indra yang supel. Banyak wanita yang salah tanggap dengan keramahan Indra. Berbeda dengan Bramasta yang betul-betul menjaga pergaulannya terutama dengan lawan jenis.


Indra membuka laptopnya. Membuka aplikasi yang menyambungkan dengan CCTV ruang kesekretariatan. Mengamati gerak-gerik orang itu.


Seminggu yang lalu, orang itu sudah berani meletakkan proposal proyek ditumpukan teratas map proposal di atas mejanya.


Dari rekaman CCTV, terpantau dia membawa map proposal yang ia bawa dari dalam tasnya langsung ke ruangan Indra. Suatu kelancangan yang tidak dapat dianggap sepele di B Group.


Anak buah Hans sudah menyelidiki secara rahasia tentang orang itu. Terbukti orang itu mempunyai kekerabatan dengan owner Persada Utama. Lebih tepatnya, Prambudi Cakra adalah sepupunya Siska.


Atas persetujuan Bramasta, Indra meminta Prambudi Cakra diperbantukan di kesekretariatan untuk mengurusi hal-hal yang berhubungan dengan divisi arsitektur dan landscaping.


Dari layar laptopnya, Prambudi tengah menjawab pesan teks. Ada kamera CCTV tersembunyi yang di letakkan di belakang kursinya sehingga semua kegiatannya bisa terpantau.


Prambudi_Ada Pak Indra di kantor_


Hendra_Bagaimana sih? Kamu bilang dia sedang cuti?_


Prambudi_Ya gak tahu saya, A_


Hendra_Nanti saya ketemu dengan Pak Indra atau Tuan Bramasta langsung?_


Prambudi_Gak tahu saya A. Bisa jadi keduanya_


Hendra_Ah gimana sih ini?_


Prambudi_A, bilangin ke Teh Siska untuk berhenti bikin video TowTow. Bisa runyam urusannya_


Hendra_Kamu yang bilangin sendiri. Memangnya apa lagi tingkahnya kali ini? Capek saya hadapi dia_


Prambudi_Ya itu kewajiban A Hendra untuk menasehati istri Aa. Dia masih terus menyenggol Pak Agung di videonya. Lebih runyam lagi, janda yang disebut-sebut Teh Siska itu calon istrinya Pak Agung_


Hendra_Apa?!! Kurang ajar betul sepupu kamu itu!_


Prambudi_Loh, A Hendra kan suaminya. Saya cuma sepupunya. Saya gak ikut campur masalah itu, A_


Hendra_Dia susah diatur. Aa dengar dia buat ulah lagi di sekolah minggu lalu. Pusing Aa dengan kelakuannya. Kalau gak cinta dan belum ada Syeren, gak akan Aa kawinin tuh!_


Prambudi_Saya mempertaruhkan karir saya untuk membantu Aa. Kalau ada apa-apa bagaimana? Sekarang saya ditarik di bagian kesekretariatan_


Hendra_Bagus dong. Kamu bisa satu lantai dengan Pak Indra dan Tuan Bramasta_


Prambudi_Entahlah. Perasaan saya gak enak, A! Kalau ada apa-apa, Aa harus bantuin saya seperti kesepakatan awal kita. Tugas saya sudah selesai dilakukan. Proposal Persada Utama sudah diterima dan sebentar lagi Aa meeting dengan para Bos_

__ADS_1


Hendra_Iya.. saya tidak akan lupa. Terimakasih_


Prambudi_Tapi tolong A.. Suruh Teh Siska tutup akun TowTownya. Sudah semakin liar sekarang. Berani menyebut nama Pak Indra langsung. Ngeri saya. Si Teteh menyerempet orang yang salah. Mereka bukan orang biasa, bukan keluarga biasa_


Hendra_Bakal ngamuk-ngamuk dia. Sudah, kamu gak usah terlalu lebay berpikirnya. Aa yakin, masalah di TowTow akan reda dengan sendirinya. Saya juga punya uang dan punya power!_


Prambudi_Masalahnya, uang dan power Aa gak sebanding dengan kepunyaan mereka. Apalagi Persada Utama sekarang sepi proyek dan proyek yang dimbil juga proyek-proyek kecil. Beda jauh saat Bu Irma masih ada. _


Hendra_Rese banget sih kamu. Gak usah sebut-sebut lagi namanya. Sebenarnya kamu ada dipihak siapa sih?_


Indra tersenyum miring. Kemudian membuat panggilan interkom dengan asistennya.


“Nu, kamu ke sini ya. Bawa persiapan untuk meeting dengan Persada Utama.”


Tidak berapa lama, asistennya muncul dengan tangan membawa map. Mengetuk pintu dan mengucap salam.


“Bagaimana persiapannya?” Indra meluruskan kakinya di kolong meja.


“Ini sih parah, Pak Indra. Perusahaan ini sama sekali tidak memenuhi syarat bahkan untuk sekedar menjadi subkontraktor.”


Indra tertawa.


“Itu juga yang membuat Pak Anton misuh-misuh. Bagaimana Prambudi?”


Asisten Indra tersenyum lebar lalu menggeleng.


“Dia belum bisa membaur dengan yang lainnya. Serba canggung. Kerjanya juga biasa saja. Cenderung tipikal pekerja yang hanya menunggu waktu pulang saja,” pria muda dengan rambut klimis itu menatap Indra, “Pak, pengkhianat seperti dia, masih mau dipertahankan?”


Indra hanya mengangkat bahu sambil terkekeh.


“Undangan meeting untuk BangunKuat sudah ada tanggapan?” Indra menatap asistennya.


“Alhamdulillah mereka langsung meresponnya, Pak. Mereka akan hadir hari ini.”


“Bagus. Ini akan jadi hal yang menarik untuk dilihat,” Indra tersenyum puas.


Indra mengangguk pada asistennya. Asistennya berlalu dari hadapannya.


Indra teringat sesuatu. Ia menelepon Maminya.


“Assalamu’alaikum, Mam. Tadi Indra lupa menyampaikan, pihak sekolah dan yayasan akan menengok Kakak dan Arini siang ini.” Jeda.


“Nanti Mami dan Bunda dampingi ya. Indra sudah mewanti-wanti kepada mereka untuk tidak membahas kejadian seminggu yang lalu. Kalau ada yang bahas itu, langsung Mami atau Bunda cut saja ya. Arini tidak boleh sampai tahu kejadian itu. Kasihan, terlalu banyak beban pikirannya.” Jeda.


“OK deh. Indra percaya pada Mami dan Bunda. Love you Mam..” Jeda.


“Boleh kalau Mami mau jemput Abay. Wa’alaikumussalam..”


Indra tidak mengetahui, keputusannya mengijinkan Mami untuk menjemput Abay di sekolah akan menimbulkan efek domino rentetan peristiwa lagi. Menambah jumlah bed pasien lagi di dalam ruang rawat inap.


.


***


Persada Utama mau diadu dengan BangunKuat?


Bakal ada kejadian apa ya?


🌷


Jangan lupa like dan minta update supaya Author makin semangat nge-halu dan ngetiknya.🤓


🌷Utamakan baca Al Qur'an ya🌷

__ADS_1


__ADS_2