Mr. Secretary: Destiny Bound

Mr. Secretary: Destiny Bound
BAB 62 – TEMBAKAN INDRA


__ADS_3

Indra belum lama terlelap ketika samar-samar dia mendengar suara perempuan yang mengaduh dan memohon kemudian berbicara dengan penuh kemarahan dengan suara pelan, nyaris berbisik. Dia mengira itu suara Adisti di bed keluarga. Tetapi suaranya berasal dari sebelahnya.


Perlahan Indra bangkit, menyibak tirai pembatas bed Arini dengan tempat tidurnya.


Peluh membanjiri kening dan pelipis Arini. Tangannya bergerak-gerak seolah melindungi dirinya dari pukulan.


“Jangan..! Tinggalkan aku! Pergi!” tangannya melindungi wajah dan dadanya. Tubuhnya meringkuk seperti yang diceritakan Alif saat menemukan bundanya di lantai bawah.


Indra bergegas meraih tombol remote bed. Mengubah posisi bed Arini menjadi setengah duduk.


“Ssssh...ssssh...ssssh... semua sudah berakhir. Teh Arin sudah tenang bersama anak-anak. Jangan khawatir.. ssssh...”


“Aliiif! Kakaaaaak! Jangan turun, tetap bersama Adik! Kunci pintunya!” tangan dan kaki Arini bergerak tidak beraturan. Botol infus terjatuh.


“Teh.. Teh Arin.. bangun Teh!” suara Indra agak keras membangunkan Arini.


Bramasta menyibak tirai pembatas. Menatap Indra yang sedang memeluk Arini. Adisti ada di belakangnya.


“Bram, infusan jatuh!”


Bramasta mengerti. Diambilnya botol infus lalu dipasangkan lagi di tiangnya.


“Ndra.. darahnya mengalir ke selangnya..”


“Dis, ambilkan air hangat..” Indra memerintah Adisti. Tangannya menekan tombol pemanggil perawat.


Adisti dengan sigap mengangguk dan segera ke pantry.


Perawat datang bersamaan dengan Adisti membawakan air hangat. Melihat situasinya, perawat paham akan apa yang sudah terjadi.


Perawat mematikan aliran infus. Kemudian membersihkan darah dari selang infus untuk masuk lagi ke dalam aliran darah Arini dengan cara melakukan spooling, yaitu tindakan menyuntikkan cairan steril atau infus untuk melancarkan kembali infus.


“Ibu Arini kenapa?” tanya Perawat itu sambil membelai tangan Arini.


“Mimpi, Sus..” Indra menjawab sambil tetap memeluk Arini, membelai rambutnya.


“Teh Arin minum dulu, ya?” bujuk Indra, “Adisti sudah bawakan air hangat untuk Teteh..”


Arini masih mencengkeram lengan kaus yang dipakai Indra.


“Bu Arini tidak apa-apa?” Perawat itu bertanya lagi.


“It’s OK Suster. Insyaa Allah saya bisa handle Teh Arini.”


“Baik.. Saya tinggal dulu ya. Darahnya sudah bersih tidak ada di selang infus. Kita tidak mau terjadi blood clot atau pembekuan darah yang bisa menghambat cairan infus..” Perawat tersebut tersenyum, “Selamat malam..”


“Terimakasih, Suster.. “ Adisti mengangguk.


“Kalian berdua, tidur lagi saja. Kalian harus ke kantor kan pagi-pagi..” Indra memandang Bramasta dan Adisti.


“Are you sure, Bro?” Bramasta balas menatap Indra.


Indra mengangguk. Bramasta mengajak istrinya untuk kembali lagi ke tempat tidur. Tirai ditutup kembali.


“Teh Arin tidur lagi ya.. saya di sini, temani Teteh.”


“Kakak? Adik?” Arini mendongak menatap Indra dengan bingung.


“Adik tidur di rumah saya bareng Oma dan Opanya. Kakak...” Indra merasa bingung bagaimana menjelaskan lagi pada Arini di saat Arini masih dalam keadaan setengah sadar, “Kakak juga..”


Indra tidak berani menatap mata Arini. Takut terbaca ia tengah berbohong.


“Teteh tidur lagi ya.. Gak ada yang bakal jahatin kalian lagi. Saya gak akan biarkan orang itu atau siapapun menyakiti Teteh dan anak-anak lagi. Sssssh tidur lagi ya. Biar Teteh cepat pulih.”

__ADS_1


“Suruh Kakak kunci pintu kamar, jagain Adik. Kunci kamarnya supaya orang itu tidak masuk. Biar saya saja yang menahan orang itu. Saya lebih kuat. Mereka masih anak-anak," Arini berbisik.


Indra mengernyit. Menatap ke bawah, mata Arini terpejam. Dia tertidur dan mengigau.


“Teh.. Teh Arin bangun dulu ya... Yuk minum dulu..” Indra mengguncang sedikit bahu Arini.


“Eh? Kenapa? A Indra?” Arini terlihat bingung.


“Alhamdulillah.. akhirnya Teh Arin bisa bangun juga..” Indra membelai punggungnya, “Minum dulu ya..”


“Saya kenapa?” air hangat yang di gelas habis separuh.


“Teteh mengigau sampai infusnya jatuh. Sudah, gak usah dipikirkan lagi,” Indra menatap mata Arini, menyibak rambut yang menutupi wajahnya kemudian mengambil kerudung segiempat polos, memakaikannya ke kepala Arini untuk menutupi rambutnya, “Sudah rapi. Sudah cantik lagi..”


Pipi Arini merona.


“Kenapa A?” Arini menatap Indra, “Kenapa A Indra begitu baik terhadap saya dan anak-anak. Kenapa A Indra memperlakukan saya dengan sangat baik dan lembut? Tolong jangan buat saya jadi salah mengira. Jangan membuat saya menjadi terhanyut dengan kelembutan A Indra.”


Indra menurunkan handrail bed, lalu duduk di bed Arini. Mengatur nafasnya juga degup jantungnya yang mendadak menggila mendengar pertanyaan Arini.


“Bagaimana kalau saya memang ada rasa dengan Teteh?” Indra mengambil tisu untuk mengelap keringat yang tiba-tiba muncul di pelipisnya. Udara terasa gerah.


Arini memiringkan wajahnya.


“Kenapa? Karena kasihan?” mata Arini menatap Indra dingin.


Indra tertegun. Dia tidak menyukai tatapan mata Arini kali ini.


“Karena saya menyayangi Kakak dan Adik terlebih dahulu sebelum saya menyadari bahwa saya juga menyayangi Bundanya.”


Kening Arini mengernyit.


“Maksudnya?”


“Rasa suka saya ke Teh Arin itu bukan rasa suka yang biasa. Bukan rasa suka yang timbul dari rasa kasihan. Saya tidak mau memulai suatu hubungan dari rasa kasihan karena kita hanya akan merasa terjebak dengan rasa yang kita bangun.”


“Ijinkan saya untuk memperjuangkan Teh Arin.”


Arini menggeleng.


“Jangan saya. Saya tidak pantas untuk A Indra. Cari saja gadis yang lainnya..”


Hati Indra mencelos. Dia tidak pernah ditolak dalam hal apapun. Untuk urusan percintaan, penolakan selalu berasal darinya bukan dari pihak wanita. Hatinya tercubit. Begini ternyata rasanya ditolak.


“Kenapa?” Indra menelan ludah yang terasa pahit.


“Saya.. saya tidak mau lagi anak-anak terluka,” iris mata bunga matahari itu terlihat suram, “Saya.. saya juga tidak mau terluka lagi."


Indra menunduk. Memejamkan matanya lalu meraih tangan Arini. Menyelimuti telapak tangannya yang halus dengan kedua telapak tangannya yang besar.


“Andai kamu tahu.. seberapa besar perasaan yang saya rasakan untuk kamu dan anak-anak..” masih memejamkan matanya, “Andai kamu tahu bagaimana perjuangan dan penantian saya untuk menemukan kalian...”


Arini memiringkan wajahnya. Mengamati raut wajah Indra dalam temaram lampu tidur.


Ada ketegasan di sana. Ada kejujuran yang terpatri di wajahnya. Ada kasih sayang yang sangat besar dalam suara ataupun tingkah lakunya.


Arini menggeleng. Dia sadar diri. Indra adalah sosok yang terlalu jauh untuk dia rengkuh. Fatamorgana.


“Saya tidak mau, hanya karena saya yang seorang janda, hubungan A Indra dengan kedua orangtua Aa jadi renggang.”


Indra menggelengkan kepalanya. Matanya terbuka. Menatap mata Arini yang memandanginya.


“Papi tidak masalah dengan status Teh Arin. Begitu juga dengan Om dan Tante Al, apalagi dengan Ayah dan Bunda. Saudara-saudara saya yang lain juga sangat mendukung kita untuk bisa bersama,” Indra menatap Arini yang tampak terkejut dengan ucapannya.

__ADS_1


“Saya tidak berbohong,” Indra berucap lagi.


“Saya percaya. Tapi ridho Allah pada anak terletak pada ridho orangtuanya yaitu ibunya,” mata Arini mengembun, “Bagaimana dengan Mami? Saya tahu Mami tidak akan setuju melihat anak lelaki satu-satunya menikahi janda beranak dua.”


Indra menarik nafas dalam, "Tentang restu Mami, kami semua sedang membujuknya.”


Arini memicingkan matanya.


“Kenapa A?”


“Karena kamu adalah wanita istimewa bagi saya setelah Mami.”


Arini terdiam. Dia hanya mampu menatap mata Indra. Indra tersenyum. Dia membelai rahang bawah Arini dengan punggung tangannya.


“Tidurlah. Jangan terlalu dipikirkan. OK? Biar saya yang mengurus semuanya. Biar saya yang akan terus memperjuangkan kamu, Arini.”


Pertama kali Indra menyebut nama Arini tanpa embel-embel Teteh membuat efek yang luar biasa pada tubuhnya. Indra menjauhkan punggung tangannya dari rahang Arini. Dia bahkan sampai mengusap tengkuknya yang dirasa meremang.


Sensasi kesetrum itu. Denyutan yang menggila di jantung dan hatinya. Benar -benar membuatnya pusing.


Arini tampak terkejut. Kedua pipinya bersemu merah muda. Dia belum pernah berada di situasi yang membingungkan seperti ini.


Indra menekan remote bed hingga agak rebah. Memperbaiki selimut Arini.


Menepuk-nepuk punggung tangan Arini.


“Good night. Have a sweet dream. Assalamu’alaikum.”


Arini tersenyum kaku.


“Wa’alaikumussalam.”


Indra berjalan ke sofa bed. Melihat arlojinya lalu mengambil gawainya.


WAG Kuping Merah.


Indra_02.11, gue nembak Arini. Dan gue ditolak. Ternyata begini rasanya ditolak, Guys... (emot patah hati)_


Indra merebahkan dirinya. Menatap plafon berharap dirinya cepat terlelap.


“A Indra..” suara Arini memanggilnya.


Indra menyibak sedikit tirai pembatas.


“Ada apa?”


Arini memiringkan tubuhnya menghadap Indra. Menatap Indra dengan mata bunga mataharinya yang tampak lelah.


“Ma’afkan saya. Saya tidak bermaksud membuat A Indra kecewa. Tapi.. mungkin saya belum berniat untuk menjalin hubungan lagi dengan pria manapun..”


“Saya tahu pasti Teteh merasa ini terlalu cepat. Kita baru saling kenal dan ada musibah yang mendekatkan kita..” Indra menggeleng, “It’s OK. Jangan terlalu dipikirkan. Tidur saja, ya.”


Mereka berdua saling tatap dalam waktu yang lama Arini memejamkan matanya. Indra tersenyum menatap wanita yang begitu istimewa di hatinya terlelap.


[Tidurlah. Aku tidak akan berhenti untuk mengejarmu, Arini]


.


***


Bang Indra ditolak, Guys...🥀🥀🥀


Apa kata anggota WAG nantinya ya?

__ADS_1


♨️Ma’af telat posting. Udara panas menghambat Author untuk menghalu. Bogor is very nglekeb tonight.♨️


Utamakan baca Qur’an ya...🌷


__ADS_2