
Agung hanya sebentar di rumah sakit. Tujuannya untuk mengantarkan Adinda dan juga menemui Papi yang menjadi bosnya.
Melaporkan rapat yang pagi tadi diserahkan kepadanya untuk dipimpinnya setelah Pak Kusumawardhani mendapat kabar dari Hans agar segera ke rumah sakit.
Menjelang sore, Mommy datang bersama Bramasta. Tidak berapa lama, Adisti dan Bunda datang dari Garut. Suasana di ruang VIP itu mendadak ramai.
Abay dan Alif senang sekali bertemu orang-orang baru yang baik hati. Adisti membawakan pensil warna dan buku mewarnai untuk Alif dan Abay.
Sedangkan Mommy membawakan bunga matahari yang membuat suasana di bed Arini jadi semarak.
“Selalu semangat ya Arini. Jangan merasa sendiri, sekarang kamu punya kami,” Mommy tersenyum pada Arini.
“Jadilah seperti bunga matahari. Ukuran dan warnanya begitu mempesona dan semarak. Menimbulkan rasa semangat saat melihatnya. Kamu harus selalu semangat untuk anak-anak ya..” Mommy seperti biasa berceloteh dengan ceria seperti burung liat di pagi hari.
“Terimakasih Nyonya..” Arini menjawab lirih.
“No... No...” Mommy menggelengkan telunjuknya, “Panggil Mommy, seperti yang lainnya. Cuma Indra saja yang tidak memanggil saya Mommy karena mirip dengan panggilan ke ibunya, Mami.”
“Memangnya A Indra memanggil Mommy apa?“
“Indra dari dulu panggil saya Tante Al dan panggil Daddy Bramasta dengan sebutan Om Al.”
“Ma'af.. Saya belum bisa tersenyum.. Terlalu perih untuk digerakkan..”
Mommy membelai tangan Arini.
“It’s Okay. Semoga kamu dan anak-anak bisa melupakan kenangan buruk ini ya. Mudah-mudahan Allah akan menggantikannya dengan kenangan yang jauh-jauh lebih baik dan lebih spesial untuk dikenang.”
“Aamiin...,” mata Arini menggenang.
Dia menyadari dengan siapa dia berbicara. Bukan orang kebanyakan. Bukan sekedar sosialita ataupun selebriti yang kebanyakan sibuk flexing tentang kehidupannya di instagram.
Tapi lebih dari itu. Dia tahu dari media tentang kekayaan keluarga Sanjaya. Dan masyarakat luas tahu kebaikan-kebaikan keluarga Sanjaya untuk masyarakat.
Dan sore ini dia merasakan sendiri kebaikan dan ketulusan hati dari Nyonya Almira Sanjaya.
__ADS_1
Mami membuka tirai bed, ada Bunda dan Adisti di belakangnya.
“Assalamu’alaikum...” salam Bunda dan Adisti bersamaan.
Adisti dan Bunda tampak terkejut melihat kondisi Arini yang babak belur.
“Teteh Arini, ya Allah...” Adisti memeluk pelan Arini, “Kita bertemu kemarin. Teteh masih sehat wal afiat. Walau tangan Teteh kemarin cedera, tapi keadaannya masih baik-baik saja..”
Adisti melanjutkan lagi.
“Ma’af saya baru bisa datang sekarang. Pagi tadi langsung jemput Bunda dan berangkat ke Garut. Baru dikabari oleh Bang Bram tentang keadaan Teteh menjelang siang tadi..”
“Gak apa-apa Teh Disti. Di sini saya dan anak-anak diurus dengan baik oleh A Indra, Bapak dan Ibu Kusumawardhani juga oleh Tuan Hans.”
“Nak Arini, semoga ujian kali ini membuat Nak Arini dan anak-anak naik kelas dan mendapat balasan yang berlipat ganda. Mengganti kesusahan di hari ini dengan rasa bahagia yang tak terhingga di esok hari. Tetap semangat ya supaya bisa lulus ujiannya,” Bunda tersenyum pada Arini.
Arini menatap wajah Bunda, wanita yang menjadi ibu dari Adisti dan Agung. Wanita yang bijaksana dan punya pengetahuan agama yang luas juga pengetahuan di bidang urban farming.
“Tuh, dengar nasihat dari kami ya Nak Arini. Jangan patah semangat. Jangan lagi mengucap hal-hal yang menyedihkan untuk anak-anak,” Mami mengelus kaki Arini yang tertutup selimut.
Mata Arini menggenang lagi. Bulirnya jatuh di pipinya. Mommy yang duduk dekat Arini dengan sigap mengambil tisu di atas nakas dan mengelap dengan hati-hati.
“Yang ada di pikiran saya, bila saya menyerahkan diri kepada orang itu, maka dendamnya akan selesai,” Arini meminta tisu pada Mommy, mengelap hidungnya.
“Saya baru menyadari yang sebenarnya dia inginkan dari perspektif A Indra. Dia menyadarkan saya bahwa yang orang itu kejar bukan hanya saya tapi juga harta saya, aset-aset saya untuk anak-anak saya. Apalagi bisnisnya mengalami kemunduran berkebalikan dengan bisnis kecil-kecilan milik saya.”
Mami mengelus lagi kaki Arini.
“Gak apa-apa kan kaki kamu saya elus seperti ini? Cedera tidak kaki kamu?” tanya Mami baru teringat.
"Tulang kering dan paha saya memar-memar ditendangi orang itu, Bu..” jawab Arinni yang membuat mereka terkesiap.
“Subhanallah...”
“Ada ya laki-laki pengecut seperti itu..”
__ADS_1
Arini memandang Mami, “Tapi gak apa-apa kok Bu dielus seperti itu asal jangan ditekan..”
Mami memandang sendu pada Arini. Matanya berkabut.
“Pasti terasa berat sekali hari ini buat kamu dan Alif, Nak..” Mami menyeka sudut matanya, “Ma’afkan sikap Indra tadi ya. Baru kali ini Indra bersikap seperti itu kepada seorang wanita. Papinya dan Hans sampai menegur Indra..”
“Saya.. saya memahami sikap A Indra, Bu. Dia tidak bermaksud berbicara kasar pada saya. Dia hanya ingin menyadarkan saya untuk bersikap realistis. A Indra mungkin gregetan dengan sikap saya yang ngeyel..”
Mommy, Bunda dan Adisti sudah tahu cerita apa yang terjadi sepanjang siang tadi dari Bramasta. Itu sebabnya mereka segera pulang ke Bandung secepatnya.
“Tentang Nak Arini yang tidak mau melaporkan bapaknya anak-anak kepada yang berwajib, kami bisa mengerti sebagai seorang ibu. Apalagi melihat kepribadian yang sangat luar biasa dari Alif dan Abay,”
“Alif, dia sudah mengerti dan menyadari apa yang sudah terjadi antara kedua orangtuanya,” Arini berhenti sejenak, “Abay yang masih belum begitu mengerti. Minggu lalu, sepulang sekolah dia seperti sedih tidak bersemangat.”
“Kenapa?” tanya Mami.
“Abay menanyakan kenapa ayahnya tidak menyayangi dirinya dan Alif. Tidak seperti teman-temannya yang diantar jemput oleh ayah mereka. Kata Alif, Abay setiap melihat ayah temannya yang menjemput, dia selalu membuang muka. Tidak mau melihat. Sakit hati, katanya.”
“Lalu apa kata Alif pada Abay?” tanya Adisti.
“Saya mencuri dengar percakapan mereka sebelum mereka tidur. Kata Alif, Abay harus bersyukur tidak ada ayah lagi di antara kami. Karena kalau masih ada, bukan tidak mungkin Abay juga akan menjadi korban kekerasan ayahnya.”
“Semoga Alif dan Abay bisa punya ayah pengganti yang sangat menyayangi mereka. Jauh lebih baik daripada ayah kandungnya,” do’a Bunda yang diaminkan oleh Mommy dan Adisti.
Kemudian tersadar dengan keberadaan Mami, Mommy dan Adisti melirik Mami yang membuang pandangannya ke arah jendela. Entah sedang menatap apa.
“Saya.. saya fokus untuk membesarkan anak-anak saja, Bun. Setelah dengan semua kejadian ini, rasanya berat sekali untuk memikirkan pendamping hidup baru. Saya takut gagal,” Arini merundukkan pandangannya, “Saya memang sepengecut itu, sepenakut itu. Daripada nantinya harus melihat kekecewaan anak-anak lagi..”
Mami menatap Arini.
.
***
Mami ih. Kadang baik kadang gaje....
__ADS_1