Mr. Secretary: Destiny Bound

Mr. Secretary: Destiny Bound
BAB 40 – MALAM YANG PANJANG


__ADS_3

“Papi dan Mami pulang saja. Biar Indra yang akan menjaga mereka,” Indra mengelus kepala Abay yang tengah tertidur di bed untuk keluarga, “Nanti minta Pak Mamat untuk mengantarkan baju tidur dan baju untuk besok. Indra masih ijin gak kerja dulu tapi besok Indra akan ke sekolah anak-anak.”


Mami mengangguk lalu menguap.


“Kamu sudah seperti papanya mereka, Son,” Papi terkekeh.


Mami menyikut Papi dengan tatapan sebal.


”Bercanda, Mi.. Bercanda..” Pak Dhani mengelus punggung istrinya, “Lagian Mami gak dengar apa kata Nyonya Al dan Bu Gumilar? Mami gak menyimak nasehat mereka?”


“Hati Mami masih belum menerimanya, Pi. Udah deh, gak usah maksa. Nanti malah Mami jadi badmood.”


“Abay apa gak sebaiknya ikut pulang bareng Mami dan Papi saja, Ndra?” tanya Papi.


“Iya.. kasihan loh Abay. Nanti sarapannya bagaimana?”


Indra terdiam. Menimbang-nimbang. Kemudian menggeleng.


“Biar Abay tidur di sini saja dengan Indra. Kasihan kalau mendadak dia bangun, gak ada Bunda dan kakaknya. Nanti malah rewel. Besok saja, Mami dan Papi bujuk Abay untuk mau pulang bersama kalian.”


“Kamu yakin bisa sendirian?”


“Insyaa Allah. Lagipula nanti pagi-pagi Dinda datang membantu. Dia pasti membawakan sarapan untuk Abay dan Indra. Selama Indra ke sekolah, Dinda yang akan menjaga mereka.”


“Baiklah kalau begitu. Papi dan Mami pulang dulu ya. Nanti Mami siapkan baju kamu untuk dibawa Pak Mamat ke sini.”


Indra mengangguk lalu salim. Dia hanya mengantar sampai ke depan lift kemudian kembali lagi ke kamar. Menyelimuti Abay lalu mengecek keadaan Alif dan Arini.


Indra menekan tombol perawat. Tidak berapa lama perawat datang sambil membawa botol infus yang baru. Rupanya mereka tahu untuk apa Indra memanggil perawat.


“Sudah hampir habis ya infus Ibu Arini?” tanyanya dengan suara pelan sebelum Indra menjelaskan kepada perawat.


Indra mengangguk. Lalu menyingkir dari bed agar pekerjaan perawat dapat diselesaikan dengan mudah.


“Sudah selesai, Suster?” tanya Indra.


“Sudah. Ma’af ya Bu. Ibu jadi terbangun. Pegal tidak lengannya?”


Arini bergumam tidak jelas.


“Kalau terasa pegal, coba kepalkan telapak tangannya lalu lepas. Lakukan berulang kali,” perawat itu tersenyum.


Arini bergumam tak jelas lagi.


“Silahkan lanjutkan lagi tidurnya ya Bu...” perawat itu tersenyum.


Dia beralih ke bed Alif. Memeriksa infus, tensi dan semua yang ada di monitor.


"Setelah makan malam tadi, Ananda Alif masih merasa mual tidak, Tuan Indra?”


“Tidak, Suster. Hanya dia masih mengeluh pusing dan sakit kepala.”


“Sepertinya, besok kita periksa lagi keadaan kepala Alif. Untuk lebih pastinya nanti setelah dokternya Alif melakukan visit dokter.”

__ADS_1


“Jam berapa biasanya visit dokter?”


“Sekitar jam 09.30.”


“Baik, saya akan usahakan sudah ada di sini lagi pada saat jam visit dokter.”


“Baik. Saya permisi. Hubungi kami bila ada apa-apa.”


“Terimakasih banyak..”


15 menit kemudian, Pak Mamat datang sambil membawa paper bag dan kantong baju dengan hanger-nya.


Setelah mandi dan berganti baju dengan Tshirt dan celana piyama, dia membuka laptopnya. Memeriksa pekerjaan yang nyaris tak tersentuh. Beberapa saat kemudian dia tersenyum. Anak buahnya sudah men-handle pekerjaannya dengan baik.


Abay bergerak gelisah di tidurnya. Indra menepuk-nepuk kakinya. Tidak berapa lama Abay sudah tenang kembali.


Menghampiri Arini yang tertidur dengan kerutan di keningnya. Indra memperbaiki letak selimutnya. Agak ragu memandang Arini akhirnya dia duduk di dekat Arini.


Mengamati wajah Arini. Sekarang kulit wajahnya jadi seperti kain perca yang ditempelkan. Berwarna-warni akibat memarnya. Tapi masih terlihat cantiknya.


Indra membuka galeri foto di gawainya. Hasil jepretan Adisti. Foto Arini bersama Alif dan Abay. Senyum tulus Arini. Iris mata bagai bunga mataharinya. Alis panjangnya. Terbingkai sempurna dalam wajah dewasa dan keibuan milik Arini.


[Arini.. calon istri?] kata hatinya membuat Indra mengerjap kaget.


[Jangan terlalu jauh berpikirnya. Nanti kecewa karena berharap pada manusia] pikirannya berbisik.


Indra beranjak dari kursinya. Menuju kamar mandi untuk berwudhu.


Dia memilih untuk menggantungkan harapan kepada Sang Khalik. Karena berharap kepada manusia sama dengan kita bersandar pada tiang yang rapuh. Saat tiangnya patah, kita pun ikut terjatuh.


Biasanya saat sholat di ruangan, space di samping sofa L menjadi tempat untuk sholat. Indra membawa sajadahnya di dekat tempat tidur keluarga pasien. Agar tidak jauh dari mereka.


Selesai bermunajat, terdengar suara erangan dari arah bed Alif. Gegas melipat sajadah.


Alif tidur dengan posisi meringkuk. Seperti sedang lindungi dirinya sendiri. Hati Indra terenyuh melihatnya. Sekecil itu harus mengalami kejadian yang seharusnya tidak terjadi padanya. Sekecil itu terpaksa menjadi dewasa karena keadaan.


Indra membelai pelan punggung Alif. Mengecup ubun-ubunnya dengan lembut. Menghibur Alif dengan kalimat yang menenangkannya.


Mata Alif terbuka. Menatap Indra lama dengan pandangan yang Indra sendiri tidak tahu seperti apa.


“Om..”


“Ya? Minum dulu ya supaya gak dehidrasi..”


Alif menurut. Menyesap air dalam botol kemasan hingga tersisa separuhnya.


“Kepala Kakak sakit..”


“Nanti kalau besok ketemu dokter, Kakak bilang ya. Supaya diobati..”


“Iya Om..”


“Tidur lagi ya..”

__ADS_1


“Kakak ingin dipeluk Om Indra sambil bobo..”


Indra terdiam sambil tersenyum.


“Om tidurnya sebelah sana ya, supaya bisa mengawasi Bunda dan Abay. Sebentar..”


Indra membuka semua tirai pembatas dengan bed Arini dan membuka tirai depan bed Alif. Allif menggeser tubuhnya.


Saat hendak naik ke bed Alif, Arini memanggilnya.


“A Indra..”


“Ya?” Indra menatap Arini, “Sebentar ya Kak. Om ke Bunda dulu..”


“Minum dulu ya Teh.”


Indra membantu mengelap mulut Arini dengan tisu.


“Saya ingin berbaring miring. Punggung saya pegal sekali.”


Indra membantu Arini untuk memiringkan tubuh Arini. Perawat memakaikan baju pasien dengan ikatan di bagian punggungnya. Ada simpul ikatan yang terlepas. Memperlihatkan punggung Arini dengan memar-memarnya yang terlihat sangat jelas di atas kulit terangnya.


“Ma’af Teh, ikatannya terlepas. Saya ikatkan dulu..” Indra mengikatkan tali bajunya dengan tatapan mengarah pada Alif yang sedang menatap mereka berdua.


“Kakak bangun?” Arini menatap Alif dari bednya.


“Kakak haus. Kepalanya juga sakit,” Indra menjelaskan dengan suara pelan.


Arini tiba-tiba memegang tangan Indra. Indra terkejut. Dia menatap tangan Arini yang memegangi tangannya.


“Alif...” Arini menatap Indra, “Dia baik-baik saja kan?”


Indra masih memandangi tangan Arini.


“A... Alif baik-baik saja kan?” Arini bertanya lagi kali ini sambil menggoyangkan tangan Indra.


Indra tersadar. Dia kemudian berlutut agar matanya sejajar dengan mata Arini. Arini menatapnya dengan tatapan cemas.


Indra berusaha tersenyum untuk menenangkan. Tangannya menepuk-nepuk tangan Arini.


“Kita do’akan semoga saja tidak ada hal yang mengkhawatirkan pada Kakak. Teteh tidur saja lagi ya. Jangan khawatir, saya akan menjaga kalian semua.”


Lagi, dadanya berdesir saat menatap mata Arini. Mata bunga matahari...


Bagi Indra, ini akan menjadi malam yang panjang. Bersyukur besok dia masih cuti.


.


***


Tidur Ndra.. besok mau ke sekolah Alif dan Abay kan?


Jangan lupa pencet like untuk menghitung retensi pembaca.

__ADS_1


(Supaya Author bisa gajian...😁)


__ADS_2