
TING!
Lift berdenting. Keempatnya keluar dari lift.
Seorang wanita cantik dengan jas putih didampingi perawat menyingkir untuk membiarkan mereka keluar dari lift. Saat langkah kakinya hendak memasuki lift, Indra berbalik dan langsung menahan pintu lift.
“Dokter Nagita?” Indra menatap dokter wanita tersebut, “Untung bertemu di sini..”
“Ah ya.. Tuan Indra, Tuan Bramasta..” Dokter Nagita mengangguk ramah, “Ada Tuan Agung juga dan ini... Taehyung BTS?”
Dokter Nagita keluar dari lift lalu menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dadanya karena dia hafal betul, para pria di B Group dan Sanjaya Group tidak berjabat tangan dengan wanita yang bukan mahromnya.
Dokter Nagita adalah salah satu dokter yang juga menjabat sebagai salah satu dewan direksi di rumah sakit yang sahamnya juga dimiliki Mommy. Dia juga jajaran direksi yang dulu menyambut Mommy, Bunda dan Adisti saat diserang di teras lobby oleh orang yang dibayar oleh ibu dari mantan tunangan Adisti.
“Dia Anton, Direktur Rancang Bangun di B Group,” Bramasta mengenalkan Anton kepada Dokter Nagita.
Anton mengangguk dan tersenyum ramah. Dokter Nagita balas mengangguk lalu memandang kepada Indra.
“Baru saja saya akan naik ke lantai 6 untuk berbicara dengan Tuan Indra sehubungan dengan laporan perawat atas permintaan Tuan Indra..”
“Saya baru saja akan mencari Dokter setelah berbicara dengan dokter yang menangani Alif...”
Bramasta mengangkat alisnya menatap Indra.
“Arini ingin melihat Alif..” Indra memandang Bramasta dan Dokter Nagita bergantian.
Dokter Nagita mengangguk.
“Saya sudah mengijinkan kepada para perawat di lantai 6 dan lantai 4 ini. Tetapi dengan prosedur ketat, mengingat kondisi Alif yang rentan infeksi,” Dokter Nagita meminta berkas pada perawat yang mendampinginya.
Dia membaca dengan cepat berkas yang ada di tangannya.
“Operasinya petang ini ya? Mudah-mudahan lancar ya, ini operasi yang ringan kok. Hanya memasang selang untuk menarik cairan yang berkumpul. Untuk selanjutnya cairan itu akan turun sendiri secara gravitasi.”
Dokter Nagita melanjutkan lagi setelah para pria di depannya tampak masih mencerna ucapannya.
“Walau ini terhitung sebagai operasi ringan, tapi karena dilakukan di kepala, harus dilakukan dengan sangat hati-hati.”
“Ringan bagi dokter yang terbiasa mengoperasi kepala, tapi bagi kami yang awam, mendengar kata operasi saja rasanya seperti mendapat guncangan gempa 8 skala Richter,” Indra mengacak lagi rambutnya.
“Ah ya...” Dokter Nagita tertawa, “Nanti kalau Ibu Arini mau menjenguk Alif, tinggal bilang saja ke perawat. Semua sudah dipersiapkan. Saya sudah mem-briefing mereka semua. Karena ini baru pertama kalinya terjadi di rumah sakit ini..”
“Terima kasih banyak, Dokter Nagita,” Indra mengangguk, “Alhamdulillah..”
Di depan ruang ICU, Adinda dan Adisti tengah memandangi jendela ruang tempat Alif dirawat.
Alif menempati ruang sendiri untuk menghindari hal-hal yang bisa menyebabkan infeksi. Ia tengah tertidur dengan latar belakang beberapa monitor serta selang dan kabel di tubuhnya.
Indra melangkahkan kakinya dengan tergesa menuju mereka. Di depan jendela besar yang gordennya sudah dibuka, Indra tertegun. Melihat tubuh kecil Alif dengan banyak selang dan kabel juga alat yang berada di mulut Alif.
“Abang..” Adinda menoleh pada Indra dengan mata basah, “Pagi tadi, belum ada alat yang dimulut itu. Sepertinya baru dipasang tadi..”
“Kalian sudah beritahu Mami atau Bunda tentang kondisi Alif?” Indra memandang Adisti dan Adinda.
Keduanya menggeleng.
“Kami menunggu instruksi Abang,” Adisti menjawab.
“Terima kasih..” Indra memandang Alif lagi, “Beritahu kondisi Alif kepada Mami dan Bunda, tapi jangan beritahu Teh Arini. Biarkan Abang yang menjelaskannya kepada Teh Arini.”
Agung dan Bramasta mengangguk setuju.
__ADS_1
“Dokternya di mana?” tanya Anton memandang Adisti dan Arini.
“Masih di dalam. Itu yang pakai kemeja kuning di balik jas dokternya,” Adisti menunjuk kepada pria berkacamata yang sedang berbicara dengan perawat pria di dalam ruangan Alif.
Indra mengetuk kaca jendela. Perawat dan dokter menoleh. Indra melambaikan tangan kepada dokter. Perawat berkata sesuatu kepada doker. Dokter itu mengangguk.
10 menit kemudian, dokter berkemeja kuning itu keluar dari ruang ICU. Dia langsung menghampiri sofa tempat Indra dan yang lainnya berkumpul.
“Assalamu’alaikum. Selamat siang, saya Dokter Kamal. Saya yang akan mengoperasi pasien Alif Ammar petang nanti.”
Indra berdiri lalu menjabat tangannya.
“Saya Indra Kusumawardhani. Saya wali dari pasien Alif Ammar dan pasien Arini Kusumaningtyas, bundanya Alif.”
“Wah, mimpi apa saya semalam bisa bertemu orang-orang hebat di sini. Para petinggi B Group, Nona Adisti dan Tuan Agung, juga ini.. Nona Adinda ya. Adik saya menjadi dokter dari Nona Adinda saat Nona dirawat di sini.”
“Oh ya?” Adinda dan Agung bersamaan berbicara.
“Sampaikan salam kami untuk bu dokter ya Pak.”
“Perkembangan Nona Adinda menjadi pembicaraan terus-menerus di rumah kami..”Dokter Kamal tersenyum.
“Karena Adinda berada di lingkungan yang positif untuk mendorong kesembuhannya,” Bramasta tersenyum.
Dokter Kamal mengangguk setuju.
“Saya berharap keajaiban juga terjadi pada pasien Alif Ammar.”
Indra menatap Doker Kamal.
“Kenapa obatnya tidak bereaksi terhadap penumpukan cairan yang terdapat di otaknya?”
“Alat yang berada di mulut Alif..?”
“Itu intubator untuk memasukkan selang ventilator. Alat itu berfungsi untuk membuka saluran pernafasan Alif. Bukannya persetujuan pemasangan ventilator disetujui dan ditandatangani oleh Tuan Indra sendiri pagi menjelang siang tadi?” Dokter Kamal membuka berkas di tangannya lalu menunjukkan tandatangan Indra.
“Astaghfirullah.. saya sampai lupa...”
“Bisa dimaklumi. Pasti Anda harus menenangkan Bundanya Alif ya..”
Indra mengangguk.
“Boleh saya menemuinya?” tanya Indra berharap memandang jendela ruang Alif berada.
“Sure. Why not. Mungkin dengan adanya orang yang ia kenal, otaknya bisa merespon..” Dokter Kamal menatap Indra agak lama, “Tuan Indra ini...”
“Calon papa sambungnya,” Bramasta menjawab cepat, “Do’akan saja seperti itu..”
“Aamiin..” Dokter Kamal spontan mengaminkan ucapan Bramasta.
“Sudah sana buruan Bang..” Agung menepuk punggung Indra, “Jangan terlalu lama karena Abang harus menjelaskan kepada Teh Arini tentang keadaan Alif..”
“Iiya..” Indra bergegas ke dalam ICU.
Indra sudah memakai baju steril yang disediakan untuk pengunjung. Memakai alas kaki juga tutup kepala khusus. Hatinya berdebar memasuki ruangan Alif berada.
Aroma obat tersamarkan dengan parfum ruangan beraroma apel yang menyegarkan.
“Assalamu’alaikum Kakak..” Indra membungkuk di atas telinga Alif, “Kakak tadi pagi kenapa? Om masih di sekolah Kakak tadi saat Tante Dinda menelepon sambil menangis tentang kondisi Kakak..”
Alif bergeming. Hanya terdengar suara tarikan nafas dari mesin ventilator juga bunyi statis peralatan medis di ruangan. Indra menatap jendela, semuanya tengah menatap mereka berdua dari luar jendela.
__ADS_1
“Kakak.. Adik belum tahu loh tentang keadaan Kakak Alif sekarang. Adik pasti sedih banget nanti sore. Adik masih sekolah...” mata Indra basah.
Indra memegang tangan Alif. Telapak tangannya terasa mungil sekali dibandingkan telapak tangannya. Indra memainkan jemari Alif.
“Kakak.. sore nanti, Kakak jangan takut ya.. Kepala Kakak akan...” Indra terdiam, dia mencari kalimat yang mudah dipahami dan tidak menakuti Alif.
Dia tidak mau menggunakan kata “operasi” kepada Alif yang masih kecil. Sebagai orang dewasa saja dia merinding mendengar kata tersebut apalagi anak kecil. Indra menyeka pipinya yang semakin basah.
“Kakak... Kakak punya mainan robot gak?” Indra menyeka pipi dengan punggung tangannya.
Suaranya sudah sengau. Telunjuknya diletakkan di antara ibu jari dan telunjuk Alif. Remasan lembut terasa pada telunjuk Indra. Dia melihat tidak percaya kepada telunjuknya yang tengah dipegang oleh Alif.
Berharap Alif membuka matanya, Indra menatap wajah Alif. Tapi Alif masih terpejam dengan bulu mata yang lentik dan intubator pada mulutnya.
Indra menengok ke arah perawat pria yang sedang mengamati monitor Alif melalui layar komputer dari mejanya. Dia balas menatap Indra. Lalu menunjuk pada layar monitornya.
Dia memberi isyarat dengan tangannya untuk terus mengajak Alif bicara. Indra mengangguk mengerti.
“Kakak... punya mainan robot? Sering mainin bareng Adik?” berharap ada respon lagi dari Alif dia menatap telunjuknya. Tapi tidak ada pergerakan pada telunjuknya.
“Kadang, mainan robot bisa rusak karena benturan akibat terjatuh. Iya kan?” Indra berbicara sambil menatap Alif, “Kakak atau Adik pernah berebut mainan robot itu sampai membuatnya rusak?”
Remasan pada telunjuknya terasa lagi. Indra melanjutkan bicaranya sambil tersenyum walau pipinya basah.
“Kakak.. Om harap mainan robot Kakak nggak dibuang ya.. Masih bisa diperbaiki kok. Nanti kita minta Om Anton untuk perbaiki mainan robot Kakak ya?”
“Kepala Kakak.. sore nanti akan diperbaiki dulu ya. Kata Om Dokter, ada cairan yang bocor di dalam kepala Kakak. Cairannya harus dikeluarkan dulu. Supaya kepala Kakak nggak sakit lagi, nggak pusing lagi...”
Indra terdiam sejenak. Berusaha merasakan respon Alif.
“Supaya Kakak bisa bangun lagi. Ngobrol lagi dengan semuanya. Kakak berani ya.. Nanti kami semua menunggu Kakak di luar ruangan. Supaya Kakak cepat sembuh, Om bisa peluk Kakak sambil tidur lagi... Alif suka tidur dipeluk Om Indra?” Indra menyeka pipi dengan punggung tangannya lagi.
Respon Alif terasa kuat kali ini. Indra sampai terlonjak kaget.
“Om mau ajak Bunda ke sini. Kakak mau ketemu Bunda? Kangen Bunda?”
Lagi, rematan kuat terasa di telunjuknya.
“Om jemput Bunda dulu ya.. Alif menunggu di sini. Jangan takut, di luar ada Tante Dinda, Tante Disti, Om Bram, Om Agung juga Om Anton yang jagain Kakak..”
Indra berdiri dari kursi samping bed Alif. Menepuk telapak tangan Alif.
“Om akan ke sini lagi, Kak.. bersama Bunda.”
Tidak ada respon dari Alif. Indra berbalik. Melangkah menuju meja perawat. Perawat itu menunjukkan dua ibu jarinya yang teracung kepada Indra.
.
***
Cepat sembuh Kakak Alif.
Anak kecil pulih lebih cepat daripada orang dewasa
Jangan lupa pencet tombol like ya.
Untuk menghitung jumlah retensi pembaca.
Utamakan baca Qur'an, Readers
🌷
__ADS_1