
“Ma’af Pak.. kejadiannya cepat sekali. Saya sama sekali tidak menyangka Abay akan dicubit. Saya sudah berusaha menghentikan ibu itu tetapi dia mengancam saya dan menghina saya. Saya cuma orang kecil Pak. Ini pekerjaan saya satu-satunya sebagai tulang punggung keluarga. Ibu itu mengancam saya akan meminta pihak sekolah untuk mengeluarkan saya dengan uang yang dia punya.”
Gawai kepala sekolah berbunyi. Dia membuka pesannya.
“Rekaman CCTV sudah ada di tangan saya. Nanti kita lihat bersama ya,” Ibu Kepala Sekolah membuka laptopnya untuk membuka kiriman video dari WA agar bisa ditonton bersama.
“Ibu itu juga mengata-ngatai Kakak Abay saat berusaha menolong adiknya. Bahkan menghina keluarganya juga. Maksud saya, ibu mereka yang menjadi orangtua tunggal. Kata-katanya tidak pantas untuk didengar anak kecil seperti mereka,” Pak Adi menjelaskan lagi.
Indra menggelengkan kepalanya. Dia merasakan sakit hati saat mengetahui Abay dan Alif diperlakukan dan dihina seperti itu.
“Saat saya berusaha menarik ibu itu untuk menjauhi mobil, saya malah didorong olehnya.”
“Apa yang dilakukan oleh anak-anak pada saat itu?” Indra bertanya kali ini dengan nada lunak.
“Abay menangis karena kesakitan akibat dicubit. Alif berusaha menenangkan adiknya. Dia memeluk adiknya, menghiburnya. Saya ingat kata-kata Alif, Dek, jangan menangis lagi. Nanti kalau di rumah, kita biasa saja ya supaya Bunda tidak tahu kejadian ini. Bunda pasti sedih.”
“Bundanya Alif dan Abay tahu akan hal ini?” Ibu Kepala Sekolah bertanya pada Indra.
Indra menggeleng.
“Saya yakin mereka tidak memberitahu Bundanya tentang peristiwa tersebut,” Indra menatap ke arah jendela, “Saya baru tahu dari Abay pagi ini saat hendak masuk ke dalam gedung sekolah. Ibu itu mengomentari saya yang sedang menggendong Abay dan menyebut-nyebut status Bundanya Abay yang seorang janda.”
“Subhanallah...” Ibu Kepala Sekolah mengggelengkan kepalanya.
Dia menekan tombol play melalui kursor mouse laptop. Rekaman CCTV di sekitar tempat parkir mobil jemputan.
Beberapa anak sudah memasuki mobil. Alif dan Abay datang dengan tangan saling bergandengan. Pak Adi tampak membantu menaikkan mereka di deretan bangku tengah.
Saat Pak Adi berada di kursi kemudinya, seorang ibu bertubuh agak gemuk dengan tangan penuh perhiasan emas membuka pintu tengah. Kemudian Pak Adi keluar dengan terburu-buru ke arah pintu tengah.
"Ma’af Bu. Bisa di-pause dulu? Lalu mundurkan saat ibu itu membuka pintu mobil. Perbesar gambarnya supaya kita bisa melihat apa yang dilakukan ibu tersebut.”
“Bagaimana caranya? Silahkan oleh Pak Indra saja yang lebih mengerti.”
Indra mengerjakannya lalu mengatur pencahayaan dan kekontrasan video. Kemudian menekan tombol play.
Tangan ibu itu langsung mengarah pada lengan Abay. Alif terlihat mendorong-dorong lengan ibu itu. Sesaat kemudian tampak ibu itu menunjuk-nunjuk ke wajah Alif.
Adegan selanjutnya, tangan si ibu itu ditarik oleh Pak Adi. Tubuh Pak Adi didorong keras oleh ibu itu hingga terhuyung. Tangannya menunjuk-nunjuk kepada Pak Adi. Pak Adi membungkukkan badannya sambil kedua telapak tangannya ditangkupkan di dadanya. Gestur meminta ma’af.
Cerita Abay dan cerita dari Pak Adi benar adanya.
“Subhanallah. Kami sungguh menyesali kejadian ini terjadi di lingkungan sekolah kami dan menimpa murid kami,” Ibu Kepala Sekolah memandang pada Indra, “Jangan khawatir Pak. Kami pasti akan menindaklanjuti kejadian ini. Baik pihak sekolah maupun pihak yayasan.”
“Sebenarnya ibu itu siapa sih sampai bisa bertindak sejauh itu dan mengancam orang lain?”
“Dia istri seorang pengusaha kontraktor.”
Alis Indra terangkat sebelah. Kemudian tersenyum .
“Kalau saya meminta nama suaminya, pasti ibu tidak akan memberikannya atas nama kerahasiaan data.”
Ibu Kepala Sekolah tersenyum lalu mengangguk.
“Betul sekali Pak Indra.”
__ADS_1
“Pak Adi, lain kali bila terjadi kejadian seperti ini langsung laporkan ya Pak. Jangan takut, kerahasiaan pelapor akan kami lindungi,” Ibu Kepala Sekolah memandang pada Pak Adi.
“Iya Bu. Ma’afkan saya yang tidak bisa melindungi anak-anak.”
“Pak Adi sudah melakukan apa yang Bapak bisa lakukan. Saya yakin pihak sekolah ataupun yayasan tidak akan memecat Bapak. Bukan begitu, Bu?”
Ibu Kepala Sekolah mengangguk.
“Betul sekali, Pak. Silahkan Bapak kembali ke tempat Bapak.”
Setelah Pak Adi berlalu, Indra menatap Ibu Kepala Sekolah.
“Keamanan dan keselamatan Abay dan Alif menjadi tanggung saya. Saya tidak akan membiarkan seseorang menyakiti mereka. Saya percaya pihak sekolah akan melaksanakan kewajibannya untuk melindungi para siswanya selama berada di lingkungan sekolah.”
Ibu Kepala Sekolah mengangguk mengerti dengan arah pembicaraan Indra.
“Saya akan tetap mengawal kasus ini, Pak. Saya akan menghubungi pihak kepala sekolah SD dan wali kelas Alif untuk ikut mengawal kasus ini dan membicarakannya dengan pihak yayasan.”
“Terima kasih banyak Bu,” Indra tersenyum puas, “Ibu pastinya sudah mendengar apa yang menimpa Bunda dan kakaknya Abay. Karena itu saya meminta pengawasan pada Abay saat pulang sekolah nantinya.”
“Maksudnya bagaimana Pak indra?”
“Pelaku penyerangan bunda dan kakaknya Abay tidak dilaporkan kepada pihak berwajib karena sesuatu hal. Oleh karena itu untuk menghindari penculikan terhadap Abay, setiap pulang sekolah dia akan dijemput oleh pegawai kepercayaan Bundanya yang bernama Husna. Umurnya 25 taun dan tengah hamil.”
“Baik Pak, nanti akan saya sampaikan kepada walikelas dan security.”
“Terima kasih banyak Bu. Sekarang saya harus ke walikelas Alif dulu untuk mengantarkan surat keterangan dari rumah sakit.”
“Oh iya Pak Indra. Sama-sama..”
Indra mengucapkan salam lalu berlalu dari dari ruang kepala sekolah PG dan TK menuju gedung 4 lantai yang berwarna krem.
“Assalamu’alaikum..” salam Indra di depan pintu ruang guru.
Hanya ada beberapa orang di ruang guru. Semuanya sedang menghadapi berkas-berkas. Mungkin berkas soal ulangan ataupun tugas murid.
Seorang guru wanita yang masih muda melongokkan wajahnya ke arah pintu. Lalu seketika berdiri.
“Wa’alaikumussalam.... Pak Indra Kusumawardhani? Sekretaris B Group? Masyaa Allah.. mimpi apa semalam ketemu seleb di sini..” gegas menghampiri Indra di pintu untuk mempersilahkan duduk.
Guru-guru yang lain ikut melongokkan wajahnya dari kubikelnya. Ikut berdiri dan tersenyum ke arah Indra. Beberapa menghampiri Indra.
Indra tersenyum canggung. Lalu menganggukkan kepala.
“Iya, Bu. Saya Indra Kusumawardhani.”
“Ada yang bisa kami bantu, Pak Indra?” tanya seorang guru lainnya yang wajahnya terlihat lebih senior.
“Saya ingin bertemu dengan guru walikelasnya Alif Ammar, kelas 1 B, untuk menyerahkan surat keterangan sakit dan terkait dengan kemarin tidak bisa mengikuti kegiatan belajar.”
“Muridnya Ustadzah Dian,” seorang guru berkata, “Sebentar saya hubungi Beliau ya Pak.”
Kepala sekolah keluar dari ruangannya dan melihat Indra di sofa ruang guru.
__ADS_1
“Assalamu’alaikum.. Masyaa Allah, ternyata sudah ada di sini. Saya kepala sekolah SD.”
Indra tersenyum dengan bingung. Dia menjawab salamnya.
“Ibu menunggu saya?”
“Ibu Ela, Kepala Sekolah PG dan TK sudah memberitahu saya tentang kejadian minggu lalu dan rekaman video CCTV juga sudah dikirimkan. Sekalian saja kita bicarakan lagi di sini ya Pak dengan pihak yayasan juga.”
Guru-guru yang lain saling berpandangan tidak mengerti. Suara salam di pintu terdengar. Seorang guru wanita masuk ke ruangan, mengenalkan diri sebagai Ustadzah Dian, walikelasnya Alif. Lalu kemudian masuk juga Ibu Kepala Sekolah PG dan TK juga seorang pria yang katanya adalah bagian humas dari pihak yayasan.
Setelah saling mengenalkan diri, Indra menyerahkan surat keterangan sakit dari rumah sakit kepada Ustadzah Dian.
“Kami semua mendengar kejadian Ibu Arini dan Alif diserang orang disaat pagi buta , kaget Pak. Sebenarnya bagaimana kejadiannya?” tanya Ustadzah Dian.
Indra menjelaskan kronologi singkatnya.
“Alif ikut diserang karena berusaha melindungi Bundanya. Dia berhasil si pelaku berhenti menendangi Bundanya dengan memukul punggung si pelaku. Tapi akibatnya, Alif dilempar hingga kepala dan punggungnya terbentur sudut tembok.”
“Subhanallah. Sama seperti di video CCTV itu ya, Alif berusaha melindungi adiknya dari cubitan orangtua murid saat di dalam mobil jemputan?” Ibu Kepala Sekolah SD menggelengkan kepalanya.
“Ma’af, ada kejadian apa sebenarnya?” tanya Ustadzah Dian memandang kepada Ibu Kepala Sekolah SD.
Ibu Kepala Sekolah SD bersama dengan ibu Kepala Sekolah PG dan TK saling menjelaskan kejadian seminggu yang lalu. Para guru terdengar gemas dengan kejadian tersebut.
“Saya berharap kejadian seperti itu tidak terjadi lagi kepada anak lainnya. Bayangkan jika anak kecil yang disakiti itu mengadu kepada orangtuanya. Apa gak jadi ribut nantinya di sekolah?” Indra tersenyum memandang kepada humas yayasan.
Pria dengan kemeja berwarna hijau muda itu mengangguk.
“Kami selaku pihak yayasan dan sekolah meminta ma’af atas kejadian hal tersebut, Pak Indra. Kami akan menindak tegas kepada ibu pelaku tersebut. Agar dia menjadi jera dan tidak mengulangi lagi perbuatannya juga supaya menjadi contoh yang bagi orangtua murid lainnya,” Humas Yayasan memandang kepada Indra.
“Sebaiknya diusia sekecil itu, bila terjadi kesalahpahaman di sekolah apalagi di jam pelajaran sekolah, orangtua tidak perlu ikut campur selama tidak ada luka fisik. Percayakan saja kepada para ustadzah selaku guru mereka. Dan kalaupun tidak terima dengan kejadian tersebut bisa bertabayun dahulu kepada para ustadzahnya,” Ibu Kepala Sekolah PG dan TK berkata bijak.
Semua orang mengangguk setuju.
Gawai Indra berdering. Panggilan masuk dari Adinda. Indra meminta ijin untuk menerima panggilannya.
“Assalamu’alaikum, Din. Ada apa? Abang masih di sekolah.” Jeda.
“Apa??” Indra sontak berdiri dengan wajah panik, “Iya. Abang ke rumah sakit sekarang!”
Indra menutup panggilannya lalu menghadap ke semua orang.
“Ma’af, saya harus segera pergi. Alif mengalami kejang.”
“Subhanallah!” seru semua orang di ruangan itu.
“Abay bagaimana Pak?” tanya Ibu Kepala Sekolah PG dan TK.
“Biarkan saja dia ikut belajar di kelas. Untuk mengalihkan perhatiannya dari kesedihan melihat kondisi Bunda dan kakaknya sekarang ini. Nanti akan ada yang menjemputnya,” Indra memasukkan gawainya ke saku celana, “Saya permisi. Assalamu’alaikum.”
.
***
Tiba-tiba jadi ayah langsung diserbu berbagai persoalan. Sabar Ndra...
__ADS_1
Jangan lupa pencet like untuk menghitung retensi pembaca ya Readers..🙏🏼
Love you..