Mr. Secretary: Destiny Bound

Mr. Secretary: Destiny Bound
BAB 56 – CERITA TATANG


__ADS_3

“Kalian kenal wanita itu?” Daddy memandang Indra, Agung dan Anton.


Hans mengernyitkan dahinya. Lalu menatap Indra menuntut penjelasan.


“Wanita itu yang ghibahin Indra di video TowTow. Adisti yang menginformasikannya kepada kita. Karena para wanita di B Group tidak terima sekretaris kesayangan mereka dihina seperti itu..” Anton menjelaskan sambil membuka WA Web.


Video yang diteruskan Adisti ke WA Anton muncul. Semua menonton videonya dengan geram.


Daddy dan Papi wajahnya merah padam.


“Ini bagaimana ceritanya, Ndra?”


Indra memberikan penjelasan kepada Papi, Daddy dan Ayah juga Hans tentang kejadian pagi tadi di sekolah. Juga tentang kejadian minggu lalu yang menimpa Alif dan Abay dengan pelaku yang sama. Dan cerita Husna saat menjemput Abay tadi.


“Kurang ajar betul dia!” reaksi Daddy sama dengan reaksi Bramasta, “Hans, kamu tahu siapa dia? Besok, saya minta data dirinya lengkap di meja saya!”


“Baik, Tuan Alwin,” Hans berkata sambil sedikit membungkukkan tubuh jangkungnya.


“Ma’af...” suara Pak Imam yang bergetar menyadarkan mereka semua, “Jadi, wanita ini yang menabrak Lilis?”


“Bisa dipastikan dia, Pak Imam..”


Anton menggerakkan kursor ke video rekaman CCTV sekolah seminggu yang lalu. Dia sudah membuat video zoom in-nya.


Ayah, Daddy dan Papi menggeleng tidak percaya dengan kelakuan perempuan itu. Hans mengetatkan rahangnya dengan wajah merah.


Daddy menepuk pundak Pak Imam.


“Jangan khawatir, Pak Imam.. Perempuan itu akan kita ringkus dan harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Kita mempunyai musuh yang sama.”


“Anak-anak itu..” Pak Imam tidak meneruskan kalimatnya.


Papi mengangguk.


“Mereka cucu kami. Yang di dalam sana.....” Papi menunjuk pintu ruang operasi, ”....adalah cucu pertama saya.”


Indra mendongak menatap Papi. Papi menatap Indra. Lalu mengangguk dengan mantap dan yakin.


Agung menepuk punggung Indra. Lalu merangkul bahunya. Hans tersenyum pada Indra.


Seorang anak muda bertubuh sedang dengan kulit kecoklatan menghampiri mereka.


“Apa...Mamah_Bapak...Mama_” dia menyalimi Pak Imam dan istrinya.


Bu Imam langsung menubruk tubuhnya, memeluknya sambil menangis sesunggukan.


“Alhamdulillah, Tang... Alhamdulillah. Kita bertemu dengan orang-orang baik.”


“Ini anak sulung saya. Namanya Tatang. Kami hanya punya dua anak,” Pak Imam memperkenalkan Tatang kepada mereka.


Tatang langsung menyalimi para orangtua dan bersalaman dengan yang lainnya.


“Tadi saya berusaha mencari pinjaman untuk biaya operasi Lilis. Ke tetangga, nggak ada yang punya uang sebanyak itu. Jadi saya berusaha meminjam di perusahaan tempat saya bekerja.”


Tatang menunduk sambil mempermainkan jemarinya.


“Tapi.. walau pemilik perusahaan tempat saya bekerja adalah orang yang baik, rasanya saya segan untuk meminta bantuan pinjaman kepadanya.”


“Kenapa?” Ayah menatap Tatang.


“Karena perusahaan tempat saya sekarang bekerja itu perusahaan yang masih baru berdiri. Baru satu setengah bulan. Proyek yang digarap juga baru selesai 3 proyek. Masih ada 2 proyek lain yang masih dalam tahap pekerjaan,” Tatang terdiam sejenak lalu menatap Ayah, “Walaupun saya sudah bekerja dengan bos saya selama 7 tahun, semenjak saya lulus STM dulu.”


Anton memicingkan matanya sambil menatap Tatang.


“Tatang bekerja dimana?”


“Saya bekerja di BangunKuat, perusahaan kontraktor, Pak..”


Indra maju selangkah. Anton menegakkan punggungnya.


“Bukannya BangunKuat itu pecahan dari Persada Utama?” Indra memiringkan kepalanya.


Tatang mengangguk.


“Dulu saya bekerja di Persada Utama. Namun setelah direktur perusahaan ketahuan ada affair dengan sekretarisnya, rumah tangganya goyah. Ibu Irma memutuskan untuk hengkang dari Persada Utama. Dan membangun dari awal lagi BangunKuat.”

__ADS_1


“Ibu Irma itu... istri dari direktur Persada Utama?” Indra mengernyit.


Tatang mengangguk.


“Ibu Irma itu bukan sekedar istri direktur tapi dari tangan Beliaulah Persada Utama bisa besar dan berkembang seperti sekarang ini.”


Indra masih memandang Tatang dengan pandangan tidak mengerti.


“Ibu Irma dulu bersama dengan Pak Hendra membangun bersama Persada Utama dari nol. Tapi kiprahnya lebih banyak Bu Irma. Karena keluarga Bu Irma sebagai penyokong dana Persada Utama. Dan proyek-proyek yang masuk itu hasil dari lobi Bu Irma.”


Tatang berhenti berbicara dan menoleh ke belakang. Bramasta datang bersama Adisti dan Adinda sambil mengucap salam.


Melihat siapa yang datang, Tatang langsung berdiri. Dia menatap Bramasta, Indra dan Agung bergantian.


“Ma’af.. Anda-Anda ini..” Tatang tampak gemetar saat menunjuk dengan menggunakan ibu jarinya, “Tuan Bramasta Sanjaya, Tuan Indra Kusumawardhani, Tuan Agung Aksara Gumilar?”


Dia mengusap keningnya.


“Lalu yang ini.. Tuan Hans Alvaro, Tuan Alwin Sanjaya, Bapak Gumilar...”


“Tang, kamu kenal?” Pak Imam menyentuh lengan anaknya.


Tatang mengangguk lalu menghadap ayahnya.


“Apa... mereka yang sering muncul di TV, di berita..”


“Artis?”


“Sanes, Apa.._Bukan, Bapak.._ Mereka selebriti tapi bukan artis, mereka pengusaha..”


“Teh Adisti, istrinya Tuan Bramasta, Mamah masih keneh apal tendangan memutar Adisti tea?_Mama masih ingat dengan tendangan memutar Adisti yang itu?_” Tatang memandang ibunya.


“Masyaa Allah.. jadi Neng Adisti teh Neng Adisti nu eta? Idolana Lilis ieu mah.._Ini sih idolanya Lilis.._” ibu Imam memeluk Adisti.


Mereka semua tertawa.


“Semuanya sudah beres Bu.. semua biaya operasi, biaya rawat inap, obat dan rawat jalan ditanggung oleh kami dengan kelas perawatan nomor 1," Adisti memberikan bukti-bukti pembayarannya dan surat pernyataan pertanggungan biaya.”


“Masyaa Allah.. Alhamdulillah..” Bu Imam memeluk Adisti dan Adinda lagi, "Padahal dengan perawatan kelas 3 pun kami sudah bersyukur, Neng.."


“Jangan seperti itu... Kami hanya meneruskan yang Allah amanatkan kepada kami..”


“Terima kasih. Terima kasih banyak, Tuan Bramasta, Nona Adisti dan Nona satunya..”


“Adinda,, namanya Adinda,” Bu Imam berbisik agak keras yang membuat semua orang tersenyum.


“Terimakasih Nona Adinda..”


“Kita juga harus berterimakasih kepada para Bapak-Bapak dan Akang-Akang semuanya. Berkat mereka, penabrak Lilis bisa diketahui,” Pak Imam menyentuh punggung Tatang.


Tatang melebarkan matanya.


“Lereus nu nabrak Lilis tos kapendak?_Beneran yang menabrak Lilis sudah ditemukan?_"


“Sanes kapendak, A Tatang. Tapi sudah diketahui siapa orangnya. Mungkin A Tatang kenal?” Agung memandang Tatang.


“Alhamdulillah sudah diketahui siapanya. Kapan mau diBAPkan?” tanya Bramasta sambil memandang Pak Imam.


“Sebaiknya Lu lihat dulu videonya, Bram. Lu pasti bakal kaget. Bukan cuma Lu, Disti dan Dinda tapi juga bakal kaget,” Indra menggeser berdirinya agar mereka yang belum melihat rekaman CCTV di pertigaan Jalan Belimbing bisa melihat layar laptop dengan jelas.


Anton memutar ulang rekaman CCTVnya.


“CCTV pertama, ini diambil dari CCTV bakery di jalan itu..”


Mereka menonton lagi dengan serius. Saat kemunculan mobil Honda Brio hijau lime, semua menuding warna merah pada kap mesin mobil.


“CCTV kedua, dari CCTV Hotel Rosalia, posisinya di seberang mobil Brio..” Anton memberi keterangan, “Guess, who is it?”


Adisti terkesiap. Diikuti Adinda . keduanya menunjuk ke arah layar monitor.


“Itu kan... si Blinky..”


“Astaghfirullahah adzhiim.... Itu kan Bu Siska!” Tatang mengeleng tak percaya.


“Kamu kenal?” Daddy menatap Tatang.

__ADS_1


Tatang mengangguk.


“Dia.. sekretaris di Persada Utama yang menjadi selingkuhan Pak Rendra, suami Bu Irma..”


Bramasta tampak kaget mendengar penjelasan Tatang.


“Tatang bekerja di Bangun Kuat. Dia sudah 7 tahun bekerja bersama Ibu Irma, owner dan founder sesungguhnya dari Persada Utama. Setelah bercerai, Bu Irma memutuskan untuk hengkang dari Persada Utama dan mendirikan perusahaan baru, Bangun Kuat,” Indra menjelaskan pada Bramasta.


“Masyaa Allah.. Kerja Allah itu sangat luar biasa ya. Kita dipertemukan dengan orang-orang yang saling ada keterkaitannya dengan kita. Masyaa Allah...” Bramasta menggelengkan kepalanya.


“Jadi... Siska itu pelakor dong!” sergah Adisti.


Tatang mengangguk.


“Mereka berselingkuh sejak lama. Bahkan hingga mereka mempunyai anak balita.”


“Anaknya menjadi teman Abay, adik dari Alif yang sekarang sedang dioperasi..” Agung menjelaskan kepada Tatang, “Minggu lalu ternyata Siska ini melakukan penganiayaan dan bullying terhadap Abay dan Alif dalam mobil jemputan sekolah.”


“Kenapa sampai dia bisa melakukan itu?” Tatang mengernyit, “Tapi bukan hal aneh sih. Dia dikenal sebagai pribadi yang arogan dan seenaknya sendiri.”


“Lalu sebaiknya ini bagaimana? Langsung kita ajukan bukti rekaman CCTV dan tisu yang sudah diamankan oleh anak buahnya Nak Hans ke yang berwajib atau bagaimana?” Ayah menatap semuanya.


“Bagaimana kalau kita pakai cara yang sama dengan Siska?” Adisti tersenyum.


“Maksudnya?”


“Pakai sosial media. Tayangkan video CCTV dari pertigaan jalan itu ke video TowTow. Pakai akun anonim. Biarkan netizen yang berbicara. Setelah viral, biasanya petugas yang berwajib akan langsung melakukan penyelidikan tanpa harus ada laporan dari pihak keluarga,” Adisti menjelaskan panjang lebar.


Hans mendengarkan pemaparan Adisti dengan tangan bersidekap lalu menganggukkan kepala.


“Masuk diakal. Pakai akun anonim, Siska tidak akan bisa melacak siapa yang menyebarkan video tersebut. Keluarga Pak Imam juga akan aman dari ancaman Siska. Nanti, Bapak sekeluarga pura-pura tidak tahu saja dengan video CCTV tersebut dan masih kesulitan mencari pelaku karena tidak adanya saksi mata..”


“Dan juga, jangan beritahu Siska dan suaminya kalau biaya rumah sakit Lilis sudah ada yang menanggungnya. Tagihkan saja biayanya ke dia, nanti uangnya bisa dipakai Bapak dan Ibu untuk modal usaha atau tabungan pendidikan Lilis atau apapun..” Adinda ikut bersuara.


Semua mengangguk setuju dengan usulan ketiganya.


“Bagaimana, Bapak dan Ibu Imam? Nak Tatang?” tanya Ayah.


“Kami ikut saja, bagaimana baiknya. Kami tidak punya pengalaman berhadapan dengan orang-orang seperti mereka, Pak..” Pak Imam memandangi Ayah, Daddy dan Papi.


“Saya setuju. Sebagai Kakaknya Lilis, saya ucapkan banyak terimakasih atas segala bantuannya..” Tatang membungkukkan tubuhnya, kemudian terisak, “Alhamdulillah Ya Allah...”


Pak Imam memeluk anak sulungnya. Tatang semakin terisak.


“Milarian artos pinjaman teh meni hese pisan, Apa. Jabaning jumlahna ageng. Tadi Tatang sempat kepikiran bade ambil pinjol.._Mencari pinjaman uang itu susah sekali, Pak. Apalagi jumlahnya besar. Tadi Tatang sempat kepikiran untuk mengambil pinjaman online.._”


“Isssh ulah atuh mun pinjol mah. Riba eta teh. Moal berkah. Karunya ka Lilis na.._Isssh janganlah kalau pinjol. Itu riba. Nggak bakal berkah. Kasihan ke Lilisnya..”


“Muhun, Apa.._Iya, Pak.._”


“Hatur nuhun Pak Bramasta, sudah menghindarkan anak saya dari pinjol. Saya mendidik keluarga saya untuk menjauhi riba,” Pak Imam memeluk Bramasta.


Tiba-tiba lampu pemberitahuan tengah berlangsung operasi di ruang operasi di pintu nomor 3 padam. Seorang dokter dengan masih memakai baju operasi dan masker keluar dari pintu.


“Keluarga Pasien Alif Ammar?”


Indra gegas menghampiri dokter.


“Saya ayahnya. Loh, bukan dengan dokter Kamal?”


“Dokter Kamal masih di dalam. Saya dokter Hanung, spesialis anak,” dokter tersebut berusaha tampak tersenyum di balik maskernya, tetapi matanya menyiratkan kelelahan yang sangat, “Kami mohon ma’af...”


Dan Indra merasa kakinya tidak bertulang.


.


***


Kunaon deui sih?


Kenapa lagi sih?


Jangan lupa like dan minta update.


Dimohon u memberi penilaian 🌟 5 dan ulasannya u menaikkan novel 😉😁

__ADS_1


Utamakan baca Qur'an 🌟🌷


__ADS_2