
03.35 Indra terbangun ingin ke kamar mandi. Melirik ke arah bed Arini, Arini masih terlelap dengan posisi yang sama membuat Indra tersenyum.
Membuka perlahan tirai pembatas, Indra disuguhi pemandangan yang menyesakkan hati apalagi di saat dirinya baru saja ditolak oleh wanita yang ia inginkan.
Mereka berdua tidur saling berpelukan. kaki dan tangan saling mengait di dalam selimut. Bahkan beberapakali dalam tidurnya Bramasta menciumi lekuk leher istrinya yang saat ini tidur dengan mengenakan jilbab bergo pendeknya.
Mengarahkan kamera gawainya ke mereka berdua lalu mengirimkannya ke WAG Kuping Merah.
Indra_Baru saja ditolak, disuguhi pemandangan kek gini. Nelangsa beud jadi gue..._
Agung merespon dengan mengirimkan stiker ngakak. Berikutnya Anton.
Hans_Bramasta bangun nanti langsung misuh-misuh karena diroasting kita_
Leon_Jadi, Lu ditolak, Ndra? Terus?_
Indra_Gue kejar lah.. (emot tawa)_
Anton_Ganbate ne!_ (Berusahalah!)
Indra_Arigatō, otōtoyo_ (Terima kasih, Dik)
“Jadi, Lu sudah ditolak, Ndra?” Bramasta menepuk bahunya usai sholat shubuh di mushola basement.
Sengaja sholat di mushola basement karena mushola lantai 6 sangat sedikit jamaahnya.
Indra menggaruk telinganya yang mendadak gatal.
“Lagian Lu, nembak cewek dini hari begitu. Terlalu dini untuk waktu makan sahur..” Bramasta terkekeh.
“Bram..” Indra menghentikan ucapannya saat ada orang lain yang masuk ke dalam lift.
Bramasta menepuk-nepuk pundaknya saat berjalan ke arah kamar, “Perjuangkan apa yang patut Lu perjuangkan. Kejarlah apa yang patut Lu kejar. Dan gue merasa, Arini dan anak-anaknya patut untuk diperjuangkan dan dikejar karena takdir yang sudah mengikat kalian."
“Thanks Bro.. dukungan Lu sangat berarti buat gue..”
Bramasta terkekeh.
Indra mengaktifkan gawainya. Deretan bunyi pesan chat masuk terdengar. Membuka pesan chat di WAG, seketika tawa Indra terdengar di lobby lantai 6.
“Setdah, Lu Bram...”
WAG Kuping Merah
(Bramasta menanggapi foto kiriman Indra dengan emot hati)
Bramasta_Gue gak nyangka, saat gue tidur, wajah gue tetap ganteng. Thanks Ndra. Gue mau cetak foto ini, nanti mau disimpan di meja kerja gue. Sebagai pengingat how deep is my love to her.._
Yang lainnya memberi emot ngakak dan emot melongo dengan kalimat Bramasta.
Bramasta_Ton, tolong editin biar terlihat lebih romantis ya.._
Anton_Siip Pak Bos!_
“Kalian kenapa? Tertawa-tawa seperti itu?” tanya Adisti sambil melipat sajadah.
Bramasta mengacungkan gawainya ke arah Adisti. Adisti mendekat. Membaca chat di WAG.
Matanya melebar saat membaca chat yang pertama. Menatap Indra.
“Abaaaaaang...” Adisti menghampiri Indra lalu menggosok-gosok punggung Indra, “Yang sabar ya..”
Bramasta bersidekap sambil berdehem.
“Dis, Pak Suami marah tuh. Cemburu tuh...” Indra menunjuk ke arah Bramasta dengan dagunya.
“Jangan cemburu, Pak Suami. Disti sedang membesarkan hati abangnya Disti...”
Bramasta mencebik.
Indra menatap ke arah tirai bed Arini yang masih tertutup.
“Sudah bangun?”
__ADS_1
“Sudah. Tadi sedang sholat shubuh..”
Indra mengangguk. Air sudah mendidih di ketel listrik.
“Bram, kopi atau teh?” tanya Indra.
“Teh saja Bang,” Adisti yang menjawab, “Masih terlalu pagi buat ngopi.”
Bramasta hendak protes. Adisti menatapnya tajam.
“Nurut gak?” Adisti memegang dagu suaminya, “Setelah sarapan baru boleh kopi..”
“Iya Buk Istri..” Bramasta mengecup pipi istrinya.
Indra berdecak.
“Bisa gak sih kalian gak usah pamer kemesraan di depan gue? Kalian gak melihat gue sedang sakit tak berdarah?”
Adisti langsung memukul lengan atas Indra. Tangannya di taruh di depan bibirnya lalu menunjuk arah bed Arini yang tertutup tirai.
“Lu ngomongnya kencang amat, Ndra,” bisik Bramasta.
“Gue lupa...” Indra menutupi bibirnya sambil matanya menatap ke arah bed Adisti.
Indra meletakkan teh yang diseduhnya di atas meja pantry bar. Mangkuk gula dalam sachet ada di sebelahnya.
“Bentar ya.. Gue anterin teh buat Teh Arin..” Indra beranjak pergi.
Bramasta dan Adisti saling berpandangan lalu memperhatikan punggung Indra.
“Assalamu’alaikum.. Morning..” sapa Indra sambil tersenyum kepada Arini.
Arini terkejut dengan kehadiran Indra. Dia menatap teh yang ada di tangan Indra. Matanya menatap Indra dengan perasaan bersalah.
“Kok salam saya gak dijawab?” Indra menurunkan handrail bed lalu duduk di atas bed Arini.
Setelah semalam, dia lebih menyukai untuk duduk di bed Arini daripada duduk di kursi samping bed. Dia menyukai aroma tubuh Arini yang samar-samar beraroma mawar. Mawar merah.
“Wa’alaikumusalam..”
Arini terdiam. Menatap Indra.
“Kenapa lihatin saya terus? Hati-hati Teh.. nanti jadi kangen terus loh sama saya..” Indra tersenyum.
Dari arah pantry terdengar dua orang yang sedang terkikik.
“Kirain jadi sawan kalau lihatin Lu terus, Ndra..” Bramasta tertawa diikuti Adisti.
Arini tersenyum lebar yang ditutupi dengan tangannya.
“Woylaaah kalian berdua ini. Diam saja kenapa sih? Pura-pura gak dengar bisa gak?” seru Indra.
“Nggak!” kompak suami istri itu menjawab Indra.
Arini tergelak. Indra senang. Dia bisa melihat mata iris bunga matahari itu bercahaya.
Adisti muncul menyibak tirai dengan membawa piring kertas berisi bolu gulung yang baru dipotong dan juga gelas teh Indra.
“Kalian minum bareng saja di sini. Nanti tehnya Bang Indra dingin jadi gak enak loh..”
“Weizzz Disti memang adik yang baik ya. Pengertian banget ke Abangnya..”
"Nuhun Teh Disti.."
"Sawangsulna Teh Arin.."
“Mami ke sini jam berapa?” tanya Arini.
“Jam 7. Abay masuk jam 07.45 kan?”
Arini mengangguk. Dia menyesap sendok makan yang disodorkan Indra. Lalu membuka mulutnya saat Indra menyuapkan potongan kecil bolu gulung.
“Enak gak? Ini buatan Dinda loh..”
__ADS_1
“Enak. Saya suka. Gak terlalu manis. Lembut dan moist.”
“Arin juga tahu tentang cake?” Indra menaikkan sebelah alisnya sambil menyuapkan kue lagi.
Pipi Arini merona mendengar Indra memanggilnya Arin. Menyingkat namanya dengan cara yang istimewa. Dia belum pernah mendengar namanya di singkat menjadi Arin selain di keluarga ini.
“A Indra..” Arini mendongak dengan pipi masih bersemu.
Matanya menatap mata Indra. Sementara mata Indra bertemu dengan iris mata bunga matahari milik Arini membuat pipinya memerah. Indra tidak dapat mengalihkan pandanganya.
Denyutan jantungnya menjalar kemana-mana.ia merasa seluruh tubuhnya adalah jantung. Tangannya yang memegang sendok berisi teh bergetar. Air teh di dalam sendok tumpah membasahi sarung dan ujung baju kokonya.
“A.. tumpah..” Arini mengingatkan.
“Eh iya.. Wah untung sudah hangat air tehnya..” Indra mengelap bagian basah sarung dan baju koko abu-abunya dengan tisu.
"A Indra kenapa?”
“Nggak kenapa-napa..”
“A Indra melamun tadi..”
“Saya tidak melamun. Saya sedang memperhatikan mata kamu.."”
Bramasta terbatuk di pantry bar. Istrinya terkikik geli.
“Memangnya kenapa dengan mata saya, A?”
“Mata Arin cantik. Saya suka..”
Indra mengalihkan pandangannya ke arah jendela. Langit sudah terang. Dan pipinya terasa panas. Indra berusaha mengatur nafasnya untuk meredakan denyut jantung yang mereog di pagi hari setelah subuh.
Arini menyentuh lengan Indra dengan hati-hati. Pipinya masih merona. Cahaya jingga keemasan dari jendela membuat raut wajahnya menjadi semakin cantik dan mata coklat terangnya menjadi semakin membius.
“Saya minta ma’af untuk yang semalam..” Arini menunduk.
Indra menoleh. Menatap Arini dengan tatapan tidak mengerti.
“Maksudnya?”
Arini tidak menjawab. Wajahnya menunduk. Dia mengelus tangannya yang memar karena tertabrak mobil Indra.
Tiba-tiba Arini mendongak.
“Kenapa A Indra masih bersikap baik pada saya?”
“Heh?” Indra menaikkan sebelah alisnya.
“Padahal saya sudah menyakiti hati A Indra..”
“Arin menyakiti saya? Kapan?”
“Semalam, saat saya menolak A Indra..”
“Saya tidak merasa tersakiti, kok,” Indra tersenyum, “Jangan khawatir, saat Arin menolak saya dini hari tadi, saya memakai rompi kevlar. Bullet proof.”
“Saya.. saya merasa tidak enak dengan A Indra.”
Indra menyentuh punggung tangan Arini.
“Arin.. jangan merasa tidak enak dengan kejadian dini hari tadi. Saya mengerti, Arin pasti merasa saya terlalu cepat, terlalu terburu-buru untuk menyatakan perasaan saya kepada Arin. Hak Arin untuk menolak saya,” Indra menatap wajah Arin, “Hak saya juga untuk tetap berusaha membuat Arin menerima saya. Saya ingin menjadi ayah sambung untuk Kakak Alif dan Adik Abay. Saya juga ingin memberikan mereka adik-adik yang lainnya. Kakak dan Adik pasti akan menjadi abang-abang yang hebat untuk adik-adiknya..”
Di pantry bar, Adisti menggenggam telapak tangan suaminya dengan erat. Matanya mengembun.
.
***
Meleleh hatiku, Babang Indra ..
Gak nyangka, dibalik sikap tengilnya, Babang Indra lugas banget saat ngomongin hati.Gak pakai basa-basi.
❤️Jangan lupa like dan minta update ya Readers❤️
__ADS_1
Utamakan baca Qur'an 🌷