
Mommy menepuk lengan Arini.
“Gak boleh begitu. Bila memang Arini bertemu dengan lelaki yang baik dan sangat sayang pada anak-anak, why not?”
Arini memejamkan matanya.
“Saya seorang janda dengan dua anak. Masyarakat kita selalu berpandangan negatif tentang janda. Janda disterotipkan sebagai pelakor, wanita genit penggoda, wanita murahan, dan stigma buruk lainnya,” Arini membuka matanya dengan bulu mata yang basah, “Saya mengalaminya sendiri. Sebaik apapun membawa diri, bila status perkawinannya berlabel janda, maka stereotipnya akan selalu disematkan padanya.”
“Tidak semua janda itu tidak baik perilakunya karena tidak semua janda itu baik perilakunya. Janda yang perilakunya tidak baik membuat janda baik-baik terkena getahnya,” Adisti membelai lengan Arini, “Jangan berkecil hati ya Teh. Disti yakin, ada seseorang di luar sana yang menunggu Teteh untuk menyempurnakan separuh agamanya.”
Mami mengerjap. Tubuhnya bergerak gelisah. Sekarang Mami menatap rangkaian bunga matahari yang dibawa oleh Mommy.
Mommy mengambil inisiatif untuk membelokkan topik pembicaraan.
“Aksi Bu Dhani ini luar biasa sekali tadi. Saya dapat video rekaman CCTVnya dari Bram,” kata Mommy sambil mengambil gawainya.
Adisti mengangguk.
“Iya.. Tante Dhani keren banget! Jadi ingat aksinya Wonder Woman di Justice League.”
“Ada rekaman CCTVnya? Kok Indra gak ngomong ya?” Mami mengernyit penasaran pada gawai Mommy.
“Lah, kirain udah lihat..” Bunda keheranan, “Saya juga sudah lihat tadi di handphonenya Disti..”
“Bang Indra lupa kali, Tan..”
Mommy menekan tombol play. Layar gawainya menampilkan kejadian menjelang siang tadi.
Mata Mami melebar saat melihat gambar dirinya tengah mengangkat guci ke arah penjahat.
“Oh My God! Dari sudut pengambilan gambarnya, kok saya terlihat langsing ya?”
Semua yang tidak menyangka dengan komentar Mami mendadak tertawa. Bahkan Arini pun ikut tertawa walau berakhir dengan kernyitan di dahi dan mendesis perih sambil memegangi pipi dan juga tulang rusuknya.
Semua menatap Arini dengan cemas.
__ADS_1
“Ndra...!” Mami memanggil Indra.
Indra yang sedang di sofa L bersama Bramasta dan anak-anak, bergegas menghampiri Mami di bilik Arini.
“Ada apa, Mi?”
“Arini..”
“Kenapa?” Indra segera menghampiri Arini. Mommy buru-buru menyingkir dengan berdiri dari kursi yang sedang didudukinya.
Tubuhnya yang jangkung menunduk di dekat Arini yang masih mengernyit. Mendekatkan wajahnya pada wajah Arini. Menepuk-nepuk tangannya yang tidak cedera.
“Teh.. Teh Arin kenapa?”
Arini tidak menjawab. Ekspresinya masih sama mengernyit dengan keringat mengalir dari pelipisnya.
“Sakit?” Indra menepuk-nepuk pelan lengannya, “Yang mana? Saya panggil perawat ya?”
Arini menggoyangkan tangannya yang tidak cedera.
“Itu sampai keringatan begitu menahan sakit.. Teh, jangan selalu berkata gak usah atau tidak..”
“Tadi dokter bilang, tulang rusuk Teteh, kanan kirinya memar parah. Untuk berjaga-jaga agar cederanya tidak menjadi semakin parah, harus pakai penyangga dulu selama 2 minggu.”
“Ah..” Arini terdengar kecewa.
“Cederanya jadi semakin parah, memangnya bagaimana, Ndra?” tanya Mommy.
“Kata dokter, bisa retak tulang rusuknya, Tante Al. Semakin lama lagi proses penyembuhannya,” Indra melirik Arini yang tengah menatapnya.
“Yang sabar aja ya, biar cepat sembuh..” Mami mengelus kaki Arini lagi.
“Ini sebenarnya kalian ngapain sih tadi sampai Teh Arin jadi seperti ini?” Indra menatap semuanya.
“Diiih nuduh. Kita gak ngapa-ngapain Teh Arini, Bang. Segitu protektifnya..” Adisti mencebik ke arah Indra, lupa dengan keberadaan Mami yang menatap Indra dengan tatapan tajam.
“Gak nuduh, Dis.. Tadi kan Teh Arin baik-baik saja...”
__ADS_1
“Ehm..” Bunda berdehem, “Sebenarnya, Nak Indra. Tadi kami sedang tertawa bersama. Menanggapi ucapan Mami yang komentarnya lucu banget.”
“My God!” sebelah tangan Indra dipinggangnya, sebelahnya lagi mengusap wajahnya sambil menggeleng, “Jadi ini semua karena tertawa?”
Mami menunjukkan cengirannya pada Indra. Jari kanannya membentuk huruf V.
“Arini gak boleh tertawa dulu?”
“Mi.. kalau tertawa, jahitan di dalam pipinya bisa sobek lagi. Lagipula tertawa saat masih memakai penyangga rusuk gak bakal nyaman,” Indra memandang Adisti, “Disti pernah merasakan kan saat dirawat akibat jatuh dari tebing?”
Adisti mengangguk.
“Tapi dulu Disti gak pakai penyangga, cuma pakai kain bebat.”
“Kalau Agung saat tertembak di The Ritz?”
“Sama. Kakak pakai kain bebat untuk memar rusuknya akibat terbanting ke aspal dari motornya.”
“Teh Arin pakai dobel loh. Kain bebat iya, penyangga rusuk juga,” Indra memandang Arini yang tengah dilap keringat di pelipisnya oleh Mommy.
“Teh Arin, ma’af ya.. Teteh terjebak dengan kami, keluarga srimulat. Ini baru ibu-ibunya saja, belum lagi kalau udah gabung dengan para bapak-bapaknya, lebih heboh lagi kalau dengan anak-anaknya sekalian. Keluarga Srimulat Group paket komplit!” Indra berbicara cepat sambil menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.
Arini menatap Indra tak percaya, mencerna ucapan Indra kemudian meringis lagi memegangi pipi dan rusuknya.
“Haahhhhhhh!”
Mommy, Bunda dan Adisti setengah mati menahan tawa mereka di depan Arini.
“Ndraaaaa!” Mami mendaratkan tepukan keras di lengan atas Indra, “Kamu lagi nih ya nambah-nambahin..”
“Mi.. sakit Mi...” Indra memegangi lengannya, “Malu Mi..dilihatin Teh Arin..”
“Bodo amat. Kamu ngeselin sih..!”
“Ya Allah.. udah ah.. Gak kuat..” Bunda menyibak tirai, keluar dari bilik tirai Arini bersama Mommy lalu terkikik bersama dekat pantry bar.
.
__ADS_1
***
Jadi tahu kan, gen petakilannya Bang Indra menurun dari siapa..? 😁