
Indra tampak terkejut ketika gawai yang ada di dalam saku celananya bergetar dengan dering pelan. Ada pesan dari Bramasta.
Indra menatap Bramasta. Bramasta memberi kode dengan gerakan kepala yang nyaris tak terlihat.
Menggulir layarnya, Indra membaca pesan Bramasta.
Bramasta_Lu kenapa? Ngelihatin Arini sampai segitunya_
Indra_Matanya.._
Bramasta_Kenapa dengan matanya?_
Indra_Cantik. Seperti bunga matahari_
Bramasta tidak meneruskan pesannya. Dia menatap Indra dari kejauhan. Senyuman lebar tengil terlihat di wajah tampan campuran Pakistan-Perancis-Indonesia.
Indra balas menatap Bramasta disertai salah tingkah.
Bramasta_Ciye.... (Emot ngakak 3)_
Indra_Ciye apaan?_
Bramasta_At least, you got that feeling_ (Akhirnya, kamu merasakannya juga)
Indra_Gue aja bingung, Bram_
Bramasta_Gak usah bingung-bingung. Maju terus pantang mundur.._
Indra_Gue masih belum yakin, Bram_
Suara pintu digeser dan salam terdengar. Adisti masuk sambil mendorong Alif yang tengah tertidur di atas kursi rodanya.
Bramasta dengan sigap membantu istrinya. Dia mengangkat tubuh Alif sementara Adisti memegangi botol infusnya.
“Dis, Alif kenapa?” Indra bertanya dari samping bed Arini.
“Tadi mengeluh pusing. Makanya Disti anterin ke sini lagi.”
“Alif gak apa-apa kan, Pak Indra?” tanya salah seorang tetangga Arini.
“Masih dalam observasi pihak medis, Bu,” Indra menjawab sambil tersenyum.
“Hikmah kejadian ini, kita para tetangga Ibu Arini bisa melihat langsung para selebriti dan keluarga kalangan atas ya. Masyaa Allah...” Mama Angga memandang Bramasta dan Adisti, “Selama ini kami kira, orang kalangan atas itu kehidupannya glamor dan penuh kemewahan seperti yang ada di TV ataupun di media massa. Tapi melihat kalian berinteraksi, sangat down to earth_membumi_ banget.”
“Ibu bisa aja. Kita kan sama-sama masih makan nasi, Bu,” seloroh Adisti sambil menutup tirai bed Alif agar Alif bisa tidur lebih nyenyak.
“Kita gak pernah merasa high class ataupun sosialita kok. Biasa saja. Sewajarnya saja,” Bramasta menjawab sambil tersenyum.
“Nah ini ini bedanya sosialita beneran dengan sosialita abal-abal. Sosialita beneran mah gak neko-neko. Apa adanya. Hartanya udah banyak ya apa adanya, gak main flexing di sosmed, gak nyombongin diri bahkan sampai mengatai para pegawai adalah babu...” seorang tetangga lain menimpali ucapan Bramasta yang disambut dengan gelak tawa yang lainnya.
“Mamanya Tiwi sepertinya gemes banget dengan sosialita abal-abal yang sedang viral itu ya?” seorang bapak menimpali sambil tertawa.
__ADS_1
“Mama Tiwi uptodate banget ya..”
“Iya dong.. gemes banget saya mah.”
Bramasta ikut tertawa walau tidak mengerti dengan apa yang mereka bicarakan. Dia menatap Indra. Indra menggeleng samar.
Biasanya Indra yang paling uptodate dengan kejadian viral di sosial media kesibukannya hari ini tidak memberikan kesempatan baginya untuk berselanjacar di dunia maya.
Suara salam dan pintu digeser. Agung masuk dan terkejut saat melihat ada banyak orang di dalam ruangan. Para ibu-ibu berseru kaget saat melihat Agung.
“Masyaa Allah.. itu Agung Aksara Gumilar? Bener kan?”
Agung tersenyum lalu menyalami para bapak-bapak. Kepada para ibu-ibu dia hanya menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dadanya. Adisti datang menghampiri untuk salim pada kakaknya.
Agung berhi-five dengan Bramasta, lalu menghampiri Indra yang masih berada di samping Arini. Merangkul Indra sambil menepuk-nepuk bahunya.
Tersenyum pada Arini.
“Assalamu’alaikum, Teh Arini. Saya Agung, kakaknya Adisti. Ma’af, tadi siang sewaktu saya ke sini mengantar Adinda, kita gak sempat bertemu. Teteh sedang tidur dan saya harus kembali ke kantor.”
“Ma’af jadi merepotkan,” Arini berkata lirih.
“Nggak.. nggak merepotkan kok.”
“Gak merepotkan Teh Arini,” Adinda menyentuh paha Arini yang terbungkus selimut kemudian berisik, “Mereka itu Power Ranger!”
Arini melebarkan matanya.
Agung memegang siku Adinda,
“Adinda ini calon istri saya, Teh. Do’akan supaya semuanya lancar ya, Teh,” Agung memandang para tetangga Arini, “Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu, mohon do’a restunya ya untuk kelancaran hubungan kami..”
Agung merasakan panas pada pinggangnya. Adinda diam-diam mencubitnya. Agung balas mencubit lengan Adinda, secara diam-diam tentu saja dan pelan.
“Aamiin.. Semoga disegerakan menjadi halal ya Pak Agung dan Neng Adinda,,”
“Eh.. tar dulu.. Gak bisa begitu dong, Gung. Kesepakatannya kan gue dulu baru Lu!” protes Indra membuat semuanya tertawa bahkan Arini pun ikut tertawa yang menyebabkan dirinya meringis sambil memegangi pipinya.
“Ya sudah kita ralat,” kata Pak Doni yang pagi tadi istrinya menemani Arini di ambulans, “Semoga Pak Indra segera menikah supaya Pak Agung dan Neng Adinda bisa segera menikah juga..”
Semuanya tertawa tapi sambil mengangguk-anggukkan kepala tanda setuju.
“Neng Adinda itu yutuber ya? Channel baking?” seorang ibu-ibu tetangga Arini memandang Adinda, “Wajahnya terlihat familiar. Saya penggemar berat channel Neng Adinda..”
Adinda tersenyum malu-malu dan mengangguk.
“Oh yang penampilan awal-awalnya, nge-baking pakai seragam SMA itu kan?”
Adisti tertawa.
“Iya Bu. Penampilan awalnya memang saat masih SMA menjelang ujian akhir Bu. Sekarang sudah kuliah dia..”
__ADS_1
“Alhamdulillah, dua minggu yang lalu baru menerima silver play button dari pihak YouTube,” Agung berkata dengan bangga.
“Masyaa Allah..”
“Berbakat banget ya.. Kalian ini memang anak-anak muda yang bukan kaleng-kaleng ya.”
“Kesuksesan tidak datang pada kaum rebahan ya,” seorang bapak berkomentar bijak.
“Seharusnya ada yang memuat profil kalian masing-masing untuk menginspirasi kaum muda sekarang yang cenderung menjadi kaum rebahan dan menjadi generasi strawberry yang rapuh.”
Bramasta, Indra dan Agung hanya menanggapinya dengan tertawa.
Suara bel musik tanda jam besuk sudah berakhir membuat mereka semua pamit.
“Bunda Alif-Abay kalau butuh sesuatu tinggal hubungi kami ya,” Bu Doni, tetangga sebelah rumah membelai tangan Arini yang tidak cedera.
“Terima kasih banyak Bu.”
“Besok para pekerja masih libur atau sudah mulai bekerja?” tanya Pak RT.
“Sudah mulai bekerja lagi, Pak. Kami harus mengejar pembuatan pesanan beberapa event dan perusahaan, juga permintaan toko-toko.”
Indra mendengarkan kalimat Adinda dengan cermat. Kemudian menatap Bramasta sambil menaikkan sebelah alisnya. Bramasta mengangguk sambil tersenyum.
“Tapi nanti ada kan yang mengawasi mereka bekerja?”
“Ada karyawan kepercayaan saya yang mengawasi semuanya sementara saya masih di sini, Pak.”
“Baiklah, semoga cepat sembuh ya Bu.”
“Bunda Alif-Abay, kita pamit dulu ya. Assalamu’alaikum..”
“Wa’alaikumussalam.. Terima kasih banyak..” Arini membalas salam mereka.
Kehebohan terjadi saat mereka membuka pintu geser. Ada Hans dan Anton yang kebetulan datang bersamaan.
“Masyaa Allah... gantengnya! Bundanya Alif-Abay kok beruntung banget ya dikelilingi para pria dengan wajah mengandung serpihan Nabi Yusuf alayhissalam.”
“Yang tadi sekretarisnya Sanjaya Group kan? Satu lagi yang mirip Oppa Taehyung itu arsitek di B Group? Waah...”
“Buk ibuk... ingat suami sendiri...” seorang Bapak mengingatkan disambut gelak tawa yang lainnya.
.
***
Catatan Kecil:
Silver Play Buton YouTube adalah penghargaan dari YouTube bagi para YouTuber yang sudah mencapai 100.000 subscriber dari hasil verifikasi digital yang dilakukan oleh pihak YouTube.
Ingin tahu kenapa menyebut Agung, Indra dan Bramasta sebagai Power Ranger ada di novel CEO: Rescue Me! Ya.
__ADS_1