
Indra keluar dari kamar mandi dengan keadaan sudah rapi. Dagu dan pipinya sudah bersih dan licin dari pangkal janggut. Aroma afther shave-nya menguar saat dia keluar dari kamar mandi.
Abay yang sedang melanjutkan sarapannya menengok ke arahnya.
“Masyaa Owwoh, Om Inda anteng anget! Wahni.._Masyaa Allah, Om Indra ganteng banget! Wangi.._”
Indra mengacak rambut Abay lalu mengecup puncak kepalanya.
“Thank you..”
“Yowekam..”
“Eh, kok bisa jawab pakai bahasa Inggris? Your welcome?”
“Bisyaa. Nda ajalin,” Abay menatap Indra, “Om, sapan duyu_Om, sarapan dulu_”
“OK..” mata Indra melirik tirai bed Arini yang tertutup rapat.
Indra sarapan dengan cepat. Nasi goreng buatan Bunda yang dibawakan Adinda untuknya sudah habis ia makan.
Indra membereskan pantry bar. Mencuci wadah bekas makan mereka berdua di sink wash.
Indra melangkah ke bed Alif yang tengah duduk menonton film kartun dari TV untuk pasien. Tersenyum melihat tontonan Alif, Upin dan Ipin.
Tidak sengaja, matanya menatap tirai di samping Alif. Sinar matahari pagi dari jendela samping bed Arini menciptakan bayangan siluet tubuhnya yang sedang dibersihkan oleh perawat. Tercetak jelas di tirai pemisah.
Jantung Indra tidak baik-baik saja. Matanya mengerjap dan segera tersadar sudah melihat yang bukan haknya, dia membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Alif.
Dia membelai kepala Alif. Mengecup ubun-ubunnya. Alif memeluknya.
“Masih pusing, Om..”
“Nanti setelah sarapan, Kakak minum obat ya. Nanti dibantu Tante Dinda..”
Kilasan bayangan punggung Arini semalam membuat Indra teringat dengan catatan imajinernya.
“Suster..” panggil Indra dari balik tirai.
“Iya Tuan Indra?” perawat di sebelah tirai menjawab panggilannya.
“Semalam saya melihat ada darah yang mengering di antara memar yang ada di punggung Ibu Arini. Tolong diperiksa dan dibersihkan dengan seksama ya, Sus..”
“Baik Tuan Indra,” perawat tersebut berkata pada Arini, “Ma’af, Ibu Arini miring dulu ya supaya saya bisa melihat luka yang dimaksud oleh Tuan Indra. Sekalian saya lap punggungnya juga.”
Kemudian terdengar perawat itu bergumam, “Ah iya.. lukanya panjang tapi sudah mengering. Setelah saya lap nanti saya oles salep antiseptik ya Bu..”
Indra mendengarkan dari balik tirai. Matanya terpaku pada layar TV tapi telinganya berkonsentrasi pada tirai di belakang tirai.
[Sepanjang apa lukanya? Dalamkah? Lebarkah?] benaknya tiba-tiba dipenuhi dengan luka terbuka di punggung Arini.
Dia melirik arlojinya. Sudah saatnya dia untuk berangkat. Lalulintas di Bandung saat pagi sama padatnya dengan lalulintas kota besar lainnya.
“Kakak..” Indra mengelus kening Alif. Eh, kok?
Dirabanya lagi kening dan leher Alif. Akhirnya dia memutuskan untuk menekan bel perawat.
“Assalamu’alaikum..” suara perawat yang ceria terdengar menuju bed Alif, “Kakak Alif kenapa?”
“Suster, badannya kok panas ya? Tadi pagi saat saya mengelap badannya, suhu tubuhnya masih normal..”
Perawat itu melihat monitor yang ada di samping kanan bed. Dia mengangguk.
“38.7 °C. Saya laporkan pada dokternya ya. Minta obat tambahan penurun panas juga untuk pagi ini. Dokternya tidak bisa visit pagi, mungkin menjelang siang sekitar jam 11 an. Karena pagi ini ada operasi darurat,” Perawat itu melihat arlojinya. Lalu segera menulis pesan text.
“Mudah-mudahan Pak Dokter belum masuk ruang operasi..”
“Pagi ini saya hendak ke sekolah anak-anak. Ibu Arini dan Kakak Alif nanti ditemani oleh Adik saya, Adinda.”
__ADS_1
“Baik, Tuan Indra. Nanti saya akan sering mengecek kondisi Ibu Arini dan Kakak Alif..”
Tirai pembatas dibuka karena Arini sudah selesai dibersihkan.
“Ibu Arini masih memakai baju pasien dari rumah sakit dulu ya. Supaya mudah dipakaikannya karena penyangga rusuknya belum boleh dibuka,” Perawat yang membersihkan tubuh Arini menjelaskan pada Indra.
Kemudian dia memandang Adinda.
“Nona, pakaian dalam Ibu Arini sebaiknya disimpan saja untuk nanti. Belum bisa dipakaikan.”
Alis Indra terangkat sebelah mendengarnya. Lalu melirik pada sepasang pakaian dalam di atas bed berwarna pink lembut dan hitam untuk setiap jenisnya. Black pink!
Wajahnya terasa panas.
Adinda menatap Indra kemudian terkekeh sambil menutup mulutnya.
“Teh.. jangan bahas pakaian dalam di depan Abang saya. Kasihan, jomblo permanen dianya..” Adinda tertawa.
Perawat yang tadi tertawa lalu berlalu dari mereka untuk membereskan peralatan mandi Arini.
Indra salah tingkah apalagi saat melihat Arini menatapnya kaget dengan keberadaannya di area bednya.
Indra mencebik menatap Adinda.
“Sembarangan ngatain abangnya sendiri jomblo permanen. Abang hanya terlalu pemilih. Selama ini belum bertemu yang cocok saja.”
Indra mengambil dompetnya lalu menyodorkan kartu debit pada Adinda.
“Buat jajan kamu, pakai kartu Abang.”
Adinda menggeleng.
“Dinda juga punya, Bang. Dinda punya banyak Abang yang baik-baik banget. Sering banget ngasih uang jajan,” Adinda tersenyum lebar.
“Ambil. Kamu adik Abang.”
Indra meraih tangan Adinda lalu meletakkan kartu debitnya di telapak tangannya.
“Awas kalau belum ada SMS pemberitahuan dari bank, Dinda belum pakai kartu Abang..!”
Adinda tertawa, “Baru kali ini Dinda diancam disuruh pakai kartu debit. Alhamdulillah...”
Arini yang memperhatikan mereka berdua ikut tertawa. Tubuh dan wajahnya terlihat lebih segar setelah dibersihkan.
“Teh Arin.. saya ke sekolah dulu ya. Dari sekolah nanti saya langsung ke sini lagi untuk bertemu dengan dokter.”
“Iya.. Hati-hati. Alif.. demam?” Arini memandang Alif yang sekarang tertidur.
“Iya Teh. Perawat yang tadi saya hubungi sudah menghubungi dokernya untuk meminta obat tambahan penurun panas untuk Alif.”
”Abay.. pamitan dulu ke Bunda dan Tante Dinda..”
“Iya Om..”
“Bang, gak salah ke sekolah dandanannya sekeren itu?” Adinda menatap Indra dari atas ke bawah.
“Kenapa? Gak cocok? Abang gak ada baju lagi. Cuma dibawain ini oleh Pak Mamat.”
“Cocok sih. Tapi pasti nanti banyak yang klepek-klepek lihat Abang..” Adinda tertawa lagi memamerkan dekik kecil di bawah matanya.
“Terlalu ganteng ya Teh Arin?” Indra bertanya pada Arini.
Arini tidak menjawab. Dia menatap malu pada Indra.
Indra dengan wajah tengil mendekat pada Arini, membungkukkan wajahnya agar sejajar dengan wajah Arini.
“Saya memang sudah ganteng sejak masih dalam perut Mami. Beneran. Suer!”
__ADS_1
Arini terperangah menatap Indra. Adinda tergelak sabil menepuk lengannya dengan keras.
“Buruan. Nanti telat lagi. Heran ada orang segitu narsisnya tapi kok masih jomblo juga..”
***
SEKOLAH IT AL HAMBRA
Seumur-umur, dia baru kali ini mengantarkan anak kecil ke sekolahnya. Dan ia baru tahu bagaimana ramainya suasana pagi hari di pelataran parkir sekolah.
Beruntung alur masuk kendaraan cukup jelas petunjuknya juga kendaraan yang masuk dan keluar mengantri dengan tertib.
Dia mendapatkan tempat parkir di bawah pohon Ketapang yang berdaun lebar. Membantu Abay untuk melepas seatbelt lalu membukakan pintu untuknya.
“Jangan loncat. Om gak mau kaki Abay cedera. Nanti Bunda dan Kakak jadi sedih..”
“Iya Om..” Abay menunggu Indra keluar dari mobil. “Om, gendong..”
“Laaah, kok minta gendong?”
“Abay ngingin swepeti teman. Digendong ayahna..” tangan Abay sudah terangkat.
Indra tertawa. Langsung mengangkat tubuh Abay ke dalam gendogangannya sambil menciumi pipi Abay.
“Gemes ih..” Indra terkekeh.
Orangtua yang mengantar anak-anaknya di tempat parkir kebanyakan para ibu muda, ada juga bapak-bapaknya yang ikut mengantar anaknya tapi tidak sampai turun dari mobil. Mereka memandangi Indra dengan tatapan heran.
“Itu Indra Kusumawardhani kan?”
“Sekretaris B Group?”
“Memangnya sudah punya anak? Bukannya masih single?”
“Gantengnya..”
“Ya ampun.. mimpi apa gue semalam. Ketemu cogan yang mengalahkan para oppa?”
Suara-suara yang terdengar di telinga Indra saat menuju pintu gedung sekolah.
“Om Inda kewwen.. jadi ghibah ibu-ibu. Om Inda ganteng syih..” Abay memandang Indra lalu mencium pipinya.
Indra tertawa. Tapi tawanya mendadak berhenti saat mendengar celutukan seorang ibu muda yang duduk bergerombol dengan tangan dipenuhi perhiasan serba blink-blink.
“Itu..kalau gak salah anak pengusaha tas yang sedang naik daun itu deh. Janda kan?”
Indra langsung melangkahkan kaki ke arah kelompok yang ada ibu blinky tersebut. Berdiri menatap ibu itu dengan wajah datar.
“Iya. Ini Akbar, putranya Ibu Arini, pengusaha tas yang sedang naik daun. Dan seorang janda. Ada masalah?”
Ibu-ibu yang lainnya tampak menyenggol Ibu Blinky. Ibu Blinky tergagap.
“Eh?” dia terbata, “Ah.. gak. Gak ada masalah kok. Ma’af Pak Indra..”
Indra mengangguk.
“Permisi,” dia memandang ibu-ibu yang lainnya dengan senyum di wajahnya tapi senyumnya menghilang saat bertemu pandang dengan Ibu Blinky.
.
***
Calm down, Ndra.
Para mahmud penunggu anak sekolah memang kebanyakan begitu. Gabut banget.
Jangan lupa tekan tombol like-nya untuk penilaian retensi pembaca..
__ADS_1