Mr. Secretary: Destiny Bound

Mr. Secretary: Destiny Bound
SECRETARY 27 – MURKA MAMI


__ADS_3

Gawai Papi berbunyi.


“Assalamu’alaikum. Ya?” Jeda.


“OK.. saya turun ke lobby. Temui saya di lobby.” Jeda.


“Wa’alaikumussalam.”


“Kenapa Pi?” tanya Mami.


“Papi ke bawah dulu ya. Ada berkas yang harus Papi tanda tangani,” Papi mengambil alih Akbar dari gendongan Mami, “Abay ikut Opa yuk. Nanti mau jajan apa? Kakak Alif juga nanti sekalian dibelikan ya..”


“Hati-hati Pi..” Mami duduk di bed Alif. Membelai kepalanya dengan hati-hati.


“Orangtua A Indra baik sekali..” Arini menatap Indra.


“Sikap Kakak dan Adik membuat siapapun mudah jatuh hati pada mereka.”


Ingin Arini tersenyum tapi rasanya sangat menyiksa. Dia memilih untuk diam.


Suara pintu yang digeser membuat mereka serentak menoleh ke arah pintu. Seorang perawat muncul dengan senyumnya.


“Ma’af, Tuan Indra bisa datang ke ruang konsultasi? Dokter ingin berbicara dengan Tuan Indra.”


“Iya Suster. Sebentar saya akan menyusul ke sana.”


Indra menatap pada Arini.


“Teh, saya tinggal dulu ya. Gak apa-apakan?”


“Iya..”


Indra berdiri menghampiri Mami yang sedang menggosok-gosok punggung Alif agar Alif tertidur. Mata Alif sudah setengah terpejam.

__ADS_1


“Mi.. Indra titip mereka berdua ya.”


“Iya. Udah buruan sana..” Mami berbisik.


Saat Alif sudah terlelap, Mami menyelimutinya. Lalu mengecek ke bed sebelah.


Mami memperbaiki selimut Arini. Merapikan rambutnya yang menutupi matanya. Melihat mereka berdua terlelap, Mami ke kamar mandi.


Saat sedang menutup pintu kamar mandi, dia mendengar pintu geser yang dibuka. Menyangka yang datang Papi ataupun Indra, Mami meneruskan niatnya untuk buang air kecil.


Lamat-lamat Mami mendengar suara pria berbicara. Nada bicaranya membentak. Sayangnya, Mami tidak dapat mendengar apa yang pria itu bicarakan.


Mami bergegas menyelesaikan hajatnya. Setelah mencuci tangan, segera dibukanya pintu kamar mandi.


“....Seharusnya pagi tadi saya unuh saja kamu sekalian. Tapi gara-gara bocah sialan itu, kamu jadi tetap hidup!”


Mami terperanjat. Dadanya berdebar. Antara takut dan marah dia memberanikan diri mendekati arah suara.


“Kamu selalu beruntung! Saya benci kamu, Rini! Sangat benci! Seharusnya saya dengan mudah bisa menghancurkan kamu karena kamu tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini. Tapi kenapa kamu selalu beruntung?!”


“Tidak akan saya biarkan kamu bahagia. Tidak akan saya biarkan kamu didekati laki-laki mana pun!” tangannya terulur ke arah wajah Arini.


“Berhenti!” Mami bergegas menghampiri pria itu. Dia menarik tangannya untuk menjauhi bed Arini.


Pria itu mengibaskan lengannya. Mami hampir terjatuh. Sekuat tenaga didorongnya tubuh si Pria.


“Pergi kamu!” Mami mendorong lagi lebih keras.


Pria tersebut terkejut. Bahkan tulang keringnya terkena tendangan Mami.


“PERGI!!” Mami mendorong lagi dengan keras dan menghadiahinya dengan tendangan lagi pada b0k0ngnya.


“JANGAN SENTUH ARINI DAN ANAK-ANAKNYA LAGI! KELUAR KAMU!” Mami meraih guci keramik pajangan di dekat pintu keluar.

__ADS_1


“Oma?” suara Alif terdengar ketakutan, “Oma?”


“Alif, tetap di atas tempat tidur, Nak. Oma tidak apa-apa!” peritah Mami.


“Dia anak saya! Apa hak anda mengatur saya untuk bertemu dengan anak saya?!” Pria tersebut maju.


Mami mengangkat guci keramik yang lumayan besar ke atas kepalanya. Siap untuk dilemparkan ke arah pria itu.


“PERGI ATAU SAYA LEMPAR KAMU DENGAN INI!”


“Baik, saya pergi. Tapi nanti saya akan kembali!” Pria tersebut tersenyum jahat sambil membuka pintu.


“JANGAN HARAP KAMU BISA BERTEMU ARINI DAN ANAK-ANAKNYA LAGI!”


“Mereka anak-anak saya! Darah daging saya!” Pria tersebut marah.


“ANAK-ANAK YANG KAMU ABAIKAN! DAN SELALU KAMU KASARI!” Mami benar-benar murka.


Dengan sekuat tenaga, dilemparkannya guci keramik besar ke arah si Pria. Pria tersebut merunduk sambil melindungi wajahnya dengan kedua tangannya. Guci membentur tangannya lalu jatuh ke lantai hingga berhamburan.


Pria itu menghampiri Mami dengan tangan terangkat ke atas.


“SECURITY!” suara Mami melengking.


Papi datang berlari. Akbar dalam gendongannya. Segera diletakkannya Abay.


Tubuh Papi yang tinggi besar dengan mudah menarik kerah baju Pria itu. Sekali sentak, wajah Pria itu didekatkan pada wajah Papi di tepi koridor.


“ARINI DAN ANAK-ANAKNYA BERADA DALAM PERLINDUNGAN KELUARGA KUSUMAWARDHANI! SAYA TIDAK AKAN TINGGAL DIAM KARENA KAMU BERUSAHA MEMUKUL ISTRI SAYA!”


.


***

__ADS_1


Uh! Puasss!


__ADS_2