
Pramusaji datang, mengantarkan pesanan mereka. Indra mengerutkan keningnya melihat cangkir di hadapannya.
“Bram, tadi gue pesan hot black Americano, kenapa gue dikasih hot chocolate?”
“Gue tahu Lu kurang tidur semalam. Jangan minum kopi dulu. Lebih baik coklat panas saja. Kalau Lu mengantuk, Lu harus tidur. Jangan sampai Lu juga tumbang karena menjaga 2 orang sakit. Mereka mengandalkan Lu, Ndra,” ucapan Bramasta tegas dan mengandung nada perintah yang tak ingin dibantah, khas seorang Bramasta.
“Betul kata Bang Bram, Bro!” Agung mengangguk, “Kalau ngantuk, berarti tubuh kita sedang meminta istirahat. Terutama mata dan otak. Bukannya dipaksa bekerja dan terjaga dengan diganjal pakai kafein. Kasihan organ tubuh yang lain, bisa terkena dampaknya.”
Indra mengangguk.
“Gue memang semalam kurang tidur. Alif minta tidur bareng gue. Minta dipeluk. Katanya sudah lama tidak pernah ada laki-laki dewasa yang memeluknya saat tidur. Dia kangen dipeluk. Biasanya saat seperti itu, Bundanya akan memeluknya.”
“Dulu ayahnya sering tidur sambil memeluknya ya?” Anton menyuap sepotong red velvet cake.
Indra mengangguk.
“Alif cerita kepada Abay, dulu sebelum ayahnya berubah jadi orang jahat, dia selalu tidur dipelukan ayahnya.”
“Kasihan banget..”
“Belum lama gue tidur, Abay yang tidur sendirian, bangunin gue. Minta pipis...” Indra menyendok minuman coklatnya yang masih panas, “Sekalian gue tahajud. Eh, dia minta ikutan sholat. Saat menunggu subuh, gue suruh dia untuk tidur lagi. Dia meminta tidur untuk dipeluk juga setelah tahu semalam kakaknya tidur dipeluk. Tahu gak yang bikin gue mewek subuh tadi?” Indra mengiris cake chocolate ganache, “Abay berbisik, jadi seperti ini rasanya tidur dalam pelukan orang tua laki-laki. Nangis gue dengernya. Jadi seumur-umur Abay belum pernah merasakan kasih sayang sentuhan ayahnya.”
Indra terdiam sejenak.
“Dia memberitahukan do’anya saat sholat tahajud semalam..”
“Abay minta apa?” tanya Bramasta.
“Dia minta semoga gue jadi papanya mereka.”
“Tuh kan!” Agung menepuk meja membuat yang lainnya terlonjak kaget, “Lu tunggu apa lagi sih, Bang?”
“Karena gue gak yakin dengan perasaan gue sendiri. Ke Alif dan Abay, gue jelas-jelas sayang. Gue gak peduli mereka bukan darah daging gue tapi gue merasa mereka segalanya buat gue.”
“Saat mereka disakiti secara verbal ataupun fisik oleh orang lain gue juga merasa sakit. Gak terima. Gue marah.”
“Kejadian di sekolah seminggu yang lalu itu dan kejadian pagi tadi di dekat entrance gedung sekolah.”
“Kejadian apa?” tanya Anton.
Agung menjelaskan secara singkat kepada Anton.
“Video rekaman CCTV-nya kirim ke WAG,” pinta Anton sambil mengeluarkan laptopnya. Dia menyalakan WA web untuk membuka pesan WA dari laptopnya.
Tangannya bergerak cepat untuk membuat penampakan zoom in kejadian di dalam mobil yang tidak terlihat jelas dari kamera CCTV. Mengurangi pantulan cahaya dan bayangan pohon dari luar kaca mobil. Mengatur pencahayaan, saturasi warna dan kekontrasan gambar.
“Kurang ajar betul tuh ibu-ibu!” Anton memutar laptopnya agar mereka bisa melihat apa yang sudah dilakukan wanita itu kepada Abay dan Alif.
Indra dan Bramasta mengetatkan rahangnya. Agung menggelengkan kepalanya. Emosi!
“Ini video apa lagi?” tanya Anton pada Bramasta yang baru saja mengirim video di WAG.
__ADS_1
“Video dari TowTow. Dari WAG cewek-cewek B Group..” Bramasta menjelaskan.
“Cih! Kampungan banget..” Anton berdecih.
“Lu tahu owner PT Persada Utama, Ton?”
“Itu suaminya? Tahu. Kontraktor untuk beberapa pekerjaan. Dari perkumpulan rekan-rekan sesama arsitek, sewaktu awal-awal berdiri, pekerjaannya bagus. Tidak ada yang komplein dengan pekerjaannya,” penjelasan Anton membuat mereka semua menaruh perhatian penuh padanya.
Anton membuka aplikasi pesan chat dan langsung membuka WAG arsitek. Dia mencari foto-foto terkait PT Persada Utama kiriman dari rekan-rekan Anton sesama arsitek.
“Tetapi kabarnya, ada clash internal hingga membuat para pimpinan proyek dan para pengawas mandor keluar dari Persada Utama dan bergabung dengan Bangun Kuat. Sejak saat itu, kualitas pekerjaan Persada Utama menurun drastis dan cenderung asal-asalan digarapnya. Banyak komplein untuk pekerjaannya.”
“Kapan para pimpro dan pengawas mandor mundur?” Bramasta mengerutkan keningnya.
“Sekitar satu setengah bulan yang lalu. Bangun Kuat masih tertatih sekarang karena mereka masih baru untuk saat ini. Tapi dari laporan rekan-rekan arsitek, pekerjaan mereka bagus dan rapi.”
“Minggu ini Pak Bos ada pertemuan dengan owner Persada Utama,” Indra menyesap minumannya.
“Buat apa?” Anton menaikkan alisnya heran.
“Mereka mengajukan kerja sama untuk proyek pengerjaan lantai di Sentul, Bogor,” Bramasta mengurut tengkuknya.
“Atas rekomendasi siapa nama Persada Utama masuk?”
“Anak buah Lu, Ton..” Indra mengusap wajahnya, “Gue kira itu atas persetujuan Lu. Gue masih ingat betul, mapnya ada di urutan paling atas di atas meja gue. Makanya gue teruskan ke Pak Bos.”
“Ah, gak bener nih. B Group gak pernah pakai cara-cara kotor seperti itu. Saya gak pernah baca map Persada Utama di meja saya, Bos,” Anton memandang Indra.
“Maka dari itu saya bilang tadi, ada yang memakai cara-cara kotor supaya Persada Utama langsung lulus verifikasi kita. Kalau map itu ada di meja saya, sudah pasti saya tidak meloloskannya, Bos.”
Membicarakan pekerjaan, Anton menggunakan kata ganti formal. Indra sebagai orang kedua di B Group adalah bosnya juga.
“Nanti tolong kamu cek CCTV di ruang kesekretariatan ya Ton,” Bramasta menyesap es kopinya.
“Terus, Persada Utama bagaimana kelanjutannya?” Anton memandang Bramasta.
“Undangan meeting sudah disampaikan oleh anak buah gue..” Indra menatap Bramasta lagi.
Bramasta meletakkan telunjuk kanannya di cuping hidung kanan. Pose khas berpikirnya Bramasta. Kemudian dia mengangguk pasti.
“Tetap akan dilanjutkan. Kerja sama akan tetap diadakan...”
“Tapi, Pak Boss..”
Bramasta menahan Anton untuk tidak melanjutkan ucapannya dengan telapak tangannya.
“Trust me. I won’t make all of this will be easy for them. They have to pay what did they done to us_Percayalah. Saya tidak akan membuatnya menjadi mudah bagi mereka. Mereka harus membayar apa yang sudah mereka perbuat pada kita_,” Bramasta tersenyum lebar.
“Gue jadi nyamuk deh..” Agung menatap mereka bertiga, “Acara curhat malah jadi meeting internal B Group. Gue sebagai orang Sanjaya Group merasa tersisih...”
Ketiganya tergelak.
__ADS_1
“Jadi tadi bagaimana kelanjutan cerita seluruh organ tubuh mendadak berubah jadi jantung semua saat menatap mata Arini?” Bramasta mengedipkan matanya.
“OMG!” Anton menatap Indra tak berkedip, “Serius, Bro?”
Indra mengangguk.
Anton meringis.
“Which is mean...Lu jadi hor ny saat berada di dekat Teh Arini?”
Bramasta dan Agung melongo.
Mata Indra melebar lalu memukul bahu Anton.
“Setdah! Pikiran Lu ngeres amat. Punya adik bungsu jomblo yang susah move on tapi pikirannya ngeres banget!”
Indra menatap Anton dengan kesal.
“Gini-gini gue juga tahu diri, Ton. Gue tahu batasan gue. Bahkan saat pagi tadi gak sengaja gue lihat siluet tubuh Arini yang sedang di-washlap oleh perawat dari baik tirai pembatas bed Alif, gue langsung buru-buru memalingkan wajah..”
“Woooow!” ketiganya kompak berseru sambil menatap Indra takjub.
“Walau setelah itu gue merasa pandangan gue agak berkunang-kunang..” Indra mengacak rambutnya lagi.
Ketiganya sontak tertawa.
“Juga saat perawat tadi meminta Dinda untuk menyimpan kembali pakaian dalam milik Arini karena belum bisa dipakai olehnya.”
“Jadi dia gak pakai apa-apa di balik baju rumah sakitnya?” Anton bertanya lagi dengan tatapan dan nada polos.
Agung menepuk keras lengan Anton.
“Gak sopan ih!”
“Kan gue cuma nanya..”
“Kan Indra sudah jelasin tadi,” Bramasta menatap gemas pada Anton.
“Gue kan jadi melihat pakaian dalamnya. Pikiran gue auto travelling pagi tadi.. Benda yang berwarna hitam dan pink lembut itu jadi terbayang-bayang terus di sepanjang jalan tadi.”
Ketiganya terbahak lagi.
“Sekretaris B Group di-ghosting blackpink!” celotehan Anton membuat mereka semakin terbahak.
.
***
Blackpink yang ada Ji Soo dan Lisa itu bukan Bang?
*Author sok polos 🤭🤓
__ADS_1