
Tangan Hans mencekal bahu Indra. Mengingatkan Indra untuk tidak berucap dengan nada keras dan tajam.
“Teteh jangan terlalu naif. Memangnya bisa, baru masuk kelas bela diri lalu bisa melawan psikopat gila seperti mantan suami Teteh? Come on.... Itu sih sama saja dengan menyerahkan nyawa Teteh ke orang itu.”
Indra mengangkat telunjuknya. Tatapannya berapi-api.
“Satu lagi. Bila Teteh mati, Teteh pikir bakalan mudah bagi anak-anak untuk kehilangan Bundanya? Saya tidak punya hubungan kekerabatan dengan anak-anak. Mantan suami Teteh bisa mengambil hak asuh mereka dengan mudah.”
Arini terdiam. Membuang pandangannya ke arah jendela.
“Ndra..” Papi berusaha mengingatkan Indra lagi.
“Yang diinginkan mantan suami Teteh itu harta Teteh, semua aset Teteh. Dia bisa dengan mudah menguasai itu semua setalah mengambil hak asuh anak-anak.”
“A.. tolong jangan biarkan dia melakukan itu semua..” suara Arini.
Indra menarik kursi yang ada di dekatnya untuk lebih mendekat ke arah Arini. Dia menyentuh lengan Arini. Nada suaranya melunak.
“Saya juga meminta tolong pada Teh Arin untuk berhenti berbicara: kalau saya mati-kalau saya mati lagi. OK? Yakinlah kalau kita bisa melalui ini semua. Bangun mindset yang positif di sini,” Indra menunjuk kepalanya, “Lalu di sini,” Indra menunjuk ke dadanya.”
“Orang tua yang berpikir positif akan membuat rasa percaya diri anaknya meningkat dan selalu berpikir positif juga.”
Penyangga lehernya menyulitkan Arini untuk menganggukkan kepalanya.
“Iya..”
“Tentang keinginan Arini untuk tidak melaporkan mantan suaminya, bagaimana?” Papi memandang Hans dan Raditya bergantian.
“Saya tidak bisa berbuat banyak bila ibu Arini sendiri bersikeras untuk tidak melaporkan kejadian tadi..” Raditya mengangkat kedua belah telapak tangannya.
"OK.. Nanti akan saya atur pengamanan untuk anak-anak dan Teh Arini sendiri juga keamanan di rumahnya,” Hans memandang Indra dan Arini bergantian.
Hans memandang datar pada Arini, tersenyum tipis lalu menganggukkan kepalanya, “Teh Arini jangan khawatir, AMANSecure adalah salah satu perusahaan keamanan yang terbaik di negeri ini.”
Raditya tersenyum lebar pada Arini, “Jangan ragukan Tuan Hans, Bu Arini..”
“Gue percaya Lu dan orang-orang Lu, Hans. Just do the best for them. Tagihannya kirim aja ke gue.”
Hans terkekeh sambil mengibaskan tangannya.
"It’s OK..”
__ADS_1
“Tuan Hans, terimakasih banyak,” Arini memandang Hans lalu beralih pada Raditya, “Pak Radit, terima kasih banyak untuk waktunya.”
Pintu diketuk dari luar lalu dibesarkan. Seorang pria bertubuh tegap memakai baju seragam AMANSecure yang berwarna navy blue.
“Assalamu’alaikum, ma'af, di luar ada Nona Husna, dia mengaku sebagai karyawannya Ibu Arini.”
Semua menatap Arini sekarang.
“Husna..?” Arini menatap Indra, “Dia pekerja saya. Tangan kanan saya..”
Indra mengerti. Dia mengangguk lalu memandang ke pengawal.
“Antarkan Nona Husna masuk, Pak. Terimakasih.”
“Baik, Tuan Indra..”
Hans dan Raditya menuju ke sofa bed. Husna masuk, lalu mengangguk hormat pada Hans dan Raditya juga kepada pasangan Kusumawardhani.
Indra berdiri dari kursi yang ia duduki lalu menatap Husna yang melihatnya dengan takut-takut.
“Silahkan Teh..” Indra berpaling pada Arini, “Teh, saya tinggal dulu. Kalian mengobrolah..”
Indra mengangguk lalu berlalu. Memberi kode kepada Hans dan Raditya untuk mengobrol di lobby lantai VIP.
Mereka duduk di sofa yang menghadap lift.
“Lu kenapa Ndra tadi?” Hans terkekeh.
Indra mengusap wajahnya.
“Gue juga gak tahu kenapa, Hans..”
Raditya terkekeh.
“Dan saya terpana saat Tuan Kusumawardhani dan Tuan Hans memanggil Pak Indra dengan kompak..”
“Saya merasa kecewa saja karena dia tidak mau melaporkan mantan suaminya ke polisi. Tidak ada efek jera bagi mantan suaminya itu.”
“Alasan karena anak-anaknya.. saya rasa akan menjadi hal yang blunder nantinya,” Hans memakai bahasa formal karena ada Raditya.
“Itu juga yang saya pikirkan,” Indra tercenung.
__ADS_1
“Kita lihat saja perkembangannya nanti,” Raditya menengahi, “Lagi pula tidak ada yang tahu seberat apa perjuangannya merawat dua anak laki-laki yang masih kecil seorang diri. Menjadi tulang punggung, menjadi ibu sekaligus ayah. Kita kan tidak pernah berada di posisinya.”
Pintu lift terbuka. Seorang pria berapron hitam dengan logo kedai kopi yang berada di lobby bawah rumah sakit membawa nampan dengan 3 cup kertas.
Indra melambaikan tangan ke arahnya. Pria tersebut mengangguk sambil tersenyum.
“Dua hot black americano dan satu hot cappucino?”
Indra mengangguk lalu menyerahkan sejumlah uang di atas nampannya.
“Ambil saja kembaliannya, Mas. Terimakasih ya.”
Pria tersebut mengucap terima kasih dan berlalu.
Indra menyodorkan cup cappucino kepada Raditya. Hans selera kopinya selalu black americano.
“Thanks Pak Indra. Masih ingat dengan selera kopi saya ternyata,” Raditya tersenyum.
Indra terkekeh.
“Seandainya Ibu Arini melaporkan kepada pihak yang berwajib pun hasilnya akan kurang maksimal. Walau ini bukan kejadian pertama tetapi ini akan menjadi laporan pertama,” Raditya menyesap kopinya dengan berhati-hati karena masih panas.
Hans mengangguk mengerti.
“Bad system ya?”
“As we know well lah..” Raditya mengangkat kedua bahunya, “Hukum peninggalan kolonial.”
Ketiganya tertawa sambil.menyesap kopinya masing-masing.
.
***
Sudah ngopi belum?
Yuk ngopi...☕
(Kali aja ada Readers yang baik hati mau ngasih hadiah secangkir kopi untuk Author ..😉)
**Ngarep boleh doooooong 😁
__ADS_1