
Abay masih memperhatikan Ibu Blinky hingga saat mereka berbelok.
“Kelas Abay dimana?”
“Lulus tewus. Ati kliatan. Ada pelosotana.”
Indra tertawa mendengar Abay berbicara.
“Ibu-ibu tadi jaat.”
“Abay kenal?”
Abay mengangguk.
“Anakna pege syama dwengan Abay. Tapi gak teman..”
“Bukan teman sekelas, maksudnya?”
Abay mengangguk.
“Ibu itu cubit Abay!”
Indra berhenti berjalan, dia menatap Abay dengan serius.
“Kenapa?”
“Gak senjaja Abay nyendol anakna. Jatuh. Nangis. Pas pulang, cubit Abay di mbil jemput_gak sengaja Abay menyenggol anaknya terus jatuh. Anaknya nangis. Sewaktu pulang, Abay dicubit oleh ibu anak itu di mobil jemputan.”
“Kakak tahu?”
“Tawu. Tata malah te ibu itu. Tata dimalahin, didiniin.. Tahu. Kakak marah ke ibu itu. Kakak malah dimarahin sambil diginiin.._” Abay memperagakan menunjuk-nunjuk dengan wajah marah.
“Abay cerita ke Bunda?”
Abay menggeleng.
“Ati Nda swedih..”
“Abay cerita ke ibu guru?”
Abay menggeleng.
“Tapi ibu guru tahu kejadian Abay gak sengaja menyenggol anaknya?”
Abay mengangguk.
“Tawu.”
“Sewaktu kejadian Abay dicubit dan Kakak dimarahi, Pak Supir ada?”
“Ada, Om. Dia liat tapi gak bwani towong. Ibu itu jaat. Owang kaya..” saat menyebut orang kaya, Abay berbisik sambil menatap Indra sungguh-sungguh. Sepertinya bagi Abay, orang kaya adalah sosok jahat.
Antara nelangsa dan gemas, Indra akhirnya mengelus kepala Abay. Dia meletakkan Abay. Lalu menggandengnya menaiki tangga pelataran bangunan playgroup.
__ADS_1
“Itu kelas Abay, Om!” Abay menunjuk pintu berwarna biru dengan jendela penuh hiasan kertas hasil karya anak-anak.
“Assalamu’alaikum.. Wah, Abay diantar siapa pagi ini?” seorang gadis dengan kerudung lebar menyapa Abay dengan ceria.
“Wa-ala-itum syayam, Ustazah. Ini Om Inda. Om Inda baik, anteng. Abay dan Tata syuuuta Om Inda,” Abay menggoyangkan tangan Indra lalu salim pada ibu guru yang dipanggilnya Ustadzah.
Indra dan Ustadzah saling berpandangan kemudian tertawa mendengar celotehan Abay.
“Saya Ustadzah Irma dan yang itu Ustadzah Siti. Kami guru di kelas Abay.”
“Saya Indra, mohon ma’af kemarin Abay tidak bisa mengikuti kegiatan belajar dahulu,” Indra menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dadanya.
“Oh iya. Kami mendengar kejadian yang menimpa Ibu Arini dan Kakaknya Abay, Bagaimana kondisi mereka?” Ustadzah Irma berkata dengan nada prihatin.
Ustadzah Siti yang sedang membereskan buku bacaan menghampiri mereka berdua.
“Ibu Arini dan Kakak Alif masih dalam perawatan medis. Ibu Arini, mengalami memar pada rusuk dan lehernya dan luka-luka lainnya. Saya sedang mengkhawatirkan kondisi kakaknya Abay sekarang ini. Tadi sewaktu saya tinggal, tubuhnya demam. Mohon do’anya untuk kesembuhan mereka.”
“Subhanallah..” Ustadzah Irma dan Siti berkata secara bersamaan, “Syafahallahu untuk Bundanya Abay dan syafahullahu untuk kakaknya Abay, Alif.”
“Ruang guru SD dimana ya? Saya ingin memberikan surat keterangan rumah sakit bahwa Alif tidak bisa mengikuti untuk beberapa hari ke depan.”
“SD di bangunan yang berwarna krem di sebelah kanan itu Pak Indra. Ruang guru ada di lantai 2 di samping tangga.”
Indra mengangguk.
Ustadzah Irma dan Siti saling berpandangan dengan kening berkerut. Berusaha mengingatnya.
“Ah ya.. itu kejadian minggu lalu saat hendak mencuci tangan sebelum makan siang,” Utadzah Siti menjawab kemudian bertanya balik, “Memangnya ada apa Pak Indra?”
“Apakah anak itu terluka?”
“Tidak..” keduanya menggeleng, “Bahkan Abay langsung meminta ma’af pada saat kejadian itu terjadi. Dia ikut membantu anak tersebut berdiri. Memangnya kenapa Pak?”
“Abay diintimidasi di dalam mobil jemputannya oleh ibu anak tersebut. Bahkan dicubit. Alif yang saat itu di sebelah Abay berusaha membela Abay malah dibentak dan dimarahi.”
“Subhanallah. Kok sampai main fisik ke anak kecil sih? Padahal mereka berdua waktu itu sudah biasa lagi..” Ustadzah Irma tampak gusar, “Ayo Pak. Ikut saya. Ini tidak bisa dibiarkan. Bapak bicarakan hal ini ke kepala sekolah kami.”
Indra mengangguk. Dia memanggil Abay lalu berjongkok.
“Om Indra tinggal dulu ya. Nanti saat pulang, Abay dijemput oleh Tante Husna. Tunggu Tante Husna hingga Tante Husna datang. Jangan berlarian, kasihan Tante Husna sedang hamil, ada dedek bayi di dalam perutnya, jadi Tante Husna gak boleh dibuat capek. Abay mengerti kan?”
Abay mengangguk. Dia memeluk leher Indra. Mencium kedua pipinya.
“Ati di umah syaki ada Owma dan Owpa kan? Abay tanen.._Nanti di rumah sakit ada Oma dan Opa kan? Abay kangen.._”
Indra tertawa lalu mengangguk.
“Insyaa Allah jam 9 nanti Oma ada di rumah sakit menemani Tante Dinda. Mungkin ada Nenek juga nanti. Kalau Opa, paling sore nanti baru bisa datang ke rumah sakit. Opa kan harus ke kantor dulu...”
Abay mengangguk mengerti. Indra mencium kedua pipi dan kening Abay. Abay kemudian salim pada Indra. Para Ustadzahnya tersenyum melihat interaksi keduanya.
__ADS_1
“Mari Pak..” Ustadzah Irma berjalan di depan.
Kepala Sekolah sedang berada di ruang guru saat mereka datang. Para guru mendadak heboh saat melihat Indra.
Indra memberi salam dan mengangguk hormat kepada mereka semua. Bel masuk terdengar, para guru keluar dari ruangan untuk membimbing murid-murid berbaris di luar kelas.
Ustadzah Irma menceritakan kejadian intimidasi yang diterima oleh Abay dari salah satu orangtua murid playgroup.
Kepala Sekolah mendengar dengan seksama. Sesekali ia bertanya pada Ustadzah Irma.
“Sopir mobil jemputan menjadi saksi saat ibu dari anak tersebut mencubit Abay dan memarahi Alif. Kata Abay, Pak Supir tidak berani menolong karena takut dengan pelaku. Sepertinya pelaku terbiasa mengancam orang lain dengan kekuasaannya.”
“Siapa supir jemputan Abay?” tanya Ibu Kepala Sekolah bertanya pada Ustadzah Irma.
“Pak Adi, Bu.”
“Hubungi Pak Adi. Minta menghadap ke saya sekarang.”
Ustadzah Irma mengangguk. Dia mengambil gawainya lalu mengetik pesan chat.
“Ada CCTV yang menghadap tempat mobil jemputan biasa parkir? Mungkin sebaiknya kita melihat rekaman dari CCTV tersebut untuk melihat kejelasan kejadiannya bagaimana,” usul Indra.
Ibu Kepala Sekolah mengangguk setuju. Dia menghubungi security untuk melihat rekaman kejadian seminggu yang lalu di tempat parkir mobil jemputan.
Ustadzah Irma mohon diri untuk kembali ke kelasnya. Dia meninggalkan ruang kepala sekolah bersamaan dengan datangnya supir mobil jemputan.
“Iya, betul kejadiannya seperti itu Bu. Saya kaget, tidak menyangka Abay akan dicubit seperti itu padahal Abay sudah berkali-kali meminta ma’af pada ibu itu..”
Indra mencengkeram pegangan kursi sofa. Tidk habis pikir ada seorang ibu-ibu yang sejahat itu.
“Kenapa Bapak tidak menolong Abay dan Alif?” nada suara Indra terdengar dingin.
.
***
Babang Indra pasti marah dong. Anak kecil sudah minta maaf tapi masih juga dicubit.
Bales Ndra. Cubit pakai tang si Blinky-nya!
Eh, Author jadi provokator 🤣😁
Catatan Kecil:
🌸 Ucapan Syafahallahu diucapkan bila orang yang sakit adalah wanita tetapi kita tidak sedang berada di dekatnya.
🌸 Syafahullahu diucapkan bila orang yang sakit adalah laki-laki tetapi kita tidak sedang berada di dekatnya.
🌸 Syafakillah adalah adalah ucapan kepada orang yang sakit (perempuan) dan kita berada di dekatnya.
🌸 Syafakallahu adalah ucapan kepada orang sakit (laki-laki) dan kita berada di dekatnya.
Jangan lupa pencet tombol like untuk menghitung retensi pembaca 🙏🏼
__ADS_1