
“Apakah kalian begitu juga? Merasakan hal yang sama seperti yang gue rasakan?”
“Kurang lebih sama..” Agung terlihat berpikir. Bramasta mengangguk menyetujui ucapan Agung.
“Perasaan selalu ingin melindunginya terus menerus, mengkhawatirkannya terus menerus hingga rasanya seluruh pencapaian kita selama ini dan yang akan datang is nothing and will be nothing bila tidak bersamanya,” Indra masih melanjutkan dengan raut wajah yang serius.
“Weiss dalam banget, Bro!” Anton menatap takjub pada Indra, “Gue belum pernah berada ditahap itu.”
“Lu kan cuma mengalami cinta monyet, Ton..” Agung terkekeh.
“Lalu saat ada yang menyakitinya, menjelekkan namanya, bergunjing di belakangnya, rasanya gue merasa sakit di sini,” Indra menunjuk ke arah tulang tajuk pedang dadanya, tepat di area hati, “Rasanya gue sanggup berbuat hal yang kejam untuk membuat mereka berhenti menggunjing, mengumpat, menyakiti orang-orang yang kita sayang.”
Agung dan Bramasta mengangguk.
“Gue pernah berada di posisi itu. Saat Adisti disakiti oleh Rita Gunaldi. Oleh mantan tunangannya, Prasetyo Anggoro dan juga oleh ibu kandung mantan tunangannya itu,” Bramasta menggoyangkan es batu pada gelasnya.
“Gue juga pernah berada di posisi itu saat Adinda mengalami bullying yang mengarah pada tindakan pelecehan di gang belakang gerai donat, mungkin saat itulah gue merasa sudah jatuh cinta padanya,” Agung memainkan sendok kue di atas piring kuenya yang sudah kosong, “Juga pada saat Adinda hendak dijual kepada Bryan Ansel, oknum atase kebudayaan kedutaan Jerman. Apalagi saat Adinda hendak dilecehkan oleh teman pria dari si ibu tirinya itu. Gue gak tahu apa jadinya kalau saat itu Bang Hans tidak mendampingi gue. Mungkin gue sudah jadi pembunuh..”
“Terus sebenarnya perasaan gue ke dia itu apa? Gue gak pernah sebingung ini menghadapi perempuan...” Indra terkekeh sumbang, mengacak rambutnya lagi, “Gue gak pernah merasa tersedot tapi secara bersamaan seperti tersesat saat menatap matanya. Iris matanya, iris mata tercantik yang pernah gue lihat. Seperti bagian tengah bunga matahari.”
“Gue gak pernah merasa senyaman itu mengobrol dengan perempuan. Walaupun dia masih asing bagi gue, walau kami masih menggunakan kalimat baku dan formal saat berbicara,” Indra terdiam memperhatikan embun yang mengalir ke meja dari gelas es kopinya Bramasta.
“Yang paling menyakitkan bagi gue adalah saat melihat dia menangis. Menangisi tentang anak-anaknya, kekhawatiran seorang ibu. Menangisi ketidakberdayaannya dia saat berhadapan dengan mantan suaminya. Bahkan gue merasa, dia masih ketakutan terhadap mantan suaminya itu.”
“Yang gue lihat dari Teh Arini, dia bukan wanita yang rapuh...” Anton memandang Indra dengan dagu ditumpukan pada telapak tangannya.
“Nggak.. gue juga nggak melihat dirinya sebagai wanita yang rapuh. Dia wanita yang kuat. Kalau dia bukan wanita yang kuat, bagaimana bisnisnya bisa berkembang pesat seperti saat ini..”
Yang lainnya mengangguk setuju dengan ucapan Indra.
“Membicarakan Arini, rasanya aneh jika hanya berbicara tentang Arini saja tanpa ada Alif dan Abay di dalamnya. Bagi gue, mereka satu paket. Gak bisa dipisah-pisah. Rasanya gue ingin menghancurkan si ibu-ibu sombong itu sehancur-hancurnya karena sudah berani menyakiti Alif dan Abay.”
“Kita lihat tindakan yang diambil pihak sekolah dan yayasan terkait kejadian tersebut. Bila mereka menutupi kejadian tersebut karena tunduk dan takut dengan ancaman dari si ibu itu, kita akan bertindak.”
“Prince Zuko?” Anton menaikkan kedua alisnya. Agung melongo.
Bramasta terkekeh.
“Nope! Melibatkan Prince Zuko untuk hal remeh yang seharusnya bisa diselesaikan dengan cara baik-baik nanti malah akan jadi bumerang bagi Prince Zuko sendiri.”
“Kalau dari pihak sekolah sih gue yakin mereka akan bertindak tegas tapi gue gak yakin bila dari pihak yayasan.”
__ADS_1
“OK. Kita semua tahu dunia pendidikan kita seperti apa. Terutama swasta,” Bramasta memandang semuanya.
Indra mengangguk.
“Mostly, money oriented_Kebanyakan berorientasi pada uang_”
“Nah, Lu tinggal bilang saja ke pihak sekolah, Akbar dan Alif sekarang berada di bawah tanggung jawab Lu. Terserah nanti orang-orang akan berspekulasi macam-macam dengan omongan Lu, anggap saja itu sebagai do’a yang baik bagi kalian,” Bramasta menatap Indra dengan tersenyum lebar, “Tanyakan kapan ada kegiatan besar di sekolah akan diadakan. Minta pihak yayasan dan sekolah untuk membuat proposal ke B Group untuk formalitas. Sebagai salah satu CEO, Lu bisa usahakan B Group akan mensponsori kegiatan sekolah tersebut.”
“Hmmm,” Indra tampak skeptis, “Apa gak terlihat seperti menyogok?”
“Gaklah kalau sejak awal akadnya jelas, untuk kegiatan sekolah dan kebaikan siswa sekolah. Dan pertegas, bahwa B Group akan menyokong kegiatan tersebut tanpa meminta hak istimewa untuk Alif dan Abay. Perlakukan mereka seperti siswa lainnya,” Bramasta menatap Agung meminta pesetujuannya.
Agung mengangguk.
“Setidaknya hal tersebut akan membuat pihak yayasan untuk berpikir ulang menyepelekan kasus ini.”
Anton mengangguk setuju.
“Ndra..” Bramasta berdiri lalu mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.
Indra menatap tangan Bramasta dengan tatapan bertanya. Bramasta menggoyangkan tangannya agar Indra menerima uluran tangannya. Indra berdiri lalu menjabat tangan Bramasta.
Orang-orang yang berada di gerai kopi memperhatikan mereka. Mengira mereka tengah berbicara tentang kesepakatan bisnis.
“Gue kok jadi terharu..” bisik Indra saat dipeluk oleh Bramasta, “Setidaknya perasaan gue gak salah kan? Bukan karena sekedar nafsu? Bukan karena ingin segera mengakhiri masa lajang gue yang udah kelamaan?”
Bramasta menggeleng sambil tersenyum lebar.
“Jangan menangis di sini..” Bramasta terkekeh saat mereka duduk kembali.
Agung dan Anton tersenyum lebar melihat kelakuan mereka berdua.
“Kenapa?”
“Orang-orang sedang memperhatikan kita..”
“Mr. Secretary in love...” Anton meneguk cappucinonya, “Gue jadi lapar..”
Agung tertawa menatap Anton.
“Bro, gue masih dalam tahap pertumbuhan. That’s why always feeling hungry..” Anton tidak terima saat ditertawakan oleh Agung, “Lagipula sekarang ini jamnya makan siang.”
__ADS_1
Gawai Indra berdering, panggilan masuk dari Adinda.
“Assalamu’alaikum, Din. Om Agung kamu ada di dekat Abang kok. Dia gak macam-macam...”
Agung menatap sebal pada Indra. Tetapi kemudian dia menyadari sikap tubuh Indra berubah menjadi tegak. Ada sesuatu yang tidak baik-baik saja. Indra mendengarkan Adinda yang sedang berbicara dengan serius. Tangannya memegang gawainya dengan erat.
“Sekarang Abang ke sana. Tahan dokternya agar berbicara langsung dengan Abang.”
Indra mengakhiri panggilan teleponnya. Lalu menatap semuanya.
“Kita ke ruang tunggu ICU. Gue harus bicara dengan dokter yang menangani Alif.”
Mereka berempat kompak berdiri dan meninggalkan gerai kopi dengan tergesa menuju lobby lift VIP yang terpisah dengan pengunjung lainnya.
“Ada apa?” Agung bertanya sambil berjalan.
Panggilan orang-orang di area lobby tidak dihiraukan oleh mereka. Wajah keempatnya tampak khawatir dan tegang.
“Tubuh Alif tidak bereaksi apapun terhadap pengobatan yang diberikan. Ini bahaya untuk keadaan otaknya. Volume penumpukan cairan di otaknya bertambah.”
“Jadi?” Anto menekan tombol lift, lantai 4.
“Harus dioperasi petang ini juga.”
“Subhanallah..”
.
***
Yaah baru saja hepi, tetiba dengar kabar yang bikin galau...
Tentang kisah cinta Bramasta-Adisti dan Agung-Adinda, ada di novel CEO Rescue Me!
Masih on going.
Ayo baca maraton 😁
Jangan lupa tekan tombol like untuk menghitung retensi pembaca, Readers ❤️
Utamakan baca Qur'an.
__ADS_1