
“Mi.. tadi bagaimana ceritanya sih?” tanya Papi saat Alif diambil alih Indra.
“Nanti Pi, ceritanya. Sekalian Mami mau telepon Hans supaya mami gak mengulang-ulang ceritanya,” Mami memandang Indra, “Ndra, buatin Mami dan Papi teh manis. Lutut Mami masih gemetaran.”
Indra mengangguk lalu ke arah pantry untuk merebus air di teko elektrik.
Mami mengambil gawainya yag ia letakkan di atas nakas bed Arini.
“Assalamu’alaikum, Hans. Kamu sedang meeting gak sekarang?” Jeda.
“OK. . Hans, saya minta tolong ya. Minta pengawal untuk berjaga di depan pintu. Tadi sewaktu Papinya Indra ke bawah karena mau bertemu anak buahnya untuk tanda tangan berkas, dan Indra sedang berada di ruang konsultasi, mantan suaminya Arini datang, Hans. Kebetulan saya sedang berada di kamar mandi..” Jeda.
Mami menceritakan kronologinya secara runut. Papi dan Indra mendengarkan dengan seksama.
Saat Mami selesai bercerita, Mami medengarkan Hans berbicara. Kemudian menyodorkan gawainya ke arah Indra.
“Ndra, Hans mau bicara sama kamu.”
Indra mengambil gawai Mami. Dia sudah selesai membuat teh manis untuk kedua orangtuanya.
Papi membimbing Mami untuk duduk di pantry bar. Meminum teh yang sudah dibuat Indra.
Indra berbicara dengan Hans sambil berjalan ke arah sofa L yang ada di bagian ujung ruangan. Berbicara dengan suara pelan.
__ADS_1
“Gue sama sekali gak nyangka bakal ada kejadian seperti ini, Hans. Gue gak tahu darimana mantan suaminya itu tahu Arini dirawat di rumah sakit ini..” Jeda.
“Gak.. saat kejadian gak ada security di area pintu kaca VIP. Katanya sih security yang ada sedang membantu memasukkan bed pasien yang baru masuk..” Jeda.
“Saat gue mendengar teriakan Mami memanggil security, baru pada saat itu beberapa security datang..” Jeda.
“Alif.. Alif saking khawatirnya dengan keselamatan Mami sampai mencabut infusnya. Dia khawatir Mami disakiti oleh orang gila itu,” leher Indra terasa tercekat, dia jeda sejenak, “Arini bahkan berusaha berdiri..” Jeda.
“Abay? Abay gemetaran ketakutan di koridor. Gue gak bisa bayangin kalau tadi gak ada Mami. Gue juga gak bisa bayangin kalau Papi terlambat datang..” Indra yang menahan diri akhirnya tidak kuat juga menahan isakannya.
Dia menangis pelan di ujung sofa. Dengan gawai di telinganya. Berbicara dengan Hans, seperti berbicara dengan kakak sendiri.
Hans masih berbicara dengan Indra sebelum akhirnya Indra menjawab salam Hans. Mengambil tisu di atas meja sofa untuk menghapus air matanya juga menyusut hidungnya.
“Hans dalam perjalanan ke sini.”
“Alhamdulillah..” Mami mengangguk. Dia menepuk-nepuk betis Akbar yang tertidur di tempat tidur untuk keluarga.
Indra berdiri mengecek keadaan Arini dan Alif. Keduanya juga tengah tertidur. Mungkin lelah secara emosi akibat kejadian tadi.
Di bed Alif, Indra menyentuh wajahnya. Menyibak rambut yang menutupi alisnya. Lalu mengecup keningnya, lama.
Papi memperhatikan dari tempat duduknya di samping Mami. Dia menyenggol Mami lalu menunjuk Indra dengan menggunakan dagunya. Mata Mami mengembun.
__ADS_1
“Mami percaya takdir?” bisik Papi.
Mami mengangguk.
“Papi yakin, pertemuan mereka dan apa yang terjadi hari ini juga pertemuan kita dengan mereka adalah takdir Allah. Mungkin.. Mungkin mereka memang ditakdirkan untuk bersama sebagai keluarga..”
Mami menoleh cepat pada Papi. Masih dengan berbisik.
“Maksud Papi?”
“Papi tidak keberatan kalau Arini adalah jodohnya Indra.”
“Nggak!” Mami menatap marah pada Papi, “Mami gak rela. Dia anak kita semata wayang, Pi. Bahkan mereka baru saja kenal.. Dia janda beranak dua sedangkan anak kita bujangan.”
“Mi..”
“Nggak. Hubungan mereka hanya sebagai keluarga angkat saja. Tidak lebih dari itu!”
Papi memilih diam. Tidak lagi menanggapi kalimat Mami. Percuma bicara kepada wanita yang tengah dikuasai emosi.
.
***
__ADS_1
Papi sabar banget ya.