Mr. Secretary: Destiny Bound

Mr. Secretary: Destiny Bound
BAB 42 – PAGI YANG SIBUK


__ADS_3

Abay mengangguk. Meletakkan pensilnya lalu segera berlari ke arah Bundanya.


“Asalikum Nda...” Abay salim pada Bundanya.


“Wa’alaikumussalam. Gantengnya Bunda sudah bangun?”


“Udah. Syowat ama Om Inda. Abay mo solah, Nda.._Udah. Sholat sama Om Indra. Abay mau berangkat sekolah, Bunda.._” Abay lalu menunjukkan jam tangan yang dipakainya, “Dawi Om Inda. Abay blu, Tata blek_Dari Om Indra. Buat Abay blue, sedangkan buat Kakak black_”


Arini mencoba tersenyum tetapi pipinya masih sakit.


“Keren ya Bay. Sudah bilang terimakasih ke Om Indra?”


“Syudah Nda..”


Indra mengantarkan teh manis ke Arini.


“Abay kalau mau minum teh manis, sudah Om buatkan di meja ya. Pakai sendok saja minumnya karena masih panas.”


“A.. makasih banyak. Ma’af jadinya menyusahkan Aa..”


“Kenapa ngomong begitu? Saya enjoy saja tuh,” Indra tersenyum.


“Saya mau sholat dulu..” Arini bertayamum semampunya karena geraknya terbatas.


Indra mengambilkan mukena dan membantu memakaikan atasan mukenanya. Dada Indra berdebar lagi. Seumur-umur baru kali ini ia memakaikan mukena kepada seorang wanita. Bahkan kepada Maminya pun dia belum pernah.


Perasaan yang baru saja dirasakannya membuatnya gelisah. Tetapi secara bersamaan membuatnya ingin tahu lebih banyak tentang perasaan yang baru saja hadir di hatinya.


“Om?” suara Alif memanggilnya.


“Iya, Sayang?”


“Mau pipis..”


“Pakai pispot saja ya,” Indra mengambil pispot di hambalan nakas paling bawah.


“Gak mau. Malu.”


“Tapi Om Indra khawatir Alif jatuh. Masih pusing kan?”


“Masih.”


“Sayang, menurut dulu dengan kata Om, ya. Demi kebaikan Alif. Alif ingin cepat bisa sekolah lagi kan?”


“Iya Om..”


Indra membantu Alif untuk buang air kecil dengan menggunakan pispot. Lalu membersihkan anggota tubuh Alif dengan menggunakan tisu basah.


Kemudian Indra membawa pispot ke kamar mandi untuk dibersihkan. Indra mengurus Alif dengan baik. Membuat Arini setelah sholat mengamatinya serta mendo’akannya.


“Kakak mau minum teh manis?”


“Nanti saja, Om. Kakak mau sholat shubuh dulu.”


“Gak usah wudhu tapi tayamum saja ya? Kakak sholat sambil berbaring saja seperti Bunda.”


“Kakak belum bisa tayamum.”


“Om bimbing..”


Sambil menunggu Alif sholat, Indra menyuapi teh hangat pada Arini.


“Masih sakit mulutnya?”


“Sudah tidak sesakit kemarin. Hanya masih kaku untuk digerakkan.”


Indra memperhatikan wajah Arini.


“Bengkaknya juga sudah mulai berkurang. Nanti coba makan kue ya. Teteh dari kemarin gak makan. Semalam Mami memilih menu sarapan untuk Teh Arin bubur sumsum. Nanti dicoba ya. Tinggal telan saja.”


“Bu Dhani sangat baik sakali.”

__ADS_1


“Mami memang baik kok. Sama baiknya dengan Tante Al dan Bundanya Agung-Adisti.”


“Adinda.. dia tinggal bersama Bunda?” Arini menatap Indra yang dengan telaten menyuapkan teh hangat.


“Adinda punya 3 orangtua angkat setelah yatim piatu. Keluarga saya, Keluarganya Sanjaya dan keluarga Gumilar.”


“A Agung...”


“Dia tinggal di apartemen. Supaya Adinda bisa tinggal di rumahnya tanpa ada bisik-bisik tetangga yang gak enak. Tapi tetangga mereka baik-baik semua kok.”


“Sudah cukup A, tehnya. Terima kasih banyak.”


“Coba makan kue ya. Ini cake-nya lembut banget. Ah.. Teh Arin harus mencoba kue buatan Adinda. Semuanya enak-enak. Keponakannya Bramasta yang seumuran dengan Abay ketagihan dengan muffin wortelnya.”


“Kedengerannya enak.”


“Teh Arin bisa bikin kue?”


“Saya gak telaten untuk bikin kue.”


“Memasak?”


“Sedikit. Setidaknya masak air gak pernah gosong..”


Indra tertawa. Dia suka dengan bercandanya Arini.


“Om.. mau teh anget..” suara Alif terdengar pelan.


“Abay syaja syuap Tata..”


“Abay bisa?” tanya Arini.


“Bisya, Nda..”


“Sebentar ya, saya mengurus Alif dulu.”


“A Indra, terima kasih banyak..”


Abay berceloteh di depan Alif. Menunjukkan jam tangannya kepada Alif.


“Ini zam kewwen. Kata Om Inda bisya nepon, we-a. Tata zamna blek. Abay blu.”


Indra datang membawa teh. Tersenyum pada kedua anak di depannya.


“Iya kan Om?”


“Iya.. Punya Kakak yang black supaya lebih terlihat anak gede bukan anak kecil lagi.”


Alif tersenyum senang karena diakui sebagai anak besar.


“Abay dan Alif, kalau pakai jam ini gak boleh dilepas ya. Kecuali saat wudhu. Selesai wudhu harus dipakai lagi. Nanti jamnya mati. Karena jamnya bukan pakai baterai tapi pakai denyut nadi kalian,” Alif dan Abay mendengarkan penjelasan Indra dengan penuh takjub, “Kalian tahu denyut nadi?”


Alif mengangguk. Abay mengacungkan jarinya.


“Yang dug dug dug itu kan?”


“Mirip.. Yang dug dug dug itu jantung. Nadi itu pembuluh darah. Berdenyut juga seperti jantung.”


“Kalau bobo?” Alif memandang Indra.


“Bobo di rumah lepas saja tapi kalau bobo di tempat lain, pakai saja.”


“Nanti kalau dilepas, bagaimana? Kan jamnya sudah gak sama lagi?” Alif tipikal anak yang cerdas dan kritis.


“Jamnya pintar, Kak. Dia bisa menyesuaikan jamnya secara otomatis.”


“Kewwween!” Abay memandang jamnya dengan takjub.


Suara pintu digeser, Adinda masuk membawa paper bag dan kotak kue yang besar.


“Assalamu’alaikum..”

__ADS_1


“Wa’alaikumussalam..”


“Ate Dida...!” Abay meloncat dan menubruk sambil memeluk Adinda.


Adinda salim pada Indra juga pada Arini.


“Dinda buatin agar-agar rumput laut supaya mulut Teteh gak pedih. Nanti dimakan ya Teh..”


“Iya.. Dinda makasih banyak ya..”


“Abay mandi dulu yuk,” ajak Indra, “Dimandiin Om.”


“Asyiiik!”


“Alif juga mau Om..” Alif memandang iri pada adiknya.


Indra menghampiri Alif. Menyibak poni yang menutupi alisnya.


“Kakak yang sabar ya.. Kakak kan sedang sakit. Di-washlap saja ya?”


“Iya.. Kakak masih pusing banget..”


“Om mandiin Abay dulu ya..” Indra lalu memandang Adinda, “Din, tolong siapkan baju seragam Abay ya, taruh saja di atas sofa bed. Sekalian baju ganti Kakak Alif. Taruh di bednya.”


Adinda mengangguk. Dia bergerak cepat membantu Indra.


Selesai memandikan Abay, dia menyiapkan peralatan washlap untuk Alif. Menyiapkan air hangat dalam dua baskom kecil. Baskom yang pertama dicampur dengan sabun dan baskom.


Sambil mengelap tubuh Alif di dalam bilik bednya dengan tirai tertutup, Indra bertanya pada Adinda.


“Dinda bisa bantu washlap-in Teh Arin?”


“Dinda gak berani, Bang. Takut menyakiti Teh Arini. Banyak memarnya...”


Indra tertawa.


“Ya sudah, nanti biar perawat saja.”


“Kirain mau sekalian sama Abang Indra..” Adinda tertawa cekikikan.


Arini terbatuk.


“Nah loh, Dinda...” Indra melongokkan wajahnya ke arah mereka berdua, “Teh Arin gak apa-apa?”


“Haissssh... maaf ya Teh..” Adinda menyodorkan botol air putih.


“Kakak sudah wangi, sudah ganteng..” Indra mencium kening Alif, “Wangi banget..”


“Nanti kita cukur rambut bertiga yuk. Mau?” Indra mencium pipi Alif.


“Mau, Om. Nanti modelnya samaan aja ya Om. Supaya orang-orang menyangka Om Indra itu Papanya Kakak dan Abay.”


“Eh?” Indra terkejut.


“Mawu.. mawu! Kewwen nantina!” Abay yang sedang sarapan berteriak heboh.


“OK,” Indra tertawa.


Jawaban Indra membuat Adinda dan Arini saling berpandangan dengan mata melebar.


.


***


Aih ... Mendadak jadi Papa.


Ciyeeeee Bang Indra .. 🤓😁😁


Jangan lupa pencet like untuk menghitung retensi pembaca.


Readers, ❤️ u!

__ADS_1


😁


__ADS_2