
Bramasta memeluk Indra. Agung dan Anton ikut menepuk-nepuk punggung Indra saat ia sudah berada di luar ruang ICU.
“Alif memberi respon?” tanya Adisti.
Indra mengangguk. Adisti tersenyum lebar dengan mata basah. Dia memeluk suaminya.
Adinda mendekat pada Indra.
“Bang...” Indra menoleh pada adik angkatnya.
Pipi adiknya sudah basah sejak tadi.
Adinda memeluk lengan Indra. Indra berjengit dengan tindakan Adinda.
“Eh?” Indra berusaha melepaskan pelukan Adinda.
Dia tidak enak hati pada Agung.
“Loh kok?” Agung menaikkan kedua alisnya menatap Adinda, “Din?”
Adinda melepaskan pelukannya pada lengan Indra. Dia menyusut air matanya dengan punggung tangannya.
“Saya juga ingin dipeluk, Om. Dari pagi, saya sendirian melihat Alif dengan kondisi seperti itu. Sedih Om. Lagian juga ini kan Bang Indra. Abangnya Dinda..”
“Tapi kan...” Agung menatap Indra dan Adinda bergantian.
Indra merangkul Adinda sambil menepuk-nepuk kepalanya.
“Terimakasih ya Din.. Abang sangat berterima kasih banyak ke Dinda...”
“Bang..” protes Agung.
“Singkirkan dulu rasa cemburu kamu, Gung. Jadi cowok yang peka dong...” Anton menengahi dengan sok bijak.
“Ndra, buruan ke atas. Waktu kalian gak banyak. Alif harus dipersiapkan untuk operasinya,” Bramasta mengingatkan.
Indra mengangguk.
“Gue ke atas dulu.”
“Kita makan di sini saja ya,” Bramasta mengeluarkan gawainya, “Mau pesan apa?”
“Nasi Padang, Pak Bos. Gue lapar banget. Suer!” Anton menjatuhkan dirinya ke atas sofa.
Agung mengangguk setuju. Adinda yang duduk di sebelahnya juga mengangguk. Tangan Agung berada di punggung Adinda, menepuk-nepuk punggungnya.
“Pak Suami, sekalian minta sendok ya..” Adisti memeluk lengan Bramasta.
Indra memasuki ruangan Arini sambil mengucap salam. Mami yang berada di pantry lagnsung melihat wajah sembab anak semata wayangnya.
“Bagaimana, Ndra?”
“Arini?”
“Tertidur setelah lelah menangis,” Mami memberikan teh hangat pada Indra yang duduk di pantry bar.
Bunda menghampiri. Mengelus punggung Indra lalu ikut duduk di samping Indra.
“Tadi handphone Arini berdering. Dari sekolah. Mami angkat teleponnya. Takut ada apa-apa dengan Abay..” Mami bercerita sambil duduk di sofa bed.
“Terus?”
__ADS_1
“Mereka menanyakan keadaan Arini. Mami jawab seadanya dan mengabarkan kondisi terakhir Alif.”
Indra mengangguk.
“Ndra, pihak sekolah juga bicara tentang kasus Abay dan Alif yang terjadi seminggu yang lalu. Mami gak tahu apa-apa. Sebenarnya ada apa?”
“Ah.. kenapa pihak sekolah membicarakan kasus itu kepada Arini? Padahal kedua anak itu menyimpan rapat-rapat masalah yang mereka hadapi agar Bundanya tidak khawatir dan sedih,” Indra mengacak rambutnya lagi.
“Sebenarnya kasus apa, Nak Indra?” Bunda menyentuh punggungnya dengan lembut.
Indra menceritakan dari kejadian pagi tadi saat memasuki entrance gedung sekolah. Lalu menunjukkan rekaman video CCTV kepada Mami dan Bunda.
Mami dan Bunda benar-benar geram dengan kejadian itu.
Indra menambahkan video yang didownload dari TowTow. Mami benar-benar marah besar.
“Ndra, kamu dapat alamat perempuan ini?!” Mami menunjuk wajah si Blinky dengan penuh emosi, “Kurang ajar betul dia!”
“Sabar Mami...” Bunda pindah tempat duduk untuk menenangkan Mami.
“Besok Mami yang antar Abay ke sekolah! Supaya Mami bisa balas cubit ke perempuan itu! Balas tunjuk-tunjuk wajahnya juga!”
Bunda meringis ngeri membayangkan Mami mencubit perempuan itu dengan tubuh Mami yang tinggi besar.
“Calm down, Mam.. Bram sudah mengatur semuanya. Bram yang akan melakukannya. Kebetulan minggu ini Bram ada meeting dengan suaminya. Perusahaan suaminya memakai cara-cara kotor untuk memasukkan proposal kerjasamanya ke dalam B Group.”
Mami dan Bunda mengangguk setuju. Indra mengecup pipi Mami.
“Mami tenang saja, OK. Indra juga sudah memberitahu pihak sekolah dan yayasan. Mereka juga sama dengan kita. Geram dengan tindakan perempuan itu.”
Mami mengangguk.
“Indra mau ke ketemu Bundanya Alif dan Abay dulu..”
Indra menyibak tirai dengan perlahan. Arini tengah berbaring miring dengan kaki ditekuk. Nyaris meringkuk. Miris hati Indra melihatnya.
Tangannya bergerak menyingkirkan rambut yang menutupi sebagian wajahnya. Memar di wajahnya mulai menipis. Memar pada matanya masih tampak jelas.
Tangan Indra mengambil scarf, melipatnya menjadi segitiga lalu mengerudungi rambut Arini dengan perlahan. Jemarinya menyentuh pipi Arini. Memar wajahnya tidak dapat menyembunyikan keayuan dan kelembutan wajahnya.
Indra tersenyum. Hatinya menghangat menatap Arini tengah terpejam.
Sentuhan jemari Indra membangunkan Arini. Matanya membuka dan mengerjap. Menatap Indra dengan bingung.
“A Indra?”
Indra menatap mata Arini yang tengah menatapnya. Lagi, sensasi seluruh organ tubuhnya berubah menjadi jantung itu datang. Memompa, berdenyut dan berdetak.
Tatapan iris mata bunga matahari yang sanggup membuatnya tersesat dan hanyut secara bersamaan.
“A Indra..” tangan Arini mencekal tangan indra yang masih berada di wajahnya, “Kakak.. bagaimana dengan Kakak Alif?”
Indra terkejut.
“Ma’af.. Saya..” Indra terhenti sejenak memperhatikan bilur ungu kemerahan dengan semburat hijau di belakang tulang pipi kanan Arini, “Ini... masih sakitkah bila tersentuh?”
“Sudah tidak sesakit kemarin.”
Indra mengangguk.
“Warnanya juga sudah mulai pudar..”
__ADS_1
“Kakak?” Arini bertanya lagi.
Indra mengambil gawainya. Memperlihatkan foto Alif kiriman dari Adinda.
Arini menjerit perlahan.
“Tidaaak! Kakaaaaak!” Arini memegang gawai Indra dengan kuat.
Indra memandangi Arini dengan mata mengembun. Bunda dan Mami gegas menghampiri mereka berdua.
“Alif.. Alif tidak sadarkan diri?” Arini meraung sedih dengan suara parau, “Aliiiif, Kakak! Ma’afkan Bunda, Nak. Seharusnya Bunda menyuruh kakak untuk tetap di atas dan mengunci pintu kamar. Ma’afkan Bunda..!”
Mami dan Bunda menangis melihat reaksi Arini. Indra duduk di atas bed Arini. Mengubah stelan bed menjadi setengah duduk lalu meraih tubuh Arini untuk didekapnya.
“Sabar ya Teh. Sabar. Ini ujian bagi kita semua.. Dokter Kamal menjelaskan, obat yang diberikan untuk Alif tidak bereaksi seperti yang diharapkan. Tubuh Alif tidak merespon obatnya. Cairan di otaknya tidak bisa terbuang sendiri.”
Arini melepas dekapan Indra. Menatap Indra dengan wajah terluka.
“Maksudnya?” suaranya sudah sengau.
“Petang ini, Alif harus dioperasi. Untuk mencegah adanya kerusakan otak dan mencegah semakin bertambahnya cairan yang terkumpul akibat benturan pada kepala Alif...”
“Operasi???” Arini memandang Indra tak percaya.
Indra mengangguk.
“Dokter mejelaskan, ini termasuk operasi ringan karena hanya memasukkan selang ke tempat cairan itu berkumpul. Nanti cairannya akan turun sendiri secara gravitasi.”
“Aliff!” Arini meraung lagi.
Indra mendekapnya lagi. Meletakkan wajah Arini pada dadanya. Dia tidak peduli kemejanya basah oleh airmata dan ingus.
“Tadi saya menemui Alif. Alif merespon beberapa ucapan saya dengan rematan di jari saya..”
Arini mendongak.
“Alif merespon? Artinya dia belum koma?”
Indra mengangguk.
“Teteh ingin menjenguk Alif? Direktur rumah sakit sudah mengijinkannya.”
“Mau. Sekarang ya A.”
“Ada prosedur yang harus ditaati karena ini baru pertama kali dilakukan di rumah sakit ini. Karena kondisi Alif yang rawan infeksi jadi kita semua harus memakai baju steril yang disediakan rumah sakit. Juga bed Teteh..”
“Mami hubungi perawat ya Ndra supaya segera menyiapkan Arini.”
Indra mengangguk.
“Thanks Mam..”
.
***
Sepertinya bakal rame kalau ada adegan Mami memiting si Blinky.
Jangan lupa pencet like-nya ya juga minta update biar Author semangat nge-halunya.
__ADS_1
Utamakan baca Qur'an ya..❤️