
Indra dan Bramasta menceritakan perkembangan Alif di WAG. Semuanya senang dengan perkembangan Alif tetapi juga merasa aneh dengan apa yang Alif alami saat tidak sadarkan diri terutama dengan Lilis.
Agung_Hubungan Abang Indra dengan Alif bakal dekat banget. Karena keterikatan kalian. Walau Abang hanya ayah sambungnya_
Bramasta_Disti ternyata merekam saat-saat Indra ditolak Arini loh. Bukan video tapi suara. Tapi karena Disti sudah keburu melow, Disti baru keingetan sedang merekam isi pembicaraan mereka_
Hans dan Leon mengirimkan emot jempol dan juga tawa.
Anton_Disti memang seksi dokumentasi yang baik. Kirim Bang. Nanti kita buat dokumenternya (emot tawa)_
Indra_Wah.. wah... Saat gue ditolak dan dijadikan bahan meme, rasanya semakin babak belur nih hati_
Hans_Ndra, meme itu dari gambar visual. Gue belum pernah lihat atau dengar meme dari rekaman suara.._
Bramasta_Bentar lagi Hans. Kita akan lihat meme dari rekaman suaranya Indra_
Agung_Bang Bram dimana?_
Bramasta_OTW kantor bareng Disti. Ada Bunda menemani Mami_
Agung_Dinda hari ini ada kelas sampai sore. Setelah dari kampus, nanti langsung ke rumah sakit, Bang Indra_
Indra_It’s OK, Gung. Ini Gue lagi nungguin dokternya Arini untuk visit. Gue juga ke kantor cuma sebentar. Ngecek anak-anak sekretariat terus sekedar ingin lihat saja meetingnya Bramasta dengan owner Persada Utama_
Bramasta membagikan rekam suara. WAG mendadak senyap, tidak ada chat sama sekali. Sepertinya mereka semua tengah mendengarkan rekam suara yang dibagikan Bramasta.
Indra menunda untuk mendengarkan karena dokter yang menangani Arini sudah datang. Berbicara dengan dokter membahas kesehatan Arini.
“A Indra, bisa keluar sebentar?” Arini memandang Indra.
“Haaah?”
“Ada yang ingin saya sampaikan ke dokter. Ini... tentang sesuatu yang pribadi..”
“Memangnya saya gak boleh tahu?" Indra menatap Arini dengan rasa ingin tahu.
“Ini tentang perempuan, A.”
“Lah, dokternya saja laki-laki..” Indra dalam mode tengil yang ngeyel.
Dokter dan perawat saling melempar pandang sambil tesenyum.
“Ada apa Bu Arini?” tanya Dokter.
Arini mencebik kesal sambil melirik Indra yang tersenyum jahil.
“Kateter urinnya bisa dilepas saja gak Dok? Saya sudah merasa tidak nyaman sekali.”
“Memang sebaiknya memakai kateter urin tidak boleh terlalu lama karena bisa menyebabkan lecet,” Dokter tersebut membaca berkas dari laboratorium, “Efek samping pemakaian kateter urin adalah infeksi saluran kemih.”
“Rasanya pegal di area panggul dan juga panas di dalamnya..” Arini menjelaskan.
Indra menatap Arini, Dokter dan Perawat bergantian.
“Harus dikompres?” Indra mengangkat kedua alisnya.
Ketiganya menatap Indra dengan tatapan heran dan kemudian tertawa. Mami menghampiri Indra dan langsung memberi keplakan pada lengan Indra. Begitu pula dengan Bunda.
“Sok tahu kamu!”
__ADS_1
“Tahu apa Nak Indra tentang begituan?”
“Eh.. salah ya?” Indra tersenyum malu.
“Sudah deh, Ndra.. kamu lebih baik ke kantor saja sekarang. Ada Mami dan Bunda yang jagain Arini dan Alif,” Mami mendorong tubuh Indra untuk menjauh dari bed Arini, “Lagian kamu sok-sokan ingin tahu urusan perempuan. Siape Lu...!”
Semua orang tertawa.
“Indra kan sedang...” Indra tidak melanjutkan ucapannya karena Bunda mengedipkan mata dengan cepat ke arah Indra untuk menyuruhnya diam.
“Sedang apa?” tanya Mami.
“Sedang mau pergi ke kantor sekarang...” Indra memamerkan senyum tengilnya, “Pamit Mi... Pamit Bun..”
Indra menyalimi Mami dan Bunda.
“Arin, saya pergi dulu ya. Arin gak mau dibawakan apa gitu?”
“Apa?” Arin bertanya balik.
“Pengen apa gitu?”
“Apa?”
“Eh? Ah Arin mah...” Indra menggaruk belakang lehernya dengan canggung.
“Fii amanillah, A,” Arini tersenyum tulus pada Indra.
Indra tampak tersipu-sipu dengan pipi merona. Dia mengangguk lalu menunduk.
“Dokter, Suster, saya permisi ...” Indra mengangguk kepada mereka berdua.
Dokter mengijinkan Arini untuk tidak memakai kateter urin lagi. Dia membuat catatan untuk tindakan. Dan juga untuk menambahkan obat lambung untuk Arini.
Saat Arini tertidur, Bunda mengajak Mami menonton TV di sofa L.
“Mam, Disti cerita, tadi pagi, Indra menyatakan perasaannya pada Arini,” Bunda berkata pelan.
Mami yang sedang mencari tayangan TV yang ia inginkan menoleh cepat.
“Terus?” wajahnya tegang.
“Indra ditolak,” Bunda menjawab to the point.
“Loh, kok bisa? Kok Indra gak cerita ke saya? Saya kan maminya?”
“Mungkin Indra malu untuk bercerita ke Mami...”
“Malu bagaimana sih?”
“Yang namanya ditolak, pasti malu lah Mam..”
“Tapi kenapa ditolak, Bun? Apa kurangnya Indra?”
Bunda mengambil gawainya. Membuka pesan chat dari Adisti.
“Dengarkan pakai ini..” Bunda menyorongkan headset, “Supaya lebih jelas.”
Mami mendengarkan dengan wajah tegang. Tangannya terkepal. Kemudian matanya mengembun. Menatap Bunda dengan berkaca-kaca.
__ADS_1
Bunda menepuk-nepuk punggung tangan Mami. Sebutir air mata lolos dari matanya. Menuruni pipinya yang kuning langsat. Butiran lainnya menyusul kemudian.
Mami mulai terisak lirih. Bunda memeluknya. Menepuk-nepuk pungungnya.
“Saya gak menyangka, Indra akan se-gentle itu menyatakan perasaannya. Saya gak nyangka, Bun..” Mami terisak lagi dalam pelukan Bunda.
“Bayi kecil saya... Yang selalu bersikap tengil dan masa bodoh dengan urusan cinta tiba-tiba bisa se-gentle itu bersikap sebagai pria dewasa."
Bunda masih memeluk Mami sambil menepuk-nepuk punggungnya.
“Itu karena Nak Indra berada dalam didikan keluarga yang baik. Yang positif dan tahu akan tanggung jawab dan komitmen.”
Bunda melepaskan pelukannya. Dia berjalan ke arah pantry. Membuatkan teh hangat untuk mereka berdua.
Saat Bunda kembali lagi dengan dua cangkir kertas di tangannya, mami tengah terpekur.
“Indra tidak pernah seserius ini dengan lawan jenisnya. Tapi kenapa pilihannya harus Arini? Tidak bisakah mereka menjadi keluarga angkat saja?”
“Jodoh sudah ada yang mengatur, Mam. Lagipula Nak Indra, Arini dan anak-anaknya sudah terikat jauh sebelum mereka bertemu. Ingat dengan mimpi-mimpi Indra yang selalu berulang itu kan Mam?”
Mami mengangguk.
“Sekuat apapun kita menolak perjodohan yang sudah ditetapkan Allah, kita tidak dapat lari dari ketetapannya, yang sudah ditulis di Lauh Mahfudz sebagai takdir kita.”
“Apakah saya bukan ibu yang baik bagi Indra bila menolak permintaannya?”
“Saya tidak berhak menilai baik dan buruk seseorang. Karena saya tahu, seorang ibu pasti menginginkan hal yang terbaik untuk anaknya,” Bunda tersenyum menatap Mami.
Mami terdiam lagi. Matanya menatap layar televisi tapi Bunda tahu pikiran Mami tidak sejalan dengan matanya.
“Apa yang kita sangka baik belum tentu baik di mata Allah. Karena Allah punya rencana yang lebih indah daripada apa yang kita sangkakan itu.”
“Bun, hati saya kok gak tenang ya?”
“Banyak bersholawat dan berdzikir saja Mam. Siapa tahu Allah memberi hidayah dan petunjuk kepada kita.”
“Arin, tadi Indra memanggilnya Arin. Biasanya dia memanggilnya Teh Arin kan Bun?” Mami menatap Bunda.
“Eh, iya ya? Pantas saja rasanya ada yang berbeda tadi..” Bunda terkekeh.
“Apakah artinya... Indra sudah merasa senyaman itu dengan Arini?”
“Kalau menurut saya sih iya, Mam. Dan apa yang Indra nyatakan pada Arini itu bukan sekedar ungkap perasaan saja melainkan ke jenjang yang lebih serius lagi.”
“Maksudnya?”
“Indra melamar Arini.”
“Ah!” Mami tampak masygul. Hatinya semakin resah.
.
***
Ayo Bun.. Bunda pasti bisa melunakkan hati Mami..
Jangan lupa like dan minta update.
🌼Utamakan baca al Qur’an🌼
__ADS_1