
“Kids.. ayo kita ke atas saja..” Daddy mengajak semuanya ke ruang rawat Arini.
“Loh Alif?” Indra menatap jendela ruang PICU yang sudah tertutup tirainya.
“Alif sedang tidur. Percuma kalau kalian menunggu di sini. Toh di dalam sana Alif diawasi oleh perawat,” Papi menjatuhkan tubuh tinggi besarnya di samping Indra yang membuat deretan kursi logam yang diduduki berguncang.
"Ayo kita ke atas semuanya," ajak Ayah lagi, “Sekalian pamitan ya Nak Indra. Besok insyaa Allah saya dan Bunda ke sini lagi.”
“Iya Ayah.. terima kasih banyak sudah menemani kami..” Indra berjalan di samping Ayah.
“Nak Indra ini... seperti ke orang lain saja..” Ayah terkekeh sambil merangkul pundak Indra.
Mereka mengucap salam bersamaan. Para ibu di sofa L yang tengah menangis sesunggukan terkejut dan menoleh bersamaan ke arah pintu.
“Darl, what’s wrong?” Daddy bergegas mendekati Mommy, meraihnya dalam pelukannya.
“Bun, kunaon? Aya naon?” Ayah cemas memegangi tangan Bunda.
“Mi? Ada apa Mi?” Papi memeluk Mami, “Ada apa? Apa yang bikin Mami menangis begini?”
Semuanya bengong menyaksikan para orangtua. Kecuali Indra. Dia langsung berjalan menuju bed Arini. Menyaksikan semua adegan tangis dan peluk dari bed Arini. Keduanya terkikik perlahan.
“Itu...” Mommy menunjuk layar TV yang tengah menayangkan iklan, “Kim Haneul jahat banget.. Eun Soo diselingkuhin..”
Para Bapak sontak melepas pelukan mereka. Menatap TV sambil meringis.
“Jadi, ini semua tentang drakor?” Ayah menuding layar TV.
Ketiga ibu menganggukkan kepala.
“Bodo amat dengan Kim Haneul dan Eun Soo. Kagak kenal!” Papi tampak gemas.
“Kita dong... bawa cerita pelakor beneran. Lebih seru, real,” Dadddy membuka cerita mereka dengan kalimat bombastik.
“Apaan nih? Hayo kalian jangan macam-macam dengan pelakor!” Mommy menatap galak pada Daddy.
“Jangan su’udzhon. Urusan pelakor, mereka bertiga yang mengurusinya di TowTow,” Daddy menunjuk pada Adisti, Adinda dan Anton.
Yang ditunjuk hanya memamerkan cengiran mereka.
“Towtow? Jangan-jangan perempuan itu yang berani menghina Indra?” Mami melebarkan matanya.
Adinda dan Adisti menganguk bersamaan.
“Cerita...cerita....” Mommy menarik Adisti dan Adinda untuk duduk di sofa, “Ton.. kamu juga.”
“Terus kita?” Daddy menunjuk dirinya dan Papi juga Ayah.
“Kalian dengerin saja. Kalian gak asyik kalau cerita,” Mommy mengibaskan tangannya.
Mami dan Bunda mengangguk mengiyakan.
Disti mulai bercerita dibantu oleh Adinda dan Anton yang membantu dengan laptopnya. Seruan-seruan sesekali terdengar.
“Hans, Lu kalau mau pulang duluan, gak apa-apa,” Bramasta menyeduh teh di pantry dibantu dengan Agung.
“Iya Bang.. Kasihan Mbak Hana dan Baby Andra. Pasti mereka kangen ke Abang..” Agung meletakkan gula pasir dalam kemasan sachet ke dalam mangkuk kecil.
“Gak apa-apa nih?” Hans bersidekap di depan pantry bar.
Keduanya mengangguk.
Hans menghampiri Indra dan Arini yang sedang mengobrol.
“Saya pamit dulu..” Hans berdiri di ujung bed Arini.
“Tuan Hans, terima kasih banyak,” Arini menatap Hans.
“Jangan terlalu formal. Pangggil saja Bang Hans seperti Disti dan Dinda memanggil saya,” Hans mengangguk dan tersenyum.
Indra bangkit dan merangkul Hans.
“Thanks a lot ya Bro..”
“Don’t mention it.”
Indra berbalik lagi menghadap ke arah Arini saat Hans pamit ke para orangtua.
__ADS_1
“Eh.. Teteh tersenyum. Sudah gak sakit lagi? Jangan dipaksakan..”
“Kalau gak digerakkan nanti jadi gak bisa senyum lagi bagaimana? Otot pipinya jadi kaku..” Arini tersenyum lagi.
Indra tersenyum lebar.
“Nonsense..”
“Jadi.. Kakak Alif seperti menunggui pasien di kamar operasi sebelah hingga selesai?” Arini menatap Indra dengan sungguh-sungguh.
“Itu yang Dokter Kamal dan Dokter Hanung katakan..”
“Kira-kira... nanti saat Kakak sadar, dia masih akan teringat dengan Lilis tidak ya?”
“Entahlah. Kalau masih mengingat Lilis ini akan jadi cerita sendiri buat Kakak..” mata Indra menatap tangan kanan Arini yang sudah tidak bengkak lagi.
“Tangan ini... masih sakit?” Indra menyentuh sedikit dengan ujung jarinya.
“Sudah tidak begitu sakit...Tidak kebas lagi..”
“Jadi.. bisa merasakan sentuhan telunjuk saya?” Indra menyentuh lagi dengan ujung telunjuknya di punggung tangan Arini.
“Eh.. jangan!” Arini terkesiap.
“Kenapa? Sakit ya?” Indra menatap Arini dengan rasa bersalah, “Ma’af..”
“Bukan... Tadi itu.. sentuhan A Indra bikin geli..” Arini terkekeh, “Kita juga bukan mahrom..”
“Oh iya.. ma’af. Saya khilaf..” Indra menunduk, malu.
“Ndra..kita mau pulang ya..” suara Mommy diikuti rombongannya dari sofa depan.
“Iya Tante Al..” Indra berdiri.
“Nanti yang jagain Arini siapa?” tanya Daddy, “Kakak gak ada di ruangan ini..”
“Indra, Om..”
“Are you sure?” Daddy mengernyit.
“Kak, temani Nak Indra ya..” Bunda menatap Agung.
Agung menggeleng sambil menggerakkan kedua telapak tangannya.
“Gak Bun... Kakak gak mau dianggap setan.”
Semua menatap Agung dengan tatapan bertanya.
“Kan kalau lawan jenis berduaan dalam satu ruangan maka yang ketiganya adalah setan. Gak ah...” Agung mengerakkan telapak tangannya lagi.
“Hissssh nih bocah.. makin ngeselin aja ya..” Daddy menatap sebal pada Agung.
“Kan ada Abay..” Adinda menunjuk Abay yang sedang berganti posisi tidur.
“Abay mau Mami bawa pulang. Tadi Mami sudah janji dengan Abay untuk pulang ke rumah dan tidur bersama Oma Opanya..” Mami tersenyum lebar sambil menatap Abay dengan penuh rasa sayang.
“Ya sudah, Abang Bram saja temani Bang Indra. OK?” Adisti menatap suaminya.
“Bareng Disti ya.. Please.. Abang gak bisa tidur kalau gak ada Buk Istri...”
“Dih!” Agung mencebik diikuti Indra.
“Iyaaaaa Disti juga gak bisa tidur kalau gak ada Abang...” Adisti menggelayut manja di lengan suaminya.
“Halaaaah..” Agung mengibaskan tangannya, “Gak bakal bener ini mah..”
Para orangtua tertawa. Kemudian mereka berpamitan pada Arini.
“Ton.. Lu bantuin gue..” tangan Agung melambai ke arah Anton.
“Apa Bang?” Anton mendekat.
“Pindahin sofa bed ke sebelah bed pasien. Gue gak yakin pasangan bucin itu akan tidur dengan hanya sekedar tidur saja..” Agung menunjuk pada tempat kosong yang tadinya berisi bed Alif.
Semua tertawa mendengar omongan Agung.
Mereka berdua mengangkat sofa bed yang tidak terlalu berat ke samping bed Arini.
__ADS_1
“Alhamdulillah... punya kakak ipar yang pengertian banget....” Bramasta merangkul Adisti.
“Kak, gak sekalian pakai taburan kelopak mawar?” Adisti menutup mulutnya.
“Jangan ngelunjak,” Agung mendengus kesal.
Para orangtua menggelengkan kepalanya sambil terkekeh.
“Yuk Din...” Bunda mengajak Adinda.
“Bentar Bun.. pamit dulu ke Teh Arin..” Adinda menghampiri Arini, menyaliminya lalu mencium pipi kanan dan kirinya, “Teh Arini wangi banget ih kulitnya..”
Arini tertawa.
“Walau badan sakit, tapi kulit tetap glowing ya Teh.." seloroh Adisti menghampiri mereka berdua.
Arini tertawa lagi.
“Sudah gak sakit lagi buat tertawa?” Adisti melebarkan matanya.
“Masih sakit tapi tidak sesakit kemarin..”
“Din, langsung bobo ya. Gak main hp lagi..” Agung membelai kepala Adinda saat Adinda berpamitan padanya.
“Kakak pulang sama siapa?” tanya Ayah, “Mobil kan kami pakai..”
“Bang Agung bareng saya, Yah,” Anton menyalimi Ayah, “Kan kami tetanggaan..”
Ayah tertawa sambil menepuk punggung Anton.
“Besok Kakak bawa motor ya Yah, Bun?” Agung menatap Ayah dan Bunda bergantian dengan tatapan memohon.
Ayah dan Bunda saling pandang. Lalu mereka memandang Daddy, Mommy juga Papi dan Mami meminta pendapat. Keempatnya menganggukkan kepala.
“Janji untuk selalu berhati-hati..” Ayah menatap Agung dengan serius.
“Selama ini Kakak kan selalu berhati-hati, Yah. Cuma waktu itu memang sedang apes saja.. lewat depan The Ritz, kena peluru nyasar hingga akhirnya terkapar..” Agung tersenyum lebar.
Semua orangtua mengangguk.
“Alhamdulillah..” Agung menadahkan kedua tangannya lalu mengusap wajah.
“Dih segitunya yang dijinkan bawa motor lagi..” Adisti mencibir.
“Ya iyyeesh! Cinta pertama gue gitu loh!” Agung tersenyum lebar tapi hanya sedetik.
Detik berikutnya, dia menoleh menatap Adinda yang menatapnya dengan tajam.
“Nah loh..!” para orangtua bergumam sambil terkikik.
“Auk ah.. gue gak ikutan ya..” Indra mengangkat kedua tangannya.
“Gue juga,” Anton melambaikan tangannya.
“Apalagi kami...” Bramasta meraih Adisti ke dalam pelukannya.
“Nah loh..!” kali ini Arini yang mengompori Agung dan Adinda.
“Din.. kamu jangan salah tanggap ya. Kan saya duluan kenal motor saya daripada kenal kamu..” Agung menghampiri Adinda.
“Tauk ah..!” Adinda beranjak pergi. Bergelayut di lengan Mami dan Bunda, “Pulang yuk. Ngantuk..”
.
***
Nah Loh!
Keceplosan kan? Pecicilan sih... 😁
Jangan lupa Like dan Minta Update ya..
Yang belum beri penilaian bintang 5 Author tunggu ya.
Love you...
Utamakan baca Qur'an 🌷
__ADS_1